"Takdir yang berubah adalah kunci kebenaran bagi kita."
*****************######****************
Ruangan itu tampak gelap dan kecil bahkan sinar mentari tak dapat menerobosnya. Siapa pun yang berada disana pasti merasa takut dan cemas, namun hal itu tidak berlaku bagi seorang gadis muda.
Gadis itu dengan semangat duduk disudut ruangan dengan pencahayaan minim. Ia tengah asik membalikkan setiap lembar buku dihadapannya.
Anehnya berbeda dengan tangannya yang terlihat bersemangat setiap kali membalikkan lembar buku, wajah gadis itu terlihat kesal. Ia terus saja mengerutkan dahinya yang membuat alisnya tampak menyatu.
Gigi nya pun saling bertaut satu sama lain sehingga membuat bunyi ngilu bagi siapa pun yang mendengarnya. Tangan gadis itu juga terkepal erat dan ia tampak begitu marah.
Gadis itu terlihat lelah dengan semua emosi yang ia rasakan. Kepalanya berdenyut pusing, tampak begitu mati. Gadis itu berusaha untuk memijat dahinya agar lebih rileks.
"Senja." gadis itu bergumam lirih. Bibirnya terasa keluh.
Wanita itu mencoba melihat ke sekeliling ruangan untuk memastikan apakah ini nyata atau palsu. Ia pun melangkah ke sebuah lukisan besar yang diukir dengan cantik. Dimana lukisan itu menampakkan wajah yang sangat familiar baginya.
Wajah yang tersenyum manis ditambah gaun biru muda yang ia kenakan begitu sempurna. Seakan-akan gaun itu khusus dibuat hanya untuk sosok itu saja.
"Melihat lukisan ini aku jadi merasa gugup sekaligus sedih." gumam gadis itu pelan.
Perlahan gadis itu membuka kembali buku tua tersebut. Buku yang ia temukan sehari sebelum memutuskan untuk kabur dari rumah itu. Namun ia menghentikan niatnya setelah membaca keseluruhan isi buku tersebut.
Gadis itu kemudian kembali teringat akan kejadian dua hari yang lalu. Tepat saat dimana ia pertama kali membuka matanya di dunia ini. Saat itu ia tengah berada di sebuah kamar mewah, lebih mewah dari kamarnya ini.
"Putri, kejadian ini tidak biasa dan seperti yang kita duga pasti ada sesuatu dibaliknya."
Pria berpakaian dokter itu pun terlihat sedih sambil menatap sayu kearah wanita muda yang sedang tertidur lelap.
"Aku juga merasa demikian," sama seperti sang dokter, wanita muda yang di panggil putri itu pun terus menatap ke arah kasur.
"Kemana pelayannya saat itu? Mengapa ia pergi sendirian ke hutan?" lanjut sang putri kesal.
"Entahlah putri, saya juga tidak tahu mengenai hal itu. Tapi melihatnya seperti ini, saya rasa ia mencoba untuk bunuh diri setelah, hmm."
Dokter itu terdiam sesaat seolah sedang menimbang perkataanya. Ia sudah memiliki spekulasi awal, namun terlalu gegabah untuk berkata juga tidak baik.
"Maksudmu tentang pembatalan pertunangannya itu?"
"Saya rasa begitu."
"Aku pikir tidak, meskipun ia putus asa dengan hal itu tapi seperti yang kita semua tahu bahwa tidak lama lagi adalah hari itu."
"Kejadian ini pasti sudah direncanakan, aku tahu wanita itu memang jahat tapi setahu ku ia tidak pernah pergi jauh dari kediamannya. Selain itu, jika memang dia pergi sendirian mengapa tidak ada kereta kuda disana?"
"Bagaimana ia bisa sampai disana yang notabenenya tempat itu sangat jauh dari ibu kota tanpa adanya kereta kuda? bahkan jika ia pergi kesana naik kereta kuda dan menyuruh sang kusir untuk pergi pasti mereka akan melaporkan kejadian ini pada Duke bukan?"
Wanita muda itu terlihat semakin bingung, ia penasaran dengan motif dibalik ini semua.
"Meski aku tahu bahwa ia dibuang oleh Duke, tapi ini sungguh keterlaluan. Bagaimana pun juga, ia tetaplah putri tertua dan anak satu - satunya mendiang permaisuri."
Di kerajaan ini, siapa yang tidak tahu bahwa Senja adalah anak permaisuri dan merupakan putri sah pertama dari keluarga Duke Ari. Bukan rahasia umum lagi jika kematian permaisuri membuat Duke mengabaikan Senja.
"Namun membuang darah daging nya sendiri dan merencanakan pembunuhan sudah diluar akal sehat. Ini perlu diselidiki lebih lanjut."
"Aku tidak peduli jika ia mati atau tidak, karena itu juga bukan urusan ku. Namun hutan itu adalah wilayah ku, wilayah Marques Winter."
Teriak wanita muda tersebut dengan keras. Ia merasa terlibat dalam konspirasi besar dengan putri seorang Duke. Meski secara kasar ia sama sekali tidak terlibat di dalamnya.
"Aku mau hal ini di usut hingga ke akarnya, dan satu hal lagi perketat keamanan daerah ini. Mungkin saja mereka akan datang untuk memastikan mayatnya," Lanjut wanita muda itu sambil melihat kearah jendela kamar. Terlihat samar - samar bayangan seorang pria yang berpakaian serba hitam menghilang dengan cepat.
***
Bulan Point of View
"Ugh, sakit sekali."
Rasa sakit ini menghantam kuat kepala ku seperti baru saja tertembak mati. Aku tahu jelas bahwa aku sedang berada di dalam air, dan kehabisan oksigen bisa membuat sakit kepala yang nyeri.
Andai saja aku tidak begitu keras kepala, ah tidak lupakan saja. Semuanya sudah terjadi. Aku tidak bisa mundur begitu saja.
"Lagi pula ada apa ini? Kenapa begitu ribut? Kalian tidak tahu apa jika orang sakit butuh istirahat yang cukup"
"Siapa itu?" tanya ku kesal.
perlahan aku membuka mataku, dan seketika cahaya mentari langsung menyeruak masuk ke dalam retina mata ku. Hal ini membuat aku berkedip beberapa kali agar bisa menyesuaikannya, rasanya begitu aneh aku tak paham sama sekali.
Aku mendengar suara wanita muda dan pria tua samar - samar. Mereka seperti sedang membicarakan sesuatu hal yang penting. Ngomong - ngomong ranjang ini empuk sekali. Aku mencoba untuk melihat ke sekeliling tapi aku tidak melihat kak farel dan yang lainnya.
"Sial, ini dimana?" Seketika aku melihat bayangan seorang pria yang menghilang dengan cepat, jantungku seketika berdetak dengan kencangnya.
"Apa yang barusan itu hantu atau aku sedang berhalusinasi?"
Aku lalu melihat wanita muda itu menatap ku, sedangkan si pria tua yang memakai setelan dokter datang ke ranjang dan memegang tanganku. Sontak aku kaget dan menarik tangan ku kembali darinya.
"Si, siapa kalian?" Aku melihat dokter itu berekspresi aneh dan kemudian berbalik arah untuk melihat gadis yang tengah mengisap teh di sudut meja.
"Apa anda baik - baik saja Nona? Ada yang sakit?"
Dokter itu bertanya setelah mendapatkan anggukan dari gadis misterius di sudut meja. Aku hanya bisa terdiam sambil menarik diri dari hadapannya.
"Dimana Kakak ku? Dan siapa kalian?"
Aku berusaha untuk menuruni kasur tapi tubuh ku tak siap yang akhirnya membuat ku jatuh ke lantai. Ku lihat wanita misterius itu melangkahkan kakinya ke ranjang sambil melihat ku dengan ekspresi bingung di wajahnya.
"Apa dia baik - baik saja?" tanya gadis itu sambil melihat ke arahku.
"Saya menduga ia mengalami benturan keras ketika jatuh dan itu membuatnya hilang ingatan," Jawab dokter itu dengan ekspresi wajah sedih.
"Hilang ingatan? Siapa? aku? Gila kali dokternya. Ah tidak, apa jangan-jangan ini adalah kejutan dari kak farel ya, tapi ini sama sekali tidak lucu."
Aku tidak sengaja berpapasan mata dengan wanita misterius itu. Ia menatap ku aneh dan kemudian menggendong ku ke atas ranjang dan menyuruh dokter itu untuk keluar. Setelahnya ia memanggil seorang pelayan dan menyuruhnya untuk menyiapkan kereta kuda.
Ini aneh sekali kenapa pelayan itu memakai baju maid sedangkan ini bukan abad pertengahan. Tidak hanya itu, bahkan pakaian gadis misterius ini pun terlihat kuno.
"Namaku Muna Winter, sekarang kau sedang berada di rumah ku," Jelas gadis itu, wajahnya tegas namun masih terlihat imut walau hanya sedikit.
"Na.., nama ku Bulan de Latri."
Seketika wajah Muna berubah dratis, ia terlihat kaget dan secara misterius memandang wajahku dengan alis yang terpaut.
"Sepertinya Nona Ari butuh istirahat untuk memulihkan diri."
Aku semakin bingung dengan ucapannya.
"Nona Ari?" tanya ku. Muna dengan malas menghela napasnya lalu menceritakan seluruh kejadian bagaimana aku bisa sampai ke rumahnya dan bagaimana kondisiku saat ini.
Mendengar ucapannya itu membuat ku yakin bahwa memang ada yang aneh disini. Jika ini perbuatan kak farel, ia tidak akan mungkin bisa melakukan semua ini dengan suasana yang begitu nyata.
"Apa kau memang berencana untuk bunuh diri? Jika iya maka menjauh lah dari wilayah ku."
Aku melihatnya skeptis, bagaimana ia bisa berpikir seperti itu kepada ku, lagi pula siapa juga yang mau mati.
"Dengar ya Nona Winter, aku sama sekali tidak ada niatan untuk mati, lagi pula aku sama sekali tidak hilang ingatan."
Muna melihat ku dengan tajam dan pergi meninggalkan kamar itu sehingga hanya menyisakan aku sendirian di dalamnya.
Penasaran dengan apa yang terjadi aku pun memutuskan untuk keluar dan mengeceknya sendiri. Hal pertama yang aku jumpai cukup membuatku syok berat. Aku melihat hal aneh di sepenjang koridor menuju taman.
Di taman aku melihat beberapa pelayan yang sedang menyirami tanaman dengan menggoyangkan sebuah tongkat kecil, ada juga pelayan lain yang menggerakkan tangan mereka untuk mengarahkan angin, ini sungguh membuatku jantungan.
"Rupanya kau disini."
Aku melihat Muna dengan dua pelayan di sampingnya. Muna lalu menarik ku kembali ke kamarnya dan kemudian memberiku pakaian.
"Lain kali kau tidak boleh keluar kamar dengan pakaian seperti itu, sangat memalukan."
Aku melihat pakaian yang sedang aku kenakan ini. Jelas sekali ini bukan pakaian yang aneh, ini adalah pakaian yang biasa aku kenakan untuk berbelanja dengan mama ke pasar.
"Pakailah gaun ini dan turun ke bawah. Aku akan mengantarmu pulang."
Muna pun segera turun dan lagi-lagi meninggalkan ku sendirian bersama dengan dua pelayan yang ia bawa tadi.
Setelah berpakaian yang cukup lama akhirnya aku pun selesai. Pakaian ini terlihat sederhana namun tetap anggun, walau begitu memakainya saja sudah cukup membuat ku pusing belum lagi hiasan rambutnya.
Aku sudah tidak tahan untuk kembali pulang dan menikmati kehidupan santai ku. Aku pun turun ke lantai satu dan melihat Muna sedang berbincang ringan dengan para prajuritnya.
Ia kemudian berbalik dan menatapku sambil menyuruh para prajurit itu untuk pergi dengan menggoyangkan tangannya.
"Naiklah." seru Muna seraya menunjuk kereta kuda di hadapannya.
Kereta kuda itu sangatlah mewah, ada hiasan burung hantu terukir di dinding kereta dengan sulaman emas di pinggirannya. Kereta kuda itu pun berjalan cukup kencang namun tidak membuat ku merasa pusing atau mual.
Jalannya juga mulus dan baik, kereta ini memang sangat hebat. Rasanya seperti naik mobil saja. Tidak lama kemudian kereta kuda ini sampai ke sebuah mansion mewah yang sangat besar.
Mansion itu memiliki lambang burung elang dengan lingkaran seperti pedang tak lupa pula warna emas yang menyertainya.
Muna lalu membawa ku masuk ke dalam mansion itu.
Disana aku merasa sedikit ganjal, karena anehnya mereka semua memandangku dengan tatapan tidak suka. Mereka bahkan mencibir ku di sepanjang jalan menuju ruangan utama.
"Dimana tuan Duke? Aku ada perlu dengannya."
Muna bertanya pada seorang pelayan dan menyuruhnya untuk menunggu di ruang tamu. Tidak lama kemudian datanglah seorang pria tampan paruh baya dengan dua istrinya dan juga tiga anak perempuan dan satu anak laki - laki.
"Ada perlu apa Nona Winter sampai datang ke kediaman ku ini?" tanya pria itu. Wajahnya memang keren namun auranya sangat mendominasi.
"Aku datang untuk memberitahu mu sesuatu."
Muna berkata tanpa ragu dan menceritakan semua yang terjadi. Ketika Muna sedang bercerita aku melihat para istri dari pria itu menatapku tidak senang. Ketiga anak perempuan mereka juga melihat ku penuh dendam.
Namun ada yang aneh, salah seorang dari ketiga gadis itu terlihat pucat pasi. Ekspresinya seakan takut seperti sedang melihat hantu saja. Sedangkan anak laki - laki itu langsung pergi setelah melihatku. Ia seperti tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi di tempat ini.
"Jadi begitu. Maafkan aku karena tidak bisa mencegahnya, mungkin saja ia masih trauma dengan pembatalan pertunangan."
Seketika aku langsung kaget mendengar pria itu berkata tentang pembatalan pertunangan. Namun Muna terlihat tidak senang. Ia berkata bahwa ini adalah kasus pembunuhan dan ia akan menyelidikinya sampai tuntas.
"Non..., Nona Winter mengapa kau bersusah payah untuk menyelidikinya, serahkan saja masalah ini pada kami." Salah satu istri dari pria itu menjawab ketidaksenangannya.
"Itu benar Nona, biarkan aku yang mengurusnya." Pria itu lalu menatap ku sambil berkata.
"Jika kau benar-benar hilang ingatan maka kau harus istirahat di kediaman mu, Dina cepat bawa Senja ke kediamannya."
Salah satu pelayan yang berdiri tidak jauh dari pria itu datang menghampiri ku. Ia kemudian membawaku ke arah selatan rumah utama menuju sebuah bangunan mewah dengan dua lantai.
"Nona kau bisa masuk sendiri kan?"
Pelayan itu mengejek ku dengan wajah tak suka, aku hanya diam dan masuk ke dalam bangunan itu.
"Rumah ini sangatlah sepi hanya ada beberapa pelayan yang berlalu lalang di dalamnya."
Ketika aku sedang beristirahat datanglah ketiga gadis yang tadi kulihat di rumah utama, ketiga gadis itu menatapku tidak suka.
"Kenapa kau tidak mati saja," seru salah satu dari mereka.
"Apa kau masih tidak rela juga dengan pembatalan pertunangan itu huh, jangan harap pangeran kelima akan datang untuk mencari mu dasar gadis tidak berguna."
Keduanya datang hanya untuk mengatakan omong kosong lalu pergi meninggalkan ku bersama seorang gadis yang sedari tadi melihatku dengan wajah pucat nya.
"Aku tidak tahu kau pakai jimat apa, Arina dan Bella sudah pergi." Wanita itu diam sesaat sebelum lanjut berbicara lagi.
"Cepat katakan padaku bagaimana kau bisa hidup setelah meminum racun itu?"
Dia menatap ku tajam dan berharap bahwa dengan tatapan itu aku bisa mati dengan cepat.
"Memangnya mata mu itu laser apa?" ejek ku malas.
Kemudian aku kembali memandang wanita itu dengan sudut mata ku.
"Oh jadi nama mereka berdua itu Arina dan Bella, kalau begitu kau itu pasti Sarah,"
Beberapa saat kemudian, seorang pelayan datang menghampiri ku, wajahnya tidak jauh berbeda dari Sarah.
Aku mengetahui dari Muna beberapa hal tentang keluarga ini ketika kami dalam perjalanan menuju kediaman Duke Ari.
Aku yang merasa bosan membiarkan semua ini dan memutuskan untuk masuk ke dalam rumah membiarkan Sarah sendirian di luar. Sarah terlihat marah dan kesal lalu memukul pelayan itu dengan kencang, aku yang melihatnya di jendela lantai dua hanya bisa diam.
"Kasihan sekali dia."
Aku memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Aku berpikir untuk keluar dari tempat ini, semuanya sudah tidak waras.
Ketika aku pertama kali masuk ke rumah itu aku melihat begitu banyak lukisan wajah yang mirip dengan ku. Perlahan aku mengingat tentang gadis yang aku lihat di danau sebelum akhirnya aku membuka mata di tempat ini.
Ketika aku sedang berusaha mencari jalan keluar aku secara tidak sengaja menemukan ruangan rahasia, di dalam ruangan itu hanya terdapat satu buah kasur dan meja belajar yang diatasnya ada sebuah buku tulis yang kelihatan sudah tua dan usang.
Aku pun penasaran dan mulai membaca buku tua itu. Lama aku membaca akhirnya aku mengetahui bahwa gadis yang aku lihat di danau itu bernama Senja De Ari yang merupakan putri Duke Ari dengan permaisuri Mawar.
Putri sah di kediaman ini, dan pantas saja begitu banyak dendam padanya. Aku pun sadar bahwa sekarang aku sedang bertukar posisi dengan dirinya.
"Tapi bagaimana bisa?"
Ini terlalu rumit untuk dijelaskan, apakah takdir sedang bergurau denganku ataukah takdir ingin aku membalaskan dendamnya.
Aku sama sekali tidak tahu apa yang di inginkan oleh sang takdir, tapi jika sudah seperti ini maka aku akan menjalaninya. Mungkin..., mungkin saja dengan aku mengetahui kebenarannya, aku dapat kembali pulang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
ウランダリ デウィ
aku kurang ngerti sihh,tapi nikmatin ajalah
2021-04-04
0
Caramelatte
semangat thor!
Salam dari "Belong to Esme"
2020-11-26
1