"Ada madu di pinggir bibirmu." kata Lucas.
Mendengar hal itu, Vanya segera mencari-cari letak madu tersebut dengan lidahnya. Lucas yang melihatnya segera menghapus madu dengan bibirnya.
"Manis." ucap Lucas.
Lucas brengs*k! Apa yang baru saja dia lakukan?! batin Vanya.
Di dalam hati Vanya banyak kata umpatan yang ditujukan untuk Lucas namun tidak ada satupun yang berhasil keluar dari mulut Vanya. Begitu juga Lucas.
Kenapa kamu harus menggunakan mulutmu?! Kenapa tidak jarimu saja?! Bodoh, Lucas! Bodoh!!! batin Lucas.
Mau marah tapi dia sah suamiku, tidak marah nanti dia sangka aku menginginkannya. Bagaimana ini?! batin Vanya.
"Pak, bu. Sarapannya sudah jadi." kata Nani.
Oh, Tuhan. Terima kasih Nani. Kamu menyelamatkan hidupku. batin Lucas.
Vanya dan Lucas berjalan bersamaan menuju meja makan. Suasana canggung menyelimuti meja makan. Biasanya mereka saling melemparkan argumen, membahas perjanjian atau saling menjatuhkan. Tetapi kali ini mereka diam seribu bahasa.
Aku benci suasana canggung. Bagaimana ini? Katakan sesuatu, Vanya! batin Vanya.
"Hmm sudah berapa lama bi Nani bekerja denganmu?" tanya Vanya.
"Sudah 4 tahun, bu." jawab Nani.
Argh kalah cepat dengan bi Nani. Harusnya aku yang menjawabnya!! batin Lucas.
Ah kenapa malah bi Nani yang menjawab?? Aku kan sengaja bertanya untuk Lucas agar tidak canggung lagi. Baiklah, Vanya. Berpikirlah pertanyaan yang hanya bisa dijawab Lucas. batin Vanya.
Vanya berpikir keras sampai tidak sadar kalau makanannya sudah habis. Dia pun berjalan ke dapur untuk mencuci piringnya.
"Sini bu biar saya saja." kata Nani.
"Tidak usah, biar saya saja, tidak apa-apa." kata Vanya.
"Eh jangan bu. Bajunya sudah rapi begini nanti basah lagi." kata Nani.
"Baiklah, bi. Terima kasih ya." ucap Vanya lalu berjalan ke sofa.
Vanya melihat masih ada selimut yang berantakan di atas sofa. Vanya menarik napas sebal dan membawa selimut itu kembali ke kamar.
"Aku yang bawa turun harus aku juga yang bawa naik." sindir Vanya untuk Lucas.
Lucas yang sedang menikmati minumnya mendadak batuk karena tersedak. Itu menandakan sindiran Vanya tepat mengenai sasaran.
"Vanya, ayo. Sudah jam setengah 8." kata Lucas.
Lucas dan Vanya berangkat kerja dengan mobil yang dikendarai Lucas.
"Memangnya kamu kerja jam berapa?" tanya Vanya.
"Sesuka hatiku. Kan rumah sakit punya aku." jawab Lucas.
"Idih."
"Tidaklah, aku bohong. Semua tergantung jadwal operasiku. Tapi tidak pernah lebih dari jam 9. Kalau kamu? Bagaimana dengan pekerjaanmu?" ucap Lucas.
"Kurasa aku orang yang sangat pintar. Tidak sia-sia aku belajar di Jerman. Hanya membutuhkan waktu 15 menit, aku langsung diterima bahkan aku sudah bekerja kemarin." kata Vanya.
"Jangan sombong. Di atas langit masih ada langit." balas Lucas.
"Tentu saja. Aku masih menjadi asisten pengacara pemilik firma." ucap Vanya.
"Pulang jam berapa?" tanya Lucas.
"Jam 7 malam. Kamu?" jawab Vanya.
"Kalau tidak ada operasi jam 7 juga bisa pulang. Hari ini sepertinya tidak ada." kata Lucas.
Lucas sudah sampai mengantar Vanya ke firma tempat dia bekerja.
"Kabari kalau mau pulang. Biar aku jemput." ucap Lucas.
"Benarkah? Kamu mau jemput? Baiklah, dengan senang hati aku akan mengabarimu." balas Vanya lalu turun dari mobil.
Lucas melihat Vanya masuk ke pintu gedung tersebut namun ada yang mengganggu pikirannya. Karena saat Vanya masuk, ada seseorang yang menghampiri Vanya terlebih jenis kelaminnya laki-laki.
"Selamat pagi, Vanya." sapa Ben.
"Selamat pagi, pak Ben." balas Vanya.
"Hari ini pakaianmu modis sekali. Bagaimana kalau memakai ini?" kata Ben sambil menunjukkan name tag ID Card untuk Vanya.
"Wahhh. Bagaimana?" kata Vanya sambil mengalungkan name tag.
"Sangat cocok." puji Ben.
"Terima kasih."
Vanya dan Ben kini sudah berada di dalam lift.
"Vanya, klien yang kasusnya sedang kamu pelajari itu merupakan seorang politisi. Dia ketua DPR yang dituntut karena penyalahgunaan kekuasaan. Nanti dia akan datang ke sini, siapkan pertanyaan, cari tahu mengenai riwayat transaksi dia dan siapa saja yang pernah dia temui selama 2 bulan terakhir." ucap Ben.
"Baik, pak." jawab Vanya.
Vanya melakukan tugas pertamanya dengan baik. Ben bisa melihat dari wajah Vanya yang serius saat bekerja. Tentu saja, jika seseorang melakukan apa yang dia sukai, maka dia akan melakukannya dengan baik.
"Vanya, sepertinya kamu akan pulang lebih lama. Klien kita akan sampai jam 6." kata Ben.
"Baik, pak. Tidak masalah." jawab Vanya.
"Mau makan apa?" tanya Ben.
"Eh?"
"Saya mau beli makan malam. Kamu mau makan apa?" tanya Ben.
"Apa saja, pak. Terima kasih." jawab Vanya.
Saat klien sudah datang, Vanya memberikan pertanyaan yang sudah dia siapkan kepada Ben dan menganalisa jawabannya. Klien mereka baru pulang jam 8 malam dan makanan yang sudah dibeli Ben tadi sudah dingin karena mereka tidak sempat memakannya tadi.
"Bagaimana ini makanannya sudah dingin.. tunggu sebentar ya saya panaskan." kata Ben.
"Eh tidak usah pak. Saya masih bisa makan kok." ucap Vanya.
"Eh benar tidak apa-apa?" tanya Ben.
"Iya pak sudah biasa di Jerman." jawab Vanya.
"Baiklah, Vanya. Setelah makan kamu pulang saja. Pekerjaanmu hari ini sudah cukup." kata Ben.
"Iya terima kasih pak." ucap Vanya.
Setelah menikmati makan malamnya, Vanya tidak langsung pulang sesuai ucapan Ben. Dia masih menganalisa kasus itu.
Ben juga terus bekerja sampai tidak tahu kalau Vanya belum pulang. Sampai jam menunjukkan pukul 10 malam.
"Vanya. Kenapa belum pulang? Saya kan sudsh suruh kamu setelah makan pulang saja." kata Ben.
"Oh ini pak. Mungkin ini bisa membantu bapak di pengadilan besok." kata Vanya sambil memberikan kertas.
"Kalau begitu saya pamit pulang ya pak." sambung Vanya.
Vanya ingin meminta Lucas menjemput tapi dia lupa kalau dia tidak memiliki nomor Lucas. Bagaimana caranya dia meminta jemput?
Mungkin tidak hari ini. Hari ini aku pulang sendiri saja. batin Vanya.
Vanya pun pulang ke rumah dan di sana sudah ada mobil Lucas. Itu artinya Lucas sudah pulang ke rumah. Jelas saja Lucas sudah pulang, sekarang sudah jam 10 malam.
Kok aku ngeri ya? Lucas tidak akan marah kan? batin Vanya.
Vanya memasukkan PIN sandi rumah dengan penuh kehati-hatian. Semoga dia sudah tidur. Habis ini, kamu langsung naik ke kamar saja. batin Vanya.
Pintu terbuka. Vanya masuk ke dalam rumah. Rupanya Lucas belum tidur tetapi dia sedang minum anggur merah.
"Lucas.. belum tidur?" tanya Vanya.
"Seingatku kamu bilang pulang jam 7." jawab Lucas.
"I.. iya tapi tiba-tiba.." ucap Vanya terpotong ketika Lucas mendekat.
Vanya berada tidak jauh dari pintu. Dan ketika Lucas mendekat, Vanya mundur sampai mentok ke pintu. Lucas terlihat menyeramkan sekarang. batinnya.
"Tiba-tiba kenapa?'' tanya Lucas.
"Tiba-tiba bosku.." jawab Vanya terpotong.
"Tiba-tiba bosmu kenapa?" Lucas berteriak kencang sehingga itu mengejutkan Vanya.
"Bosku.." ucap Vanya terpotong karena Lucas mencium paksa bibir Vanya.
Vanya berusaha sekuat tenaga melepaskan Lucas namun sepertinya Lucas terpengaruh oleh alkohol. Sulit sekali untuk melepaskan Lucas. Lucas menciumi bibir Vanya dengan nafsu membara sampai kepalanya berputar ke kanan dan ke kiri. Tangan Lucas mulai bergerak membuka blazer putih Vanya.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca novel Laki-laki Pilihan Ayah. Berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan like, tips, komentar, dan vote. Jangan lupa tambahkan novel ini ke favorite Anda agar mengetahui up episode terbaru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 406 Episodes
Comments
Helen Nirawan
maen samber aj ,Buset
2024-01-17
0
Cherry
rupanya Lucas cemburu ya😂😂
2021-08-06
1
Vera😘uziezi❤️💋
Waduh cemburu
2021-04-21
0