"Suatu hal yang besar sangatlah sulit untuk dikendalikan namun dengan hati yang tulus semua itu akan terlihat mudah."
*****************######****************
Suara kicauan burung kenari mulai memasuki indera pendengaran Senja. Kini Senja tengah tertidur lelap di kasurnya yang empuk. Pagi sudah mengusung sinarnya, hembusan angin sejuk mulai menyeruak masuk ke dalam helai selimut panjang yang menutupi seluruh tubuhnya.
Senja yang masih enggan untuk membuka matanya lantas menarik selimut panjang itu untuk menutupi tubuhnya yang mungil dari rasa dingin. Kini sudah dua hari semenjak kepulangannya dari rumah kaca dan semenjak itu pula ia tidak bisa melupakan kejadian yang menimpanya disana.
Kejadian itu seperti sudah terukir di dalam pikirannya sampai sangat sulit untuk dilupakan. Senja yang mulai lelah hanya bisa mencoba untuk menyibukkan dirinya untuk menghilangkan perasaan itu. Setiap harinya ia terus berlatih dengan gigih sampai akhirnya ia menembus ke tingkat lima awal.
Anehnya, sejak hari itu Senja sudah tidak pernah lagi melihat sosok Lucas. Ia menghilang begitu saja seperti kedatangannya yang tiba - tiba.
"Apa tujuan utamanya pada ku?"
Senja mengeluh kesal, ia merasa senang sekaligus marah pada Lucas yang datang dan pergi sesukanya.
"Nona sampai kapan anda ingin tidur?" tanya Dian setelah melihat Senja yang tidak kunjung bangun.
" ... "
Tidak ada jawaban dari Senja, ia masih terlelap dalam tidurnya.
"Nona, aku akan membawakan mu air hangat untuk membasuh wajah jadi bangunlah." gerutu Dian sedikit kesal melihat nona nya yang masih tidur padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi.
Dian keluar dari kamar dan pergi untuk mengambil air hangat. 15 menit kemudian Dian kembali lagi ke dalam kamar dan mendapati Senja yang masih tertidur lelap.
"Nona, meskipun ini hari libur tapi anda tidak boleh seperti ini. Bangun dan pergilah kemana pun Nona." seru Dian sambil menarik selimut panjang yang menutupi tubuh mungil nona nya itu.
"Pergilah ke pasar, Nona bisa membeli apa pun yang Nona inginkan," lanjut Dian sambil menggoyangkan tubuh Senja pelan.
" ... "
Masih tidak ada respon dari Senja, hal itu pun membuat Dian menjadi semakin kesal. "Nona!" teriak Dian dengan ekspresi wajah bosan.
"Ugh," Senja mencoba untuk bangun setelah mendengar omelan dari Dian yang tidak ada habisnya.
"Tunggu sebentar lagi," seru Senja dengan suara serak khas orang yang bangun tidur.
"Nona ini sudah pukul 10 pagi, mau sampai kapan anda ingin tidur?" tanya Dian sembari mengangkat tubuh mungil Senja dan membuatnya duduk.
"Hah, jam 10 pagi,"
Mendengar kata 10 pagi membuat Senja membuka matanya lebar-lebar. Ia lupa jika hari ini ada janji dengan Prof Edward.
"Bagaimana ini?" tanya Senja sambil turun dari kasurnya.
"Nona cuci dulu wajahmu sebelum keluar," seru Dian yang melihat Senja mondar-mandir di area kamar.
Senja pun membalikkan badannya dan menatap Dian dengan ekspresi wajah panik.
"Ada apa Nona?" tanya Dian penasaran.
"Hari ini aku ada ekspedisi dengan Prof Edward dan kami sudah berjanji untuk bertemu di gudang pada pukul 10 pagi," jelas Senja lalu membasuh wajahnya dengan air hangat yang dibawa Dian.
"Dian siapkan pakaianku dan juga beberapa pakaian lainnya selama ekspedisi nanti," lanjut Senja sambil menarik handuk dari gantungan.
" ... "
Dian hanya diam dan geleng-geleng kepala dengan tingkah laku ceroboh nona nya ini. Ia tanpa membuang waktu sedikit pun langsung menyiapkan semuanya.
Selesai mandi, Senja dengan bur - buru memakai gaun dengan dibantu Dian. Ia memakai setelan gaun berwarna merah sepanjang lutut dengan kaus kaki berwarna hitam yang panjangnya sampai ke paha dan juga sepatu bot hitam. Senja juga memakai hiasan rambut sederhana yang senada dengan gaunnya.
"Dian, ketika Eza kembali dari desa suruh ia untuk menemui ku di hutan teratai. Satu hal lagi jangan mengatakan kepada siapa pun kemana aku pergi dan dengan siapa aku pergi." jelas Senja lalu mengambil tas yang sudah disiapkan Dian.
"Bahkan pada ke empat sahabat ku itu," lanjut Senja sambil keluar dari kamar.
"Baik Nona,"
"Jika mereka bertanya katakan saja aku kembali ke rumah untuk urusan pribadi selama empat hari," seru Senja kemudian pergi meninggalkan Dian di depan gedung asrama sendirian.
Disisi lain akademik Prof Edward sudah menunggu Senja selama satu jam namun sampai sekarang Senja belum datang bahkan batang hidungnya saja tidak kelihatan.
"Dimana anak itu?" gerutu Prof Edward yang mulai membeku karna udara musim gugur yang sebentar lagi akan menjadi musim dingin.
"Punya niat tidak anak itu?" lanjut Prof Edward sambil menggosok kedua tangannya untuk membuat tubuh tetap hangat.
Dari jauh Senja sudah melihat ekspresi kesal pada wajah Prof Edward. Senja mulai merasa bersalah dengan membiarkan Prof Edward menunggunya di suhu dingin sendirian.
"Hah, hah." Senja yang berhenti berlari mulai mengambil napas panjang.
Prof Edward hanya diam menatap Senja yang datang sambil berlari ke arahnya.
"Hah, hah. Prof maaf aku terlambat," tutur Senja sambil menekan-nekan dadanya untuk memperlancar pernapasan.
"Sudahlah, ayo kita pergi," balas Prof Edward sambil melangkah pergi menuju kereta kuda yang sudah disiapkan.
"Baiklah," jawab Senja masih dengan napas yang terputus - putus.
****
Selama di perjalanan Prof Edward hanya diam menatap Senja sambil sesekali berpindah melihat pemandangan di luar.
"Kita akan pergi selama empat hari, kau tahu itu kan?" tanya Prof Edward dengan wajah acuhnya.
"Iya, saya tahu Prof," jawab Senja sambil melihat ke arah kopernya.
"Saya sudah mempersiapkan semuanya," lanjutnya dengan ekspresi wajah bangga.
"Benarkah?" tanya Prof Edward tidak yakin.
"Tapi melihat dari penampilan mu sepertinya tidak begitu," lanjut Prof Edward meneliti penampilan Senja.
" ... "
Senja hanya diam dan melihat sekilas pada pakaiannya. "Memangnya ada apa dengan pakaian saya Prof?"
"Kita akan pergi ke hutan untuk ekspedisi bukan ke pesta dansa. Kenapa kau berpakaian begitu terbuka di cuaca sedingin ini," lanjut Prof Edward masih dengan tampang acuhnya.
" ... "
Senja hanya diam sambil menundukkan wajahnya, ia terlihat memerah dan sedikit malu.
"Ini adalah pakaian biasa yang sering aku gunakan, memang apa salahnya?"
"Tapi Prof, aku memiliki elemen api yang membuat tubuhku tetap hangat meskipun cuaca sangat dingin," balas Senja tidak mau kalah.
"Kekuatanmu masih belum bisa di kontrol. Jika kau menggunakannya berlebihan maka kau yang akan terluka. Apa kau sudah lupa kejadian saat itu?" cerca Prof Edward masih dengan memalingkan wajahnya menghadap jendela.
"Tapi jika kau memang sudah merasa nyaman, aku bisa apa," lanjut Prof Edward yang membuat Senja semakin malu.
Pada akhirnya perjalanan menuju hutan teratai begitu canggung. Baik Senja mau pun prof Edward masih sama - sama kukuh dengan pendirian masing - masing.
Mereka saling diam dan tidak berbicara setelah percakapan mengenai gaun yang dikenakan Senja. Butuh waktu tiga jam untuk bisa sampai ke hutan teratai dan selama waktu itu Senja menahan rasa malunya dengan melihat keluar jendela tanpa berbicara sepatah kata pun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
ウランダリ デウィ
semangattt
2021-04-04
0
文华亮
Semangat kak, like dan rate sudah mampir. Salam dari "PANGERAN SENJA" Klik aja profilku, tinggalkan jejak, kutunggu kehadiranmu😊☘
2020-06-30
1