"Perubahan itu pasti namun kesadaran akan hal itu sering diabaikan."
******************#####****************
Sinar rembulan seakan menjadi melodi indah bagi Bulan yang tengah menikmati jalan santainya. Ia tidak bisa tidur dan memutuskan untuk berkeliling taman yang ada di kediaman utama.
Selama jalan Bulan terus memikirkan rencana untuk hari esok dimana usianya akan genap 17 tahun. Bulan yang sedang jalan santai tidak sengaja berhenti tepat di samping kediaman permaisuri Mawar.
Disana Bulan melihat dua sosok pelayan yang sedang mengobrol ria. Awalnya Bulan ingin mengabaikan mereka dan memilih untuk melanjutkan kembali aktivitas, namun ia berhenti saat mendengar apa yang sedang dibahas oleh kedua pelayan itu.
"Kudengar dia menjadi trauma karena pertunangannya dibatalkan." Pelayan itu menunjukkan ekspresi jijik sambil memikirkan wajah Senja.
"Sudahlah buat apa kau memikirkan dia yang ada aku tambah jijik melihat wanita jahat itu," sambung pelayan satunya lagi.
"Dia begitu naif, seharusnya dia mati saja bukan malah kehilangan ingatan. Apa Dia pikir, jika kehilangan ingatan maka semuanya akan baik-baik saja?"
Bulan yang mendengar ejekan itu tetap terlihat tenang. Namun tentu saja, sebagai seorang wanita bangsawan, harga dirinya sangatlah penting.
"Wanita jahat ya, kalau begitu akan aku tunjukkan apa itu yang namanya jahat,"
Dengan perlahan, Bulan mendekati kedua pelayan itu. Saat sosoknya mulai mendekat, kedua pelayan itu masih belum menyadarinya. Mereka terus saja berbicara mengenai gosip yang tengah panas di kediaman ini.
"Ku dengar, katanya dia diantar oleh Nona Winter pulang ke mansion ini, bukannya itu terlalu..."
Perkataan pelayan itu putus ketika dia kaget melihat Bulan yang sudah ada tepat di hadapannya.
"Terlalu apa? Tidak tahu diri begitu maksud mu?" Bulan menyambung kalimat pelayan itu dengan wajah kesal, ia melirik kedua pelayan itu dengan ujung matanya.
"Hah kau..., kau memang wanita tidak tahu malu," teriak salah satu pelayan itu dengan terbata-bata.
Mendengar perkataan pelayan itu membuat Bulan semakin kesal. Ia pun lantas menamparnya dengan cukup keras.
"Aku ini majikan mu, berani sekali kau bergosip tentang ku disini, hah."
Pelayan itu memegang pipinya yang panas akibat tamparan Bulan. Bukannya takut, pelayan itu malah menatap Bulan dengan arogan.
"Kau hanyalah seorang putri buangan di kediaman ini. Kenapa kami harus takut pada mu."
Mendengar itu Bulan berbalik arah ke pelayan yang satunya lagi. Ia menatap pelayan itu dengan aura dominan dan ketegasan yang intens. Suasana lorong kala itu begitu senyap, ditambah sinar rembulan membuat tatapannya lebih mengerikan.
"Aku putri sah di kediaman ini, meski ibu ku yang merupakan Permaisuri di tempat ini sudah wafat, tapi tidak seorang pun yang menggantikan posisinya."
Tangan Bulan yang bebas pun menampar wajah pelayan itu dengan keras sehingga ia tersungkur dan jatuh. Pelayan yang satunya lagi hanya bisa diam dengan wajah pucat.
"mengapa dia bisa begitu berani? Apa hilang ingatan itu adalah kebohongan?"
Wajah pelayan itu sudah menjelaskan semua yang ada di pikirannya. Dengan tubuh bergetar hebat, ia menggigit kuku-kuku di jari tangannya untuk menenangkan diri.
Bulan yang melihat itu langsung menatap pelayan tadi sambil berkata. "Jika aku mendengar kalian atau pelayan lain berbicara seperti ini padaku, maka aku akan memukul kalian sampai mati."
Ancaman dari Bulan berhasil membuat mereka gemetar ketakutan. Aura kejam dan dominan membuat kedua pelayan itu hanya bisa menundukkan kepalanya. Mereka tidak bisa bergerak atau berbicara, Bulan yang kesal pun memutuskan untuk meninggalkan keduanya.
"Karna ini sudah malam, aku tidak akan melanjutkannya lagi. Tapi jika matahari sudah terbit nanti, maka kalian akan merasakan hal yang lebih kejam dari ini."
Keduanya pelayan itu seketika bersujud dan memegang kaki Bulan sambil memohon ampun.
"Ampuni kami Nona Muda, ampun. Kami salah, kami berjanji tidak akan mengulanginya kembali, tolong jangan hukum kami. Kami mohon."
Pelayan itu pun menangis tersedu - sedu. Bulan yang melihatnya bahkan tidak mengubah sedikit pun ekspresinya. Wajah Bulan tetap datar dan dingin, ia dengan kasar menarik kakinya dan bergegas pergi meninggalkan kedua pelayan itu ditempatnya.
"Maaf? Enak saja kalian. Apa yang kalian lakukan pada Senja bahkan tak sebanding dengan nyawa kalian itu,"
Bulan yang kesal kembali melanjutkan misinya. Ia pergi ke arah Utara dimana bangunan rumah permaisuri berada. Setelah sampai di kediaman permaisuri, Bulan memutuskan untuk memanjat tembok dari pada masuk lewat pintu depan.
Hal ini karna meskipun paviliun permaisuri kosong namun penjaga tetap menjaga di pintu masuk seolah tidak mengizinkan tempat ini dimasuki oleh orang lain selain Duke Ari.
Hal pertama yang di jumpai Bulan dalam paviliun permaisuri yaitu halaman rumah yang besar dengan begitu banyak bunga tulip dan juga Lily yang mengelilingi tempat itu.
Ternyata selera permaisuri tak jauh beda darinya. Bulan juga menyukai bunga tulip dan Lily, karna warna dan bentuknya yang indah. Perlahan Bulan memasuki area dalam rumah, untungnya penjagaan hanya terdapat di bagian pintu masuk saja. Sedangkan di bagian dalamnya hanya ada beberapa pelayan yang berkerja untuk menjaga rumah ini tetap bersih.
Bulan lalu masuk ke dalam kamar permaisuri yang terletak di lantai bawah dekat ruang tamu. Hal yang dijumpai Bulan pertama kali di dalam kamar itu adalah tumpukan buku yang berserak di mana-mana.
Kasur permaisuri terlihat compang-camping dan debu bertebaran di sekitaran ruangan. Tampak jika ruangan ini tak pernah sekalipun di masuki atau mungkin di bersihkan. Anehnya ruangan ini tidak terkunci seperti sengaja dibiarkan terbuka begitu saja.
Bulan lalu naik ke lantai atas, disana ia menemukan begitu banyak lukisan yang ditumpuk acak. Lukisan - lukisan itu bahkan ada berapa yang sobek dan hancur. Bulan lalu mengecek wajah yang terpampang di dalam lukisan tersebut.
Wajah itu adalah Duke dan permaisuri tapi anehnya, mengapa di setiap lukisan hanya Duke saja yang tersenyum hangat sedangkan permaisuri seperti malas untuk di lukis.
"Mungkin karena itulah lukisan ini hancur?"
"Apa Duke marah dengan permaisuri sehingga ia menghancurkan semua lukisan wajahnya? Hmm, mungkin saja."
Bulan berkeliling sejenak di dalam ruangan itu sambil sesekali melirik keluar jendela. Ia takut ada yang menyadari kehadirannya disana.
Di salah satu lukisan tersebut juga ada lukisan Senja dengan ibunya. Wajah mereka terlihat sangat mirip yang membedakan hanyalah bagian mata selebihnya semuanya sama.
Bulan pernah melihat Duke sekali ketika ia pertama kali tiba di kediaman ini. Namun melihat wajah Senja yang tidak ada kemiripan sama sekali dengan Duke, itu membuktikan bahwa Senja lebih identik dengan permaisuri.
Hal ini berbeda sedikit dengan Bulan. Walaupun ia mirip dengan Senja tapi warna mata mereka berdua berbeda. Bulan memiliki warna mata hijau ke abu - abuan sedangkan warna mata Senja hanya abu - abu saja tanpa adanya warna hijau.
Selain itu bentuk bibir dan hidung keduanya terlihat berbeda meski itu perlu dilihat secara mendetail. Meskipun begitu tidak ada seorang pun dikediaman ini yang sadar karna sejak awal memang tidak ada yang pernah memperhatikan Senja.
Setelah puas melihat ruangan itu, Bulan pun kembali ke kediamannya.
"Selamat ulang tahun untuk ku."
Bulan melihat keluar jendela kamarnya sambil menerawang kejadian tahun lalu ketika ia merayakan ulang tahun ke 16.
Di malam hari ulang tahunnya itu kak farel dan mama serta papa nya pasti akan memberikannya suprise yang sangat meriah tapi kini ia harus menjalaninya sendiri tanpa kehadiran mereka, tidak terasa kristal bening menetes dari kelopak matanya yang indah.
Keesokan paginya pelayan yang biasa melayani Senja datang ke kamar untuk melayani Bulan. Pelayan itu membereskan tempat tidur dan memberikan air hangat untuk membasuh wajah Bulan dan mengganti pakaiannya.
" Nona Selamat ulang tahun," tutur Amel yang baru saja datang.
Amel juga membawa nampan yang berisi kue macaron dan segelas teh hangat bersamanya. Bulan hanya diam saja acuh tak acuh dengan Amel. Melihat tingkah Bulan yang seperti itu membuat Amel sedikit takut.
Setelah kembalinya Bulan ketempat itu sebagai Senja, tidak pernah sekalipun ia memanggil Amel atau bahkan menyuruhnya untuk bersama. Bulan lebih suka sendirian, lagi pula Bulan masih curiga dengan Amel yang ada hubungannya dengan pembunuhan Senja.
Amel yang sadar akan perubahan sikap Nona nya itu mulai mencari perhatian dengan membuat dirinya terlihat begitu baik di hadapan Bulan.
"Nona, tuan Duke sedang menunggu Nona di meja makan."
Bulan lalu berdiri dan menatap dirinya di depan cermin. Begitu indah dan anggun sosoknya dengan pakaian berwarna merah muda ia terlihat imut ditambah hiasan rambut berbentuk bunga mawar di samping telinga kirinya.
Bulan lalu melangkahkan kakinya menuju rumah utama tepatnya ke ruang makan keluarga. Sesampainya di ruang makan, ia sudah di suguhi oleh pemandangan ketiga saudari perempuannya yang memakai baju tak kalah mewah dari miliknya.
"Duduklah, sarapan akan segera dimulai."
Bulan pun duduk dan menikmati makanannya. Ruang makan itu begitu diam tak seorang pun yang berani memulai percakapan sampai akhirnya Bulan memutuskan untuk berbicara dengan Duke.
"Ayah, aku punya permintaan."
Semua orang yang ada di tempat itu melihat Bulan dengan pandangan kesal.
"Pasti ia akan meminta hal yang aneh lagi," gumam Sarah yang dibalas anggukan kepala oleh Arina dan Bella.
"Katakan apa yang kau inginkan." Duke bersikap acuh tak acuh kepada Bulan. Meski begitu Bulan tetap menjelaskan apa yang terjadi padanya semalam.
"Aku ingin ayah memecat mereka."
Duke hanya diam, sedangkan yang lainnya terkejut dan memelototi Bulan.
"Sejak kapan gadis ini jadi berani?" gumam selir Reliza, dalam hatinya.
Sebagai selir utama, Reliza sering iri terhadap posisi permaisuri yang kosong. Ia berharap untuk naik namun tidak pernah terjadi. Setiap kali ia membicarakan topik tersebut, Duke selalu saja mengalihkannya ke topik lain.
"Senja mereka hanyalah pelayan biasa mengapa kau harus berpikiran sempit,"
Bulan melirik acuh tak acuh pada selir Amarilis. Sejujurnya Bulan sudah mengetahui konsep hirarki di kediaman ini. Sebagai selir kesayangan, Amarilis cukup bermuka dua.
"Ibu, aku ini putri utama kediaman ini, putri sah dan satu-satunya Nona muda yang ada di rumah ini. Mereka saja berani terhadap ku bagaimana dengan adik - adik ku yang lain."
Bulan memasang wajah sedih, ia terlihat begitu terluka. Sambil memasang wajah kesal dan kasihan, ia menatap Arina, Sarah dan Bella dengan senyum bersalah.
"Mereka bukan putri sah di kediaman ini, mereka hanyalah anak selir. Aku takut ketiga adik ku akan mengalami hari yang buruk." lanjut Bulan sambil mengusap lembut air matanya yang jatuh.
Tentu saja, itu semua bohong. Ia bahkan tidak peduli dengan hidup seluruh orang di mansion ini.
"Bukankah acting ku sangat bagus?"
Dibalik air matanya, terdapat senyum licik yang dipancarkan. Tentu saja Bulan sengaja menekankan kata sah agar mereka semua menjadi sadar akan kedudukannya ditempat ini.
Kedua selir dan ketiga saudari Senja terlihat begitu kesal. Wajah mereka memanas mendengar penuturan Bulan sedangkan Duke tetap diam tak berkata apa pun. Bulan yang sedari tadi melihat Sarah dan Arina yang menggenggam erat telapak tangan mereka mulai tersenyum puas.
"Mari kita tambahkan lagi bahan bakarnya."
"Ayah aku juga butuh beberapa baju baru. Aku juga ingin pelayan yang melayani ku di ganti. ayah tahu kan bahwa empat hari lagi adalah hari pemilihan?"
Amel yang mendengar perkataan Bulan pun menjadi syok berat. Ia merasa aneh kenapa nona nya menjadi seberani ini bahkan ingin menggantikan posisinya.
"Apa jangan-jangan Nona tidak hilang ingatan? Apa mungkin ia hanya berpura-pura saja agar terlihat menyedihkan,"
Amel dengan takut melirik ke arah Sarah dengan wajah pucat nya. Begitu pula dengan Sarah yang kaget mendengar permintaan Bulan. Keduanya saling melirik satu sama lain, mereka seakan saling mengerti meski tidak ada satu pun kata yang keluar.
" Kenapa kau harus mengganti pelayan mu,"
Sarah bertanya dengan enggan, ia malas untuk tampil di pertunjukkan ini. Tapi jika ia diam saja, maka ketakutan terbesarnya akan menjadi kenyataan.
"Benar, untuk apa kau mengganti pelayan."
Selir Amarilis menimpali perkataan Sarah.
"Kau hanya bisa membuat yang lain repot saja." Kini giliran Bella yang berbicara.
Noah yang sedari tadi mengamati pembicaraan pun menjadi begitu tertarik. Sudut bibirnya naik membuat senyum aneh, Noah tidak pernah melihat Senja seberani ini.
"Cukup menarik, setelah kejadian bunuh diri kau langsung berubah menjadi sosok yang berani tampil seperti ini," ejek Noah sambil menyeruput teh di hadapannya.
Mendengar hal itu Bulan lalu tersenyum.
"Adik, semua orang dapat berubah kapan saja. Lihatlah dirimu yang tidak pernah peduli akan apa pun kini terlihat begitu penasaran."
Bulan menatap Noah dengan tenang dan tersenyum hangat.
Dengan ketenangan ini, Bulan tetap menjaga postur tubuh nya yang elegan. Selain itu, gaya bicara yang lugas membuatnya terlihat seperti bangsawan kelas atas sesungguhnya.
"Ibu, karna Aku adalah putri sah di kediaman ini, Aku hanya ingin terlihat lebih baik dari yang lainnya. Aku tidak ingin bangsawan lain menghina keluarga kita hanya karena putri utamanya berpakaian tidak rapi serta hanya memakai perhiasan itu-itu saja, lagi pula ini demi reputasi Ayah dihadapan para bangsawan lain."
Bulan kemudian melihat Amel sambil tersenyum yang akhirnya membuat tubuh Amel bergidik ngeri, wajahnya kembali memucat.
"Aku butuh pelayan baru untuk melayani ku di akademik. Lagi pula membawa beberapa pelayan bukanlah hal yang salah kan bu?" tanya Bulan dengan wajah mengejeknya.
Akhirnya Duke pun angkat bicara, ia pun merasakan perubahan dari sikap Senja yang semula ceroboh dan kasar kini menjadi lebih anggun dan tenang.
"Baiklah, lakukan sesuka mu."
Perkataan Duke membuat seisi ruangan terkejut. Pasalnya Duke tidak pernah atau bahkan bisa dikatakan hampir tidak pernah setuju dengan argumen Senja.
"Tapi..., tapi ayah ini agak..." Arina ingin protes, namun ia menahan suaranya. Ia tahu, jika membantah ayahnya akan membuatnya kehilangan banyak hal.
"Ayah tidak adil." Bella membanting gelas didepannya.
"Bell..., Bella." selir utama kaget melihat sikap putrinya yang serampangan di hadapan Duke.
"Sayang kamu tidak harus melakukan itu kan?" Selir Kesayangan begitu cemas, sedangkan Sarah hanya diam membeku. Wajahnya mulai menghitam.
"Diam semuanya. Apa kalian lupa ini dimana?" Duke terlihat begitu kesal, ia menatap Bella tajam.
"Bella, kamu sudah melewati batas. Kali ini ayah akan menghukum mu sebagai tahanan kamar selama satu bulan dan uang saku mu akan di hentikan selama 10 hari."
Bella yang mendengar itu langsung membeku, tubuhnya menjadi tegang dan air matanya mengalir deras.
"Ayah, kau menghukum ku karna dia?" Bella menunjuk kasar ke arah Bulan.
"Ayah, kamu jahat. Aku benci ayah." Bella dengan impulsif berlari keluar ruangan. Selir Utama yang melihat putrinya berlari sambil menangis pun ikut keluar mengejarnya.
"Bella kamu mau kemana nak. Bella..., tunggu sayang. Jangan seperti itu di depan ayah mu,"
Duke yang melihat tingkah putri dan selirnya hanya bisa menghela napas kesal. Ia memijat ringan dahinya tak habis pikir dengan perbuatan putri bungsunya di tambah dengan selir pertamanya yang berlari sambil berteriak.
"Dina bereskan semua ini, aku lelah dan ingin istirahat." Duke yang kesal melangkahkan kakinya keluar ruangan. Selir Amarilis pun mengikuti Duke dari belakang seperti seekor anak bebek yang sedang mengikuti induknya.
Kondisi diruang makan begitu kacau, Bulan menarik ujung bibirnya dan tersenyum licik. Ia merasa puas dengan pertunjukkan kali ini.
Arina dan Sarah yang melihat Bulan pun merasa kesal sampai ke ujung kakinya dan memutuskan untuk pergi meninggalkan Bulan dan Noah berdua di ruang makan.
"Permainan mu begitu bagus kak." Noah tersenyum nakal dihadapan Bulan.
"Aku memang tidak peduli akan apa pun yang terjadi di rumah ini, setelah ibu ku wafat aku hanya peduli tentang menjadi penerus keluarga dan membuang sampah yang tidak berguna."
Dengan santai Noah tersenyum licik di hadapan Bulan. Namun Bulan hanya diam dan mengabaikannya. Ia mengetahui satu fakta penting dari tulisan tangan Senja bahwa Selir kedua dari kediaman Duke yang merupakan ibu kandung Noah telah meninggal setelah melahirkannya.
Setelah itu Noah sempat di rawat oleh Permaisuri selama 10 tahun sebelum akhirnya permaisuri meninggal karna sakit. Setelah itu Noah di urus oleh pamannya dan dilatih berpedang hingga sekarang.
Hubungan Noah dan Senja tidak pernah ada sama sekali meskipun ia pernah di rawat oleh permaisuri tetapi pada saat itu ia jarang bertemu dengan Senja, terlebih lagi sejak kematian Permaisuri, Senja selalu menutup dirinya.
"Oh jadi kau ingin menyingkirkan aku jika tidak berguna, begitu?" tanya Bulan acuh tak acuh.
"Kau harus tahu bahwa Aku juga tidak peduli pada mu. Selagi kau tidak mengurusi urusan ku maka Aku pun tidak akan mengganggu mu." lanjut Bulan.
Noah hanya diam menatap Bulan. Ia sadar bahwa kini gadis yang ada di hadapannya sudah berubah, walau mereka terlihat sama tapi sifatnya berbeda. Noah merasa bahwa Senja yang di hadapannya ini adalah sosok lain.
"Baiklah. Aku setuju," jawab Noah sambil beranjak pergi meninggalkan Bulan.
"Siapkan kereta kuda, aku akan berkeliling," seru Bulan kepada pelayannya yang di jawab dengan anggukan kepala.
Bulan kembali ke halamannya dan bergegas mengganti pakaian. Sekarang tujuan Bulan adalah pasar gelap. Ia mendengar dari para pelayan yang sedang bergosip bahwa cara masuk ke dalam pasar itu sangat mudah.
Hanya dengan memasuki lorong rahasia menuju ruang bawah tanah. Disana banyak sekali hal-hal unik yang dijual dan bahkan ia bisa melihat pertarungan liar, di tempat itu Bulan akan mencoba keberuntungannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
senja
sebenarnya siaap Bulan? knp usianya sm tp punya aura dominan?
2021-04-22
0
Caramelatte
Eyooo kakak aim kambekk uhuyyyy
2020-12-07
1