"Kalau begitu, pastikan ayah tidak akan menyesal sudah memberi permintaan terakhir ayah padaku. Sudah malam, tidurlah. Jangan lupa minum obatnya. Selamat malam." ucap Vanya lalu menutup pintu dan kembali ke kamarnya.
Hary masih setia dalam diamnya. Ada 2 hal yang mengejutkan Hary di waktu yang bersamaan, pertama ternyata putrinya sudah tahu tentang penyakitnya dan kedua, putrinya menuruti permintaannya untuk menikah dengan laki-laki pilihannya.
———
KEESOKAN HARINYA
"Eh non Vanya, baru saya mau panggil, non sudah turun duluan." kata Minah.
"Pagi bi, ayah mana?" tanya Vanya.
"Sebentar lagi turun kok non. Tuh dia." jawab Minah.
"Selamat pagi ayah. Semoga harimu menyenangkan." sapa Vanya.
"Pagi, Vanya." balas ayah.
Vanya dan ayahnya sarapan bersama. Namun ada yang beda di pagi ini. Vanya mengambilkan roti dan mengoleskan selai untuk ayahnya.
"Selamat makan ayah." kata Vanya.
Hary tidak menjawabnya. Dia lebih memilih untuk menyantap sarapannya.
"Maaf kalau aku selama ini telah berbuat bebas sesuka hatiku dan menyusahkanmu. Aku tidak akan lagi menyusahkan ayah." kata Vanya lalu menyantap rotinya.
Ada apa dengan anak ini? batin Hary.
SIANG HARI.
"Emm rapi banget non. Mau ke mana euy?" tanya Minah.
"Biasa bi. Mau ketemu calon menantu ayah. Bekalnya sudah bi?" tanya Vanya.
"Sudah non. Em wangi pisan non. Pantes tuan muda itu klepek-klepek sama non." kata Minah.
"Ngawur bibi. Aku berangkat dulu yaah bi. Bilangin ke ayah kalau aku mau ketemu calon menantunya." kata Vanya.
"Iya non hati-hati."
———
DI RUMAH SAKIT GH
Tenang, Vanya. Tenang. Kamu tidak pernah salah mengambil keputusan. Begitu juga dengan keputusan ini. batin Vanya.
Vanya menghampiri perawat di mejanya. "Saya mau bertemu dokter Lucas. Apa hari ini dia sedang sibuk?" tanya Vanya.
"Iya hari ini beliau sedang sibuk. Saat ini dia masih berada di ruang operasi. Tapi ibu bisa menunggu di depan ruang kerjanya di lantai 12." jawab perawat.
"Baik, terima kasih." jawab Vanya.
Selepas kepergian Vanya, rupanya para perawat sedang membicarakan dirinya.
Itu dia calon istrinya dokter Lucas! Kemarin aku dengar dokter Edward bilang kalau dia itu calon menantunya.
Cantik ya, aku tidak pernah lihat dia.
Iya benar, cantik sekali. Selera dokter Lucas memang tinggi sekali ya.
Vanya menunggu Lucas di depan ruang kerjanya karena takut tidak sopan jika masuk dan kebetulan di depan ruangannya ada kursi.
Tenang, Vanya. Semua akan baik-baik saja. batin Vanya.
Baiklah aku akan menunggu karena aku pengangguran dan aku punya banyak waktu. batin Vanya.
Tapi kenapa lama sekali sih? Ini kan jam makan siang. Seharusnya dia tidak bekerja. batin Vanya.
Hampir satu jam Vanya menunggu, akhirnya sosok yang dia tunggu datang juga. Dari kejauhan Vanya melihat sosok Lucas yang mengenakan baju operasi berwarna biru sedang berjalan ke hadapannya.
"Sudah lama menunggu? Maaf aku baru selesai mengoperasi." kata Lucas.
"Ya begitulah." jawab Vanya.
"Tunggu lagi sebentar. Aku akan mengganti pakaian." kata Lucas.
Hah? Tunggu lagi? Apa? Kamu menyuruhku untuk menunggu lagi? Hey, yang benar saja. Laki-laki itu! Benar-benar! batin Vanya.
Setelah ngedumel di dalam hatinya, Lucas pun keluar dari ruang kerja dengan pakaian yang berbeda. Kini pakaiannya rapi dengan kemeja, dasi dan setelan jas.
"Mau ke mana?" tanya Vanya.
"Makan siang." jawab Lucas.
"Sudah ke atap saja." kata Vanya lalu berjalan duluan.
"Rupanya ayahmu membawakan makan siang lagi untukku." kata Lucas ketika mereka sudah berada di dalam lift.
"Tidak." kata Vanya.
"???"
"Bukan ayahku. Tapi aku." kata Vanya.
Lucas terdiam.
Sesampainya di atap,
"Sepertinya kamu sudah mulai suka padaku." kata Lucas.
"Omong kosong." kata Vanya.
"Jangan suka padaku. Aku tidak ingin kamu menyukaiku." kata Lucas.
Cuih! Siapa juga yang menyukaimu? Dasar laki-laki gila! Sampai kapanpun aku tidak akan menyukaimu! batin Vanya.
"Tenang saja itu tidak akan terjadi. Sebaiknya kamu juga begitu." balas Vanya.
"Ada yang ingin kusampaikan." sambung Vanya.
"Apa? Tentang perjodohan? Sepertinya tidak mungkin." ucap Lucas.
"Benar." kata Vanya.
"Apanya yang benar? Kalimatku yang mana yang benar? Perjodohan? Atau yang 'tidak mungkin' itu?" tanya Lucas.
"Perjodohan. Apa kamu masih membutuhkan bantuanku? Aku akan membantumu. " jawab Vanya.
"Uhukkk!!!" Lucas tersedak saat mengunyah makanan.
Segera Vanya memberikan air dan menepuk bahu Lucas. Semua itu Vanya lakukan secara spontan.
"Apa katamu? Aku tidak salah dengar? Kamu mau membantuku? Itu artinya.. kamu.." kata Lucas.
"Ya. Aku akan menikah denganmu." ucap Vanya.
"Apa kepalamu terbentur?" tanya Lucas.
"Aku benar-benar mengatakan hal ini. Aku juga butuh bantuanmu." jawab Vanya.
"Tentu. Katakanlah. Aku akan membantumu." kata Lucas.
"Sungguh? Kamu akan membantuku?" tanya Vanya.
"Iya. Apa yang bisa kubantu? Katakanlah." kata Lucas.
"Pastikan ayahku sembuh dari penyakitnya dan bisa hidup normal lagi seperti dulu." ucap Vanya dengan lirih.
Lucas terdiam.
"Apa kamu sibuk hari ini?" sambung Vanya.
"Ti-tidak. Tidak terlalu." jawab Lucas.
"Kalau begitu kamu harus menjelaskan padaku tentang penyakit ayahku." kata Vanya.
"Sungguh kamu meminta bantuanku untuk itu?" tanya Lucas.
"Yaa. Aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi." jawab Vanya.
"Itu kewajiban seorang dokter. Tanpa kamu minta, aku pasti melakukannya." jawab Lucas.
"Huh rupanya calon suamiku ini merupakan dokter sungguhan ya." ucap Vanya sambil menepuk bahunya.
"Baiklah kalau begitu aku agak sedikit tenang dengan penyakit ayahku." sambung Vanya.
"Kenapa kamu melakukannya?" tanya Lucas.
"Melakukan apa?" tanya Vanya.
"Perjodohan." jawab Lucas.
"Entahlah. Tidak ada alasan. Mungkin.. tidak ingin mengulang kejadian mama?" kata Vanya.
"Aku minta maaf karena sudah mengungkit kematian mamamu." ucap Lucas.
"Hey, itu tidak seperti dirimu, tahu? Laki-laki dingin sepertimu mengucapkan maaf? Hahah.." kata Vanya.
"Aku mengucapkannya dengan tulus." balas Lucas.
Vanya terdiam setelah mendengar ucapan Lucas. Apa laki-laki dingin ini bisa melakukan hal dengan tulus?
"Vanya, apa kamu pernah dilamar?" tanya Lucas.
"Apa yang barusan kamu katakan? Hahahahah... kamu tahu berapa umurku? Umurku masih 21 tahun, aku baru menyelesaikan studiku di Jerman, dan aku akan segera menikah, aku bahkan belum memulai karirku sesuai impianku. Konyol sekali. Aku bahkan tidak bisa membayangkan hidup seperti ini." jawab Vanya.
"Kalau begitu, ini akan menjadi lamaran pertamamu. Vanya Zenn, maukah kamu menikah denganku?" kata Lucas.
Vanya menatap heran.
"Pasti maulah. Bahkan kamu rela datang ke sini dan menungguku karena ingin menyampaikan kalau kamu ingin menikah denganku." sambung Lucas.
Brengs*k. Laki-laki brengs*k. Aku kesal sekali padamu. batin Vanya.
"Hey, apa itu namanya lamaran? Tidak ada cincin, tidak di tempat yang romantis. Dokter, kudengar umurmu sudah 29 tahun, tapi kamu tidak tahu lamaran yang benar." balas Vanya.
"Aku tahu. Tentu saja aku tahu. Tapi untuk apa, ini semua kan hanya sebuah perjodohan." kata Lucas.
Vanya terdiam. Hatinya barusan merasakan perih seperti ditusuk dengan pisau tajam. Sakit sekali.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca novel Laki-laki Pilihan Ayah. Berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan like, tips, komentar, dan vote. Jangan lupa tambahkan novel ini ke favorite Anda agar mengetahui up episode terbaru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 406 Episodes
Comments
Tommy Pissa
🫶🫶🫶🫶🫶
2023-06-27
0
Tha Ardiansyah
Songsong banget tuh dokter, kalo udh bucin baru tau rasa
2021-07-03
0
Vera😘uziezi❤️💋
Confusion
2021-04-21
0