"Kekuatan yang mengalir itu sangat kuat tidak seorangpun bisa mengatasinya termasuk aku."
*****************######***************
Author Point Of View
Di sebuah gedung mewah dengan ornamen lukisan kuno dan latar putih. Tampak begitu suram, di sudut lorong bagian selatan terdapat sebuah kamar yang ditempati oleh seorang wanita muda yang tengah tertidur pulas. Wanita itu tampak pucat dengan rambut perak ya mulai rontok sedikit demi sedikit.
Disudut kamar terdapat beberapa kursi kayu dan sebuah meja bundar yang tampak berantakan dengan tumpukan kertas mantra.
"Apakah ini akhirnya?" tanya Luna yang sedang menatap Senja.
"Aku tidak bisa memastikannya," jawab Profesor Edward, yang merupakan guru ilmu hitam di akademik ini.
"Mungkin butuh waktu beberapa hari lagi sampai dia bisa sadar." Kini Miss Aila yang bicara, wajahnya tampak gelisah dengan kerutan di dahinya.
"Mau sampai kapan lagi?" tanya Muna dengan tampang dinginnya.
"Apakah kita harus membawanya ke tempat suci barulah ia bisa sadar?" tanya Maya menimpali. Semua orang yang ada di tempat itu melihat Senja yang sedang terbaring lemah dengan kantong darah di sampingnya.
"Tunggu saja dulu," tutur Jacob sambil berjalan ke arah Senja.
"Kita tidak boleh gegabah, kejadian waktu itu telah dicurigai oleh beberapa bangsawan kelas atas dan juga negara tetangga bahkan untuk menyembunyikan hal itu butuh usaha besar jangan sampai hal yang sama terulang kembali."
Jacob menjelaskan sambil menerawang kejadian dua minggu lalu. Ketika Senja mulai tidak terkendali, dan kondisi mulai kacau.
Energi besar yang dikeluarkan oleh Senja menimbulkan efek yang sangat parah bahkan dibutuhkan beberapa ahli untuk memurnikan gedung aula kembali. Ditambah mereka harus menghapus ingatan semua penyihir muda dan juga para senior yang ada di dalam aula serta beberapa penjaga serta ksatria yang berjalan di area gedung aula saat itu.
Untung saja akademik ini memiliki gerbang kendali untuk mengontrol energi dalam agar tidak menyebar keluar area sehingga mereka yang berniat jahat tidak dapat menemukannya.
Namun, meski begitu tetap saja energi yang dikeluarkan oleh Senja berhasil menerobos pembatas dari sistem penjagaan yang ketat meskipun itu hanya samar.
"Tapi jika tidak dilakukan dengan segera hal itu bisa berakibat fatal bagi Senja," tutur Zakila sambil menatap tajam ke arah Jacob.
"Yang dikatakan kak Jacob ada benarnya namun Zakila juga tidak salah. Jika terus seperti ini maka kondisinya akan semakin parah," seru Luna sambil berjalan mendekati ranjang Senja.
"Untuk sementara kita harus membuatnya sadar terlebih dahulu," seru Profesor Xei yang sedang menimbang keadaan dan juga situasi.
"Kita tunggu saja dulu kiriman bunga penawar darinya." Lanjut Profesor Xei selaku kepala akademik yang lalu dijawab anggukan dari semua pihak.
Dua hari berikutnya Luna mendapatkan sebuah paket yang dibungkus dengan ukiran naga emas di atasnya. Luna lalu bergegas lari menuju gedung rumah sakit akademik dengan membawa kotak paket tersebut.
Sesampainya di dalam gedung rumah sakit, Luna bertemu dengan Jacob yang sedang mengobrol dengan dua orang profesor sihir. Luna kemudian memberikan kode mata kepada Jacob yang dijawab dengan anggukan kepala tanda ia mengerti.
Jacob lalu menghentikan obrolannya dan bergegas menuju kamar Senja yang terletak di lantai dua lorong ketiga. Di dalam ruangan itu sudah ada Muna dan Zakila yang tengah mengobrol ringan tentang kondisi Senja sedangkan Maya sedang membersihkan tubuh senja dengan kain basah.
"Sudah, sudah tiba," seru Luna dengan napas terputus - putus. Mereka yang berada di dalam kamar menjadi kaget, wajah mereka terlihat sedikit tenang dan penuh harapan.
"Kalau begitu lakukanlah segera," tutur Maya tidak sabaran. Luna pun segera mendekati ranjang Senja dan mengeluarkan sebuah bunga teratai putih yang mirip dengan salju.
Perlahan Luna memegang tangkai bunga teratai itu dan mendekatkannya pada hidung mancung Senja dengan wajah yang tersenyum puas. Luna lalu menggoyangkan ujung bunga tersebut seolah berharap agar dihirup oleh indra penciuman Senja.
Sudah satu menit berlalu, namun apa yang dilakukan Luna tetap membuat Senja diam. Mereka semua yang ada ditempat itu tampak panik, Luna lalu menggerakkan tangkai bunga itu dengan kasar berharap agar Senja segera terbangun dan terlihat sekali kepanikan pada wajah Luna.
"Berikan padaku," tutur Maya sambil menggenggam tangan Luna. Mata Luna terlihat memerah dan tidak terasa air mata pun mulai menetes.
Maya yang melihat tindakan Luna sedikit khawatir, ia takut Luna merusak bunga teratai tersebut. "Hentikan Luna, kau bisa merusaknya," seru Maya sambil mengangkat tangan Luna menjauh dari wajah Senja.
"Aku..., aku. Hik...."
Kini Luna tidak bisa berhenti menangis, tangannya yang memegang bunga teratai pun mulai terkulai lemas. Teratai itu lolos dari tangan Luna sebelum sampai ke tangan Maya yang alhasil membuat teratai itu jatuh sehingga kelopak bunganya berserakan.
Melihat hal itu membuat Luna lebih histeris lagi. Maya yang ada disamping Luna terlihat panik dan berusaha untuk mengumpulkan kelopak bunga yang berserakan sedangkan Zakila berlari mendekati Luna untuk menenangkannya.
Muna yang melihat situasi ini pun terlihat frustasi, ia memegang kepalanya dengan tangan berharap semua ini segera berakhir.
"Hachi!"
Suara bersin itu membangunkan mereka semua dari kekacauan yang baru saja terjadi.
Maya segera menghentikan aktifitasnya kemudian menatap ke arah ranjang dan melihat bahwa Senja sudah sadar.
Dengan ekspresi wajah yang gembira, Maya lalu membuang semua kelopak bunga yang ia genggam ke lantai sambil berlari menuju ranjang dan memeluk Senja.
Zakila dan Luna yang menyadari hal itu, segera berdiri dari lantai dan langsung memeluk Senja dengan erat sedangkan Muna yang melihat Senja siuman langsung bergegas menuju ranjang sambil menatap ke arah empat sahabatnya itu.
"Kalian seharusnya tidak memeluk orang sakit sekuat itu. Lihat, wajahnya sampai memerah," lirih Muna yang kasihan melihat kondisi Senja yang baru saja sadar.
"Oh ya ampun," Luna terlihat kaget, ia pun melepaskan pelukannya diikuti dengan Maya dan Zakila.
"Uhuk!" Senja sedikit batuk untuk menghirup udara segar akibat pelukan erat ketiga sahabatnya itu.
"Minumlah ini." Muna memberikan secangkir air hangat untuk Senja. Wajah Senja masih terlihat pucat dengan sedikit hidung yang memerah.
"Aku alergi bunga teratai," tutur Senja sambil menggosok hidungnya yang memerah karena gatal.
"Hachi!"
Kini wajah senja terlihat seperti tomat rebus akibat bersin yang tiada habisnya, hidungnya pun juga berair. Zakila lalu memberikan sapu tangannya untuk mengelap hidung Senja yang berair.
"Oh, hahaha. Pantas saja kata Prof Xei hanya bunga ini saja yang mampu membuat mu terbangun." Canda Luna sambil melihat kelopak bunga teratai yang berserakan di lantai. Mereka berempat lantas tertawa geli mengingat hal tersebut.
"Memangnya apa yang sudah terjadi pada ku?" tanya Senja dengan wajah polosnya sambil mengelap hidungnya yang berair.
Muna lalu menjelaskan semua yang terjadi pada Senja tapi ia tidak menceritakan tentang kekuatan Senja yang hampir membuat gedung aula akademik hancur.
Semua itu karena pesan dari Prof Xei agar hal ini bisa dirahasiakan supaya tidak menyebar dan membuat kegelisahan di kerajaan. Hal itu disetujui oleh mereka semua termasuk keempat sahabat itu dan karna itulah mereka merahasiakan hal ini dari Senja untuk kebaikannya sendiri meskipun Senja lah yang mengakibatkan semua hal buruk ini terjadi.
Mereka terlihat begitu bahagia sehingga tanpa sadar melupakan kehadiran Jacob di tempat itu. Jacob yang sedari tadi melihat kelakuan lima sahabat itu hanya bisa tersenyum hangat, ia juga merasa bersyukur dengan kembalinya Senja di antara mereka.
"Mereka begitu mencintaimu Senja. Selama kau terbaring lemah ditempat tidur, mereka selalu datang dan tidak pernah berhenti mendoakan kesembuhan mu," bisik Jacob dengan senyum lega.
Beberapa saat kemudian Prof Xei selaku kepala akademik dan Miss Aila yang bertanggung jawab atas kelas tersebut pun datang ke kamar Senja. Mereka mendengar kabar kembalinya Senja dari pesan yang disampaikan Jacob melalui alat sihir.
Prof Xei menjelaskan jika Senja harus istirahat selama dua minggu di kediaman Marques Winter untuk mengembalikan kesehatannya. Hal itu diterima baik oleh semua pihak.
Setelah selesai berkemas Senja dan Dian serta Eza meninggalkan akademik dan bergegas menuju kediaman Marques Winter ditemani oleh Muna dan juga Luna sedangkan Maya dan Zakila tetap berada di akademik untuk memantau pergerakkan dari Dira dan juga kedua saudari Senja.
Sejak kejadian besar yang menimpa Senja, akademik ditutup selama satu minggu untuk pemurnian kembali. Siswa juga dipulangkan dengan alasan bahwa akademik sedang kedatangan tamu penting yang tidak bisa diganggu karna memang biasanya jika ada tamu penting maka siswa akan diliburkan.
Namun ada beberapa bangsawan yang merasa curiga akibat energi besar yang sempat keluar dari dalam akademik. Setelah satu minggu libur, para siswa kembali ke akademik dan melakukan kegiatan belajar seperti biasa.
Senja yang masih koma digantikan oleh pelayan pribadi Zakila yaitu Mia, karna urusan pribadi Mia jadi terlambat datang ke akademik sehingga kesempatan itu diambil untuk menutupi kejadian.
Kini Miss Aila memberikan tugas kepada Senja dan Luna untuk mempelajari tumbuhan langka dikediaman Marques Winter selama dua minggu sebagai hukuman karna mereka tidak mengumpulkan tugas tentang tumbuhan langka yang ada di sekitaran akademik. Hal itu dilakukan Miss Aila sebagai alibi dari kepergian Senja.
Sedangkan Muna harus kembali kerumahnya karena kediaman Duke sedang mengadakan acara pribadi setiap tiga bulan sekali untuk menghilangkan makhluk buas di daerah Utara kediaman Winter.
Sesampainya Senja di kediaman Winter, mereka sudah disambut oleh kepala rumah tangga Marques Winter yaitu Ian.
Muna yang sudah ada di kediaman Winter sehari sebelum kepergian Senja sudah menyiapkan begitu banyak hal. Senja lalu diajak masuk dan dipersilahkan duduk di ruang pribadi Muna sambil menunggu kehadiran Luna.
Selang beberapa saat kemudian kereta kuda Luna memasuki area rumah Muna. Para pelayan yang menyambutnya pun segera membawa Luna ke ruang pribadi Muna. Mereka membahas tentang tumbuhan obat - obatan yang ada di daerah Utara kediaman ini.
"Di sana ada tumbuhan herbal yang bisa mengembalikan energi mu dengan cepat," tutur Muna tetap dengan wajah kakunya.
"Kita bisa memanfaatkan hal ini untuk mencari tanaman obat - obatan untuk kesembuhan mu selagi kakak dan ayahku berburu." Lanjut Muna penuh antusias.
"Sepertinya itu hal yang bagus," tutur Luna sambil menimbang keadaan.
"Bagaimana jika kita ikut berpartisipasi?" tanya Senja penasaran. Muna yang mendengar pertanyaan Senja sedikit jengkel dan memukul pelan kepalanya.
"Disana banyak hewan buas yang menakutkan, kau bisa saja terluka apalagi kondisi tubuhmu yang seperti ini," tutur Muna sambil melirik tubuh Senja yang dijawab anggukan kepala oleh Luna.
"Nona, saya membawakan teh dan makanan ringan," seru pelayan Muna dari luar pintu.
"Masuklah dan taruh saja disitu," jawab Muna dingin, lalu si pelayan pun menaruhnya dan langsung pergi.
"Untuk sekarang kau istirahat saja dulu, aku akan membicarakan hal ini dengan ayah," lirih Muna sambil melangkah pergi dari ruangan.
"Ksatria ku Eza bisa berburu, mungkin saja dia bisa mendapatkan pengalaman baru di kediaman ini," Senja tidak mau kalah, ia melirik keluar jendela untuk menghirup udara segar.
"Itu bisa saja, tapi kau harus ingat, kesehatan mu adalah yang utama," balas Luna dengan nada khawatir.
"Baiklah," jawab Senja pelan sambil duduk kembali ke kursinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
ウランダリ デウィ
lanjut
2021-04-04
0