"Dia tampan. Ya, setidaknya aku tidak perlu khawatir anakku nanti selain mewarisi GH Group, dia juga akan mewarisi ketampanan Lucas. Hey, Vanya! Sadarlah. Dia hanya laki-laki yang menguras kesabaranmu dan membuatmu akan gila! Dia hanya cukup tampan! Dia tidak terlalu tampan dan kamu tidak menyukainya!" ucap Vanya kemudian.
Setelah berdebat dengan pikirannya sendiri, Vanya akhirnya berangkat ke sebuah firma hukum tempat di mana dia akan bekerja. Dengan perpaduan antara blazer dan celana panjang membuat Vanya terlihat seperti orang kantoran.
Tidak lupa di tangannya sudah dia genggam sebuah map yang berisi berkas-berkas yang diperkukan untuk melamar kerja. Mama, doakan aku. gumam Vanya.
Vanya memulai perjalanannya ke halte bus di dekat rumah Lucas. Jarak rumah ke firma tidaklah jauh hanya memerlukan 3 perhentian bus saja. Walaupun menunggu adalah hal yang dibenci oleh Vanya, tapi kali ini berbeda. Vanya menunggu kedatangan bus dengan senyum lebar yang terukir di wajahnya. Semoga berhasil, Vanya.
Setelah melalui perjalanan di tengah teriknya matahari, akhirnya Vanya tiba di sebuah gedung yang berdiri tinggi menjulang ke atas. Vanya menarik napas, tapi kali ini bukan karena menahan kesabaran akibat ulah Lucas tetapi untuk menyemangati dirinya sendiri.
"Permisi, saya mau melamar pekerjaan di sini." ucap Vanya kepada petugas keamanan.
Lalu petugas keamanan tersebut membukakan pintu dan lift untuk Vanya. "Semoga berhasil ya bu. Sudah ada 5 orang yang melamar dan tidak ada yang berhasil diterima Pengacara Ben." kata petugas keamanan.
Bulu kuduk Vanya bergedik nyeri. Apakah nasib dirinya akan sama dengan nasib 5 orang itu? Atau malah sebaliknya?
Tingg... Lift yang membawa Vanya seorang diri sudah sampai di tujuannya.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" kata seorang penerima tamu.
"Saya mau melamar pekerjaan." jawab Vanya.
"Di ruangan sebelah sana ya, bu. Kalau berhasil, ibu akan menjadi asisten pengacaranya Pak Ben." kata seorang penerima tamu.
Vanya melangkahkan kakinya dengan penuh kehati-hatian menuju ruangan pengacara yang sudah menolak 5 orang. Apa hari ini nasibku malang atau sebaliknya? Tidak apa-apa, masih banyak firma hukum di kota ini. batin Vanya.
Vanya mengetuk pintu ruangan pengacara yang namanya Ben itu. Seseorang dari dalam membukakan pintunya.
"Dengan Pak Ben?" tanya Vanya.
"Iya. Ingin melamar pekerjaan atau menggunakan jasa saya?" tanya Pak Ben.
"Melamar pekerjaan, pak." jawab Vanya.
"Baiklah. Silahkan duduk." kata Ben.
"Terima kasih. Ini berkas identitas diri saya." ucap Vanya seraya menyerahkan map yang dia genggam sedari tadi.
"Vanya, kenapa memilih kembali ke Indonesia? Apa sulit mencari pekerjaan di Jerman?" tanya Ben.
"Bukan begitu, pak. Saya kembali karena ada urusan keluarga." jawab Vanya.
"Setelah urusan keluargamu selesai, kamu akan kembali ke Jerman?" tanya Ben.
"Tidak, pak. Saya tidak ada rencana untuk kembali ke Jerman." jawab Vanya.
"Oh begitu. Saya mencari asisten pengacara khusus karena saya sedang menangani beberapa kasus penting. Dilihat dari riwayat pendidikan kamu, sepertinya kamu orang yang kompeten dan berpengalaman. Jadi, apakah kita bisa mulai bekerja bersama hari ini?" kata Ben.
Mata Vanya melotot. Apa ini mimpi? Kalau iya, ini mimpi yang membahagiakan! batin Vanya.
"Bapak menerima saya jadi asisten pengacara bapak?" tanya Vanya.
"Iya. Setelah kasus ini selesai, saya akan menjadikan kamu pengacara yang sesungguhnya." jawab Ben.
"Oh ya, nama saya Benovilus Eduardus. Saya pemilik sekaligus pemimpin di firma ini. Kamu bisa panggil saya Pak Ben." sambung Ben.
"Terima kasih pak. Saya Vanya siap membantu bapak." ucap Vanya.
"Iya terima kasih. Berhubung saya belum punya asisten sebelumnya dan belum menyiapkan tempat untukmu bekerja, kamu bisa bekerja di sofa itu." kata Ben sambil menunjuk sebuah sofa di depan meja kerjanya.
"Tidak apa-apa pak? Bagaimana kalau ada klien bapak yang datang?" tanya Vanya.
"Tidak apa-apa. Saya sedang tidak menerima klien dalam beberapa bulan ke depan." jawab Ben.
"Baik pak. Apa yang bisa bantu?" tanya Vanya.
Ben memberikan setumpuk kertas kepada Vanya. "Vanya, kamu harus terbiasa dengan tumpukan kertas." kata Ben.
"Pelajari kasus ini lalu beritahu apa yang ada di dalam pikiranmu." sambung Ben.
"Baik pak. Saya mengerti. Akan saya lakukan sekarang." jawab Vanya lalu membawa tumpukan kertas ke sofa.
Setelah 3 jam lamanya Vanya berkutat dengan tumpukan kertas itu, Vanya akhirnya mendapatkan sesuatu di pikirannya.
"Pak Ben, maaf apa ini kasus lama?" tanya Vanya.
"Entah sudah lama atau tidak, tepatnya sudah 5 bulan yang lalu." jawab Ben.
"Itu artinya bapak membuka kasus lama?" tanya Vanya.
"Klien saya kembali bermasalah dengan kasus itu." jawab Ben.
"Setelah saya mempelajari kasus ini, yang ada di pikiran saya hanya satu. Bagaimana caranya mengurangi hukuman pidana klien bapak." ucap Vanya.
"Kenapa?" tanya Ben.
"Karena klien bapak terbukti bersalah." jawab Vanya.
"Darimana kamu tahu klien saya bersalah?" tanya Ben.
"Dari sini." ucap Vanya lalu menunjuk kertas yang berisi tulisan.
"Lalu di sini semuanya menjadi sangat jelas kalau klien bapak bersalah." sambung Vanya sambil membalik halaman kertas.
"Baiklah, Vanya. Sebenarnya ini kasus lama dan sudah selesai. Saya hanya mengetes kamu bagaimana cara memecahkan kasus." kata Ben.
"Ini. Ini kasus yang sesungguhnya. Kasus yang sedang saya kerjakan." sambung Ben sambil memberikan beberapa tumpuk kertas.
"Lakukan dengan cara yang tadi. Pelajari lalu beritahu saya apa yang ada di pikiranmu." kata Ben setelahnya.
"Baik, pak." jawab Vanya.
Ternyata, yang tadi adalah percakapan terakhir Vanya dan Ben. Karena setelah menerima beberapa tumpukan kertas dari Ben, fokus Vanya hanya tertuju pada kertas.
"Vanya, kamu harus pulang sebelum saya pulang. Saya pulang jam 7 malam jadi kamu harus pulang sebelum jam 7." ucap Ben.
"Oh sudah jam 7 ya? Cepat sekali. Baiklah kalau begitu saya pulang sekarang." jawab Vanya.
"Iya, terima kasih untuk hari ini. Kamu bisa masuk besok jam 8 pagi." kata Ben.
"Baik, pak. Saya permisi." pamit Vanya melangkah pergi.
———
Vanya melangkah masuk ke dalam pekarangan rumah dengan senyum bahagia. Tentu saja, ini hari pertamanya bekerja sebagai asisten pengacara dan sudah membaca kasus. Namun langkahnya terhenti ketika Vanya melihat ada mobil Lucas sudah terparkir rapi.
Vanya menarik napas panjang, bukan karena dia lelah tapi untuk mempersiapkan diri menghadapi Lucas. Vanya memasukkan PIN sandi rumah Lucas.
"Lucas, sudah pulang?" sapa Vanya.
"Sepertinya kamu diterima bekerja ya." kata Lucas.
"Sudah makan?" tanya Vanya.
"Mana ponselmu?" balas Lucas.
"Untuk apa?" tanya Vanya.
"Cepat berikan." jawab Lucas.
Vanya memberikan ponselnya. Karena Lucas terlihat seperti sedang tidak mood.
Lucas mengambil ponsel Vanya lalu mengetik sebentar dan mengembalikannya kepada Vanya.
"Kenapa tidak pakai kunci keamanan di ponselmu?" tanya Lucas.
"Perjanjian pertama: Pernikahan bersifat bebas. Tidak ada larangan atau peraturan dalam pernikahan. Tidak berhak mengetahui atau mencampuri urusan satu sama lain. Kamu lupa?" balas Vanya.
Lucas menarik napas panjang. Bukan Vanya, tetapi Lucas kali ini.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Sudah makan?" kata Vanya.
"Sudah di rumah sakit." jawab Lucas.
"Baguslah." kata Vanya lalu berjalan menuju tangga ke kamarnya.
"Pernikahan akan diadakan hari Sabtu. Persiapkan dirimu." ucap Lucas yang mampu menghentikan langkah kaki Vanya.
"Sabtu? Hari ini Selasa. Berarti 4 hari lagi?" tanya Vanya.
"Ya, makanya aku suruh kamu mempersiapkan dirimu." jawab Lucas.
"Gosh, itu terlalu cepat." kata Vanya
"Oh ya, bukannya kita sudah sah menjadi pasangan suami istri? Berarti kita sudah bisa membuat pewaris untukku. Benar kan? Kapan kita bisa melakukannya?" tanya Lucas.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca novel Laki-laki Pilihan Ayah. Berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan like, tips, komentar, dan vote. Jangan lupa tambahkan novel ini ke favorite Anda agar mengetahui up episode terbaru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 406 Episodes
Comments
Asma Liyya
keren Lucas kejar terget eeey buat Bucin thor
2021-04-23
0
Vera😘uziezi❤️💋
Blak blakan banget lucas
2021-04-21
0
Ennogg
yuukk🤭🤭🤭😂
2021-04-02
0