Ting.. tong..
Ting.. tong..
Ting.. tong..
"Bapak. Buuu.." panggil Nani.
"Apa mereka tidak di rumah ya?" Nani mengintip dari jendela dan betapa kagetnya Nani melihat di dekat pintu ada pakaian berserakan dan bercak darah.
"Apa yang terjadi? Jangan-jangan... mereka..."
———
Vanya terbangun dan menyadari ada sebuah tangan melingkar di perutnya. Apa dia kira aku ini guling? batin Vanya. Segera Vanya menyingkirkan tangan Lucas dan melihat jam.
Jam 7? Matilah!
"Lucas.. Lucas.. bangun Lucas. Lucas.." ucap Vanya seraya menepuk-nepuk lengan Lucas.
"Hoamm.." Lucas terbangun.
"Sudah jam 7. Kamu pakai kamar mandi di bawah saja." kata Vanya.
"Tidak mau." jawab Lucas.
"Kita akan terlambat, Lucas." kata Vanya.
"Mandi berdua saja." jawab Lucas.
Vanya menarik napas panjang. "Luc.." ucap Vanya terpotong ketika ada suara seseorang berteriak.
"Bapakkkk.. Buuuu.. buka pintunya..." teriak Nani.
"Bi Nani." ucap Vanya.
Lucas segera berlari turun ke bawah dan melihat pakaian mereka yang berserakan serta ada bercak darah. Waduh.. bagaimana ini? Taruh di mana baju ini? batin Lucas.
Lucas segera mengambil pakaian yang berserakan di lantai dan membawa ke kamar dengan kecepatan super. Lalu dia mengelap bercak darah yang jatuh di lantai dengan tisu baru membukakan pintu untuk Nani.
"Eh bibi. Tumben baru datang.." kata Lucas.
"Saya daritadi tekan bel, manggil bapak sama ibu tapi tidak ada yang dengar. Sudah cukup lama saya di sini." ucap Nani.
"Oh ya? Saya sama istri telat bangun. Langsung buat sarapan ya bi." kata Lucas lalu kembali ke kamar.
Napas Lucas terengah-engah ketika tiba di kamar. "Sudah 7 lewat 10 menit, Vanya." kata Lucas untuk Vanya yang masih berada di kamar mandi.
"Iya ini sudah cepat kok mandinya." jawab Vanya.
"Jadwal operasiku sih jam 10 siang. Aku masih punya banyak waktu, tapi kamu.. jam 8 sudah harus sampai kan." balas Lucas.
"Iya iya sebentar.." kata Vanya.
Tidak lama setelah itu, Vanya keluar dari kamar mandi dengan pakaiannya yang rapi. Sedangkan Lucas sedang melihat papan jalan yang berisi jadwal operasinya.
"Lucas aku baru ingat kalau aku harus ke pengadilan jam 9 pagi. Atasanku membela kasus yang sedang aku kerjakan." kata Vanya.
"Lalu?" tanya Lucas.
"Aku tidak jadi terlambat." jawab Vanya.
"Sepertinya semalam aku tidak salah melakukannya." ucap Lucas.
"Ih dasar." kata Vanya.
"Jadi nanti kamu akan ke pengadilan?" tanya Lucas.
"Iya." jawab Vanya.
"Lalu kamu akan ke firma?" tanya Lucas.
"Iya." jawab Vanya.
"Dengan atasanmu?" tanya Lucas.
"Iya." jawab Vanya.
Brakk.. Papan jalan yang sedang dipegang lucas mendadak lepas dari tangannya dan jatuh.
"Oh ya aku hampir lupa menanyakannya. Semalam kenapa kamu pulang jam 10 malam?" tanya Lucas.
"Klien atasanku datang, jadi aku harus menggali informasi sebanyak mungkin." jawab Vanya.
"Sampai jam 10 malam?" tanya Lucas.
"Sebenarnya klien pulang jam 8 dan atasanku menyuruh aku untuk pulang. Tapi karena hari ini persidangannya, aku rasa aku tidak bisa pulang begitu saja." jawab Vanya.
"Tapi kamu baru 2 hari bekerja, Vanya. Bahkan kamu bukan pegawai tetap. Belum lagi kamu tidak tau berapa gajimu nanti. Bagaimana kalau kecil dan tidak sebanding dengan usahamu?" protes Lucas.
"Sepertinya kamu salah, Lucas. Adakah seorang pekerja baru sudah mendapatkan ID Card di hari kedua dia bekerja? Lagi pula aku melakukannya bukan karena uang dan aku tidak peduli kalau gajiku tidak tinggi. Aku melakukannya karena aku suka dan aku ingin." balas Vanya.
"Lagi pula aku memiliki suami seorang dokter dengan jadwal yang penuh dengan operasi sekaligus menjadi pimpinan rumah sakitnya. Untuk apa aku membutuhkan gaji yang tinggi?" sambung Vanya.
"Lalu apa kamu tidak takut berada di ruangan yang sama dengan atasanmu, malam-malam, sepi, gelap.. terus semalam apa kamu makan malam? Kenapa tidak meneleponku supaya aku jemput? Bukannya aku sudah bilang telepon aku kalau mau pulang?" tanya Lucas.
"Jadi kamu marah dan melampiaskan marahmu dengan berhubungan intim hanya karena itu?" balas Vanya.
"Lucas, jangan bilang.. kamu mulai menyukaiku? Dan sekarang kamu sedang mengkhawatirkanku?" sambung Vanya.
"Apa yang barusan kamu katakan? Hey, berpikirlah. Kalau sampai kamu diapa-apakan oleh atasanmu, apa yang harus kukatakan pada ayahmu? Padahal kamu menyuruhku tidak boleh bilang kepada ayahmu kalau kamu bekerja. Lalu kalau kamu melewatkan makan malam lagi, maagmu kambuh lagi, tentu itu sangat merepotkanku." ucap Lucas.
"Yang kamu katakan ada benarnya. Tapi aku masih tidak mengerti kenapa kamu marah padaku dan melampiaskannya dengan berhubungan intim seolah-olah kamu sedang menghukumku. Lagi pula aku juga ingin meneleponmu tapi aku lupa kalau kita tidak menyimpan nomor satu sama lain." kata Vanya.
"Apa kamu tidak melihat di kontakmu? Aku sudah memasukkan nomorku di ponselmu." balas Lucas.
"Masa? Aku jarang mengecek ponselku, sih." kata Vanya.
"Sekarang berikan nomormu." pinta Lucas.
"081211196034."
"Bapak, ibu. Sarapannya sudah siap." kata Nani dari balik pintu kamar mereka.
"Iyaa, bi." jawab Vanya.
"Kamu tidak mandi?" tanya Vanya kepada Lucas.
"Nanti saja. Kamu tidak sedang buru-buru kan." jawab Lucas.
"Baiklah."
Vanya dan Lucas turun bersama untuk menyantap menu sarapannya.
"Makan yang banyak. Tenagamu pasti terkuras habis semalam." kata Lucas.
"Aku rasa kamu yang harus makan banyak. Semalam hanya 2 ronde kamu sudah tumbang." balas Vanya.
Mata Lucas melotot tajam. Harga dirinya sudah jatuh hanya dengan ucapan Vanya barusan. Dirinya tidak terima jika dikatakan seperti itu.
"Hey aku bisa melakukannya sekarang sampai kamu tidak bisa berjalan lagi." ucap Lucas.
"Sudah sudah. Tidak perlu. Aku masih ingin berjalan." kata Vanya.
Setelah sarapan, Lucas mandi sedangkan Vanya menunggu dengan duduk bersantai di sofa sambil menonton tv. Sampai Lucas selesai mandi, akhirnya mereka berangkat kerja bersama.
"Pesta pernikahan nanti kamu undang berapa orang?" tanya Vanya.
"1000 orang mungkin atau lebih." jawab Lucas.
"Gila." ucap Vanya.
"Kamu tahu sendiri kamu menikah dengan siapa. Pewaris tunggal Glory Holy Group. Rumah sakit besar, sudah tersebar di 12 negara dan memiliki 104 cabang." kata Lucas.
"Aku bisa mabuk dan mual kalau berada di tempat yang ramai." ucap Vanya.
"Benarkah? Kenapa kamu tidak bilang?" tanya Lucas.
"Kalau aku bilang, memangnya kamu akan mengurangi tamu undangan?" balas Vanya.
"Setidaknya aku bisa membicarakannya dulu sama papa." jawab Lucas.
"Tidak apa-apa lah. Hanya sekali dalam seumur hidup." kata Vanya.
"Kamu menganggap pernikahan ini yang pertama dan terakhirnya di dalam hidupmu? Bukannya kamu tahu pernikahan ini hanya sebatas.." kata Lucas terpotong.
"Aku tahu, aku tahu maksudmu. Tapi yang kumaksud sekali dalam seumur hidup adalah berada di tempat yang banyak orang. Karena setelah ini aku akan menghindari tempat yang banyak orang." ucap Vanya.
"Ohh. Baguslah. Sudah seharusnya seperti itu." jawab Lucas.
Pagi ini mereka sudah saling salah paham sebanyak 2 kali. Yang pertama ketika Vanya mengira Lucas menyukai dan sedang mengkhawatirkan dirinya ketika mengetahui Vanya pulang larut malam.
Yang kedua ketika Lucas mengira Vanya menganggap pernikahan mereka sekarang adalah pernikahan yang pertama dan terakhir bagi Vanya yang itu artinya Vanya tidak akan menikah dengan siapapun setelah dirinya.
Namun itu semua hanyalah sebuah kesalahpahaman dan untungnya mereka bisa segera meluruskan. Tetapi kalau kesalahpahaman mereka benar, mungkin mereka akan senang terhadap satu sama lain.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca novel Laki-laki Pilihan Ayah. Berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan like, tips, komentar, dan vote. Jangan lupa tambahkan novel ini ke favorite Anda agar mengetahui up episode terbaru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 406 Episodes
Comments
Shenaylin..😌😌
😂😂 kasihan 🤣🤣🤣🤣
2023-11-06
0
Ami chimmiko
psti lah tiap pria harga dirinya jatuh saat diblg cm tahan 2 ronde.... 🤣🤣
2021-06-19
1
Vera😘uziezi❤️💋
Nyebelin plus gregetan
2021-04-21
0