Hutan Teratai

"Jiwa yang suci akan membawa berkah namun jika kesucian itu telah dinodai maka hanya ada kepalsuan dan juga petaka yang akan menimpa segalanya."

*****************######***************

Pertama kali Senja menginjakkan kakinya, ia sudah merasa ada suatu hal yang besar sedang menantinya di dalam hutan tersebut. Ekspedisi ini bukan hanya tentang perjalanan namun juga tentang pengalaman pertamanya mengenai pertarungan sejati.

Meski tingkatannya sudah mencapai level lima awal tapi kemampuan bela diri dan pertarungan nyata sama sekali belum ia rasakan, untuk itu kehadirannya di hutan teratai akan menilai seberapa mampukah dan hebatnya ia dalam mengendalikan kekuatannya tersebut.

"Ini adalah awal dari perjalanan panjang, jika kau bisa mengatasinya maka kau akan mendapatkan apa yang selama ini kau impikan," tutur Prof Edward sambil melangkah maju menuju hutan teratai.

"Aku hanya akan mengantarmu sampai disini, sisanya adalah milikmu," lanjutnya.

Senja yang kaget mendengar penuturan Prof Edward hanya bisa geleng - gelang kepala.

" Apa Prof? Saya tidak salah dengarkan?" tanya Senja memastikan.

" ... "

Prof Edward hanya diam menatap Senja.

"Aku tidak sedang bercanda, lagi pula untuk apa aku melatih mu selama ini jika kau sama sekali tidak bisa mengatasinya," balas Prof Edward lalu pergi ke sebuah pohon Pinus yang ada disisi kirinya.

"Tapi Prof, tanpa dirimu bagaimana aku bisa mengatasinya?" tanya Senja sekali lagi sambil mengikuti langkah kaki Prof Edward.

"Maka ingatlah apa yang selama ini kau pelajari, dengan itu kau dapat mengatasinya," jelas Prof Edward sambil menyerahkan sebuah peluit yang terbuat dari bambu kuning dengan warna perak.

"Tiup ini jika nyawamu dalam bahaya maka aku akan segera datang dan menyelamatkanmu tapi kau harus ingat bahwa ini hanya untuk keadaan genting saja," lanjut Prof Edward sebelum ia duduk di bawah pohon.

Tidak ada jawaban dari Senja, ia hanya menatap peluit itu sambil memutarnya secara teliti.

"Satu hal lagi, jangan sampai kau kehilangan peluit itu dan simpanlah dengan baik," seru Prof Edward.

"Aku akan melakukan meditasi disini selama kau berada di dalam hutan," lanjut Prof Edward lalu ia mulai menutup matanya dan melakukan meditasi.

" ... "

Senja hanya menatap Prof Edward dengan wajah kesal lalu mengambil tas yang berisi perlengkapannya dan segera memasuki hutan.

"Dasar sialan. Bagaimana aku bisa melakukannya sendirian, jika aku tahu akhirnya begini maka sejak awal aku akan membawa hewan suci lainnya selain Ristia yang selalu menempel di pergelangan tanganku," gerutu Senja dalam hatinya.

"Aku sengaja meninggalkan mereka karena kupikir aku akan pergi ekspedisi bersama Prof, nyatanya aku sendirian," lanjut Senja sambil berjalan terus menuju tengah hutan.

"Lagian Kun pasti akan senang jika ia bisa berburu makanan di tempat ini," gerutu Senja tidak senang sambil mengingat Kun yang setiap harinya hanya makan dan tidur saja.

Senja tambah kesal ketika mengingat bahwa Kun hanya terbangun sesaat untuk meregangkan tubuhnya dan berputar - putar di atas bantal lalu tidur kembali.

"Ingin sekali ku berteriak," lirih Senja dengan mulut yang di majukan.

Sudah hampir setengah jam Senja berjalan menyusuri hutan dan kini ia merasa begitu lelah dan butuh istirahat sejenak. Senja lantas mencari tempat yang tepat untuk bisa membuat tenda. Akhirnya pilihan Senja jatuh pada sebuah pohon Pinus besar dengan cabang pohon yang saling bersilang.

"Aku akan membuat tenda di atas cabang pohon itu lalu memasang beberapa jebakan di sekitarnya," gumam Senja sambil menjatuhkan tasnya lalu naik ke atas pohon.

Senja kemudian membuat sebuah tenda mini diatas pohon tersebut dengan bantuan sihir yang sudah ia pelajari di kelas bersama Miss Jina. Tidak butuh waktu lama untuk membuatnya sehingga Senja dapat beristirahat dengan cepat.

Sebelum beristirahat Senja sudah menyuruh Ristia untuk membuat perisai disekitar pohon untuk melindunginya dari hewan buas. Malam pun tiba, Senja yang sedari tadi tidur mulai merasa lapar dan haus ia memutuskan turun dari pohon dan pergi menuju sungai yang berada tidak jauh dari lokasi tendanya.

"Ristia apa kau bisa merasakan aura hewan suci disekitar tempat ini?" tanya Senja sambil mengeluarkan tongkat sihir dan kemudian menyalakan lampu dari ujung tongkatnya.

"Nona, aku hanya merasakan aura seekor musang di depan sana," tunjuk Ristia sambil menggoyangkan ekornya.

"Hati-hati Nona, di dalam sungai ini ada seekor ular," lanjut Ristia sambil memasang perisai untuk melindungi Senja dari serangan mendadak ular tersebut.

"Baiklah," seru Senja lalu mengeluarkan botol dan mengambil air sungai secukupnya.

"Aku lapar, apa disini tidak ada yang bisa di makan?" lanjut Senja saat sedang mengambil air dengan kedua tangannya.

"Tidak ada Nona, disini hanya ada rumput liar dan buah beracun," jawab Ristia sambil melirik sekitarnya.

Senja hanya diam sambil mengelus pelan perutnya yang mulai berbunyi.

"Dasar cacing sialan. Diam sedikit kenapa, ini juga lagi diusahakan," gerutu Senja ketika perutnya mulai meronta - ronta.

Senja lalu pergi ke arah selatan sungai dan mulai menyusuri area itu.

"Bagaimana?" tanya Senja sambil mengarahkan tongkat sihirnya kesana - kemari untuk melihat keadaan sekitar.

"Nona sepertinya di balik semak itu ada seekor kelinci, tidak cukup besar tapi bisa untuk menghilangkan rasa lapar mu," tunjuk Ristia sambil berputar-putar ringan pada jari telunjuk Senja.

Senja hanya diam sambil menatap semak belukar di depannya dengan perlahan namun pasti Senja mulai melangkahkan kakinya.

Ketika sampai di depan semak itu Senja lalu membukanya dan mendapati seekor kelinci hitam sedang memakan seekor kadal yang besarnya dua kali lipat dari tubuhnya.

"Oh astaga," seru Senja panik ketika kelinci itu mulai menatapnya sambil menampakkan taring yang tajam.

"Itu kelinci apa monster?" tanya Senja ragu sambil melangkah mundur dari posisinya.

"Nona tenangkan dirimu, ada aku disini," seru Ristia sambil memasang perisai untuk melindungi nona nya.

"Kekuatannya tidak sebanding dengan milik kita jadi Nona tidak perlu khawatir," lanjut Ristia sambil mengunci kelinci tersebut ke dalam sebuah penjara kristal yang ia buat dengan mana nya.

"Nona bisa membakarnya sekarang," tutur Ristia ketika kelinci itu mulai memberontak.

Senja yang merasa mual dengan kelinci yang baru saja memakan kadal itu hanya bisa menutup mulutnya agar tidak muntah.

"Apa tidak ada makanan lain?" tanya Senja sambil memalingkan wajahnya.

"Jika Nona ingin makan daging maka yang ada hanya spesies seperti ini di hutan," jawab Ristia polos mencoba memberi penjelasan.

"Kalau begitu aku tidak mau memakannya," seru Senja sambil melangkah pergi.

"Tapi jika nona tidak memakannya maka nona bisa kelaparan," seru Ristia panik ketika nona nya enggan memakan kelinci tersebut.

"Apa tidak ada yang bisa dimakan ditempat ini selain hewan seperti itu?" tanya Senja sambil menunjuk ke arah kelinci yang tengah dipenjara.

"Jika Nona ingin menjadi vegetarian itu tidak masalah," seru Ristia acuh tak acuh.

"Vege..., vege apa maksudmu?" tanya Senja tidak mengerti apa yang dibicarakan Ristia.

"Vegetarian Nona. Ve. Ge. Ta. Ri. An," jelas Ristia yang mulai terlihat kesal.

"Astaga, apa hanya ada buah di tempat ini?" tanya Senja sekali lagi mencoba memastikan.

" ... "

Ristia merasa kesal sampai ke ujung kepalanya, wajahnya mulai memerah dan sedikit mengeluarkan api dari ekornya.

"Ugh." Rintih Senja yang merasa sakit dipergelangan tangan karena api kecil yang keluar dari ekor Ristia.

"Huh, sekarang aku tahu alasan mengapa Lily begitu kesal padamu," gerutu Ristia sambil memadamkan api di ekornya.

" ... "

Senja hanya diam sambil mengelus pelan bekas luka bakar yang ada di pergelangan tangannya.

"Tidak ada buah atau pun daging Nona yang ada hanyalah tumbuhan obat," lanjut Ristia sambil mengobati luka bakar yang mulai membasah.

"Tumbuhan? Oh astaga!" Memikirkannya saja sudah membuat Senja muak apalagi harus memakannya selama empat hari.

"Bagaimana?" tanya Ristia meyakinkan Senja.

" ... "

Senja melirik kembali pada kelinci yang mulutnya penuh dengan darah akibat memakan kadal.

"Hugh, menjijikkan,"

"Kurasa itu lebih baik dari pada harus memakan kelinci itu," lirih Senja sambil melangkah pergi dari tempat tersebut.

Pagi harinya Senja merasa sedikit pusing ketika melihat sinar mentari yang mulai menyinari wajah cantiknya itu. Perlahan Senja mengangkat tangan kanannya untuk menghalangi cahaya masuk ke dalam indera penglihatannya.

"Nona, sudah waktunya," cicit Ristia sambil menggoyangkan ekor kecilnya itu.

"Ugh," gerutu Senja sambil mencoba untuk berdiri dari tidurnya.

"Aku akan menyelesaikan ini dengan cepat," seru Senja sambil mengambil tongkat sihir yang ada di sampingnya.

"Aku akan menyusuri area timur dan barat hari ini," lanjutnya sambil meminum sebotol air yang ia isi semalam.

"Aku masih bisa merasakannya," Senja kembali teringat kejadian semalam dimana ia hanya memakan tumbuhan obat-obatan yang rasanya pahit seperti rumput liar.

"Kali ini aku harus makan enak," lirih Senja lalu melompat turun dari atas pohon.

***

Sudah berjam-jam Senja hanya berputar-putar di area itu tapi ia sama sekali belum menemukan apa pun.

"Ristia apa kau sudah tumpul?" tanya Senja mulai terlihat kesal.

" ... "

Ristia hanya diam lalu menggigit pergelangan tangan Senja dengan wajah kesalnya.

"Ya ampun Nona itu bukan salahku jika mereka tidak ada disini," cicit Ristia yang wajahnya mulai memerah menahan marah.

" ... "

Senja hanya diam lalu mencoba pergi ke arah bukit di mana ia bisa melihat area disekitarnya.

"Nona, awas!" teriak Ristia yang dengan cepat membuat perisai untuk melindungi Senja dari cakaran hewan buas.

Senja yang kaget dengan serangan tiba-tiba hanya bisa jatuh terduduk di tanah.

"Apa itu?" tanya Senja dengan wajah pucatnya.

"Itu hyena tapi sepertinya ia sedang mengalami perubahan yang sangat aneh pada tubuhnya," jelas Ristia sambil menatap tajam ke arah hyena tersebut.

Tubuh hyena itu terlihat pucat dengan bulu yang mulai rontok dan wajah seperti menahan rasa sakit yang hebat. Hyena itu lantas berteriak dengan keras seolah - olah sedang melawan sesuatu di dalam tubuhnya.

"Dia sudah gila," seru Ristia semakin panik.

"Apa maksudmu, bisa kau jelaskan?" tanya Senja sambil melangkah mundur dari posisinya.

"Sepertinya dia digigit sesuatu yang pada akhirnya membuat dirinya kehilangan kendali dan berubah seperti itu," jelas Ristia.

"Dia akan mengalami transformasi dan jika tidak dihentikan maka ia akan sangat berbahaya bagi kita." lanjut Ristia sambil memperkuat perisainya.

"Maksudmu dia sedang mutasi begitu, tapi bagaimana bisa hewan suci bermutasi?" tanya Senja penasaran.

"Saya juga tidak tahu Nona tapi sepertinya ada seseorang yang sengaja melakukannya," tutur Ristia sambil menyuruh Senja untuk mengambil tongkat sihirnya dan mulai melumpuhkan hyena tersebut.

"Dia terlalu kuat," gumam Senja dengan tubuh yang mulai bergetar hebat menahan tekanan.

"Nona, anda pasti bisa, ingatlah apa yang selama ini anda pelajari," lirih Ristia menyemangati Senja.

" ... "

Senja mulai mengingat satu - persatu materi yang diajarkan oleh prof Edward selama pelatihannya.

Materi itu masuk seperti film klasik yang sedang diputar, Senja pun mulai memejamkan matanya dan mencoba untuk merasakan energi yang sedang mengalir di dalam tubuhnya. Senja lalu mengatur pernapasannya untuk merileksasikan tubuhnya.

perlahan Senja membuka kembali matanya dan menatap tajam ke arah hyena tersebut. Tubuh Senja mulai tenang dan warna matanya kini berubah menjadi hijau gelap diselingi oleh warna biru menyala seperti berlian.

Senja merasakan suatu mana besar yang mengalir di dalam darahnya. Ia pun mulai memusatkan energi itu dan mengarahkannya kepada tubuh hyena.

Perlahan Senja mengangkat tongkat sihirnya dan mulai meramalkan mantra. Hyena yang mulai bertranformasi terlihat begitu ganas dan mulai mencakar - cakar area sekitarnya.

Berkat perisai yang dibuat oleh Ristia, mereka berhasil menahan amukan dari Hyena tersebut. Namun perisai itu kini mulai hancur karena benturan keras dari cakaran Hyena.

"Nona cepatlah," seru Ristia panik sambil mencoba untuk memperkuat perisainya.

Senja yang sudah mendapatkan konsentrasi mulai membidik hyena, ia lalu melemparkan sebuah anak panah yang keluar dari ujung tongkat sihirnya. Anak panah itu berwarna biru dengan ujung yang menyala seperti api. Hanya butuh satu anak panah untuk bisa melumpuhkan tubuh Hyena tersebut.

Ketika anak panah mulai mengenai tubuh Hyena, anak panah itu lalu masuk ke dalam tubuhnya dan meledak disana. Ledakkan itu tidak membuat tubuh luar Hyena hancur melainkan hanya menghancurkan bagian internalnya saja.

"Nona lihatlah itu," seru Ristia ketika tubuh hyena itu mengeluarkan mutiara hitam dengan ukiran bunga melati berwarna merah darah.

"Apa itu?" tanya Senja lalu menyentuh mutiara itu.

"Sepertinya mutiara ini yang membuat tubuh Hyena itu kehilangan kendali dan bertransformasi," jelas Ristia yang merasakan mana gelap dalam bola mutiara tersebut.

"Siapa pelaku yang melakukan ini? Dan apa motive nya?" tanya Senja sambil menatap ke arah Hyena yang sudah mati.

"Apa Nona berniat untuk mencari tahu?"

Ristia mencoba melihat maksud dari nonanya.

"Jika aku berhasil menangkap pelakunya maka aku akan mendapatkan hasil yang besar pula," seru Senja sambil melangkah pergi menuju arah datangnya Hyena.

" ... "

Ristia hanya diam sambil berputar - putar ria pada pergelangan tangan Senja.

"Nona, kita membutuhkan bantuan Kun untuk urusan ini namun jika untuk mencari bukti mungkin kita berdua bisa," jelas Ristia lalu membuat perisai berlapis di sekujur tubuh Senja.

Senja melihat Jejak tapak kaki kuda lalu memeriksanya. Tapak kaki itu terasa hangat yang tandanya ada seseorang di dalam hutan ini selain dirinya.

"Mungkin merekalah penyebabnya," lirih Senja sambil mengikuti tapak kaki kuda tersebut.

"Kita harus berhati - hati mulai sekarang," lanjut Senja saat melihat ke sekeliling.

Tapak kaki kuda itu menuju ke arah lereng perbukitan yang dipenuhi oleh pohon Pinus yang rindang dan lebat.

"Nona, aku merasakan energi hewan buas di sekitaran kita," tutur Ristia sambil melihat ke arah kiri tubuh Senja.

"Aku akan membereskan hewan itu," lirih Senja lalu melangkah pergi.

"Nona tunggu sebentar," seru Ristia menghentikan langkah kaki senja.

"Aku juga merasakan energi manusia yang berada di level 4," lanjut Ristia yang membuat Senja sedikit was - was.

"Aku bisa mengatasinya lagi pula aku sudah berada pada level 5 awal, meski sedikit sulit," jelas Senja mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Senja perlahan mendekati tempat itu dengan menggunakan sihir peringan tubuh agar keberadaannya tidak diketahui oleh musuh. Dari balik pohon yang rimbun Senja dapat melihat dua orang pria bertubuh besar sedang membakar sesuatu.

"Hmm, harumnya," cicit Senja sambil mengelus ringan perutnya.

"Sudah ku katakan bukan jika hari ini kita akan makan enak." Senyum Senja mengembang ketika ia kembali mengingat perkataannya tadi pagi.

Ristia hanya bisa geleng-geleng kepalanya melihat kelakuan nona nya itu.

"Lindungi aku selama memburu mereka," seru Senja saat mengangkat tongkat sihirnya.

Ia lalu mengarahkan tongkat sihirnya pada kumpulan pria yang tengah membersihkan senjata mereka.

"Tunggu dulu Nona," cicit Ristia kaget ketika merasakan energi besar yang baru saja tiba.

"Ada apa?" tanya Senja sedikit kesal.

"Nona, jangan terlalu gegabah melemparkan serangan anak panahmu, sebab diantara mereka ada yang berada tingkat level 5 dan 6. Jika kita gegabah dalam menyerang maka kita yang akan kena sialnya," jelas Ristia mencoba memahami situasi.

"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Senja tidak sabaran.

"Kita kacau kan saja dulu mereka lalu ambil kesempatan setelah nya," usul Ristia sambil menunjuk area Utara hutan.

Senja mencoba memahami apa yang baru saja di katakan oleh Ristia.

"Maksudmu kita harus kabur begitu, lalu bagaimana dengan ayamnya?" tanya Senja dengan air liur yang mulai membasahi bibirnya.

"Nona, anda masih bisa memikirkan makanan di situasi seperti ini," gerutu Ristia tidak habis pikir dengan kelakuan nona nya itu.

"Aku hanya tidak ingin makan rumput liar lagi," cicit Senja yang mengingat kejadian semalam.

Ristia dengan pasrah harus mengikuti keinginan nona nya itu. "Mau bagaimana lagi,"

Senja lalu mencoba untuk mengumpulkan kembali mana nya namun untuk sekarang frekuensinya lebih besar dari pada sebelumnya. Senja mulai berkonsentrasi dan memusatkan perhatiannya pada sekumpulan pria itu, Senja merasakan mana yang cukup besar mengalir dari dalam tubuhnya.

Ketika hendak melemparkan anak panah, sialnya Senja malah diserang oleh seekor serigala raksasa berwarna perak dengan cakarnya. Untung saja perisai yang dibuat Ristia mampu menahan serangan tersebut.

Namun sayangnya hal itu berakibat pada anak panah yang meleset dan jatuh di antara bebatuan sehingga menimbulkan ledakan yang mengakibatkan sekumpulan pria itu menyadari kehadiran Senja.

"Nona, kita harus kabur. Salah seorang dari mereka sudah menyadari posisi kita melalui serigala tadi," seru Ristia sambil mendorong perisai di depan Senja sehingga membuat serigala itu terbang dan jatuh ke tanah tidak jauh dari mereka.

"Kurasa kali ini makan malamnya tidak berubah," cicit Senja sambil melangkah pergi dari tempat itu.

"Tunggu dulu, jika aku tidak bisa menikmatinya maka mereka pun sama," seru Senja dan kembali melepaskan anak panahnya sekali lagi. Dan Kali ini mana yang dikeluarkan Senja tidak stabil sehingga anak panah itu menjadi tidak terkendali dan malah meledak tepat di antara sekumpulan pria tersebut.

Akibatnya mereka yang memiliki tingkatan level dibawah lima pada mati semua sedangkan untuk hewan suci yang mereka miliki hanya mendapatkan luka bakar dan ada pula yang langsung menghilang begitu saja bahkan mereka yang berada di tingkat 5 dan 6 harus merasakan luka bakar di sekujur tubuh mereka.

Senja yang tidak menyangka anak panahnya dapat melakukan hal seperti itu mulai tersenyum sinis dengan menatap tajam ke arah mereka. Salah seorang dari mereka yang sempat melihat Senja kabur dengan gesit melesatkan tembakkan ke arah Senja. namun tentu saja tembakan itu berhasil di blokir oleh perisai yang dibuat Ristia.

"Kita akan mengeceknya besok pagi tapi sebelum itu kita harus meninggalkan tempat ini terlebih dahulu," seru Senja kemudian melangkah pergi meninggalkan area tersebut.

"Besok kita akan mengetahui siapa mereka," lirih Senja sambil melihat ke arah langit yang penuh dengan bintang.

"Siapa pun mereka, aku pasti akan mengusutnya hingga tuntas."

Terpopuler

Comments

Muhammad Ari

Muhammad Ari

keren thor, ijin promo ya, jgn lupa baca dan mampir di novel dg judul "sudden kiss" ya 😇😇😇

2020-07-01

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Pertukaran Takdir
3 Buku Diary Senja
4 Perubahan
5 Pertemuan
6 Kesetiaan
7 Hari Pemilihan
8 Sahabat
9 Sadar
10 Black Forest
11 Magis Pet pt 1
12 Magis Pet [ 2 ]
13 Akademik Sihir
14 Siapa Kamu?
15 Perjalanan Ekspedisi
16 Hutan Teratai
17 Hutan Teratai [ Pt 2 ]
18 Kegelisahan
19 Terselubung
20 Pencarian
21 Pulih
22 Pulih pt 2
23 Pulih pt 3
24 RENCANA
25 Jebakan
26 Rahasia Permaisuri Mawar
27 Rahasia Permaisuri Mawar pt 2
28 Investasi
29 Investasi pt2
30 Investasi Pt3
31 Kesepakatan
32 Siasat
33 Persiapan
34 Ujian Akademik
35 Let's Start the Games
36 LSTG Pt 2
37 LSTG Pt 3
38 LSTG Pt 4
39 LSTG Pt 5
40 Finish Games
41 Permulaan Rencana
42 Akhir dari Pengkhianatan
43 Rumah baru
44 Rahasia Gelap
45 Eksekusi
46 Umpan
47 Tertarik
48 Tertarik Pt 2
49 Kerajaan Aruna
50 Party
51 Party Pt 2
52 Party Pt 3
53 Sumpah
54 Sumpah Pt 2
55 Kerajaan Guira
56 Kerajaan Guira Pt 2
57 Kerajaan Guira Pt 3
58 Kerajaan Guira Pt 4
59 Kerajaan Guira Pt 5
60 Perangkap
61 Wilayah Timur
62 Wilayah Timur Pt 2
63 Wilayah Timur Pt 3
64 Wilayah Timur Pt 4
65 Lucas de Green
66 Lucas de Green pt 2
67 Kerajaan El-Aufi
68 Kerajaan El-Aufi Pt 2
69 Penyamaran
70 Persimpangan Jalan
71 Teman Jalan
72 Teman Jalan pt 2
73 Teman Jalan pt 3
74 Teman Jalan pt 4
75 Pertemuan
76 Pertemuan pt 2
77 Pertemuan pt 3
78 Pertemuan pt 4
79 Pertemuan pt 5
80 Pertemuan pt 6
81 Kunjungan Sahabat
82 Kunjungan Sahabat pt 2
83 Perubahan Rencana
84 Takut
85 Panik
86 Panik pt 2
87 Kelinci Percobaan
88 Gelisah
89 Kesalahpahaman
90 Pesta Teh
91 Pesta Teh pt 2
92 Festival Rakyat
93 Festival Rakyat pt 2
94 Festival Rakyat pt 3
95 Festival Rakyat pt 4
96 Festival Rakyat pt 5
97 Festival Rakyat pt 6
98 Danau Sinju
99 Danau Sinju pt 2
100 Danau Sinju pt 3
101 Danau Sinju pt 4
102 Danau Sinju pt 5
103 Memantau
104 Wajah Baru
105 Pukulan Kecil
106 Keputusan
107 Fakta
108 Fakta pt 2
109 Pesta Kedewasaan [End Season 1]
110 End Season
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Prolog
2
Pertukaran Takdir
3
Buku Diary Senja
4
Perubahan
5
Pertemuan
6
Kesetiaan
7
Hari Pemilihan
8
Sahabat
9
Sadar
10
Black Forest
11
Magis Pet pt 1
12
Magis Pet [ 2 ]
13
Akademik Sihir
14
Siapa Kamu?
15
Perjalanan Ekspedisi
16
Hutan Teratai
17
Hutan Teratai [ Pt 2 ]
18
Kegelisahan
19
Terselubung
20
Pencarian
21
Pulih
22
Pulih pt 2
23
Pulih pt 3
24
RENCANA
25
Jebakan
26
Rahasia Permaisuri Mawar
27
Rahasia Permaisuri Mawar pt 2
28
Investasi
29
Investasi pt2
30
Investasi Pt3
31
Kesepakatan
32
Siasat
33
Persiapan
34
Ujian Akademik
35
Let's Start the Games
36
LSTG Pt 2
37
LSTG Pt 3
38
LSTG Pt 4
39
LSTG Pt 5
40
Finish Games
41
Permulaan Rencana
42
Akhir dari Pengkhianatan
43
Rumah baru
44
Rahasia Gelap
45
Eksekusi
46
Umpan
47
Tertarik
48
Tertarik Pt 2
49
Kerajaan Aruna
50
Party
51
Party Pt 2
52
Party Pt 3
53
Sumpah
54
Sumpah Pt 2
55
Kerajaan Guira
56
Kerajaan Guira Pt 2
57
Kerajaan Guira Pt 3
58
Kerajaan Guira Pt 4
59
Kerajaan Guira Pt 5
60
Perangkap
61
Wilayah Timur
62
Wilayah Timur Pt 2
63
Wilayah Timur Pt 3
64
Wilayah Timur Pt 4
65
Lucas de Green
66
Lucas de Green pt 2
67
Kerajaan El-Aufi
68
Kerajaan El-Aufi Pt 2
69
Penyamaran
70
Persimpangan Jalan
71
Teman Jalan
72
Teman Jalan pt 2
73
Teman Jalan pt 3
74
Teman Jalan pt 4
75
Pertemuan
76
Pertemuan pt 2
77
Pertemuan pt 3
78
Pertemuan pt 4
79
Pertemuan pt 5
80
Pertemuan pt 6
81
Kunjungan Sahabat
82
Kunjungan Sahabat pt 2
83
Perubahan Rencana
84
Takut
85
Panik
86
Panik pt 2
87
Kelinci Percobaan
88
Gelisah
89
Kesalahpahaman
90
Pesta Teh
91
Pesta Teh pt 2
92
Festival Rakyat
93
Festival Rakyat pt 2
94
Festival Rakyat pt 3
95
Festival Rakyat pt 4
96
Festival Rakyat pt 5
97
Festival Rakyat pt 6
98
Danau Sinju
99
Danau Sinju pt 2
100
Danau Sinju pt 3
101
Danau Sinju pt 4
102
Danau Sinju pt 5
103
Memantau
104
Wajah Baru
105
Pukulan Kecil
106
Keputusan
107
Fakta
108
Fakta pt 2
109
Pesta Kedewasaan [End Season 1]
110
End Season

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!