"Begitu banyak kejutan di dalamnya, mereka semua terlihat indah namun sulit untuk di dekati."
****************#####*****************
Pada bagian selatan rumah utama Marques Winter, terdapat sebuah taman yang indah dan luas. Taman itu dinamai Rose Garden, sebab yang tumbuh di taman itu hampir semuanya adalah bunga mawar dengan berbagai jenis dan warna.
Di tengah taman terdapat sebuah air mancur yang tingginya sekitar tiga meter dengan ikan koi emas di dalamnya, tidak jauh dari air mancur ada seorang gadis tengah duduk bersantai sambil menikmati cemilan dan teh hangat.
"Dian, bisakah kau ambil macaron untuk ku?"
"Baik nona." Dian segera pergi menuju dapur meninggalkan Senja dengan teh hangat di hadapannya.
Sudah dua hari kedatangan Senja dan Luna di kediaman Marques Winter, namun sampai saat ini keduanya belum juga pergi ke hutan karena harus menunggu kepulangan Cavil Winter dan Mina Winter. Keduanya adalah saudara dan saudari Muna.
Cavil dikabarkan tengah melakukan ekspedisi sebagai penerus dari Marques sedangkan Mina merupakan kapten dari pasukan grey yang bekerja di kekaisaran untuk membantu kaisar membasmi para monster yang ada diperbatasan.
"Aku bosan,"
Senja berjalan mengelilingi air mancur sambil melihat-lihat kondisi taman. Lama senja berjalan sampai akhirnya ia sampai di sebuah labirin yang dipenuhi bunga mawar putih di setiap sisinya.
"Indahnya," Senja kagum dengan labirin di depannya itu. Ia pun mencoba untuk memasukinya dan semakin ia masuk semakin terpesona pula ia dengan labirin ini.
Tanpa sadar Senja sudah berada di tengah labirin. Anehnya berbeda dengan bagian luar, bagian dalam labirin hanya di tumbuhi oleh bunga Lily saja.
"Lily, aneh. Apa maksud dari labirin ini sesungguhnya?"
Setelah puas menikmati pemandangan indah tersebut, Senja berencana untuk kembali, namun ia baru saja menyadari bahwa dirinya tersesat setelah tidak mendapati pintu keluar.
"Karena aroma mawar, hidung ku jadi tumpul dan sekarang aku tersesat."
Pada akhirnya Senja memutuskan untuk kembali ke tengah labirin. Disana Senja duduk di sisi samping pintu masuk berharap ada seseorang yang datang dan menemukannya.
Senja sudah berada lama di dalam labirin tersebut tapi tidak seorang pun yang datang ke sisinya. Sayangnya Senja tidak mengetahui jika labirin memiliki segel pengunci dimana tidak semua orang bisa memasukinya.
Senja semakin panik karena waktu sudah menunjukkan pukul lima sore namun ia belum kembali juga. Senja khawatir jika Luna akan melakukan hal gila untuk mencarinya begitupun dengan Muna.
"Aku lelah menunggu" gerutu Senja sambil menarik-narik rumput liar disekitarnya.
Senja yang bosan pun, akhir nya tertidur lelap. Beberapa menit kemudian, seorang pria dewasa berusia 20 tahun berdiri disampingnya. Pria itu memiliki tubuh yang besar dan berbadan atletis serta rambut kuning keemasan dengan bentuk wajah yang bisa dibilang tampan.
Pria itu menatap tajam ke arah Senja dan menghampirinya. Ia dengan lembut menggeser beberapa helai rambut Senja yang menutupi wajahnya. Pria itu kemudian menyentuh wajah Senja dan memeriksa suhu tubuhnya. Dikarenakan sudah lama berada diluar, suhu tubuh Senja mulai dingin dan bibirnya sedikit memucat.
Setelah selesai memeriksa suhu tubuhnya, pria itu pun menggendong Senja dan membawanya keluar dari labirin. Ia lalu membawa Senja menuju rumah utama.
"Dimana kakak menemukannya?" Muna terlihat bingung, ia juga mencium aroma mawar yang melekat di gaun Senja.
"Labirin mawar putih," Lirih pria itu sambil menyerahkan Senja pada adiknya.
Baru kali ini Cavil melihat adik bungsunya panik seperti itu. Ia yakin jika wanita yang ia temukan itu adalah orang yang sangat penting bagi adiknya.
Segera Muna pergi ke kamar Senja sambil membawakannya ramuan obat. Sesampainya di kamar, Muna sudah disambut dengan senyum hangat Senja yang lantas membuat Muna segera memberikan obat itu yang langsung diminum oleh senja.
"Ugh, pahit," cicit Senja dengan alis tertekuk. Muna yang melihat Senja hanya bisa menggelengkan kepala.
"Mengapa kau masuk ke labirin itu?" Senja diam sesaat melihat raut panik Luna dan Muna.
"Aku merasa kagum dengan labirin dan inilah yang terjadi." Senja hanya tersenyum malu, ia tahu jika perbuatannya itu membuat mereka panik.
"Kau seharusnya tidak pergi ke tempat itu sendirian. Labirin itu sudah dilapisi pelindung oleh kakak ku karna itu tempat pribadinya. kau beruntung karena ia datang ke tempat itu terlebih dahulu ketimbang rumah ini,"
"Tempat pribadi?"
"Labirin itu? Bagaimana bisa?" Senja sedikit heran, namun itu juga bisa ia mengerti. Labirin memiliki suasana yang damai sehingga membuat mereka yang memasukinya merasa tenang dan santai.
"Labirin itu sengaja dibuat oleh kak Cavil, bahkan aku saja tidak tahu alasannya dan sampai sekarang pun aku sama sekali tidak pernah masuk ke sana,"
"Labirin itu dilindungi dan dijaga oleh sihir sehingga tidak ada yang pernah masuk ke sana kecuali kakak ku."
Penjelasan Muna cukup masuk akal tapi hal itu tidak membuat Senja puas. Ia tahu bahwa ada misteri lain dari labirin itu.
"Cavil yang aneh, atau memang pada dasarnya keluarga ini isinya kumpulan orang aneh semua."
****
Setelah berbincang - bincang ringan, ketiga nya pun turun ke lantai satu menuju ruang makan. Di ruang makan Senja sudah disambut oleh sosok pria tampan dan juga seorang wanita cantik yang sekilas mirip dengan Muna.
"Apa pria itu Cavil?"
Senja merasa Cavil dan wanita itu benar - benar saudara kandung Muna. Mereka terlihat mirip baik dari visual maupun sifatnya.
"Tembok es macam apa ini?" gumam Senja sambil mendekati meja makan.
"Silahkan duduk," dengan sopan wanita itu menyambut kami. Ia tersenyum lembut dengan gigi yang terlihat jelas.
"Sepertinya yang satu ini berbeda."
"Aku Minta Winter, salam kenal." Mina dengan santai mengambil pergelangan tangan ku dan menggoyang ya cepat.
"Kamu pasti Senja. Aku sudah mendengar banyak tentang mu." Senyum Mina tetap hangat tapi entah mengapa Senja merasa sedikit tekanan dari kalimatnya itu.
"Mendengar tentang ku? Yah aku yakin pasti itu bukan hal yang bagus." Senja sedikit mencibir namun tetap memasang senyum polosnya.
"Lebih baik aku pura - pura bodoh saja dulu."
Senja pun duduk di kursi sebelah Luna. Ia dapat dengan jelas melihat Cavil yang berada tepat di depannya. Mereka hanya dipisahkan oleh meja dan makanan.
"Semuanya, mari makan. Makan yang banyak."
Marques Winter terlihat santai dengan senyum ringan di wajahnya. Ia tidak sekaku Duke Ari namun entah mengapa rasanya juga tidak sebaik Muna.
"Licik" Kata itu tiba-tiba saja keluar dari pikiran Senja saat ia melihat Marques Winter. Senyumnya memang ramah namun ada yang janggal dari semua itu.
"Muna, bagaimana kabar mu?" Mina terlihat bersemangat ketika berbicara dengan adiknya itu. Matanya menatap lembut ke arah Muna dan sudut bibirnya terangkat lepas dengan sendirinya.
"Aku baik," Muna tetap dengan respon yang acuh tak acuhnya. Ia masih dingin sama seperti Cavil.
"Keluarga ini sangat lucu."
Senja seperti melihat pertunjukkan di meja makan kali ini. Muna dan Cavil memiliki sifat yang sama sedangkan Mina, ia sungguh copy paste dari Marques.
"Kudengar kau sakit sampai membutuhkan tumbuhan obat dari hutan black forest?"
Kali ini perhatian Mina beralih ke Senja. Entah mengapa Senja merasa sesak dengan tatapan manis itu.
"Ia tersenyum tapi tatapan matanya itu begitu tajam."
Senja sempat kaku sesaat sebelum mulai menjawab alasan mengapa ia membutuhkan tumbuhan obat tersebut.
"Seperti inikah level seorang ksatria kerajaan?"
"Kak Mina, Senja terluka karena ia kekurangan mana. Sebagai seorang penyihir mana sangatlah penting bagi kehidupannya. Maka dari itu kami datang ke tempat ini untuk mencari obat untuk kesembuhannya."
Luna menjelaskan visi dan misi kedatangan mereka ke kediaman Marques Winter. Hal ini cukup meyakinkan Mina dan keluarga Winter lainnya.
"Baiklah, tidak masalah dengan itu, asalkan kau bisa menjaga batasan maka itu akan baik - baik saja."
Mina terlihat bersemangat, jujur saja ia tahu penyebab utama kedatangan mereka ke tempat ini. Meski akademik begitu rahasia dengan segala urusannya, namun kerajaan harus tetap mengetahui hal tersebut.
Akademik di bangun di bawah yurisdiksi kerajaan. Sehingga kerajaan memiliki hak untuk mengetahui segala masalah di akademik tersebut. Meski tidak semua masalah yang ada disana akan dilaporkan pada kerajaan, setidaknya untuk hal penting mereka akan tahu.
"Sebagai ksatria kerajaan, aku memiliki hak untuk mengetahui rahasia itu juga."
Mina kembali tersenyum, bukan senyum ramah seperti sebelumnya. Ia tersenyum karena tahu bahwa teman saudarinya itu memiliki rahasia besar.
Senja yang seketika merasakan sakit di perutnya hanya bisa diam. Ia takut menghancurkan keharmonisan keluarga di depannya itu. Wajah Senja kini terlihat memucat dan tangannya sedikit bergetar ketika memegang sendok, Cavil yang melihatnya pun terlihat acuh.
"Ayah, aku akan berangkat lebih awal ke hutan black forest. Aku harus memastikan tempat aman untuk kemah kita nanti."
Marques hanya mengangguk dan mempersilahkan Cavil untuk pergi. Ia tahu jika hutan itu berbahaya, namun dengan adanya Cavil sebagai penerus keluarga. Maka semuanya akan baik - baik saja.
Senja yang tidak dapat menahan rasa sakitnya pun segera melangkah pergi dari meja makan dengan tergesa- gesa sambil menutupi mulutnya dengan tangan, Luna yang melihat hal itu langsung mengejar Senja yang sedang menuju ke dalam kamar mandi.
Di kamar mandi Senja seketika jatuh ke lantai dengan memuntahkan darah dari mulutnya. Wajahnya terlihat pucat dan seluruh tubuhnya bergetar hebat. Luna yang baru saja sampai ke kamar mandi langsung berteriak kaget.
"Pelayan! Cepat panggil dokter Jojo". teriak Luna dengan ekspresi panik sambil segera memeluk Senja.
Muna yang mendengar teriakan Luna segera bergegas ke kamar mandi. Ia terkejut mendapati Senja yang berlumuran darah.
"Pelayan! Panggilkan dokter segera,"
Keadaan saat itu sungguh kacau, Luna yang menangis melihat kondisi Senja yang pingsan hanya bisa mondar mandir di lorong menunggu kehadiran dokter. Sedangkan Muna terlihat begitu frustasi sambil mengacak - acak cairan herbal yang ada di penyimpanan obat - obatan.
"Muna tenanglah sedikit, ia pasti akan segera sadar," seru Mina yang melihat adik bungsunya itu mengacak-acak gudang penyimpanan.
Sayangnya tidak ada respon dari Muna, ia terus mencari obat sampai menjatuhkan beberapa botol obat sehingga tangganya terluka dan mengeluarkan darah. Mina yang melihat itu langsung memegang tangan Muna dengan marah.
"Muna, hentikan. Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri dan ini tidak membuat keadaan jauh lebih baik,"
Mina terlihat jauh lebih kesal dari pada sebelumnya. Ia dengan kesal menampar wajah adik nya itu.
"Sadarlah, jika kau terus begini maka yang akan sakit bukan hanya Senja tapi dirimu juga,"
Muna yang mendapat tamparan dari kakaknya hanya bisa diam dan perlahan tembok yang ia bangun untuk menutupi kesedihannya pun pecah. Kini Muna menangis di pelukan kakaknya.
Sudah lima menit Senja pingsan akibat mana yang terbuka mengalir masuk ke dalam arterinya yang mengakibatkan pendarahan. Kondisinya tidak stabil dan akan semakin parah jika tidak bisa diobati dalam kurun waktu dekat.
Beberapa menit kemudian dokter Jojo datang. Ia pun segera masuk ke kamar Senja dan memeriksa kondisinya. Namun ada hal yang tidak diketahui semua orang. Sebelum dokter Jojo datang, Cavil yang diam - diam masuk ke kamar Senja melihatnya sedang tidur pulas dengan wajah yang sangat pucat.
Wajah Senja bahkan lebih pucat dari pada sebelumnya. Cavil lalu menggenggam rambut Senja dan menciumnya, terdapat harum bunga lavender dan mint yang menyeruak darinya.
Cavil lalu memegang wajah Senja dan menatapnya sekilas sebelum mengangkat Senja dan mendudukkannya. Segera Cavil mentransferkan mananya kepada Senja agar kondisinya lebih baik, karena elemen mereka sama yaitu api sehingga pentransferan itu pun berhasil
Walau tidak sepenuhnya dapat menyembuhkan Senja namun hal itu mampu membuatnya sedikit bertahan sampai kedatangannya dokter Jojo. Segera setelah pentransferan mana selesai Cavil mengembalikan Senja ke tempat tidurnya.
Tanpa sengaja gaun Senja sedikit menurun dan memperlihatkan tanda lahir di bahu kirinya. Tanda lahir itu berbentuk bulan sabit yang indah. Seketika Cavil membeku, ia tidak sadar meneteskan air matanya dan memutuskan untuk pergi meninggalkan kamar itu.
***
Setelah pemeriksaan ketat, dokter Jojo pun menghela napas ringan. "Nona Senja tidak akan sanggup menahan mana yang terus bocor. Ia membutuhkan obat yang telat untuk mengembalikan staminanya."
"Obat apa itu dok?"
"Obat ini tidak langka, hanya saja tidak mudah untuk menemukan tanaman yang cocok untuk meramunya. Nama obat ini disebut Asmin karena bahan utamanya adalah bunga jasmine biru."
"Jasmine biru?"
"Benar, sayangnya bunga jasmine biru ini begitu langka. Ia hanya akan tumbuh 20 tahun sekali."
Muna diam, ia sedang memikirkan solusi dari masalah ini. Menurutnya bunga jasmine yang hanya tumbuh 20 tahun sekali bukanlah bunga langka, hanya saja bunga ini tidak umum di kerajaan.
"Jasmine biru? Itu tidak sulit. Di black forest, kami memiliki banyak tumbuhan seperti itu."
Perkataan Cavil sontak membuat Muna dan Luna kaget. Mereka tidak tahu jika bunga langka bisa dengan mudahnya dijumpai di hutan black forest.
"Pantas saja Miss Aila menyuruh kami datang ke wilayah ini." gumam Luna tercerahkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments