"Keuntungan yang diambil dari kesalahan dapat membuatmu belajar. Namun jika keuntungan itu malah akan menjadikanmu kejam, maka berhentilah."
*****************#####*****************
"Hahaha."
Sarah tertawa senang sepanjang jalan menuju kamarnya. "Lucu sekali," lirihnya sambil mengingat kejadian yang baru saja terjadi di lantai dasar asrama.
"Jika mereka terus seperti itu maka aku yang akan mendapatkan keuntungan,"
"Sekali tepuk dua lalat mati," seru Ira senang melihat nona nya bahagia.
"Kau benar, kita akan mendapatkan keuntungan dari orang-orang bodoh itu," balas Sarah sambil melangkah masuk ke dalam kamarnya.
"Mereka sama sekali tidak tahu jika aku sudah merencanakan semua ini." Senyum mengembang lebar di bibirnya.
****
Dua Hari Sebelumnya
"Amel dimana Senja?" Sarah menatap Amel penuh kekecewaan.
"Nona Senja dalam perjalanan menuju mansion Duke nona," jawab Amel dengan wajah yang ditekuk.
"Dasar bodoh. Apa saja kerjaan mu selama ini, hah? Bukankah aku menyuruhmu untuk selalu menempel padanya. Apa kau lupa hal itu?" gerutu Sarah sambil memegang kepalanya yang terasa berat.
"Maaf Nona." Amel seketika berlutut di depan kaki Sarah.
"Maaf kan saya, ini semua salah pelayan baru itu. Semenjak kehadirannya Nona Senja tidak pernah memanggil saya kembali," jelas Amel dengan tubuh yang gemetaran.
"Bagaimana bisa, apa mungkin dia sudah mengingat semuanya?" Sarah mulai khawatir dan tidak bisa mengontrol kondisinya.
Sarah lalu berdiri dan mengambil segelas teh hangat kemudian meminumnya. Ketika dirasa air teh itu pahit Sarah lalu membantingnya tepat di samping kepala Amel yang tengah berlutut.
"Ampun Nona, ampun," teriak Amel semakin ketakutan.
"Nona tenangkan dirimu," seru Ira sambil membersihkan serpihan gelas kaca tersebut.
"Kita bisa mengatur rencana untuk Nona Senja dengan menggunakan kebencian dari Nona Dira dan temannya," lanjut Ira sambil membuang serpihan kaca ke dalam tong sampah.
"Kau benar," Sarah tersenyum licik dan kembali tenang.
"Pergilah ke Arina dan katakan padanya tentang Senja, katakan apa saja," lirih Sarah yang dijawab anggukan kepala oleh Amel.
"Arina sangatlah tempramental hanya dengan beberapa kata saja dia sudah terpancing. Hal ini sangat memudahkan mu untuk mengacaukan mereka. Dan dengan begitu maka aku lah yang akan menjadi satu-satunya pemenang dalam permainan kali."
Sarah tersenyum puas, ia merasa semuanya berada di bawah telapak tangannya. Ia pun kembali menyesal teh sambil melihat ke arah taman asrama di mana Dira dan Arina tengah berbincang.
"Baik Nona." Amel pun segera keluar kamar dan menuju taman asrama.
"Ira, kau awasi Luna dan ketiga temannya itu. Mereka bisa sangat berbahaya bagi kita. Pastikan juga untuk mencari kelemahan mereka berempat," lanjut Sarah kemudian memejamkan matanya.
Selesai mengenang kejadian saat itu. Sarah yang begitu senang lalu melemparkan dirinya ke atas kasur yang empuk.
"Ah, nyamannya," cicit Sarah bahagia.
"Setelah ini pasti akan terjadi perang diantara Luna dan Dira. Melihat Dira yang selalu saja cemburu pada Luna dengan seluruh yang ia miliki pastinya ini akan sangat seru untuk dilihat. Aku jadi tidak sabar menunggu pertunjukkan selanjutnya," lanjut Sarah sambil berdiri dari tidurnya.
Disisi lain Dira yang sedang kesal karna sudah dipermalukan di depan umum lantas memasuki kamar dan membanting seluruh barang yang ada di dalamnya.
"Sialan!" teriak Dira dengan wajah yang memerah seperti tomat rebus.
"Awas saja aku akan membalas kalian semua, terutama kamu Luna," cicit Dira kesal sambil menggenggam erat buku tangannya.
"Aku akan membuat mu menyesal karna sudah melakukan ini padaku."
"Ada apa ini?" tanya Arina yang baru saja tiba.
"Semua ini ulah sahabat kakak mu itu," tutur Mira kesal saat ia duduk di atas kasur.
"Sahabat?"
Arina tidak mengerti apa yang terjadi, ia baru saja tiba setelah menyelesaikan tugas dari Prof Ben.
"Apa maksud mu? aku sama sekali tidak mengerti," tanga Arina semakin bingung dengan keadaan yang kacau.
"Aku akan menceritakannya," lirih Tasya sambil menaruh pedangnya di atas meja.
"Ketika hendak menuju aula asrama kami bertemu Muna dan Zakila lalu..." Tasya menceritakan semua yang terjadi pada saat itu.
"Oh astaga!" pekik Arina kaget setelah mendengar cerita tersebut.
"Bagaimana bisa mereka melakukan itu padamu?"
Arina terlihat kesal sambil mengamati bekas luka di tangan kanannya Dira.
"Panggil saja pembantu kakakmu itu dengannya kita bisa membalaskan dendam ini," seru Dira yang di jawab anggukan kepala oleh Arina.
"Aku akan laporkan ini pada ayahku." Tasya lalu menyuruh pelayannya menyiapkan surat dan pena.
"Aku akan membalas Muna dengan segala penghinaannya selama ini," lanjut Tasya sambil menulis sepucuk surat kepada Marques Callira.
"Tidak perlu." Dira menarik surat yang sedang di tulis oleh Tasya dan meremasnya.
"Kita akan membalas mereka semua pada hari pengujian," lanjut Dira sambil membuang surat itu ke dalam tong sampah.
"Kau akan membantuku dengan kekuatan Duke Ari bukan?" Dira memegang pelan bahu Arina dengan tatapan tajam yang menusuk.
"Iya, tentu saja," seru Arina sedikit takut dengan sikap Dira yang aneh.
"Sisanya serahkan saja padaku," lanjut Dira yang di jawab anggukan kepala oleh Mari dan Tasya.
"Baiklah kalau begitu, kami akan menunggu hasilnya," balas Tasya lalu keluar dari kamar itu di ikuti oleh Mari dibelakangnya.
Beberapa saat kemudian Amel datang dan mulai menceritakan apa saja kelemahan Senja.
"Nona Senja itu alergi terhadap buah apel dan juga daging burung," tutur Amel sambil memandang ke arah Dira yang sedang melihat ke luar jendela.
Dari semua yang Amel ceritakan Dira merasa bahwa ada sesuatu yang sedang ia tutupi.
"Amel kenapa kau tidak bersama Senja saat ini?" tanya Dira masih tetap melihat keluar jendela.
"Ah, itu. Aku sedang, sedang..." Amel terlihat bingung menjawab pertanyaan Dira.
"Pergilah," seru Dira menghentikan Amel berbicara. Amel pun membungkuk untuk memberi salam lalu keluar dari kamar.
Setelah keadaan kamar kosong Dira lalu menyuruh Risa untuk menyiapkan kereta kuda.
"Arina, aku merasa ada yang aneh dari si pelayan itu," tutur Dira Setelah melihat gelagat aneh Amel.
"Kenapa?" Arina bertanya dengan wajah polosnya.
"Astaga, mengapa kakak ku bisa jatuh cinta dengan gadis bodoh ini sih?"
Dira sedikit kesal dengan kelemotan otak Arina. "Menurutmu kenapa?" tanya Dira sambil melangkah mendekati Arina.
"Jika bukan karna kedudukannya maka aku akan lebih memilih bersekutu dengan Sarah, meskipun Sarah hanya anak selir biasa tapi dia cukup pintar untuk urusan ini,"
"Aku tidak tahu." jawab Arina polos.
"Lupakan saja," gerutu Dira sambil mengambil tehnya.
"Baiklah." Arina mengangguk pelan sambil meminum tehnya kembali.
****
Asrama Pria
Seorang pemuda tampan tengah berdiri menghadap jendela kamarnya. Pria itu tampak sedikit frustasi, ia mulai memijat ringan kepalanya yang terasa ngilu dan berat.
"Tuan semua sudah beres," tutur Kevin pelayan pribadi Lucas.
"Pergilah." Lucas kemudian berbalik dan menuju kursi kerjanya.
"Awasi Luna dan katakan pada ku apa saja yang terjadi padanya. Satu hal lagi, jika ada yang mencurigakan di sekelilingnya langsung habisi saja," seru Lucas tajam pada bayangan yang ada disisi kirinya. Bayangan itu lalu mengangguk dan segera menghilang.
"Banyak sekali hama disekitar mu, itu cukup sulit namun bukan berarti aku tidak bisa mengatasinya,"
Disisi lain pangeran kelima tengah duduk santai dibawah pohon dengan sebuah surat ditangannya.
"Lucu sekali," lirih Helios dengan senyum lebar diwajahnya.
"Aku sungguh menantikan hari itu," lanjutnya sambil membakar surat dengan kekuatan sihir apinya.
Helios lalu berdiri dari duduknya dan melangkah pergi menuju rumah selir utama, Jina Callira. Setibanya disana Helios sudah disambut oleh keributan besar.
"Ada apa ini?" tanya Helios yang langsung mendapatkan tatapan dari semuanya.
"Kakak," teriak Dira ketika melihat Helios.
"Aku rindu," lanjut Dira sambil memeluk erat tubuh Helios. Helios dengan lembut mengelus pelan rambut Dira dan tersenyum hangat padanya.
"Ada apa adik ku?" suara Helios begitu lembut, ia juga tidak lalu menatap ke arah Arina yang sedang tersenyum malu-malu padanya.
"Lihatlah." Dira lalu menunjukkan bekas luka terbakar dipergelangan tangannya.
"Siapa yang melakukan ini?"
Helios terlihat kesal dengan wajah yang mulai memerah.
"Tenangkan dirimu Helios kita akan mengurusnya nanti." Selir Jina memegangi bahu Helios pelan untuk menenangkannya.
"Ini semua ulahnya," tutur Dira tajam dan kembali mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
"Ceritakan padaku segalanya," seru Helios sambil mendekati Arina.
"Pangeran, sebenarnya..." Wajah Arina mulai merah padam ketika Helios mendekatinya dan duduk tepat disampingnya.
"manisnya,"
Helios terlihat bahagia melihat sikap malu-malu Arina. Ia menyukai sisi imut Arina ini. Dan inilah alasan mengapa Helios begitu mencintai Arina sebagai wanita muda. Ia juga menyukai sifat polos dan patuh nya Arina, selain itu wajahnya juga cukup cantik.
Arina pun mulai menceritakan segalanya pada Helios tanpa melewatkan satu detail pun.
"Luna," gumam Helios kesal sambil menatap tangan adiknya itu.
"Kau tenang saja, aku akan membalasnya nanti," lirih Helios saat menatap pengawal pribadinya yang di jawab anggukan kepala.
"Tapi ini tidak mudah, pastinya dia juga akan ikut andil dalam hal ini," lanjut Helios menatap selir utama.
"Jangan terburu-buru sayang. Semua ada waktunya," balas selir Jina yang dijawab anggukan setuju semua pihak.
"Arina ikutlah denganku. Aku akan menunjukkan padamu isi istana ini. Pelayan," lanjut Selir Jina sambil pergi meninggalkan ruangan dengan Arina.
Semua pelayan pergi mengikuti selir Jina dan Arina meninggalkan Dira dan Helios berdua saja.
"Kak kau sudah tahu bukan?" Dira mulai terlihat serius dengan tatapan tajamnya.
"Jangan khawatir semuanya sudah dalam kendali," lirih Helios tenang.
"Kak dia sudah memakannya, setelah ini kita tunggu saja." Dira lalu tersenyum puas sambil memakan manisan yang ada di hadapannya.
"Kita tidak boleh lengah dan dengan kehadirannya maka kita akan semakin kuat. Ingatlah untuk terus berhati-hati," Jelas Helios sambil berjalan pergi meninggalkan ruangan.
"Tenang saja kak, serahkan semuanya padaku,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
文华亮
Happy writing thor. Jempol ikut mendarat nih. Dan PANGERAN SENJA pun sudah UP!
2020-07-23
1