"Sihir itu tumbuh sesuai dengan pribadi pemiliknya, jika kau berikan cinta padanya maka sihir itu akan menjadi sahabat namun jika kau beri luka maka sihir itu akan menjadi bencana."
*****************#####*****************
Setelah kepulangan Senja dan Luna dari kediaman Marques Winter. Mereka langsung kembali ke akademik Adeline sedangkan Muna harus tinggal dua hari lagi di kediamannya untuk urusan keluarga.
Setibanya di akademik Senja dan Luna sudah di sambut oleh Zakila dan Maya. Selama ini mereka selalu mendapatkan surat dari Luna mengenai kesehatan Senja melalui burung hantu dan ketika mereka tahu bahwa Senja akan kembali hari ini, mereka begitu senang dan bahkan menyambutnya di pintu gerbang.
"Bagaimana kabar mu?" tanya Zakila sambil menggandeng tangan Senja.
"Aku baik-baik saja," jawab Senja seadanya.
"Mengapa aura ini terlihat aneh, Apa terjadi sesuatu yang khusus di sana?" tanya Zakila kembali.
"Tidak ada, tapi sebelum itu kami harus menghadap Miss Aila untuk melaporkan tugas."
"Oh baiklah," seru Zakila acuh.
Senja dan Luna lalu pergi ke ruangan Miss Aila untuk melapor. Mereka mengatakan yang seadanya saja sebab sebelum mereka kembali Marques sudah berpesan agar tidak memberitahukan siapa pun tentang kejadian saat itu terlebih lagi hewan suci apa yang sudah dimiliki oleh Senja.
"Ah jadi begitu. Baguslah jika kamu sudah sehat, setelahnya datanglah setiap hari Selasa sampai Kamis sehabis kelas ke belakang gudang perlengkapan untuk melatih pengontrolan kekuatan mana mu," tutur Miss Aila.
"Baik Miss," seru Senja sambil berdiri dari kursinya.
"Kau akan diajarkan oleh prof Edward nantinya," lanjut Miss Aila sambil menepuk singkat pundak Senja.
Senja hanya mengangguk tanda setuju dan mereka pun segera keluar dari ruangan Miss Aila. Di dalam perjalanan menuju asrama Luna sempat menceritakan secara singkat siapa itu Prof Edward.
Luna berpesan agar tidak menceritakan semua yang Senja alami kepada Prof Edward karena Luna tidak tahu pasti apakah Prof Edward itu orangnya baik atau tidak.
"Ah lelahnya," lirih Senja sembari melemparkan tubuhnya ke atas kasur.
"Nona lepas dulu sepatu mu," seru Dian sambil meletakkan teh hangat di atas meja.
"Nona apa yang terjadi saat itu?" lanjut Dian sambil melepaskan sepatu yang di kenakan Senja.
"Ya kau sudah tahu bukan," seru Senja singkat sambil melepaskan pakaiannya.
"Tapi Nona, anda tahu dari mana jika mereka akan ke sana?" tanya Dian semakin penasaran.
"Insting," jawab Senja lalu duduk di atas kursi lalu memakan camilan.
"Insting?" Dian tidak terlalu percaya tapi ia hanya mengangguk tanda setuju.
"Aku sengaja membuat ilusi sehingga mereka tidak menyadari jika aku hilang selanjutnya itu adalah keberuntungan semata," jelas Senja yang di jawab anggukan oleh Dian. Senja kemudian kembali menerawang kejadian satu hari yang lalu sebelum keluar dari hutan black forest.
"Nona Sepertinya ada hewan suci langka berusia 1000 tahun sedang berkeliaran di hutan ini untuk mencari makan," tutur Lily ketika Muna dan keluarganya baru saja tiba di meja makan.
"Hewan suci? Bukannya hutan ini memang penuh dengan hewan suci?" tanya Senja acuh, Lily hanya bisa memutar bola matanya jengah melihat tingkah laku tuannya itu.
"Ya ampun Nona, hewan suci itu sangatlah langka dia baru saja terbangun setelah 200 tahun tertidur di hutan ini. Jika dihitung dari umurnya maka dia sudah memiliki tingkat kekuatan level 9 yang hampir setara dengan level dewa," jelas Lily yang membuat Senja hampir saja tersedak minumannya.
"Apa kau bisa mendeteksi letaknya?" tanya Senja sembari tersenyum sinis pada Mina yang sedang menghinanya.
"Tidak," jawab Lily singkat.
"Yah percuma saja jika begitu," tutur Senja sambil memakan buah persik.
"Aku memang tidak bisa tapi Ristia bisa melakukannya," lanjut Lily dengan wajah kesalnya.
"Apakah begitu? Bagus sekali, mari kita buat rencananya," tutur Senja sambil meminum teh vanila.
Setelah selesai makan Senja mengganti bajunya sebelum berjalan-jalan ke hutan.
"Dian sampaikan pesan ku pada Eza dan suruh dia untuk terus berada di dekat Marques atau pun Cavil," seru Senja yang di jawab anggukan kepala.
"Dian kau harus ingat satu hal ketika aku sudah memberikan mu aba - aba maka alihkan perhatian Luna dan Muna lalu bimbing mereka memutar di area ini," tutur Senja sembari menunjukkan peta yang di ambil oleh Eza dari tenda Marques.
"Buat mereka tidak bisa menemukan ku sampai aku sendirilah yang akan menemui mereka, kau paham," seru Senja penuh penekanan.
"Baik Nona, tapi aku tidak bisa menjaminnya karena mereka sulit untuk diperdaya," jelas Dian lalu memakaikan sepatu tali untuk Senja.
"Tidak perlu khawatir, mereka akan terkena ilusi dari Lily untuk sementara waktu," lirih Senja sambil menaruh Lily ke dalam kantong bajunya.
"Baik Nona,"
Ketika Lily hendak melakukan ilusi tanpa sengaja Dian digigit oleh white, Senja lalu melakukan link dengan Lily agar menundanya untuk sesaat. Di dalam perjalanan menuju sungai Dian berbisik pada telinga Senja jika white bisa membantu dalam rencana tersebut.
Luna yang pergi memancing sedangkan Muna yang duduk beristirahat tidak sadar jika Dian menyuruh white untuk mengganggu ke empat ksatria penjaga agar mereka pergi beberapa saat dari tempatnya.
"Nona bagaimana jika namanya white?" tanya Dian sambil melirik sekilas ke arah penjaga.
Senja yang mengerti maksud Dian pun bertanya pada Muna untuk memastikan apakah Muna menyadarinya atau tidak.
"Dasar pencuri!" teriak Luna sambil membawa seekor kucing liar mendekati mereka. Senja awalnya hanya kaget tapi setelah melihat reaksi Muna akan hal tersebut membuat Senja menjadi cukup tertarik.
"Pfftt..." Senja mencoba menahan tawanya karna ia sudah membuat rencana baru.
"Sudahlah lepaskan saja," seru Senja tapi ia tahu dengan wataknya Luna, kucing itu tidak mudah untuk dilepaskan.
"Mungkin kali ini takdir akan mendukung ku," gumam Senja lalu ia menyuruh Ristia mengacaukan pikiran si kucing dengan memberikan sedikit racun dalam tusukannya.
Kucing itu pun lalu menggigit tangan Luna dan kabur lantas setelahnya Senja menyuruh Lily memberikan ilusi pada Muna dan juga Luna sewaktu mereka berlari mengejar kucing liar tersebut.
"Inilah saatnya," lirih Senja sambil menyuruh Dian mengikuti dua sahabat nya itu. Senja kemudian berlari ke arah yang berlawanan dari Luna dan Muna.
Senja mencoba untuk mencari si hewan suci itu namun ia tidak berhasil menemukannya. Senja lalu berputar - putar di area itu karna ia kehilangan arah kembali.
"Sepertinya kita tersesat," gerutu Senja sambil melihat ke sekelilingnya.
"Nona lewat sini," Lily melangkah pergi dari tempat itu.
"Ada apa Ristia?" tanya Senja ketika melihat Ristia berputar - putar di jarinya.
"Nona dia datang," bisik Ristia yang membuat Senja berbalik ke belakang dan mendapati seekor harimau besar setinggi kuda dewasa tengah melompat ke arahnya. Senja yang kaget seketika membeku dan menjadi kaku seperti patung.
"Sungguh luar biasa," lirih Senja ketika melihat tubuh besar Harimau tersebut. Senja lalu melihat ke arah kaki kirinya yang terluka.
"Sepertinya ada yang menggiringnya ke sini. Lagi-lagi takdir membantuku," gumam Senja kemudian berbicara dengan Harimau besar tersebut.
"Kau terluka?" tanya Senja sambil melihat lekat darah yang mengalir dari luka tersebut.
"Bukan urusan mu." Seketika tubuh Senja menegang saat harimau itu tiba - tiba berbicara dengannya.
Senja lalu bertanya pada Harimau itu dan tampaknya harimau itu juga kaget. Harimau itu lantas melihat Senja sambil menerawang akan suatu hal.
Ia lalu teringat dengan seseorang namun sayangnya pembicaraan mereka terputus akibat sebuah tombak yang melayang ke arah kepala Senja. Untungnya Ristia sudah membuat penghalang sebelumnya.
Ristia lalu merasakan aura yang aneh keluar dari Harimau buas tersebut yang lantas melepaskan perisainya.
"Nona ia mau melakukan kontrak," lirih Ristia ketika Senja terlihat tidak senang ketika ia melepaskan perisainya.
Beberapa saat kemudian semua orang datang dan melihat Senja dengan luka di lehernya. Senja yang kesadarannya sedikit memudar mulai menyuruh Ristia untuk mengurangi rasa sakitnya kemudian menyuruh Harimau yang bernama Kun itu untuk berubah menjadi kecil sehingga mereka bisa langsung kembali ke tenda.
Setelahnya Selesai mengenang kejadian itu Senja pun pergi ke kamar mandi lalu bersiap - siap untuk tidur sebab besok adalah hari pertama nya masuk kelas.
Pagi harinya Senja sudah di jemput oleh Maya dan Zakila untuk sarapan pagi. Di perjalanan mereka bertemu dengan Luna dan Muna yang hendak menuju ke kamarnya.
"Bagaimana tidur mu?" tanya Luna sambil berjalan melewati lorong asrama.
"Cukup baik," jawab Senja sambil mengemil coklat yang diberikan Maya.
"Aku rasa hukuman itu terlalu ringan, lihat saja wajahnya itu." Ejek Dira yang tiba-tiba muncul entah dari mana dan mulai mengacaukan pagi indah Senja seperti biasanya.
"Tentu saja sempurna," jawab Luna yang terlihat kesal.
Dira hanya menatap Luna benci lalu pergi meninggalkan mereka bersama dengan sahabatnya.
"Sudahlah, biarkan saja dia," lirih Senja sambil memberikan coklat kepada Luna.
"Terima kasih untuk bantuan mu selama ini," lanjut Senja yang menatap hangat ke arah Mia.
"Sama-sama Nona Senja," balas Mia dengan wajah memerah karna malu.
****
Selesai sarapan mereka berlima pun berpisah. Luna dan Senja pergi ke gedung sihir sedangkan Zakila pergi ke gedung guardian bersama dengan Mia sisanya tinggal Muna dan Maya yang pergi ke arena bertarung.
"Apa mereka akan bertarung? Ini kan masih awal," tanya Senja penasaran, Luna hanya tersenyum sambil mengusap kepala Senja.
"Mereka hanya latihan," jawab Luna lembut.
Hari ini adalah kelas teori yang akan dibawa oleh Miss Nike. Kelas ini berlangsung lumayan lama sekitar pukul dua siang kemudian di lanjutkan dengan kelas Prof Aidan.
"Tampannya," seru siswa perempuan yang ada di depan Senja.
"Lumayanlah buat diajak jalan ke taman," lirih Senja sambil melirik Prof Aidan yang berdiri di papan tulis sambil menjelaskan ramuan obat yang bisa di pakai dalam penyembuhan hewan suci.
"Tampannya." Kini Luna yang mulai terpesona olehnya, sedangkan Senja yang kaget langsung melirik ke arah Luna sambil tersenyum nakal.
"Mananya yang tampan?" tanya Senja dengan senyum mengejek.
Luna yang kaget dengan pertanyaan Senja mulai terlihat gelisah. Ia lalu mengambil buku dan pura - pura mencatat.
"Ah, tidak. Tidak ada," Luna salah tingkah dengan wajah yang memerah.
"Sekian pelajaran kita kali ini, jika ada yang tidak mengerti bisa tanya langsung kepada saya kapan pun kalian memiliki waktu," tutur Prof Aidan sambil membereskan bukunya dan melangkah keluar dari kelas.
Ketika Prof Aidan keluar, terlihat para siswa perempuan mulai mengerubunginya sambil pura - pura bertanya tentang materi yang tidak mereka pahami.
"Dasar tidak tahu malu," gerutu Dira sambil melangkah pergi bersama dengan Arina di sampingnya.
"Cih." lirih Sarah dengan wajah kesal ketika Dira melewati dirinya yang sudah selesai berbicara dengan Prof Aidan.
"Bilang saja jika kau iri." timpal Sarah sebelum meninggalkan kelas bersama dua orang temannya yaitu Cecil dan Kira.
"Ayo, kita akan bertemu yang lainnya di taman dekat gedung ksatria," Senja menarik tangan Luna ketika mereka berjalan di lorong kelas.
"Aku membawa roti coklat dan vanila banyak sekali. Senja kau bisa makan ini sebanyak yang kau mau," Luna kemudian melirik ke arah Dina pelayan pribadinya.
"Kalian sudah sampai," lirih Zakila sambil duduk di kursi samping Luna.
"Mau dong," lanjutnya sambil mengambil roti coklat dan memakannya.
"Yang lain mana?" tanya Luna sebelum memakan salad buah yang dibawa Senja.
"Entahlah, mungkin mereka dalam perjalanan kesini," jawab Zakila acuh.
"Makanlah ini," lanjut Zakila sambil menyuruh Mia menaruh ikan bakar di atas meja.
"Ikan, lezatnya," timpal Luna sambil menyantap ikan bakar tersebut.
"Kalian makan tanpa kami!" seru Maya dengan wajah sedih.
"Kami hanya mencicipinya saja," balas Zakila sambil menaruh roti coklat yang sudah setengah habis.
"Ayok duduk dan makanlah," seru Senja sambil menepuk kursi di sebelahnya.
Ketika Maya hendak duduk di kursi tersebut, Muna dengan cepat datang dan mendahuluinya.
"Terima kasih," Muna dengan santai mengambil ikan bakar yang ada di hadapannya.
"Kau, huh," gerutu Maya kemudian pergi duduk di kursi samping Zakila.
"Dian di mana teh hijau ku?" tanya Senja sambil melirik atas meja.
"Maaf Nona, aku lupa membawanya," Dian menunduk malu sambil memeriksa tas perlengkapan.
"Aku akan segera kembali," lanjut Dian hendak berlari pergi namun diblokir oleh Muna.
"Tidak perlu, aku sudah membawanya," seru Muna sambil melirik ke arah Fina yang kemudian menaruh beberapa gelas teh hijau untuk di minum oleh mereka bersama.
Selesai makan siang mereka berlima mulai bergosip santai dengan menceritakan pengalaman yang mereka alami beberapa hari ini.
"Dia terlihat kesal ketika tahu hal itu," seru Zakila mengingat wajah Tasya yang marah ketika mengetahui kepergian Senja.
"Yah aku lebih kesal ketika Dira menjadi ratu di tempat ini ketika kau pergi," tutur Maya sambil melihat ke arah Luna
"Yah, itu wajar saja. Dira selalu melakukan itu dimana pun ia berada," seru Luna dengan wajah jengah mengingat kelakuan Dira di istana.
"Aku penasaran akan satu hal," lirih Senja yang mendapatkan tatapan tanda tanya dari ke empat sahabatnya itu.
"Apa itu?" tanya Muna penasaran.
"Sejak kapan kita jadi pusat perhatian mereka?" tanya Senja sambil melirik ke arah barak ksatria yang ada di sudut taman dekat arena pertarungan.
"Abaikan saja mereka," lirih Maya acuh yang mendapatkan anggukan dari Muna dan yang lainnya.
"Hmm, baiklah," Senja kemudian kembali fokus pada temannya.
Mereka berlima pun saling bercerita tentang masalah satu sama lain sampai pada akhirnya Senja menceritakan kejadian waktu itu pada Zakila dan Maya yang membuat mereka terkejut sekaligus penasaran.
"Bagaimana bentuknya?" tanya Maya penasaran.
"Siapa namanya?" timpal Zakila antusias.
"Namanya Kun dan dia mirip sekali dengan kucing," jawab Senja dengan senyum hangat.
"Aku penasaran ingin melihatnya,"
"Dia ada di kamar ku, kalian bisa datang dan melihatnya namun sayangnya Kun tidak terlalu suka banyak orang," jelas Senja sambil memikirkan raut wajah Kun yang terlihat kesal.
"Bagaimana dengan kalian?" tanya Senja pada mereka berempat.
"Kalau aku mendapatkan burung elang level 3 pada saat usia enam tahun, kini ia sudah mencapai level 5," jawab Maya sambil menerawang kejadian pertemuannya dengan hewan suci tersebut.
"Namanya poni, karna bulunya yang berwarna putih namun tubuhnya besar seperti seekor kuda jantan," lanjut Maya setelah selesai bernostalgia.
"Aku mendapatkan seekor kucing gunung bewarna coklat dengan level 2 dan kini dia sudah mencapai level 5 yang sama dengan poni dan namanya adalah Miki," jelas Zakila antusias sambil mereka melirik sekilas pada Muna dan juga Luna.
"Kalau aku mendapatkan seekor alpha serigala yang levelnya 5 dan kini sudah mencapai level 6, namanya Armi," seru Luna ketika mendapatkan tatapan pengintaian dari teman - temannya.
"Punya ku namanya Ami dan dia adalah seekor burung elang berwarna merah dan besarnya dua kali dari kuda jantan, levelnya kini sudah mencapai 6," tutur Muna sambil menerawang kejadian masa lalu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
ウランダリ デウィ
yahh jadi aga pusing dikit
2021-04-04
0
🍫 Hiat^٥MayΤυΙρa🍥╏ 🍨
Part ini agak berantakan ya..
2020-11-12
1