"Pertemuan kali ini akan membuatmu selalu teringat tentang ku, tentang kisah antara kau dan Aku. Disini, Selamanya."
***************######*****************
"Nona, kali ini kita akan pergi ke rumah kaca untuk memanen akar ginseng yang akan dijadikan ramuan obat luka dalam pada pelajaran Prof Aidan."
Dian lalu mengemasi barang untuk keperluan memanen sedangkan Senja hanya diam sambil melihat keluar jendela kamar asramanya.
"Apakah bulan depan sudah masuk musim dingin?"
" Iya nona. " Jawab Dian sambil menutup tas perlengkapan.
"Ayo Nona, sudah waktunya. " Seru Dian sambil keluar dari kamar.
Senja kembali diam, ia lalu memeriksa sekeliling dengan pandangan acuh sebelum turun dari jendela kamarnya. Ketika hendak turun, Senja sekilas melihat sosok pria yang tengah memperhatikannya dari balik pohon.
Senja melihatnya untuk sesaat sambil memicingkan kedua matanya. Namun lagi - lagi ia tidak bisa menemukan siapa pun disana, hal ini membuat Senja cukup frustasi.
"Siapa pria itu? Sudah hampir dua bulan aku melihatnya namun ketika aku mencoba selidiki, hasilnya nihil."
Sudah tiga bulan sejak Senja berada di akademik Adeline. Hari - hari ia lewati seperti biasa. Masuk kelas bersama Luna, makan siang dengan Muna dan si kembar serta malam hari yang berlalu begitu saja.
Ada kalanya Sarah dan Arina mengganggu Senja dengan menghilangkan catatan sihirnya bahkan membuat Senja dipermalukan di depan senior sihir lainnya.
Dira pun tidak mau ketinggalan dengan menyuruh Tasya dan Mari untuk menyirami Senja dengan air ketika ia hendak melewati gedung ksatria untuk menemui Muna.
Senja pun tidak mau kehilangan kesempatan, ia selalu membalas perbuatan Sarah dan Arina juga Dira dengan kekuatan sihir manipulasi dari Lily. Senja pernah membuat Sarah terjatuh ketika tes pengujian bakat dan membuat Dira terjun ke kolam ikan bahkan ia pernah membuat Arina berhalusinasi tentang pangeran kelima padahal yang ia jumpai hanyalah seorang pelayan dari ksatria senior.
Senja selalu menyembunyikan kekuatannya dari orang lain bahkan dari ke empat sahabatnya itu. Senja sengaja terlihat lemah agar kekuatannya tidak terdeteksi oleh musuh. Hal ini sangat menguntungkan baginya untuk bermain - main dengan musuhnya karna mereka tidak akan pernah menyangka bahwa semua perbuatan itu berasal dari nya.
Sekarang Senja sedang menunggu datangnya musim dingin untuk pergi berlibur ke kediaman si kembar. Pada saat musim dingin kediaman Maya dan Zakila terasa hangat, karena wilayah mereka diselimuti energi sihir yang membuat wilayah itu tetap hangat meski di musim dingin sekalipun.
Mereka akan berlibur selama satu Minggu sebelum kembali lagi ke akademik untuk melakukan ujian kenaikkan tingkat. Jika mereka gagal dan tidak bisa menaikkan level maka mereka akan mengulanginya semester depan bersama dengan murid baru lainnya.
Jika mereka berhasil dan menaikkan level maka mereka akan ditempatkan sesuai level dan tingkatannya yang artinya jika Senja dan Luna memiliki tingkat dan level yang berbeda meski mereka sama - sama lulus mereka akan tetap dipisahkan, memikirkan hal itu saja sudah membuat Senja sedikit kesal.
Senja tahu satu hal jika kekuatan yang ia miliki tidak dibatasi maka ia akan ketahuan dan itu akan merugikannya. Oleh sebab itu ketika ujian kenaikkan tingkat, Senja harus bisa mengendalikan energinya sampai batas tertentu.
Sesampainya di bawah gedung ia sudah disambut oleh begitu banyak penyihir muda yang saling berbincang ringan. Senja melihat Sarah pada sisi kirinya sedang tertawa bersama dua sahabatnya yaitu Ayu dan Laras.
Pada arah sebaliknya senja melihat Dira dan Arina tengah berbicara dengan Rio yang merupakan salah satu pria populer di kelas sihir mereka.
Senja berjalanan menyusuri kerumunan untuk mencari Luna namun ia sama sekali tidak bisa menemukannya. Ketika hendak berbalik arah Senja di kagetkan dengan Luna yang tiba- tiba saja memeluknya dari belakang.
"Senja." Seru Luna sambil mencium pipi kanan Senja.
"Astaga, kau mengagetkan ku Luna." Lirih Senja sambil memegang jantungnya dengan ekspresi serius.
"Hahaha, maafkan aku." balas Luna sambil menggandeng tangan Senja.
"Kau dari mana saja? Aku mencari mu dari tadi."
" Aku baru saja bertemu dengan kakak ku."
" Anak - anak kita akan segera berangkat. Kalian bisa mengecek barang bawaan sebelum ada yang ketinggalan karna kita tidak akan kembali sampai sore tiba." jelas Prof Aidan sambil melihat - lihat kertas yang ada di tangannya.
Setelah semua pengecekkan selesai mereka pun pergi menaiki kereta kuda yang dipimpin oleh Prof Aidan. Selama perjalanan Senja kelihatan tidak nyaman, ia seperti sedang di awasi tapi tidak tahu oleh siapa.
"Ada apa? Apa kau baik - baik saja?" Tanya Luna ketika melihat ekspresi Senja yang gelisah.
"Tidak, aku baik - baik saja." Jawab Senja sambil melirik sekilas ke luar jendela.
"Apa kau yakin?"
"Iya."
****
Sesampainya di rumah kaca, Prof Aidan memberikan instruksi agar semua siswa tetap berada pada jangkauannya. "Carilah tanaman obat yang sudah tertulis di kertas ini."
"Kelompok sudah saya bagikan, kalian tinggal mencarinya sendiri." Lanjut Prof Aidan yang dijawab helaan napas oleh semua siswa.
"Sayang sekali kita tidak sekelompok, bagaimana ini? " Gerutu salah seorang siswa ketika melihat daftar nama tim setiap kelompok.
"Senja apa kau yakin akan baik - baik saja?"
Tanya Luna ketika melihat daftar nama Senja di bagian kelompok Dira dan Sarah.
"Iya aku baik - baik saja, jangan khawatir."
"Katakan saja padaku jika mereka mengganggumu nanti." Pesan Luna sebelum ia beranjak pergi meninggalkan Senja.
Satu tim terdiri dari 3 siswa yang masing - masing dari mereka memiliki tugas yang berbeda. Tim pertama bertugas untuk mencari buah persik untuk luka dalam, tim kedua mencari daun jahe untuk mengobati luka luar dan tim yang ketika mencari tanaman ginseng untuk luka dalam dan luar.
Ketika semua tanaman berhasil terkumpul maka harus dikumpulkan pada ketua kelompok untuk digabungkan menjadi satu sehingga mendapatkan nilai. Untuk setiap nilai tergantung dari kerja sama tim dalam mencari tumbuhan obat - obatan tersebut.
Jika salah satu anggota tim gagal maka tim itu tidak akan mendapatkan nilai dan akan dinilai perorangan saja.
"Aku kurang beruntung kali ini." Lirih Senja ketika ia melihat senyum cerah dari wajah Dira dan Sarah.
"Sepertinya aku sangat beruntung, meski tidak sepenuhnya." seru Dira sambil melirik ke arah Sarah dan Senja.
"Sepertinya akan meriah," ejek Dira sebelum pergi meninggalkan keduanya.
Senja yang melihat ejekan Dira hanya bisa menghela napas kasar sebelum pergi meninggalkan Sarah sendirian.
Meskipun Sarah dan Dira sangat membenci Senja namun keduanya tidak akur satu sama lain. Hal ini dikarenakan Dira yang sudah memihak kepada Arina untuk dijadikan sekutu sedangkan Sarah memilih untuk tetap sendirian.
Sepuluh menit sudah Senja berkeliling rumah kaca tapi ia tetap tidak berhasil menemukan satu pun akar ginseng dan ketika hendak mendapatkannya ginseng itu sudah diambil oleh Dira atau pun Sarah.
Senja bisa saja menggunakan Lily tapi jika ia melakukan hal itu maka prof Aidan akan mengetahuinya dan ia sama sekali tidak akan mendapatkan nilai.
"Aku akan mencoba peruntungan ku di luar."
Saat berada di luar rumah kaca, Senja hanya melihat hamparan pohon maple. Tidak ada yang istimewa dari hutan ini, tapi ia tidak menyerah dan memanggil Lily melalui link.
"Lily, apa kau merasa sesuatu?"
"Nona jika kau berjalan sedikit kedalam maka kau akan menemukan beberapa akar ginseng." Jawab Lily sambil bergelayut lembut di atas kepala Senja.
Tanpa membuang waktu Senja pun bergegas menuju lokasi yang di katakan Lily. Tibanya disana Senja bisa melihat hamparan semak belukar dan juga beberapa pohon apel.
Tampaknya ada beberapa hewan yang tidak sengaja menjatuhkan biji buah apel dan tanaman obat ketika mereka keluar dari rumah kaca.
Senja lalu mengeluarkan peralatan kebunnya dan langsung menggali pada lokasi yang telah ditunjukkan Lily padanya, tidak butuh waktu lama bagi Senja untuk bisa mendapatkan dua buah akar ginseng berumur pendek.
"Tampaknya akar ginseng ini baru beberapa bulan ditanam tapi ini tidak masalah asalkan aku memilikinya untuk dinilai."
Senja kemudian berpindah tempat ke lokasi lainnya. Dari kejauhan tampak seorang pria tampan sedang memperhatikan Senja. Pria itu berpakaian cukup rapi dengan sebuah pedang emas di tangannya.
Lama pria itu memperhatikan Senja sampai akhirnya ia memutuskan untuk mendekat. Senja yang tidak sadar akan kehadiran pria itu tetap terus menggali tanah dengan asik.
Tidak hanya Senja, bahkan kedua makhluk sucinya tidak dapat mendeteksi kehadiran pria itu. Hal ini terjadi sampai ketika pria itu ingin menyentuh tubuh Senja barulah reaksi dari perisai membuat Senja sadar.
Senja segera berbalik namun karena tubuhnya tidak seimbang, alhasil ia pun jatuh terduduk di tanah. Senja mencoba untuk melihat wajah pria asing itu dan betapa terkejutnya Senja saat ia mengetahui jika pria itu adalah pria yang selama ini ia lihat di balik jendela kamar asramanya.
" Siapa kau?" tanya Senja kaku, pria tampan itu hanya tersenyum sambil menatap ke arahnya.
"Siapa!?" tanya Senja untuk kedua kalinya namun tidak ada jawaban dari pria tersebut.
Senja yang gelisah mulai menyuruh Lily untuk melakukan ilusi namun hal yang mengejutkan terjadi pada Lily, entah dari mana asal kekuatan besar itu yang pasti kini tubuh Lily kaku karena energi itu mulai menyerangnya.
"Jangan sia - siakan kekuatan mu untuk melawanku karena itu percuma saja." Seru pria misterius tersebut masih dengan senyum aneh di wajahnya.
Senja yang bingung lantas mencoba untuk mencerna situasi yang ada namun ia tetap tidak bisa mengendalikannya.
"Sudah aku katakan bukan, apa yang coba kau lakukan itu sia - sia saja." Seru pria itu kembali.
"Siapa kau sebenarnya dan apa mau mu?"
Tanya Senja dengan wajah kesalnya, tanpa rasa takut ia menatap mata pria itu meskipun kini kondisinya terpojokkan.
"Kau selalu saja membuatku tertarik dan aku ingin mengenalmu lebih jauh lagi." Jelas pria tersebut sambil mendekatkan wajahnya.
Senja yang sudah terpojok tidak bisa bergerak, ada kekuatan yang menekan tubuhnya meskipun ia sudah bersusah payah untuk keluar bahkan kekuatan perisai Ristia tidak mampu menahan energi yang besar ini.
" Namaku Lucas." bisik pria itu tepat di telinga Senja. Ia lalu mengecup pelan pipi Senja yang perlahan mulai turun ke leher mulusnya. Pria itu lantas menggigit leher Senja sehingga membuatnya merasa panas yang tiba - tiba mengalir keluar dari tubuhnya.
"Hentikan!" teriak Senja kaget karena suhu panas yang mulai membuat wajahnya memerah seperti tomat rebus.
Lucas masih mencium leher Senja secara perlahan meninggalkan bekas merah di sana. Ia lalu menatap tajam wajah Senja sambil tersenyum hangat.
Perlahan tatapan itu turun ke bibir merah muda Senja dan tanpa membuang waktu Lucas lalu mengecup bibir itu. Kecupan ringan itu lalu berubah menjadi ciuman yang panas.
Senja ingin berontak tapi ia tidak bisa. Ciuman itu perlahan menjadi sangat lembut dan lembut membuat Senja sedikit terbuai dan menikmatinya.
Senja tanpa sadar mengaitkan kedua lengannya pada leher Lucas dan mulai membalas ciuman itu. Lama mereka berciuman sampai Senja mulai terbiasa dan nyaman.
Lucas lalu melepas ciuman itu dan kembali mengecup leher Senja menggigitnya pelan membuat leher itu sedikit mengeluarkan darah. Senja sedikit meringis namun Lucas hanya menjilati leher Senja yang mengeluarkan darah tersebut.
Jilatan itu lama - kelamaan turun ke dada Senja, disana Lucas melihat ada sebuah tanda lahir dengan ukiran bulan sabit. Ia pun menciuminya. Puas sudah Lucas mencium Senja, ia sudah membuat begitu banyak tanda di leher dan juga dadanya.
"Mulai sekarang dan selamanya kau adalah milikku." Lirih Lucas pelan ditelinga Senja setelahnya Lucas mengeluarkan sebuah anting dari kantong celananya.
"Ini adalah tanda kepemilikan ku atas diri mu."
Lanjut Lucas sambil memasangkan anting itu pada telinga kiri Senja lalu menciuminya.
Lucas sekali lagi mengecup hangat dahi Senja. Ia lalu bergegas pergi dari tempat itu meninggalkan Senja sendirian dalam kebingungannya. Lama Senja melamun seperti orang yang kehilangan jiwanya.
Akhirnya Senja mulai merasakan sentuhan aneh pada tubuhnya. Perlahan Senja menyentuh leher kanannya dan mendapati sebuah luka kecil dengan begitu banyak tanda merah disekitarnya.
"Lucas." Gumam Senja kembali mengingat wajah tampan pria itu.
"Tidak, tidak, tidak." Senja mencoba untuk menghilangkan bayangan Lucas sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.
Senja tahu ia sudah melakukan hal yang salah tapi rasanya begitu aneh. Senja tidak bisa mengontrol dirinya ketika berciuman dengan Lucas dan kini ia mulai kehilangan akal sehatnya.
"Aku harus segera kembali." lirih Senja sambil melihat ke sekelilingnya.
Sebelum kembali, Senja mengecek lagi ranjang obat yang ia bawa. Anehnya ia menemukan ginseng berusia lebih dari 100 tahun disana.
"Sejak kapan ada ginseng berusia 100 dan 200 tahun disini? Bukannya yang ku dapat hanyalah ginseng berusia beberapa bulan saja."
Tanpa banyak berpikir, Senja pun pergi dari area itu dan segera kembali ke rumah kaca. Ketika ia sampai disana, prof Aiden sudah mulai menghitung hasil panen tim lainnya.
"Hampir aku terlambat."
"Dari mana saja kau? Apa akar ginseng seperti tanaman langka bagi mu?" Ejek Dira sambil memperlihatkan akar ginseng yang ia miliki.
Senja sungguh malas untuk sekedar meladeni Dira apalagi setelah kejadian yang menimpanya barusan. Namun untung saja sebelum memasuki rumah kaca, Ristia sudah memudarkan bekas kecupan dan juga gigitan yang dibuat oleh Lucas.
"Semuanya sudah saya nilai dan hasilnya akan diumumkan besok siang. Kalian bisa melihatnya di papan pengumuman nanti." Seru Prof Aidan sambil melihat - lihat kembali hasil yang sudah di kumpulkan para siswa.
****
Pada saat perjalanan kembali, Senja menceritakan semua yang ia alami pada Luna. Tentu saja ia merahasiakan hal - hal vulgar yang Lucas lakukan. Anehnya Luna terlihat kesal, ia seperti mengenali siapa sosok Lucas yang sebenarnya.
Senja ingin bertanya lebih jauh, namun Luna sudah mengehentikan tindakannya dan menyuruh Senja untuk tidak menceritakan kejadian itu pada ketiga sahabat mereka yang lain.
Setelah sampai di akademik, Luna bukannya kembali ke gedung asrama melainkan pergi menuju gedung ksatria. Senja yang melihat hal itu hanya bisa memasang wajah curiga.
"Aku rasa Luna sangat mengenal Lucas."
Meski penasaran, Senja tetap diam. Ia tahu jika semakin dalam mengetahui rahasia ini, maka hasilnya akan lebih buruk lagi. Ia lalu pergi ke gudang untuk bertemu Prof Edward seperti biasanya.
"Bagaimana kemampuan ku Prof?" Tanya Senja saat melihat Prof Edward yang sedang bersantai di bawah pohon.
"Seperti biasa." Jawab Prof Edward sambil melangkah maju mendekati Senja.
"Buatlah besi itu terangkat." lanjut Prof Edward sambil menunjuk ke arah batang besi yang ada di depan mereka.
"Tapi aku sudah melakukannya setiap hari, bukankah kita harus melatih yang lain juga?"
"Untuk hal dasar saja kau tidak bisa apalagi yang lainnya." Seru Prof Edward sambil melangkah pergi ke arah pohon di mana ia bersantai tadi.
" Kau harus melatih jiwamu terlebih dahulu, baru setelah itu sihirmu, karena jiwa yang sehat menunjukkan sihir yang sempurna. "
Lanjut Prof Edward sambil menyilangkan tangannya.
"Atur pernapasan mu agar alirannya lancar, perhatikan juga titik tumpulnya lalu konsentrasi lah dengan baik, karena itu akan membantu perkembangan sihir mu. "
"Baiklah." jawab Senja malas.
Sudah tiga bulan sejak Senja berlatih mengontrol kekuatannya dengan Prof Edward. Ia melakukan latihan ini dibelakang gudang dekat gedung ksatria yang bahkan tidak seorang pun mengetahui hal ini kecuali kepala sekolah dan Miss Aila.
Hal ini sengaja dirahasiakan setelah mereka mengetahui potensi dari kekuatan Senja yang sempat meledak pada saat pemilihan tongkat sihir.
Selama pelatihan itulah Senja mulai berkembang dan kekuatan levelnya mulai meningkat. Sekarang Senja sudah mendapati posisi level yang setara dengan senior sihir semester empat.
Awalnya Prof Edward begitu kaget dengan pesatnya perkembangan level Senja namun mengingat energi kekuatannya yang besar hal itu bukanlah kemustahilan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Miska Amalia
sampai sini dulu kak..nanti lanjut lagi...saya suka karyamu kak...smngt
2021-03-17
0
🍫 Hiat^٥MayΤυΙρa🍥╏ 🍨
Lucas De Green seorang pangeran nih<( ̄︶ ̄)>
2020-11-13
1