Hutan Teratai [ Pt 2 ]

"Takdir yang membawa luka kini kembali dengan perasaan yang baru. Membawa cinta dan perjuangan menembus batas diantara keduanya."

*****************######****************

Hembusan angin pagi mulai menyapa hangat tubuh mungil Senja. Helaian rambutnya yang bebas bergerak selaras dengan datangnya angin. Kelopak mata kemerahan dengan bulu mata yang lentik kini mulai menampakkan isinya.

Perlahan Senja membuka matanya yang sayu. Ia merasa lelah dengan apa yang terjadi tadi malam. Senja masih memikirkan tentang mutiara hitam yang bisa membuat hewan suci menggila.

Ia takut jika hal itu juga terjadi pada hewan sucinya mungkin saja ia tidak akan sanggup untuk menyakiti mereka apalagi sampai membunuhnya.

"Nona, apa kau baik-baik saja?" tanya Ristia setelah merasakan energi kacau dari tubuh Senja.

Senja hanya diam, ia lalu turun dari tenda dan mulai melangkah pergi menuju tempat kejadian semalam.

"Nona," panggil Ristia khawatir dengan perilaku nona nya.

"Aku baik-baik saja," seru Senja datar sambil tetap melangkah pergi. Ristia hanya diam melihat Senja termenung sepanjang jalan. Ia tahu jika nona nya masih kepikiran tentang kejadian semalam yang cukup membuatnya frustasi sampai sekarang.

Lama Senja berjalan sampai akhirnya ia sampai di atas bukit tempat kejadian semalam dan anehnya tempat itu kosong tak bersisa.

"Ada apa ini?" tanya Senja kaget ketika melihat tempat kejadian yang seperti tidak terjadi apa pun.

"Bagaimana bisa?" tanya Senja kembali sembari berlari menuruni bukit menuju tempat itu.

"Nona, berhati-hatilah," seru Ristia kaget ketika Senja berlari menuruni bukit. Dengan sigap Ristia langsung membuat perisai agar nona nya tidak terluka ketika ia jatuh.

"Apa kau merasakan sesuatu?" tanya Senja sambil menghindari beberapa batang kayu yang menghalang jalannya.

"Nona tenanglah terlebih dahulu, Nona bisa saja terjatuh nanti," pinta Ristia sambil menyingkirkan beberapa batu yang menghadang jalan Senja.

Senja diam dan acuh tidak peduli apa yang dikatakan Ristia yang ia inginkan hanyalah sampai di tempat kejadian dengan cepat.

Ketika hendak melewati batang pohon Pinus yang bergelantungan di tanah tanpa sengaja ia menginjak akar tanaman merambat sehingga membuatnya tergelincir dan jatuh namun berkat perisai yang dibuat oleh Ristia hal itu hanya mengakibatkan luka kecil.

"Bukankah saya sudah mengatakan untuk tidak berlari." Geram Ristia ketika melihat baju yang dikenakan Senja robek akibat benturan keras dengan batu besar di sampingnya.

Senja tidak berkata apa pun, ia tetap fokus pada tujuannya.

"Jika sudah seperti ini maka keras kepalanya bisa melebihi batu," lirih Ristia kesal melihat Senja yang tetap berlari menuruni bukit meski sempat terjatuh.

"Apa kau tidak merasakan apa pun disini?" tanya Senja ketika mereka tiba di tempat kejadian semalam.

"Aku tidak merasakan apa pun Nona," jawab Ristia sambil mengamati keadaan.

"Aku yakin ini tempat semalam dimana aku menghancurkan mereka," gumam Senja tajam sambil berjalan mengelilingi tempat itu.

"Sepertinya ada yang sudah mendahului kita." seru Ristia sambil menunjukkan bekas sihir ditempat tersebut.

Senja hanya menatap nanar pada jejak sihir yang masih tersisa meski samar. "Mereka pasti sangat hebat," lanjut Ristia setelah merasakan mana besar di tempat itu.

"Apa kau bisa melacak mereka?" tanya Senja dengan gigi yang saling bertaut menahan marah.

"Nona sebaiknya kita kembali saja, jika diteruskan maka nyawa Nona akan dalam bahaya," pinta Ristia dengan wajah cemas.

"Tempat ini benar - benar sudah kembali seperti semula, tidak ada tanda bahwa tempat ini pernah dirusak,"

"Yang membuatku tambah kesal adalah meski sudah ku hancurkan namun tidak ada sedikitpun mayat ataupun hewan suci yang terluka padahal aku yakin semalam beberapa diantara mereka sudah mati. Aku yakin itu," gumam Senja tajam dengan wajah yang mulai memerah menahan kesal.

"Seberapa hebatnya mereka sampai bisa menutupi kehancuran yang telah ku buat. Jika aku tidak bisa menghancurkan mereka maka hal yang sama akan terjadi pada hewan suci lainnya, termasuk pada mereka,"

"Tidak bisa, selagi ada disini maka aku akan menemukan mereka apa pun yang terjadi," seru Senja sambil melangkah pergi dari tempat tersebut.

"Nona!" teriak Ristia sendu ketika melihat nona nya yang tidak mau menyerah.

"Baiklah Nona jika itu mau anda, aku bisa apa," lirih Ristia sambil berputar - putar ringan pada pergelangan tangan Senja.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang namun Senja masih tidak kunjung berhenti dari pencariannya.

"Nona, sudah waktunya kita istirahat sejenak," seru Ristia sambil berjalan pergi menuju leher Senja.

Senja tetap saja berjalan dan tidak peduli dengan keluhan Ristia. "Jika tidak istirahat Nona bisa sakit dan tidak akan bisa untuk menemukan mereka di hutan ini," lanjut Ristia ketika tidak mendapatkan jawaban dari Senja.

"Tenanglah sedikit, aku sedang mencari tempat untuk kita beristirahat," sahut Senja acuh lalu pergi ke arah batu besar yang berada di samping pohon Pinus.

"Ristia, jaga aku selagi meditasi," lanjut Senja ketika sudah duduk di atas batu besar itu.

"Baiklah Nona," jawab Ristia lalu membuat perisai ganda di sekitar tubuh Senja.

Sudah 1 jam Senja melakukan meditasi dengan penjagaan ketat dari Ristia.

"Aku merasakan energi yang besar dari arah Barat," lirih Senja ketika sedang berada di antara ruang dan waktu.

"Sepertinya dia tidak terkendali, apakah mungkin...?" lanjut Senja sambil meninggalkan ruang kosong tersebut.

Pertama kali Senja menemukan ruangan itu ketika ia sedang berlatih bersama Prof Edward beberapa bulan yang lalu. Sejak saat itu Senja sering menggunakannya untuk meditasi ataupun mencari sesuatu yang disembunyikan.

"Apakah kau juga merasakannya?" tanya Senja pada Ristia ketika ia sudah membuka matanya.

"Iya Nona, mana ini begitu kacau sama seperti mana pada Hyena saat itu," jawab Ristia sambil mengingat Hyena yang mati satu hari yang lalu.

Tanpa basa-basi Senja lalu pergi ke arah dimana energi itu berasal. Di perjalanan Ristia memasang perisai ganda yang diperkuat setiap detiknya untuk melindungi Senja jika saja keadaan tidak mendukung.

"Lihat itu Nona," seru Ristia ketika mereka hampir sampai di tempat tujuan.

Senja hanya diam sambil mempercepat larinya. Energi yang dikeluarkan oleh hewan suci itu kini mulai mengganas. Dari kejauhan Senja sudah melihat cahaya hitam yang menyelimuti tempat tersebut.

"Apa itu?" tanya Senja sedikit khawatir.

"Itu adalah aura gelap yang keluar dari tubuhnya, sepertinya kita sudah terlambat kini ia sudah berhasil bermutasi," cicit Ristia dengan ekor yang bergoyang asal.

"Kita harus menghentikannya sebelum ia berhasil keluar dari hutan teratai ini," tutur Senja dengan tubuh yang sedikit bergetar menahan rasa takut.

"Nona!" teriak Ristia yang tertahan di tenggorokannya.

"Yakinlah jika kita bisa mengatasi semua ini." balas Senja sambil berjalan perlahan menuju tempat hewan bermutasi tersebut.

Senja mendekati tempat itu dengan hati-hati. Langkah kecilnya perlahan mulai mendapati area sekitar hewan tersebut. Kini Senja sudah berada pada posisi yang pas untuk membunuhnya.

"Hewan apa itu?" tanya Senja ketika melihat hewan suci yang sudah bermutasi menjadi bentuk yang aneh.

Hewan suci itu kini lebih mirip dengan monster ganas dengan tubuh yang besar dan juga kulit hitam mengelupas. Tubuhnya terlihat merah dengan taring yang menjulur keluar dari mulutnya bahkan cakarnya panjang dan terlihat tajam seperti belati.

"Nona, dia adalah macan kumbang hitam. Hewan suci ini berlevel 6 tapi setelah bermutasi levelnya meningkat dan sekarang ia berlevel 9," lirih Ristia panik sambil bergelayut pada telinga kiri Senja.

"Sialan," gerutu Senja frustasi sambil menggenggam erat buku jarinya. Senja terus memperhatikan gerak-gerik dari macan kumbang itu.

Ia sedang menunggu celah untuk bisa melesatkan anak panahnya. Lama Senja menunggu namun pergerakkan hewan itu semakin lincah bahkan sudah beberapa kali Senja harus pindah tempat hanya untuk memastikan keadaannya tetap aman.

"Nona jika terus seperti ini kemungkinan kecil kita bisa melukainya," lirih Ristia ketika macan kumbang itu berpindah tempat lagi.

Senja hanya diam memperhatikan macan kumbang itu untuk menunggu saat yang tepat baginya. Senja mencoba untuk tetap tenang, ia juga tahu jika terus seperti ini maka tidak satu pun anak panah bisa ia lepaskan.

Senja memutuskan untuk memusatkan mana nya pada satu titik dan kali ini Senja tidak akan menggunakan tongkat sihirnya melainkan pedang.

Pedang yang sudah lama Senja bawa sejak masuknya ia ke dalam akademik. Pedang yang berbentuk tombak ini berwarna biru langit dan perlahan pedang itu mengeluarkan sinar di setiap sisinya. Hal itu menjadi pertanda bahwa Senja sedang mengalirkan mana di dalamnya.

Ristia yang kaget melihatnya hanya bisa tercengang dengan kekuatan luar biasa dari nona nya itu. Kini ia pun tidak mau kalah dan mencoba memperkuat lagi perisainya agar nona nya tidak terluka sedikitpun pada saat pertarungan.

Perlahan Senja membuka kembali kedua kelopak matanya, dan kini mata itu berubah menjadi warna merah yang semerah darah serta beberapa garis hijau tua yang menyelimutinya. Senja semakin erat menggenggam pedangnya. Kini Senja mulai mendekati macam kumbang itu secara diam-diam.

Senja kemudian menarik napas dan membuangnya melalui mulut agar kondisi tubuhnya tetap rileks. Ketika Senja sudah tepat berada di belakang punggung macan kumbang, Senja segera menarik pedangnya dan menebas punggung macan kumbang itu.

Macan kumbang yang merasakan aura membunuh dari arah belakang punggungnya dengan sigap melesat ke arah kiri menghindari tajamnya pedang Senja.

Melihat hal itu membuat Senja menjadi kesal dan tanpa pikir panjang terus menyerang macan kumbang namun karna level diantara keduanya sangat jauh berbeda hal itu sangat tidak menguntungkan bagi Senja.

Satu cakaran dari macan kumbang berhasil meruntuhkan perisai Ristia namun Senja masih sempat menghindar dan hanya mendapatkan luka goresan pada pergelangan tangannya.

"Nona Senja. Nona harus bisa tenang jika tidak maka kita akan dalam bahaya," cicit Ristia ketika perisai yang ia buat hancur hanya dengan sekali cakaran.

"Sial," lirih Senja dengan ekspresi wajah kesal, kini Senja semakin erat memegang pedangnya.

Senja terus mengalirkan mana nya ke dalam senjata tersebut namun macan kumbang tidak memberikan Senja kesempatan untuk menyerangnya. Macan kumbang itu terus menghujani Senja dengan cakarannya dan juga membanting keras Senja sehingga ia terus saja jatuh ke tanah.

"Aku akan membuatmu tidak akan bisa bergerak untuk selamanya," gumam Senja dalam hatinya sambil menaruh kembali pedangnya dalam sarung. Ia kemudian menarik kedua ujung pedang itu yang kemudian mengeluarkan mata rantai besi yang cukup tipis namun mematikan.

Senja berlari ke arah macan kumbang dan mengarahkan Rantai itu pada lehernya dan seketika tubuh macan kumbang itu mengeluarkan darah karna sebagian dagingnya terputus. Senja merasa puas namun kesenangannya harus pupus ketika macan kembang itu kembali mencakar Senja.

Senja tidak dapat menghindari cakaran itu sehingga kaki kirinya mengalami luka yang cukup dalam dengan beberapa goresan tajam yang menampakkan isi pahanya, Senja merasakan rasa sakit yang luar biasa namun ia tidak bisa berhenti begitu saja.

Senja yang mulai memucat lalu memusatkan untuk kembali mengumpulkan mana nya dan menarik kembali kedua ujung pedangnya sehingga berbentuk tombak dengan mata pisau pada masing-masing ujungnya.

Senja lalu memutar tombak tersebut dan menusuk-nusuk bagian tubuh macan kumbang yang membuatnya banyak mengeluarkan darah.

Ketika hendak menancapkan ujung tombak pada kepala macan kumbang Senja mulai kehilangan keseimbangannya yang membuatnya malah terkena hantaman keras dari tendangan macan kumbang. Senja yang sudah kehabisan darah mulai mengingat pesan Prof Edward tentang peluit perak tersebut.

Segera Senja mengeluarkan peluit itu namun sayangnya ketika ia hendak meniup peluit tersebut, macan kumbang itu kembali menyerang Senja dan membuat tubuh Senja terbang membentur sebuah pohon dan mengakibatkan peluit itu jatuh ke tanah.

Senja berusaha untuk mengambil peluit itu namun sayangnya hantaman demi hantaman terus menghujaninya sehingga membuat Senja semakin kesulitan dalam melangkahkan kakinya.

"Sialan," rintih Senja mencoba untuk kembali bangkit dari jatuhnya.

"Nona...!" teriak Ristia yang semakin tidak berdaya dengan kondisi tubuh nona nya yang semakin parah.

Ristia dengan cepat kembali membuat perisai berlapis namun lagi-lagi perisai itu hancur hanya dengan sekali cakaran saja.

"Seberapa kuat hewan ini sampai bisa menghancurkan perisai ku," gumam Ristia panik sambil terus memperkuat perisainya.

"Jika terus seperti ini maka tubuh Nona akan benar-benar hancur," lanjut Ristia geram dengan wajah yang mulai menghitam karna kesal.

Macan kumbang itu memiliki energi yang berantakan bahkan energi itu semakin meningkat setiap kali ia berhasil menjatuhkan tubuh Senja, kini level kekuatan macan kumbang itu meningkat pesat dari level 7 menjadi level 9.

"Jika ini dibiarkan terus - menerus maka aku akan mati sia - sia, aku tidak bisa terus begini," lirih Senja sambil menatap peluit yang jaraknya lima meter darinya.

"Ristia coba alihkan pandangannya untuk sesaat walau hanya 10 detik saja," pinta Senja yang di jawab anggukan kepala oleh Ristia.

Ketika Ristia mencoba untuk mengalihkan pandangan macan kumbang tersebut, perlahan Senja menggunakan tongkat sihirnya untuk mengambil peluit yang jatuh. Ketika hendak memegang peluit itu, tongkat sihir Senja malah hancur menjadi dua.

"Bagiamana bisa?" tanya Senja panik ketika macan kumbang itu kembali menyerangnya.

"Maafkan aku Nona," cicit Ristia penuh penyesalan.

"Peluitnya!" seru Senja ketika peluit itu kembali dihancurkan oleh macan kumbang dengan kakinya.

"Macan kumbang ini begitu pintar, bahkan ia tidak memberikan sedikit celah untuk ku,"

Senja yang mulai kehilangan kendali karena cakaran yang ada pada pahanya mulai memberikan efek sengatan.

"Sakit sekali," lirih Senja sambil menyeka darah yang mengalir dari pahanya.

"Nona luka itu telah terinfeksi maka sulit bagiku untuk menyembuhkannya," jelas Ristia yang mulai kewalahan dengan kondisi saat ini.

"Apakah aku akan berakhir seperti ini?" tanya Senja rancu sambil menatap nanar macan kumbang yang mulai mendekatinya.

Ristia merasa menyesal karna tidak bisa menyelamatkan tuannya.

"Jika memang seperti ini maka aku harus menuntaskannya segera agar tidak ada penyesalan di hari kemudian," seru Senja kembali berdiri dengan bantuan tombak di tangannya.

Senja yang kondisinya mulai kacau dengan mana yang tidak terkontrol mulai menyerang macan kumbang tersebut. Serangan demi serangan berhasil di hindar oleh macan kumbang.

Namun akibat dari serangan acaknya, ia membuat macan kumbang itu sedikit kewalahan. Serangan Senja semakin lama Semakin tajam. Senja mulai merasakan mana baru yang keluar dari tubuhnya dan mana itu begitu asing namun sangat kuat.

"Apa ini?"

"Apa pun itu aku tidak peduli asalkan dia bisa mati," lirih Senja tajam sambil menarik pedangnya. Ia lalu menebas salah satu kaki macan kumbang. Mata Senja kini berubah menjadi warna merah tua dan juga biru pekat.

Pedang yang ia genggam mulai terasa panas dan suhu disekitarnya mulai mendingin seperti es. Senja lalu menebas kembali tubuh macan kumbang tersebut namun bukannya putus tubuh macan kumbang itu malah meleleh seperti besi yang dipanaskan.

Serangan Senja semakin ganas dan membabi buta bahkan seluruh tanaman yang ada di area itu kini membeku layaknya es. Senja lalu mengibaskan kembali pedangnya dan kini tubuh macan kumbang membeku dengan potongan - potongan kecil.

"Nona, sudah hentikan," seru Ristia yang bergelayut di pergelangan tangan Senja. Meski Ristia adalah hewan miliknya namun ia masih bisa merasakan dampak dari mana besar yang dikeluarkan oleh nona nya itu.

"Sungguh energi yang dahsyat," gumam Ristia pelan.

Senja yang sudah kehilangan banyak darah sejak pertarungan awal kini mulai kehilangan kesadarannya, ia merasa tubuhnya begitu asing namun juga kuat.

Senja sudah berhasil melewati level 5 awal dan menempati posisi level 5 akhir hal itu terjadi akibat dari pertarungan sengit yang ia lakukan dengan macan kumbang yang hampir saja membuatnya kehilangan nyawa.

Ristia mencoba mengobati luka Senja dan membuat pendarahannya berhenti namun hal itu membutuhkan waktu lama sehingga Senja terus saja kehilangan kesadarannya sampai seorang pria datang terburu - buru dari arah selatan mereka.

Pria itu tampak begitu kacau dengan kuda yang ia tunggangi. Ia dengan terburu - buru menarik tubuh Senja ke dalam pelukannya dan membawa Senja pergi bersamanya.

Ristia yang berbagi energi dengan Senja mulai merasa lelah karna nona nya tidak sadarkan diri dalam waktu yang lama, bukan hanya Ristia yang merasakan itu bahkan Kun dan Lily merasakan hal yang sama.

Mereka bahkan tidak memiliki energi untuk bergerak, Dian yang menyadari hal itu langsung menghubungi Eza dan menyuruhnya segera kembali untuk mengecek kondisi nona mereka di hutan teratai.

Terpopuler

Comments

文华亮

文华亮

Like tertinggal sudah mendarat thor.

Salam hangat dari Pangeran Senja☘

2020-07-08

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Pertukaran Takdir
3 Buku Diary Senja
4 Perubahan
5 Pertemuan
6 Kesetiaan
7 Hari Pemilihan
8 Sahabat
9 Sadar
10 Black Forest
11 Magis Pet pt 1
12 Magis Pet [ 2 ]
13 Akademik Sihir
14 Siapa Kamu?
15 Perjalanan Ekspedisi
16 Hutan Teratai
17 Hutan Teratai [ Pt 2 ]
18 Kegelisahan
19 Terselubung
20 Pencarian
21 Pulih
22 Pulih pt 2
23 Pulih pt 3
24 RENCANA
25 Jebakan
26 Rahasia Permaisuri Mawar
27 Rahasia Permaisuri Mawar pt 2
28 Investasi
29 Investasi pt2
30 Investasi Pt3
31 Kesepakatan
32 Siasat
33 Persiapan
34 Ujian Akademik
35 Let's Start the Games
36 LSTG Pt 2
37 LSTG Pt 3
38 LSTG Pt 4
39 LSTG Pt 5
40 Finish Games
41 Permulaan Rencana
42 Akhir dari Pengkhianatan
43 Rumah baru
44 Rahasia Gelap
45 Eksekusi
46 Umpan
47 Tertarik
48 Tertarik Pt 2
49 Kerajaan Aruna
50 Party
51 Party Pt 2
52 Party Pt 3
53 Sumpah
54 Sumpah Pt 2
55 Kerajaan Guira
56 Kerajaan Guira Pt 2
57 Kerajaan Guira Pt 3
58 Kerajaan Guira Pt 4
59 Kerajaan Guira Pt 5
60 Perangkap
61 Wilayah Timur
62 Wilayah Timur Pt 2
63 Wilayah Timur Pt 3
64 Wilayah Timur Pt 4
65 Lucas de Green
66 Lucas de Green pt 2
67 Kerajaan El-Aufi
68 Kerajaan El-Aufi Pt 2
69 Penyamaran
70 Persimpangan Jalan
71 Teman Jalan
72 Teman Jalan pt 2
73 Teman Jalan pt 3
74 Teman Jalan pt 4
75 Pertemuan
76 Pertemuan pt 2
77 Pertemuan pt 3
78 Pertemuan pt 4
79 Pertemuan pt 5
80 Pertemuan pt 6
81 Kunjungan Sahabat
82 Kunjungan Sahabat pt 2
83 Perubahan Rencana
84 Takut
85 Panik
86 Panik pt 2
87 Kelinci Percobaan
88 Gelisah
89 Kesalahpahaman
90 Pesta Teh
91 Pesta Teh pt 2
92 Festival Rakyat
93 Festival Rakyat pt 2
94 Festival Rakyat pt 3
95 Festival Rakyat pt 4
96 Festival Rakyat pt 5
97 Festival Rakyat pt 6
98 Danau Sinju
99 Danau Sinju pt 2
100 Danau Sinju pt 3
101 Danau Sinju pt 4
102 Danau Sinju pt 5
103 Memantau
104 Wajah Baru
105 Pukulan Kecil
106 Keputusan
107 Fakta
108 Fakta pt 2
109 Pesta Kedewasaan [End Season 1]
110 End Season
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Prolog
2
Pertukaran Takdir
3
Buku Diary Senja
4
Perubahan
5
Pertemuan
6
Kesetiaan
7
Hari Pemilihan
8
Sahabat
9
Sadar
10
Black Forest
11
Magis Pet pt 1
12
Magis Pet [ 2 ]
13
Akademik Sihir
14
Siapa Kamu?
15
Perjalanan Ekspedisi
16
Hutan Teratai
17
Hutan Teratai [ Pt 2 ]
18
Kegelisahan
19
Terselubung
20
Pencarian
21
Pulih
22
Pulih pt 2
23
Pulih pt 3
24
RENCANA
25
Jebakan
26
Rahasia Permaisuri Mawar
27
Rahasia Permaisuri Mawar pt 2
28
Investasi
29
Investasi pt2
30
Investasi Pt3
31
Kesepakatan
32
Siasat
33
Persiapan
34
Ujian Akademik
35
Let's Start the Games
36
LSTG Pt 2
37
LSTG Pt 3
38
LSTG Pt 4
39
LSTG Pt 5
40
Finish Games
41
Permulaan Rencana
42
Akhir dari Pengkhianatan
43
Rumah baru
44
Rahasia Gelap
45
Eksekusi
46
Umpan
47
Tertarik
48
Tertarik Pt 2
49
Kerajaan Aruna
50
Party
51
Party Pt 2
52
Party Pt 3
53
Sumpah
54
Sumpah Pt 2
55
Kerajaan Guira
56
Kerajaan Guira Pt 2
57
Kerajaan Guira Pt 3
58
Kerajaan Guira Pt 4
59
Kerajaan Guira Pt 5
60
Perangkap
61
Wilayah Timur
62
Wilayah Timur Pt 2
63
Wilayah Timur Pt 3
64
Wilayah Timur Pt 4
65
Lucas de Green
66
Lucas de Green pt 2
67
Kerajaan El-Aufi
68
Kerajaan El-Aufi Pt 2
69
Penyamaran
70
Persimpangan Jalan
71
Teman Jalan
72
Teman Jalan pt 2
73
Teman Jalan pt 3
74
Teman Jalan pt 4
75
Pertemuan
76
Pertemuan pt 2
77
Pertemuan pt 3
78
Pertemuan pt 4
79
Pertemuan pt 5
80
Pertemuan pt 6
81
Kunjungan Sahabat
82
Kunjungan Sahabat pt 2
83
Perubahan Rencana
84
Takut
85
Panik
86
Panik pt 2
87
Kelinci Percobaan
88
Gelisah
89
Kesalahpahaman
90
Pesta Teh
91
Pesta Teh pt 2
92
Festival Rakyat
93
Festival Rakyat pt 2
94
Festival Rakyat pt 3
95
Festival Rakyat pt 4
96
Festival Rakyat pt 5
97
Festival Rakyat pt 6
98
Danau Sinju
99
Danau Sinju pt 2
100
Danau Sinju pt 3
101
Danau Sinju pt 4
102
Danau Sinju pt 5
103
Memantau
104
Wajah Baru
105
Pukulan Kecil
106
Keputusan
107
Fakta
108
Fakta pt 2
109
Pesta Kedewasaan [End Season 1]
110
End Season

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!