"Ketika hidup mulai memiliki arti maka hal kecil sekalipun adalah berkah."
****************#######****************
Senja merasakan perbedaan cukup signifikan pada kesehatannya. Ia mulai merasakan mana nya kembali pulih dan seluruh rasa sakit yang sebelumnya ia rasakan semuanya menghilang. Senja tersenyum lega dengan hasil pengobatan yang dilakukan oleh dokter Jojo.
"Mungkin inilah alasannya mengapa seorang dokter layak dihormati,"
"Lily apakah sudah waktunya?"
"Nona bisa bersiap-siap terlebih dahulu. aku akan membuat ilusi untuk mereka, setelahnya kita bisa pergi dengan aman," jelas Lily.
Senja mengambil pedangnya yang terlihat seperti tombak serta sebuah jubah hitam untuk menutupi dirinya. Setelah semua perlengkapan selesai, ia dan Lily segera bergegas menuju daerah selatan. Disana mereka pergi ke sebuah gua kecil yang terletak di balik air terjun.
"Apa benar ini tempatnya?"
"Benar Nona, di balik air terjun itu ada sebuah goa kecil dan disana ada sebuah telur suci yang ditinggalkan induknya."
"Mengapa telur itu ditinggal?"
"Sebenarnya sang induk sudah mati ketika sedang mencari makan," Lily menjelaskan situasi telur suci, entah mengapa wajah terlihat sedihnya.
"Kapan hal itu terjadi?"
"Sudah beberapa hari yang lalu,"
"Apakah ini perbuatan dari..." Senja sedikit ragu untuk mengungkapkan pikirannya, ia takut bahwa ini mungkin saja kesalahan keluarga Marques.
Tanpa melihat kekhawatiran di wajah tuannya, Lily dengan bingung menjelaskan bahwa matinya induk telur akibat dari perburuan yang dilakukan secara ilegal oleh pihak manusia.
Telur itu tampak luar biasa dengan warna biru cerah. Ketika Senja hendak menyentuhnya yang pertama kali ia rasakan adalah dingin. Kulit telur itu sedingin es tapi anehnya Senja merasa nyaman dengan rasa dingin itu.
Beberapa saat kemudian entah apa yang terjadi kulit telur itu mulai retak. Senja sedikit kaget, ia khawatir jika retakan itu akibat dari perbuatannya yang sembarangan menyentuh telur tersebut.
"Eh, bagaimana ini? Telurnya pecah," Senja panik, ia dengan bingung melirik ke arah Lily berharap mendapatkan bantuan.
"Apa! pecah?" Lily terkejut, ia sama bingungnya dengan tuannya itu.
"Ini belum waktunya menetas, aneh sekali."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"
"Nona, tunggu saja disini untuk sementara. Aku akan mencari bantuan."
Lily dengan sigap melompati air terjun. Ia dengan cepat pergi meninggalkan goa itu dan membuat Senja tertegun bingung.
****
10 menit sudah berlalu, dan kini telur itu sudah hancur sepenuhnya menyisakan seekor burung biru. Burung itu masih menutup matanya hingga Senja tanpa sadar membuang sisa cangkang di atas kepalanya.
Ketika ia selesai melakukan gerakan itu, bayi burung ini pun membuka matanya. Sungguh pemandangan yang indah, matanya terbuka lebar dengan warna mata yang sebiru langit senja.
"Indahnya."
Senja yang terhipnotis dengan kecantikan bayi burung biru mulai menyentuh tubuhnya. Ia membelai lembut pundak burung itu.
"Sangat lembut." gumam Senja tanpa ia sadari.
Bayi burung yang sudah mulai membiasakan penglihatannya, kembali fokus melihat Senja. Ia tersenyum lebar sambil mengepalkan sayapnya.
Senja yang kaget dengan reaksi bayi burung biru pun segera mendorongnya jauh. Ia bingung harus bereaksi seperti apa. Anehnya bayi burung itu bukannya menjauh, ia malah mengepakkan sayapnya dan hinggap di tangan Senja.
"Apa ini, apa yang kau lakukan?" Senja bingung, ia tidak tahu apa yang ingin dlakukan oleh bayi burung biru.
"Aku bukan ibu mu, aku juga tidak punya makanan." Senja tahu jika bayi burung biru sepertinya kelaparan, namun ia bingung mau memberikan makanan apa.
Belum sempat rasa bingungnya hilang, bayi burung itu dengan polosnya menggigit pergelangan tangan Senja.
"Ugh...!" teriak Senja kesakitan. Ia menggoyangkan pergelangan tangannya sebelum melihat cahaya biru muda menyeruak masuk ke tangannya.
"Apa ini?"
Senja bertanya bingung, pasalnya bekas gigitan bayi burung biru telah berubah menjadi ukiran kristal dengan simbol yang aneh.
Perasaan aneh mulai timbul dari tubuh Senja, ia merasa panas-dingin yang ekstrim. Tanpa persiapan apa pun, Senja mulai terkulai lemas. Ia menatap bayi burung biru dengan ekspresi aneh sebelum penglihatannya kabur dan menghitam.
****
Ketika Lily masuk kedalam goa dia bisa melihat Senja yang sedang terbaring tak sadarkan diri dengan Phoenix seukuran anak ayam di sampingnya. Phoenix itu tampak sedang bermain-main dengan rambut panjang Senja.
Jika manusia yang membuat kontrak maka jika dia mati hewan itu akan bebas tapi jika hewan yang membuat kontrak maka jika manusia mati maka hewan itu pun akan ikut mati.
"Aku tidak tahu apakah phoenix ini memang menyukai nona atau ia hanya menganggapnya sebagai induk saja."
Lily melihat ke arah bagian samping punggung tubuhnya yang terdapat ukiran bulan sabit dengan warna silver, itu adalah bukti jika ia merupakan milik Senja. Warna yang ada pada ukiran sesuai dengan warna dasar elemen sang pembuat kontrak.
Ketika hendak mengangkat tubuh Senja, tanpa sengaja Lily melihat ukuran Kristal kecil di pergelangan tangan tuannya itu. Warna kristal itu biru muda dengan pola aneh yang melingkarinya.
"Jangan bilang Phoenix ini telah melakukan kontrak?" gumam Lily sambil melihat ke arah bayi Phoenix yang masih enggan berpisah dengan tuannya.
Ketika bersiap mengangkat tubuh tuannya itu, Lily lagi - lagi dibuat terkejut. Ia melihat sebuah gelang yang anehnya memiliki duri di ujungnya.
"Aku tidak tahu bahwa gelang ini ada sebelumnya."
Lily dengan paksa mengutak-atik gelang tersebut dan bukannya hancur, gelang itu malah berubah menjadi kalajengking.
"Apa lagi ini?" Panik dengan perubahan gelang itu, Lily berusaha untuk melepaskannya. Namun gelang itu semakin terikat kuat di pergelangan tangan Senja.
Lily yang sudah tidak sanggup lagi pun memutuskan untuk membawa Senja kembali ke tenda. Ia berharap sedikit mendapatkan petunjuk setelah tuannya itu terbangun.
****
Setelah Lily sampai di tenda, kebetulan atau tidak Dian datang ke tenda untuk melihat Senja. Dian lalu menaruh semangkuk air hangat di samping tempat tidur dan pergi.
Ketika Dian kembali lagi ke tenda, Senja masih tertidur lelap. Dian pun membangunkan Senja tapi tidak mendapatkan respon. Dian sedikit khawatir namun ia tetap berusaha membangunkan nona nya itu.
Lama Dian menggoyangkan tubuh Senja dan akhirnya ia pun membuka matanya. Betapa kagetnya Senja saat melihat Dian sudah berdiri tepat di hadapannya. Senja pun melihat ke sekeliling sambil melakukan link dengan Lily.
"Bagaimana aku sampai disini?" tanya Senja masih dengan raut wajah bingungnya.
"Nona, kau pingsan. Aku dengan inisiatif yang tinggi membawa mu kembali. Berterima kasih lah pada ku."
Lily terlihat sombong, ia dengan puas menunjukkan ekspresi wajah yang mengatakan bahwa aku lah penyelamat hidup mu.
"Naif sekali." gerutu Senja kesal.
Dian yang melihat Senja bingung lantas memegang dahinya untuk memastikan kesehatan nona nya itu.
"Nona, kamu sepertinya demam." Dian melepaskan telapak tangannya dari dahi Senja.
"Sebaiknya Nona istirahat saja dulu," lanjut Dian sambil menyodorkan baskom berisi air hangat. Senja hanya tersenyum polos menatap Dian.
"Aku baik - baik saja, tidak perlu khawatir," balas Senja sembari mencuci wajahnya.
"Pergilah, aku butuh teh hangat beraroma manis seperti vanila,"
"Baik Nona," Dian pergi keluar dari tenda. Ketika Senja sudah memastikan bahwa tempat itu sepi ia lalu melirik ke arah Lily.
"Ceritakan!" gerutu Senja sambil melirik pergelangan tangannya.
Senja sedikit kaget ketika sedang mencuci wajahnya. Ia melihat sesuatu di pergelangan tangannya dan hampir saja akan berteriak tapi untungnya Lily dengan sigap menceritakan secara singkat jika itu adalah hewan suci yang sudah melakukan kontrak dengan Senja.
"Nona, gelang itu adalah kalajengking api selatan. Biasanya mereka berada pada dataran tinggi seperti gunung tapi entah mengapa dia ada di goa tempat telur Phoenix berada," jelas Lily sambil melirik ke arah kalajengking yang ada pada pergelangan tangan Senja.
"Mengapa ia sangat langka?" tanya Senja penasaran.
"Kemampuan penyembuhannya sangat hebat oleh sebab itu dia jadi sering diburu dan di ambil intinya. Meski begitu kekuatan bertarungnya sangatlah lemah sehingga musuh yang lebih kuat bisa mengalahkannya,"
"Bagaimana dengan Phoenix ini?"
"Untuk setiap kasus hewan suci itu berbeda-beda Nona, tapi khusus untuk Phoenix mereka memiliki kekuatan yang sangat besar dan daya tahan tempur yang hebat."
"Bagaimana dengan gelang ini dan diri mu?"
"Kalajengking api selatan, dia memiliki kekuatan yang sama hebatnya dengan Phoenix namun hanya dalam bidang perlindungan saja sedangkan aku hanya dalam manipulasi dan ilusi. Semua kekuatan hewan suci itu beragam namun karena kekuatan mereka yang cukup besar maka sebagian dari mereka menjadi makhluk legendaris," jelas Lily panjang lebar, Senja hanya mengangguk tanda mengerti.
"Baiklah sekarang giliran kalian berdua."
Senja menatap Phoenix kecil dan juga kalajengking api.
"Siapa nama kalian?" lanjut Senja dengan suara yang tegas dan dominan.
"Aku Ristia," jawab kalajengking api sambil berputar - putar ria di pergelangan tangan Senja.
"Lalu kau?" Senja memandang burung Phoenix kecil. Namun Phoenix kecil itu hanya menatap Senja dengan mata penuh harapan yang membebani Senja. Lily yang melihat tindakan tuannya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Nona, dia baru saja lahir, tidak mungkin memiliki nama. Seharusnya Nona yang memberikan nama untuknya," tutur Lily dengan wajah kesalnya.
"Benar juga. Menurut mu nama apa yang cocok untuknya?" tanya Senja yang mendapatkan tatapan jengkel dari Lily.
"Terserah Nona, saya hanyalah bawahan." seru Lily sambil memutar balik tubuhnya.
Senja berpikir sejenak sampai akhirnya Dian datang membawa teh yang beraroma vanila pesanannya.
"Nona, silahkan." Senja lalu melihat teh tersebut dan meminumnya, perasaan Senja mulai membaik dan tiba - tiba ia berteriak.
"Vanila! Yup Vanila," teriak Senja yang membuat Dian kaget dengan kelakuan aneh nona nya itu. Lily yang mendengar Senja berteriak semakin terlihat kesal dan menjatuhkan wajahnya ke lantai
"Nasib ku memiliki nona seperti nya." Senja hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Lily yang menjatuhkan wajahnya ke lantai.
"Iya Nona, itu teh vanila." Kini Dian yang angkat bicara ketika melihat senyum misterius nona nya.
"Aku tahu itu, terima kasih."
"Aku akan menamai mu vanila."
Senja memberikan sinyal link pada burung Phoenix kecil yang direspon dengan tawa polos sang phoenix.
"Senja ada apa?" tanya Luna setelah mendengar teriakan dari dalam tenda.
"Ada apa dengan vanila?" lanjut Luna penasaran.
"Oh itu, aku hanya terlalu suka dengan vanila," jawab Senja ragu - ragu.
"Jika kau sesuka itu aku masih punya banyak di rumah," seru Muna yang baru saja tiba.
"Itu tidak perlu, aku akan membelinya sendiri nanti,"
"Bagaimana jika kita berkeliling sebentar sebelum sarapan?" lanjut Senja sambil melirik keluar sekilas.
"Kalian pergi saja berdua aku ada urusan dengan kak Mina," tutur Muna sambil melangkah pergi.
"Ikuti Muna dan laporkan padaku apa yang mereka bicarakan." Perintah Senja pada Lily lalu memutuskan link diantara mereka.
"Aku akan bersiap sebentar lalu kita bisa keluar," tutur Senja sambil meminta Dian menyiapkan gaunnya.
"Baiklah, aku akan menunggumu di luar,"
Setelah sosok Luna menghilang, Senja dengan tenang bertanya mengenai situasi kemah saat ini dan membahas beberapa hal penting lainnya.
"Dian, dimana Eza?" tanya Senja ketika Dian sedang memakaikan pita rambut di kepalanya.
"Eza sedang memeriksa kuda Nona," jawab Dian lalu mengambil mutiara biru untuk di cocokan dengan pita.
"Suruh Eza terus berada disekitar Marques. jika pemburuan segera berakhir maka kesempatan belajar baginya pun akan hilang," seru Senja sambil memakai gelang giok di tangannya.
"Dian usahakan tetap di dekatku nanti, mungkin kau akan bisa mendapatkan hewan suci di tempat ini," lanjut Senja lalu keluar dari tenda menghampiri Luna.
Sebelum Senja keluar, ia juga sempat berpesan pada Dian agar menyuruh Eza mengikat kontrak dengan hewan suci sebelum mereka kembali ke akademik. hal ini diperlukan karena tidak mudah bagi mereka untuk bisa menjelajahi hutan ini lagi jika tidak memiliki tingkat kekuatan yang cukup.
"Luna." Senja memeluk Luna dari belakang sambil memasang senyum manisnya.
"Kau cantik sekali." Puji Luna sambil memegang rambut Senja.
"Kau juga cantik, ayo," seru Senja sambil menarik tangan Luna menuju area hutan.
"Senja apakah kau tahu jika hutan ini banyak dihuni oleh hewan suci yang langka?" tanya Luna sambil melirik ke sekitar mereka.
"Benarkah?" Senja dengan polos bertanya balik. Luna hanya tersenyum dan memegang tangan Senja.
"Hutan ini di penuhi banyak monster, hal itu terjadi karena hutan ini memiliki banyak sumber daya. Hutan ini juga dilindungi oleh keluarga Marques Winter, karena hutan ini dulunya banyak memakan korban dan hanya keluarga Winter yang bisa memurnikannya." jelas Luna panjang lebar sambil tersenyum puas.
"Luna, bagaimana hubungan kerajaan dengan Duke Ari?" tanya Senja penasaran.
"Duke Ari memiliki garis keturunan raja sehingga setiap putri utama di kediaman itu akan dijodohkan dengan anak raja. Mereka akan diberi gelar bangsawan lain seperti count atau Vincount jika mereka tidak bisa naik tahta sebagai raja selanjutnya," tutur Luna hati-hati, wajahnya lalu terlihat memerah.
"Ketika Raja tahu pangeran kelima memutuskan pertunangannya dengan mu. Beliau sangat marah namun karna Duke Ari juga tidak merespon hal tersebut maka Raja hanya bisa membuat Arina menikah dengan pangeran kelima sebagai selir saja," lanjut Luna sambil menggenggam erat tangan Senja.
"Tidak masalah, itu semua sudah berlalu." Senyum polos Senja membuat Luna sedikit terluka.
"Sebenarnya aku sangat bersyukur jika dia mau membatalkan pertunangan itu, sehingga aku tidak perlu repot - repot lagi untuk memutuskannya kelak,"
Senja tersenyum sinis mengingat tulisan tangan dari buku tua di kamar rahasia.
"Nona Luna dan nona Senja, sudah waktunya untuk sarapan pagi," seru seorang pelayan sembari memberi hormat. Senja dan Luna segera pergi ke meja makan.
"Dimana Muna?" tanya Senja pada pelayan yang membawa nampan berisi teh.
"Nona Muna sedang ada urusan dengan Nona Mina saat ini," jawab pelayan itu lalu pergi ke arah samping meja makan.
"Mungkin mereka sedang membahas hal penting, kita makan saja dulu," seru Luna sambil menyantap ikan bakar di depannya.
Senja yang penasaran, melakukan link dengan Lily yang sedang mengawasi Muna sedari awal.
"Apa ada hal khusus?" tanya Senja sambil mengambil roti yang sudah dioleskan selai coklat oleh Dian.
"Nona Sepertinya mereka sempat merasakan energi hewan suci di sekitar hutan,"
"Jika begitu tetap awasi mereka."
Perintah Senja sambil memakan roti coklat tersebut. Beberapa saat kemudian Muna dan keluarganya datang ke meja makan. Muna terlihat sedikit gusar namun tetap mempertahankan wajah kakunya.
****
Selesai makan, Senja dan dua sahabatnya itu pun pergi berkeliling. Mereka pergi menuju taman bunga Lily ditemani penjaga urutan 5 dan 6.
"Bukankah ini terlalu Indah?" Luna terlihat senang, baru kali ini ia melihat kumpulan bunga Lily liar yang begitu indah.
"Kalian jaga tempat ini selama aku dan kedua sahabatku bermain," Muna memerintahkan pengawalnya untuk berjaga di area sekitar. Meski pun ini tidak terlalu jauh dari tenda, tapi tetap saja ini di tengah hutan black forest.
"Muna lihatlah ini," Seru Luna sambil menarik bunga Lily dari tempatnya.
"Apa itu?" tanya Muna datar.
"Pfftt..." Senja berusaha menahan tawanya melihat ekspresi Muna yang kaku dan dingin.
"Ekspresi mu bisa tolong dikondisikan!" gerutu Luna kesal.
"Hahaha, lucu nya." Akhirnya tawa Senja pun pecah ketika melihat wajah Luna yang mencoba menahan rasa kesalnya.
"Huh...," lirih Luna sambil melangkah pergi menuju Senja.
"Argh!, sakit," teriak Dian ketika sedang memetik bunga Lily untuk diberikan pada senja.
"Ada apa Dian?" tanya Senja panik saat melihat tangan Dian yang berlumuran darah.
Luna kemudian melihat ke arah dimana tangan Dian berdarah. Disana ada bola bulu besar berwarna putih cerah.
"Coba kulihat," Luna mengambil lengan Dian dan memeriksa lukanya.
"Ini hanya luka akibat perjanjian," Jelas Luna sambil menunjuk ke arah bola bulu besar itu.
Dian yang kaget lalu melihat bola bulu itu dan menatapnya aneh. Ia pun mengambil bola bulu itu dan ternyata bola bulu itu adalah seekor kelinci dengan tubuh yang sebesar kepalan tangan pria dewasa.
"Dia sudah melakukan kontrak denganmu, kini kau telah menjadi tuannya." Jelas Muna dengan wajah datar.
"Selamat Dian semoga dia bisa menjadi pelindung mu kelak," Senja begitu antusias, jujur saja dia mengharapkan hal ini sejak awal kedatangan mereka ke tempat itu.
Setelah menikmati keindahan bunga Lily, ke tiga sahabat itu pun pergi ke arah sungai untuk beristirahat sejenak.
"Rasanya aku ingin mandi," keluh Luna sambil mengikat rambutnya yang panjang.
Muna menghela napas panjang dan menjelaskan bawah air sungai begitu dingin jika mereka mandi dan berlama - lama disana.
"Aku akan pergi untuk menangkap ikan saja," balas Luna santai.
"Apa kau sudah memutuskan namanya?" tanya Senja pada Dian sambil mengelus bola putih itu.
"Saya berencana untuk menamainya white. Bagaimana menurut Nona?"
"Nama yang cocok untuknya."
"Tidak buruk," jawab Muna singkat.
"Sialan!" teriak Luna sambil mengangkat seekor kucing hitam di tangannya.
"Lihat ini, dia memakan hasil buruanku," cicit Luna sambil menyentil kuping kucing itu.
"Lepaskan saja mungkin dia sedang kelaparan," Seru Senja sembari mengelus lembut kepala kucing itu.
"Tidak bisa, aku harus memberinya pelajaran baru ia bisa pergi," seru Luna kesal sambil menatap ke arah Muna.
Kucing itu lantas mencakar tangan Luna dan berlari pergi ke arah hutan. Luna yang kesal ikut berlari mengejarnya. Muna yang kaget pun mengejar Luna masuk ke dalam hutan yang semakin jauh.
Senja pun mengikuti keduanya dari belakang dengan terengah-entah. Mereka berdua semakin jauh dan menghilang dari pandangan Senja. Kini Senja sendirian di hutan tanpa pengawalan dari siapa pun.
Senja melihat sekeliling sambil berteriak memanggil nama kedua sahabatnya itu. Lama Senja berjalan tapi ia tetap tidak berhasil menemukan mereka berdua. Senja pun pergi ke arah dimana ia datang tapi Senja tetap saja tidak bisa menemukan jalan keluar.
"Sepertinya aku tersesat," gumam Senja sambil berjalan berputar - putar.
"Kalian tahu ini dimana?" tanya Senja pada ketiga hewan suci miliknya.
"Nona kita sedang berada di tengah hutan dan tempat ini cukup berbahaya," jawab Lily sambil berjalan ke arah Utara.
"Nona lewat sini," lanjutnya.
Senja lalu mengikuti Lily dari belakang, tidak lama berjalan Ristia mulai bertingkah aneh dengan terus berputar - putar di jari tangan Senja.
"Ada apa?" tanya Senja pada Ristia yang terlihat gelisah.
"Nona aku merasakan energi yang begitu kuat," Ristia merasakan energi kuat dari arah timur. Lily yang merasa aneh dengan kondisi Ristia pun melihat ke arah yang dilihatnya, bahkan vanila pun sedikit menampakkan giginya sambil mengerang kecil.
Seketika Lily merasakan energi besar yang mulai mendekati mereka secara tiba - tiba.
"Nona ada yang datang," seru Lily yang melompat ke atas kepala Senja.
"Siapa?"
Seketika seekor harimau yang tingginya setara kuda dewasa dengan bulu berwarna kuning emas melompat ke arah Senja. Akibatnya Senja pun terjatuh tepat di antara kedua kaki harimau itu.
Tubuh Senja seketika membeku dengan wajah yang pucat. Entah kenapa bibir Senja seakan terkunci kuat dan suaranya menghilang bagai ditelan bumi. Senja berusaha untuk keluar dari cengkraman harimau, namun perlawanan itu dibalas dengan cakaran tajam.
Dengan sigap Ristia lalu membuat penghalang sehingga harimau itu tidak bisa menyentuh nona nya. Harimau itu lalu menatap Senja sambil mendengus tajam.
Senja yang ditatap hanya bisa menatap balik hewan buas itu. Senja lalu melihat tubuh hewan itu yang sedang terluka seperti habis diburu.
"Kau sedang diburu rupanya," tanya Senja sambil melirik ke arah kaki harimau.
"Bukan urusanmu!" harimau itu berteriak tajam. Seketika tubuh Senja menegang dan menatap aneh ke arah hewan itu.
"Kau mengerti yang ku katakan?" tanya Senja penasaran, hewan itu pun sama kagetnya dengan Senja.
" Kau...., tidak mungkin."
Hewan itu terlihat sedang memikirkan sesuatu lalu tiba - tiba dari arah belakang keluarlah sebuah tombak yang hampir mengenai kepala Senja untunglah karna perisai yang di buat oleh Ristia tombak tersebut jadi terlempar asal kemudian jatuh ke tanah.
"Agh!" teriak Senja tepat ketika tombak itu terlempar jauh. Ia sempat takut jika tombak itu mengenainya. Setelah tombak itu jatuh terdengar suara dari arah yang sama, suara itu semakin kuat dan jelas.
"Kau...! Bagaimana bisa!!?" teriak suara itu cukup keras.
Hewan buas itu lantas dengan cepat menggigit leher Senja dan membuat kontrak. Senja yang digigit lalu berteriak sambil memegang erat lehernya yang basah dengan darah.
"Nona!" teriak Eza yang sampai di lokasi bersamaan dengan Cavil dan Marques.
Sebenarnya mereka sedang memburu hewan harimau ini karna dia adalah hewan suci langka yang memiliki energi cukup kuat dan tergolong ke dalam hewan legendaris yang sulit untuk ditaklukan.
"Nona kenapa kau bisa ada disini?" tanya Eza sambil mendekat ke arah Senja.
Sayangnya dia masih dihalangi oleh hewan buas tersebut, tidak lama kemudian Luna dan Muna serta Dian dan juga pengawal mereka tadi datang ke tempat itu. Mereka sudah sejak tadi mencari Senja.
"Senja..!!" Panggil Luna dengan ekspresi wajah bersalah terlebih lagi ketika melihat Senja yang mengeluarkan darah.
"Bagaimana bisa dia ada disini?" tanya Cavil geram.
"Ini, ini semua salahku. Aku berlari ke dalam hutan untuk menangkap pencuri dan kehilangan Senja selama prosesnya" tutur Luna dengan wajah menyesal.
"Tidak ini salahku, seharusnya aku tetap bersama Senja sehingga hal ini tidak akan terjadi."
Kini Muna yang terlihat Sedih, Mina lalu melihat Senja kembali dan menatap luka yang ada di lehernya.
"Sudah cukup. Berhenti," seru Marques sambil berjalan mendekati Luna dan Muna.
"Mungkin ini adalah salah ku yang menggiring hewan itu ke tempat ini," lanjut Marques dengan ekspresi wajah tabah.
"Tunggu dulu, sepertinya hewan itu sudah melakukan kontrak dengan Senja," penjelas Mina sontak membuat semua orang yang ada di sana menjadi bingung.
"Apa maksudmu?" tanya Cavil bingung.
"Lihatlah, jika memang hewan itu ingin melukainya maka ia sudah terluka sejak tadi tapi lihat posisi hewan itu yang melindunginya. Hewan itu mengira kitalah musuhnya," jelas Mina sambil menatap ke arah harimau itu.
"Sepertinya kita menggiring keberuntungan untuk nona Senja," seru salah satu ksatria yang dijawab anggukan oleh yang lainnya.
Eza terlihat tidak senang dengan perlakuan para ksatria Marques Winter kepada nonanya tersebut.
"Namun jika hewan itu menghabisi Nona Senja dan bukan malah mengikat kontrak lalu siapa yang bisa disalahkan?" tanya Eza kesal sambil berjalan mendekati Dian.
"Mungkin ini hanyalah sebuah keberuntungan namun jika hal ini terjadi lagi maka siapa yang tahu akhirnya," lanjut Eza sambil menatap tajam ke arah para ksatria.
"Benar kata Eza, lain kali kita tidak boleh lengah," Cavil membenarkan.
Senja yang sedari tadi merasakan rasa sakit yang perih keluar dari lehernya hanya bisa mendengar samar suara mereka. Senja lalu menyuruh Ristia untuk mengurangi rasa sakitnya, beberapa saat kemudian Senja sudah mulai membaik.
"Siapa nama mu?" tanya Senja melalui link batin.
"Panggil aku Kun," jawab Kun santai.
"Apa kau bisa tidak terlihat mencolok?" tanya Senja yang di jawab anggukan kepala oleh Kun setelahnya tubuh Kun mengecil seperti kucing liar biasa.
Semua orang yang ada ditempat itu hanya bisa terdiam melihat perubahan Kun. Ia kemudian melangkah maju ke arah Senja dan bergelantung di kakinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Allisya Hurairah
keren
2021-03-10
0