"Rupanya kamu tidak mengingatnya ya? Perjanjian nomor dua: Istri harus memastikan kebutuhan seksual suami terpenuhi. Oh ya, jangan lupakan yang nomor tiga: Istri harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, begitu juga suami. Kurasa 2 itu saling berhubungan." sambung Lucas dengan intonasi yang penuh penekanan.
"Sudah selesai makannya? Aku sudah." kata Vanya mengalihkan.
Vanya berdiri hendak membawa piringnya ke dapur. Namun Lucas menarik tangannya sehingga membuat Vanya berbalik dan berhadapan dengan Lucas.
"Kamu tidak boleh melupakan isi perjanjiannya." kata Lucas. 1 tangan Lucas bergerak mengambil piring miliknya lalu menaruh piring tersebut ke atas piring Vanya.
"Sekalian." sambung Lucas lalu berjalan menuju ruang tengah.
Vanya menghela napas panjang. Kesabaranku terus diuji dengan laki-laki ini. Jika ini adalah ujian, aku pasti mendapatkan nilai paling tinggi. batin Vanya.
"Sudah siap?" tanya Lucas.
"Sudah." jawab Vanya.
Keduanya kini sudah berada di dalam mobil. Vanya masih tidak percaya bahwa hari ini dia mendapat telepon dari Raya yang mengatakan kalau ada sebuah firma yang membutuhkan asisten pengacara.
Tanpa pikir panjang, Vanya segera mempersiapkan dirinya untuk melamar dan memulai bekerja menjadi asisten pengacara. Sesuai dengan cita-citanya, Vanya berharap ini menjadi hal yang baik untuk mengawali karirnya.
"Hmm, apa pertemuannya memakan waktu yang lama?" tanya Vanya kepada Lucas.
"Tergantung." jawab Lucas.
Huh dia masih dingin saja padaku. Pada istrinya sendiri! batin Vanya.
"Baiklah bisakah kita ke money changer dulu? Aku ingin menukar uang." tanya Vanya.
"Untuk istriku semua akan kulakukan." jawab Lucas.
Aku ingin muntah. Apa karena nasi gorengku kebanyakan? Tidak. Itu karena mendengar ucapan laki-laki gila ini. Aku benar-benar ingin muntah. batin Vanya.
Setelah menukar uang di money changer, Lucas membawa Vanya ke suatu tempat yang tidak diketahui Vanya. Pasalnya, dari sebelum berangkat, Lucas tidak memberitahu kemana mereka akan pergi.
"Tidak bisakah kamu memberitahuku kemana kita sekarang?" tanya Vanya.
"Bertemu temanku." jawab Lucas.
"Wedding organizer atau perancang busana?" tanya Vanya.
"Perancang busana." jawab Lucas.
Dingin sekali laki-laki ini. Bagaimana caranya aku bertahan hidup bersama laki-laki ini??? batin Vanya.
Akhirnya mereka telah sampai di tujuan. Lucas dan Vanya bertemu dengan teman Lucas yang berprofesi sebagai perancang busana khususnya gaun pengantin. Vanya memilih beberapa desain gaun pengantin yang dibuat khusus oleh temannya itu.
"Sudah berapa lama kenal dengan Lucas?" tanya teman Lucas.
"Bukan urusanmu." jawab Lucas.
"Hey aku bertanya dengan istrimu." kata teman Lucas.
"Hmm aku pilih yang ini." sahut Vanya.
Walaupun pernikahan ini bukan pernikahan yang diinginkan Vanya, tetapi Vanya memiliki hak untuk memilih gaun yang akan dipakainya kan?
"Apa yang kamu suka dari Lucas si pria tampan tapi berhati dingin ini?" tanya teman Lucas.
Di dalam hati Vanya, dia sangat setuju dengan julukan Lucas si pria tampan tapi berhati dingin. Benar sekali!! Pria tampan berhati dingin. Memang itu Lucas sekali! Eh tunggu, pria tampan??? batin Vanya.
"Aku pilih yang ini." kata Lucas.
"Kenapa kamu memilih Lucas sebagai suamimu?" tanya teman Lucas. Teman Lucas rupanya tidak menyerah walaupun pertanyaannya tidak digubris oleh Vanya, dia tetap memberikan pertanyaan terus-menerus.
"Kamu cantik, postur tubuhmu ideal dan tampilanmu seperti model. Pasti tidak sedikit yang menyukaimu. Kenapa Lucas menjadi pilihan akhirmu?" tanya teman Lucas.
"Kita sudah memilihnya. Sebaiknya kamu mengukur tubuh kita untuk membuat baju pengantin kita." kata Lucas.
"Tidak sebelum istrimu menjawabku." kata teman Lucas.
"Ah itu.. karena.. dia baik? Terus.. dia juga.. tampan? Dia juga berpenghasilan tinggi karena bekerja sebagai dokter sekaligus pemimpin GH Group. Terlebih.. dia baik pada ayahku." jawab Vanya sambil melihat Lucas seolah-olah sedang mencari jawaban dari wajah Lucas.
"Meskipun dia pria yang dingin? Bertahanlah, hidup bersamanya tidaklah mudah." kata teman Lucas.
"Apa kamu pernah hidup bersamanya?" tanya Vanya. Sepertinya Vanya menaruh curiga terhadap teman Lucas, berhubung teman Lucas ini berjenis kelamin perempuan.
"Dulu saat kuliah aku menyukainya. Tapi karena dia terus-menerus dingin kepadaku, aku berhenti. Hubungan kita hanya sebatas itu, tidak perlu khawatir. Kamu juga pasti punya seseorang yang dekat saat kuliah kan?" jawab teman Lucas.
"Yah, begitu." kata Vanya.
"Kapan kamu mengukur tubuhku dan istriku?" sahut Lucas.
Teman Lucas akhirnya menyerah dengan sikap dingin Lucas padahal dia masih ingin mengenal Vanya sebagai istri Lucas. Setelah selesai mengukur, Lucas dan Vanya pergi untuk pertemuan selanjutnya.
"Huh, masih ada 1 lagi. Benar kan?" tanya Vanya.
"Ya." jawab Lucas.
Ya? Hanya ya? Baiklah, Vanya. Kamu harus bersyukur laki-laki itu masih mau menjawabmu. batin Vanya.
"Bisakah kamu mengurusnya sendiri? Kamu tahu aku harus pergi mengurus pekerjaanku." kata Vanya.
"Aku bahkan mengambil cuti untuk mengurus pernikahan ini sedangkan kamu malah memilih untuk mengurus pekerjaan?" balas Lucas.
"Kamu membutuhkan pernikahan ini kan? Untuk nama baik GH Group? Ya kan? Aku tidak begitu membutuhkannya." kata Vanya.
"Baiklah baiklah baiklah. Aku akan mengurusnya sendiri." jawab Lucas.
"Aku harus pulang ke rumah untuk berganti pakaian dan menyiapkan lamaran pekerjaanku." kata Vanya.
"Baiklah." jawab Lucas.
"Kamu akan mengantarku pulang ke rumah?" tanya Vanya.
"Ya." jawab Lucas.
"Kamu pasti marah padaku ya?" tanya Vanya.
"Tidak." jawab Lucas.
"Baguslah. Berapa PIN sandi rumahmu?" tanya Vanya.
"1705." jawab Lucas.
17**05? Apa itu? Apa itu tanggal ulang tahunnya? batin Vanya.
"Apa itu tanggal ulang tahunmu?" tanya Vanya.
"Itu bukan tanggal." jawab Lucas.
"Lalu, tanggal berapa kamu ulang tahun?" tanya Vanya.
"5 Agustus." jawab Lucas.
"Masih sekitar 3 bulan lagi.." kata Vanya.
"Apa kamu mau kuantar ke tempat kerjamu?" tanya Lucas ketika sudah sampai di rumah.
"Tidak usah. Urus saja pernikahan kita dengan baik, OK?" kata Vanya lalu turun dari mobil.
Vanya pun memasukkan PIN sandi rumah Lucas ketika hendak membuka pintu. Setelah pintu terbuka, Vanya masuk ke dalam rumah dan berjalan ke kamarnya. Dia berganti pakaian dan menyiapkan berkas yang harus dibawa untuk melamar nanti.
"Eh tunggu. Kenapa tadi aku bilang ke temannya Lucas kalau dia itu tampan? Sepertinya tidak begitu. Apa benar Lucas tampan?" ucap Vanya lalu memutar bola matanya sambil membayangkan.
"Dia tampan. Ya, setidaknya aku tidak perlu khawatir anakku nanti selain mewarisi GH Group, dia juga akan mewarisi ketampanan Lucas. Hey, Vanya! Sadarlah. Dia hanya laki-laki yang menguras kesabaranmu dan membuatmu akan gila! Dia hanya cukup tampan! Dia tidak terlalu tampan dan kamu tidak menyukainya!" ucap Vanya kemudian.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca novel Laki-laki Pilihan Ayah. Berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan like, tips, komentar, dan vote. Jangan lupa tambahkan novel ini ke favorite Anda agar mengetahui up episode terbaru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 406 Episodes
Comments
Aqiyu
kirain Lucas anak tunggal🤔
2021-06-11
0
Vera😘uziezi❤️💋
🤣 🤣 🤣 🤣
2021-04-21
0
Jong Epha Yunitaggf
tambah seru terus hehehe...
2021-03-17
0