"Kelemahan bukanlah sebuah aib namun itu adalah kelebihan dimana kita bisa belajar darinya. Belajar untuk menerima, mencintai, dan juga berjuang."
*****************######****************
Di bawah cahaya sinar yang temaram. Dian sedang menulis sebuah surat yang akan segera dikirim ke desa dimana Eza tengah berada.
"Teruntuk Eza.
Segeralah kembali ke ibu kota dan bergegas pergi menemui Nona Senja di hutan teratai. Kondisinya sekarang sedang tidak baik. Kun, Lily dan Vanilla begitu lemah.
Mana mereka menghilang dalam sekejap dan sekarang mereka tengah tertidur dan tidak sadarkan diri. hal itu terjadi beberapa jam yang lalu. Saya khawatir terjadi sesuatu dengan Nona, kembalilah segera dan laporkan apa yang terjadi disana.
Dian."
Surat itu lalu dikirim melalui pos sihir akademik, setelahnya Dian hanya bisa menunggu kabar dari Eza sambil merawat ketiga hewan suci milik nona nya.
****
Taman Asrama
"Huh!" Luna terlihat kesal ketika sinar mentari mulai memasuki kornea matanya.
"Menyebalkan," lanjut Luna sambil mengangkat tangan kanannya untuk menghalangi cahaya masuk lebih dalam.
Dari kejauhan Zakila melihat Luna yang tengah duduk santai di bawah pohon apel, ia lalu mendekati Luna.
"Ada apa dengan wajah mu?" tanya Zakila ketika melihat wajah Luna yang kesal. Luna hanya diam lalu berdiri dari duduknya.
"Seperti biasa," lirih Luna mendekati Zakila.
Zakila yang bingung hanya bisa mengerutkan dahinya. "Ada apa dengan mu?" tanya Zakila kembali. Ia cukup penasaran dengan kondisi temannya itu.
"Kakak ku," cicit Luna malas sambil melangkah pergi.
"Hal yang sudah biasa terjadi," seru Muna yang tiba-tiba muncul dari balik pohon.
"Astaga!" pekik Zakila kaget ketika melihat Muna keluar dari balik pohon.
"Sejak kapan kau ada disana?" tanya Zakila dengan wajah kesal dan mulut yang di majukan.
"Sejak tadi," jawab Muna acuh lalu pergi meninggalkan Zakila menuju gedung asrama.
"Untuk apa?" Zakila kembali bertanya sambil mengikuti Muna dari belakang.
"Menikmati hidup," lirih Muna datar.
"Huh, dasar aneh," cicit Zakila kesal masih dengan mulut yang dimajukan.
Mereka berdua pergi mengikuti Luna yang sudah berada di lantai tiga asrama. Ketika hendak menaiki tangga, keduanya dihadang Dira dan temannya.
"Buru - buru sekali?" Dira berdiri tepat di hadapan Muna dengan raut wajah mengejek.
Muna terlihat acuh, ia malas meladeni Dira saat ini. "Bukan urusan mu," cicit Zakila masih kesal dengan kejadian tadi.
"Kami mau kemana, itu urusan kami," lanjut Zakila dengan tajamnya lalu melangkah pergi meninggalkan Dira.
Dira yang tidak terima dengan perlakuan Zakila lalu menarik tangan gadis itu dan mendorongnya jatuh ke lantai.
"Dasar anak kampung," ejek Tasya dengan tatapan menghina. "Kau sama saja dengan saudari mu ya lemah itu," sambungnya dengan nada tidak suka.
"Namanya saja anak kembar, sudah pasti kelakuan mereka tidak jauh berbeda," seru Mari sombong sambil memainkan anak rambutnya.
"Hentikan itu," bentak Muna sambil membantu Zakila berdiri dari jatuhnya.
"Kalian sama sekali tidak pantas melakukan itu. Kalian tidak sadar jika perbuatan kalianlah yang hina," lanjut Muna masih dengan ekspresi dinginnya.
"Astaga, takutnya." Ejek Mari dengan nada suara seolah-olah ia sedang ketakutan.
"Heh, kau pikir. Kau itu siapa? Hanya seorang putri negara kecil saja sombong," lanjut Mari sedikit kesal.
"Kau, kurang ajar." Zakila yang semula kesal kini menjadi lebih kesal lagi dengan perlakuan Mari padanya.
"Kau pikir aku ini siapa hah?" tanya Zakila dengan busung dada yang di majukan.
"Kau itu sampah, dasar tidak tahu diri," cicit Mari sambil mendorong kuat tubuh Zakila.
"Ugh, kau itu hanya putri seorang Vincount, berani sekali kau padaku." teriak Zakila sambil balas mendorong tubuh Mari.
"Lihatlah kelakuan bar-bar teman kampung mu itu," seru Tasya sambil menunjuk ke arah Zakila yang tengah adu dorong dengan Mari.
"Kalian hanya hama kecil bagiku," lirih Dira sambil mengibaskan tangannya ke udara kosong di sekitar.
"Kalian tidak pantas ada disini, terlebih lagi anak aneh yang berambut silver itu," lanjut Dira melirik sekilas pada pelayannya, Risa.
"Namanya Senja, bukan 'anak aneh itu'," cibir Muna kesal.
"Senja, putri buangan Duke Ari yang diputus oleh tunangannya lalu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri namun gagal."
Ejek Dira sengaja untuk memprovokasi Muna yang sedari tadi hanya diam. Muna yang mendengar hal itu lantas menatap tajam pada Dira sambil mengeluarkan aura membunuh disekitarnya.
Hal itu membuat beberapa siswa yang ada disana terkejut, tidak terkecuali Dira. Ia tanpa sadar menggigil saat Muna mulai menatapnya tajam.
"Kau...!! beraninya!" pekik Dira tidak bisa menahan amarahnya. Dira lantas mengeluarkan energi yang sama besarnya dengan Muna. Tasya dan Mari pun tidak mau kalah. Mereka menatap tajam pada Muna dan Zakila.
Disisi lain Luna yang sedang turun dari lantai kamar Senja mulai merasakan aura tajam dibawahnya. Ia segera bergegas menuruni anak tangga menuju lantai bawah dimana Muna dan Zakila berada.
"Keluarga Winter memang pantas untuk mati," tutur Tasya sambil mengeluarkan pedang dengan mantra sihirnya.
"Kau akan celaka hari ini." Mari menarik ujung bibirnya dan tersenyum sinis.
"Kalian lah yang akan mati," balas Zakila tajam. Mendengar itu Tasya tidak terima, ia sebenarnya cukup kesal dengan Maya yang merupakan saudari kembar Zakila.
Maya selalu saja menghalanginya ketika latihan pedang sehingga Tasya mempunyai dendam terselubung padanya.
"Rasakan ini," tutur Tasya sambil menendang tubuh Zakila yang membuatnya terbang dan terjatuh jauh dari mereka.
"Ugh!" teriak Zakila kuat ketika tubuhnya menabrak kursi.
"Zakila!" Maya yang baru saja tiba di lantai bawah dikagetkan dengan melayangnya Zakila tepat dihadapannya.
"Ada apa ini?" tanya Maya sambil membantu Zakila berdiri setelah membentur jatuhnya.
"Argh, sakit."
Erang Zakila sambil memegang tangan kirinya. Wajahnya mulai memerah dan terdapat luka sobek kecil pada dahinya.
"Sakit sekali," cicit Zakila sambil membenamkan wajahnya ke dalam pelukan Maya, tangisnya pun pecah. Maya merasa tersayat hatinya. Ia marah dengan apa yang terjadi pada Zakila, adiknya.
Muna sudah kehilangan kesabarannya, ia lantas menendang Tasya dan juga Mari namun berhasil di halang oleh Dira.
"Kau ingin menyakiti sahabat ku, jangan mimpi," seru Dira kemudian mengarahkan tongkat sihirnya pada Muna.
Dira lalu mengibaskan petir api dari tongkat sihirnya namun karna Muna merupakan elemen angin sehingga petir itu ia biaskan ke arah kaca gedung asrama.
"Kau benar-benar sudah keterlaluan Dira. Kau juga tasya." Muna menunjuk Tasya dengan kesal.
"Jangan karna kau adik seorang selir raja, kau bisa berbuat sesukamu disini. Kau harus ingat bahwa keberadaan mu itu hanyalah sebuah kesalahan," lanjut Muna yang berhasil membuat Tasya lebih geram dan naik pitam.
"Beraninya kau menghina ku," seru Tasya marah dengan wajah semerah tomat masak.
"Jangan harap kau akan selamat sekarang."
Tasya lantas mengayunkan pedangnya ke arah Muna.
Maya yang tidak terima dengan semua nya mulai mengeluarkan pedang dan menghalangi Tasya. Gerakan pedang Maya cukup hebat. Ia mengibaskan pedangnya sehingga membuat Tasya terjatuh dan pedangnya pun terlepas dari genggamannya.
"Dasar sialan, kau bahkan tidak tahu caranya memegang pedang dengan benar lantas mengatakan hal yang buruk pada kami," seru Maya sambil memalingkan wajahnya ke arah Mari dan kemudian mengarahkan pedangnya pada leher Mari yang mulus.
"Jika sekali lagi kau berani menyakiti adik ku, maka pedang ini akan membuat sejarah pada lehermu."
Mari yang takut dengan ancaman Maya mulai bergetar dan jatuh ke lantai dengan kaki yang lemas. Dira yang tidak terima akan hal itu mengarahkan tongkat sihirnya pada Maya namun ketika hendak merapalkan mantra, tongkatnya terjatuh.
"Argh...," teriak Dira ketika pergelangan tangannya terbakar oleh api kecil.
"Sialan, siapa itu?" Dira terlihat kesal sambil memegang tangannya yang terbakar. Ia melihat ke kanan dan kiri lalu menemukan Luna yang tengah berada di atas tangga sambil memegang tongkat sihirnya.
"Hentikan itu Dira, kau sudah keterlaluan," seru Luna sambil mendekati mereka.
"Jika kau tidak menghentikan ini maka aku sendirilah yang akan melawan mu." Luna lalu menatap tajam Dira sambil mengeluarkan energi besar dari aura intimidasinya.
"Ugh." Dira tidak kuasa dengan aura intimidasi yang dimiliki Luna sehingga ia menyerah dan memilih untuk pergi di ikuti oleh Tasya dan Mari di belakangnya.
"Aku akan membalas semua penghinaan ini nantinya," gumam Dira saat ia melangkahkan kakinya.
"Kali ini kau menang, tapi esok jangan harap," gerutu Tasya ketika memasukkan kembali pedangnya.
"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Luna sambil menatap kedua sahabatnya itu.
"Aku baik, tapi Zakila." Maya mulai terlihat kesal ia kemudian pergi kearah kursi dimana Zakila tengah berada.
"Zakila," lirih Luna ketika mendapati luka lebam di sekitaran tubuh Zakila.
Zakila berusaha untuk berdiri namun tidak disangka ternyata kakinya patah.
"Argh!"
Zakila merasakan ngilu yang hebat pada pergelangan kakinya. "Sepertinya ini patah," seru Muna sambil mengecek pergelangan kaki Zakila.
"Sialan mereka semua," geram Maya yang menggenggam erat buku tangannya.
"Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi pada kalian sampai bisa seperti ini?" Luna bertanya dengan ekspresi wajah sedih.
Zakila lalu menceritakan semua kejadian sejak awal bertemu sampai pertarungan yang tidak bisa dihindarkan.
"Dira," lirih Luna kesal. Wajah cantiknya mulai memerah dan matanya mulai memanas.
"Beraninya dia."
Kini Maya terlihat lebih kesal, ia lalu memandang ke arah dimana Dira dan kedua sahabatnya itu menghilang.
"Tidak hanya Zakila bahkan Senja juga."
Maya memegang pedangnya dengan erat namun Muna menahannya, ia menatap Maya sambil menggelengkan kepalanya.
"Ini belum waktunya," tutur Muna dingin.
"Benar kata Muna, untuk sekarang kita obati dulu luka Zakila," seru Luna kemudian membawa Zakila pergi menuju ruang kesehatan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
文华亮
Like tertinggal ikut mendarat. Salam hangat dari "Pangeran Senja"☘
2020-07-10
1
Nilaaa🍒
hadir kembali kk
semangat selalu
salam dari IKYD
2020-07-10
1
Nabilah Darunara
next up yuk kak!
rate 5 dan boom like sudah mendarat supaya kakak lebih semangat!!
mampir kekaryaku juga yuk yang berjudul "M?For?"😍😊🤗
2020-07-10
1