Penyesalan Setelah Perpisahan

Penyesalan Setelah Perpisahan

Bab 1.

Di sebuah gedung mewah, baru saja diselenggarakan akad nikah yang dipimpin oleh seorang penghulu yang merangkap menjadi wali hakim untuk mempelai wanita.

Seorang pria berwajah tampan mempesona mengucap ijab dengan jelas dan lantang. Saat para saksi berkata sah, suara para tamu ikut menderu mengucap kata yang sama.

Setelah menyelesaikan beberapa prosesi wajib, acara dilanjutkan dengan resepsi besar-besaran. Pesta itu dihadiri oleh para pejabat, pengusaha dan orang-orang penting lainnya.

Malam ini Safia rasanya seperti tengah berada di alam mimpi, tidak pernah terbersit di pikirannya akan menikah dengan orang terpandang serta acara yang digelar semewah ini.

Safia seperti mendapat durian runtuh, dia bersyukur bisa menikah dengan pria yang sangat mencintainya.

Usai acara dilangsungkan, sepasang pengantin baru itu meninggalkan gedung dan masuk ke dalam lift menuju kamar pengantin yang akan menjadi saksi penyatuan cinta mereka berdua.

Ya, sang mempelai pria sengaja memilih hotel besar itu untuk menghabiskan malam pertama mereka. Dia sudah menyediakan kejutan besar untuk istri tercintanya. Tentu saja kejutan yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup.

Baru saja pintu kamar terbuka, manik mata Safia menatap lekat ke setiap sudut yang sudah dihias sedemikian rupa. Sangat indah dan elegan dengan banyaknya taburan bunga mawar yang berserakan di mana-mana, lilin-lilin kecil yang menyala menjadi penerang di tengah remang-remang cahaya.

"Makasih ya Mas, aku suka sekali." Safia tampak kegirangan, matanya berkaca-kaca, lalu memeluk pinggang pria itu saking bahagianya.

"Suka?" pria itu mengangkat sebelah sudut bibir yang membentuk sebuah senyuman sinis, sayang Safia tidak dapat melihat karena wajahnya tengah tenggelam di dada suaminya itu.

"Mmm... Suka sekali," angguk Safia dengan suara manja.

"Ini belum seberapa, nanti akan banyak lagi kejutan tak terduga untukmu." ucap pria itu, dia masih tetap setia dengan senyum liciknya.

"Hehe... Sekali lagi makasih ya, Mas. Sebenarnya tidak perlu membuat kejutan seperti ini, menjadi istri Mas saja sudah cukup membuatku bahagia." kata Safia tersenyum sumringah, jelas sekali raut kebahagiaan menghiasi wajahnya.

"Ya, baguslah. Memang sudah seharusnya kamu bahagia menjadi istriku." ucap pria itu dingin. "Dan kebahagiaan itu akan berganti dengan air mata." imbuhnya dalam hati.

"Sekarang lepaskan dulu, aku mau ke kamar mandi sebentar."

Sambil mengangguk Safia pun melepaskan pelukannya, membiarkan sang suami masuk ke kamar mandi dan memilih menunggu di tepi ranjang.

Selang beberapa menit, bel tiba-tiba berbunyi. Safia memutar leher ke arah pintu, dia nampak kebingungan memikirkan siapa yang datang malam-malam begini. Bukankah ini malam pengantin mereka, lalu kenapa bisa ada tamu di kamar hotel yang mereka tempati?

Karena penasaran, Safia langsung berdiri dan berjalan menuju pintu. Dia pikir mungkin saja petugas hotel atau orang-orang kepercayaan suaminya yang berkemungkinan memiliki keperluan mendesak.

Sesaat setelah pintu terbuka, Safia menyipitkan mata menangkap kedatangan seorang wanita berpakaian seksi yang tengah berdiri di ambang pintu.

Tanpa berucap wanita itu tiba-tiba menyelonong masuk dan menyenggol bahu Safia. Tentu saja hal itu membuat Safia bingung karena dia tidak mengenal wanita itu sama sekali.

"Maaf, mungkin Anda salah kamar." ucap Safia membuka suara, dia lekas berbalik dan menghadang langkah wanita itu dengan cepat.

"Salah kamar?" wanita itu mengernyit. "Aku rasa tidak," imbuhnya, lalu wanita itu mengulas senyum dan memilih duduk di sisi ranjang. Dia melipat kaki sehingga menampakkan kulit pahanya yang begitu putih dan mulus.

Safia yang menyaksikan itu bertambah bingung dan nampak panik, dia mulai gelisah. Suaminya tidak boleh melihat pemandangan seperti ini, apalagi di malam pengantin mereka.

Baru saja Safia hendak mengusir wanita itu, pintu kamar mandi tiba-tiba berderit. Sang suami muncul dengan balutan kimono yang membungkus tubuh atletisnya.

"Sudah lama?" sapa Salman yang merupakan suami Safia. Dia sama sekali tidak menatap istrinya, matanya justru terfokus pada tubuh seksi wanita itu.

"Baru saja," sahut wanita itu seraya tersenyum, dia lantas berdiri dan berjalan menghampiri Salman.

Tanpa Safia duga, kedua manusia itu tiba-tiba berpelukan di depan mata kepalanya. Tidak hanya itu, mereka juga tanpa malu berciuman seperti sepasang suami istri pada umumnya.

Mata Safia tiba-tiba membola menyaksikan pemandangan menjijikkan itu, dia benar-benar terkejut dan menutup mulut dengan cepat. Kakinya mendadak gemetaran dengan mata berbinar menahan cairan yang menggenang.

Safia rasanya ingin marah dan memukuli kedua manusia tidak tau diri itu detik ini juga, tapi entah kenapa dia seperti kehilangan kekuatan.

"Apa ini, Mas?" lirih Safia, air matanya tak lagi bisa dibendung. Cairan itu mengalir begitu saja di sudut matanya.

Salman melepaskan bibir wanita itu dan memutar leher ke arah Safia. "Punya mata, kan? Kenapa masih bertanya?"

Safia terperanjat mendengar jawaban ketus Salman. "Hmm... Aku bisa melihatnya,"

Safia tersenyum getir dan dengan cepat membuang pandangannya ke arah lain lalu berbalik badan. Dengan langkah gontai dia berjalan menuju pintu, dia tidak sanggup melihat kemesraan suaminya itu.

Bisa-bisanya dia mendapat pengkhianatan di malam yang seharusnya menjadi malam paling bahagia untuk sepasang suami istri seperti mereka. Safia benar-benar kecewa, hatinya perih bak disayat sembilu tajam.

"Selangkah saja kakimu meninggalkan kamar ini, aku pastikan hidupmu akan menderita untuk selamanya!" ancam Salman pada Safia.

"Aku sudah menderita melihat apa yang baru saja kamu lakukan, apa lagi yang harus aku takutkan?" sahut Safia berderai air mata, dia terus saja berjalan meninggalkan kamar tanpa mempedulikan ucapan Salman.

Baru saja Safia tiba di luar, bokongnya langsung terhenyak di lantai. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan suami yang baru saja menikahinya.

"Pergilah!" ucap Salman pada wanita yang masih berdiri di sampingnya.

"Tapi, Tuan-"

"Aku bilang pergi," bentak Salman, wanita itu sontak terkejut dan ketakutan melihat mata Salman yang memerah dibakar api kemarahan.

"I-iya," sahut wanita itu terbata-bata kemudian berlari meninggalkan kamar.

Setelah wanita itu pergi, Salman mengayunkan kakinya menyusul Safia. Saat mendapati istrinya yang tengah meringkuk memeluk lutut, seringai tipis melengkung di sudut bibirnya. "Masuk!" titahnya.

Safia tidak menyahut dan hanya diam dalam kehancurannya.

"Punya telinga tidak? Aku bilang masuk!" berang Salman dengan rahang menggeram, suaranya pun lantas meninggi.

"Ceraikan aku sekarang juga! Aku tidak ingin menjadi istrimu." pinta Safia dengan yakin, lalu memberanikan diri menatap wajah Salman.

"Cerai?" Salman mengulas senyum licik. "Sampai lebaran cicak sekalipun, tidak akan ada yang namanya perceraian diantara kita." imbuhnya.

"Lalu untuk apa pernikahan ini dilanjutkan? Belum apa-apa saja, kamu sudah berani menyakitiku. Bagaimana dengan besok dan besoknya lagi?" Safia terdiam dan menghirup udara sebanyak-banyaknya, dadanya kian sesak mengingat kejadian barusan. "Kalau kamu tidak pernah mencintaiku, kenapa menikahi ku? Apa yang membuatmu melakukan ini padaku? Apa salahku padamu, hah?" cerca Safia dengan sederet pertanyaan yang membelenggu hatinya, matanya menyiratkan kepedihan yang sangat mendalam.

"Kau akan tau jika saatnya sudah tiba. Sekarang masuk, jangan membuatku marah!" sergah Salman dengan tatapan tajam seperti mata elang yang siap mencabik mangsa.

"Ya, aku akan masuk. Tapi mulai detik ini, aku mencabut hakmu atas diriku. Diantara kamu dan aku hanya sebatas orang asing, aku tidak akan pernah menganggap mu sebagai suamiku."

Setelah mengatakan semua itu, Safia bangkit dari duduknya. Dia berjalan memasuki kamar dan bergegas mengambil pakaian ganti lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.

Di dalam sana tangisan Safia pecah di dekat wastafel. Dia tidak menyangka akan terjebak dalam cinta palsu yang dimainkan Salman untuknya.

Sakit, perih, Safia tidak bisa melupakan pemandangan yang tadi dia lihat. Mungkin seumur hidup bayangan itu akan tetap datang menghantui ingatannya.

Setelah puas membuang air mata, Safia dengan cepat mencuci wajah lalu mengganti pakaian dan membuang gaun pengantin yang dia kenakan tadi ke dalam tong sampah.

Jika Salman memang ingin menabuh genderang perang dengannya, maka Safia akan melayaninya dengan senang hati. Tidak ada gunanya menghormati suami seperti itu.

Terpopuler

Comments

Yani Cuhayanih

Yani Cuhayanih

Baru baca aja udah ngajak perang si Salman aku geplak sekalian kayak cicak biar gepeng sekalian.....

2023-06-19

0

Soraya

Soraya

Assalamu'alaikum permisi numpang duduk dl ya kak👍

2023-06-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!