"Hari ini hari yang melelahkan. Aku sudah mendaftarkan pernikahan, mengunjungi makam mama, pindah ke rumah ini... sebaiknya aku tidur sekarang untuk mempersiapkan hari esok. Mempersiapkan diriku untuk menghadapi pria gila itu." ucap Vanya lalu memejamkan matanya untuk tidur.
———
Hari baru dimulai.
Langit berubah menjadi cerah. Matahari sudah menampakkan keberadaannya. Kicauan burung menyambut kedatangan matahari. Sinar matahari membangunkan Lucas yang bermalam di sofa.
Cklek. Lucas membuka pintu kamar. Wanita itu masih tidur rupanya.
Lucas menutup pintunya kembali dengan amat berhati-hati agar tidak membangunkan wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Kemudian dia mengambil baju di lemari yang bersampingan dengan ranjang istrinya.
Sekilas Lucas mengamati wajah istrinya yang sedang tertidur itu. Ada rasa lega bahwa wajah istrinya masih cantik meskipun sedang tertidur. Karena Vanya bukan tipe orang yang mengeluarkan air liur ataupun berantakan saat tertidur.
Tringgg... tringg... tringg.. Suara telepon masuk dari ponsel Vanya mengagetkan Lucas. Siapa yang menelepon dia pagi-pagi begini? batin Lucas.
"Hoaamm.. Hey!! Sedang apa kamu di sini?" pekik Vanya ketika melihat Lucas di kamarnya.
Vanya menarik selimut untuk menutupi dirinya yang bahkan masih berpakaian.
"Ponselmu bunyi. Ada yang meneleponmu." kata Lucas lalu berjalan ke kamar mandi.
"Halo.
Serius?
Kamu tidak bercanda?
Jangan bohong padaku.
Aaaaa!!! Baiklah, tenang saja. Tenang saja, pasti akan kulakukan.
Terima kasih, kamu memang yang terbaik. Aku sayang padamu!!!
Sampai jumpa." ucap Vanya.
Sayang? Apa katanya? Sayang? Siapa orang itu? batin Lucas yang menguping dari dalam kamar mandi.
Sembari menunggu Lucas mandi, Vanya asyik memegang ponselnya. Yang menelepon Vanya tadi adalah Raya, teman kuliahnya dulu. Hari ini Vanya memulai paginya dengan bahagia. Semoga tidak ada yang merusak kebahagiaanku. gumam Vanya lalu melirik pintu kamar mandi.
Vanya masih asyik dengan ponselnya bahkan disaat Lucas sudah keluar dari kamar mandi.
"Siapa yang menelepon tadi?" tanya Lucas.
"Perjanjian pertama. Pernikahan bersifat bebas. Tidak ada larangan atau peraturan dalam pernikahan. Tidak berhak mengetahui atau mencampuri urusan satu sama lain. Astaga, Lucas. Aku bahkan mengingat setiap kata yang ada di kertasnya. Kamu tidak mengingatnya?" jawab Vanya.
"Tentu aku ingat. Tetapi aneh saja dia meneleponmu disaat kamu belum bangun tidur. Bersiaplah, aku akan menunggumu di bawah." ucap Lucas lalu berjalan menuju pintu kamar.
Baru saja tangan Lucas memegang pintu hendak ke luar, Lucas berbalik badan.
"Kenapa? Keluarlah." kata Vanya.
"Kurasa kamu tidak perlu kaget lagi kalau aku berada di kamar ini. Ini masih kamarku, barang-barangku masih di sini." ucap Lucas.
"Aku mengerti, pria dingin. Keluarlah." kata Vanya.
Lucas pun keluar dari kamar. Kenapa dia menyebutku pria dingin? Tentu saja aku pria dingin, aku baru mandi. Tidak sih, tadi aku mandi air hangat. Ah tidak tahulah! A**pa yang harus kumakan pagi ini? batin Lucas.
Selesai bersiap-siap, Vanya turun ke bawah dengan pakaian yang rapi, riasan make up yang natural, dan aroma parfum yang harum.
"Sudah siap? Ayo pergi." ucap Lucas yang beranjak berdiri dari sofa.
"Tidak sarapan?" tanya Vanya.
"Kamu pikir aku bisa masak?" balas Lucas.
Lagi-lagi, Vanya menarik napas panjang dan meletakkan tasnya di sofa. Vanya berjalan ke dapur yang tidak jauh dari ruang keluarga. Hal itu diikuti oleh Lucas yang masih bingung dengan Vanya.
"Apa kamu tidak pernah sarapan?" tanya Vanya sambil memakai celemek.
"Tidak. Maksudku, aku sarapan di rumah sakit." jawab Lucas.
"Mari sewa house helper atau asisten rumah tangga." kata Vanya sambil membuka kulkas.
"Aku sudah memilikinya. Dia tidak datang karena aku menyuruhnya." ucap Lucas.
"Aku tidak terbiasa sarapan di luar. Aku membutuhkannya." balas Vanya.
"Baiklah, aku akan meneleponnya." ucap Lucas.
"Tidak usah. Lupakan, kamu hanya merepotkan dia." balas Vanya.
"Untung kamu masih punya telur. Harus kuapakan telur ini? Oh, apa kamu punya beras?" kata Vanya.
"Ya, tentu saja. Di sini." kata Lucas sambil menunjukkan tempat beras.
"OK, duduklah di sofa sana." ucap Vanya.
Vanya lalu bergerak mengambil beras dan mencucinya sebelum dimasak untuk menjadi nasi. Setelah mencuci beras, Vanya memasukkan berasnya ke dalam rice cooker untuk di masak. Sambil menunggu nasi matang, karena belum terbiasa, Vanya membuka-buka lemari dan laci yang ada di dapur untuk mengenal tempat-tempat penyimpanan.
Vanya mengambil bebumbuan untuk memasak nasi goreng. Tidak sengaja dia membuka lemari yang terdapat susu bubuk di sana. Menunggu nasi matang itu pasti membutuhkan waktu. OK, baiklah. batin Vanya. Vanya berinisiatif membuatkan segelas susu untuk Lucas.
"Minum ini dulu untuk mengisi perutmu." kata Vanya sambil menyerahkan segelas susu.
"Tidak usah repot-repot." jawab Lucas dan mengambil gelasnya.
Tidak usah repot-repot tapi kamu mengambilnya! Ya, kamu memang merepotkanku. batin Vanya.
Vanya kembali ke dapur dan menyiapkan teflon untuk menggoreng nasi. Setelah nasi sudah jadi, Vanya menggorengnya. Aku memang tidak bisa memasak selain nasi goreng tetapi kemampuanku memasak nasi goreng tidak usah diragukan lagi. batin Vanya.
Tidak lupa Vanya menggoreng telur lalu diberi saus di atasnya. 2 buah titik dan 1 lengkungan garis, mengartikan 2 buah mata dan 1 bibir yang tersenyum. Itulah yang menggambarkan ekspresi Vanya saat ini.
"Sarapan sudah siap. Makanlah." ucap Vanya.
"Kamu bisa memasak?" tanya Lucas.
"Hanya bisa nasi goreng." jawab Vanya.
Wajah Lucas melongo ketika mendengarnya.
"Makanan Indonesia hanya bisa nasi goreng, tapi kalau makanan Jerman, aku bisa banyak." sambung Vanya.
Ini kali pertama bagi Lucas mencicipi makanan yang dimasak oleh Vanya. Tidak, ini kali pertama ada seorang wanita yang masak untuk dirinya. Tidak pernah sekalipun dia memakan makanan dari seorang wanita setelah dia meninggalkan rumah orang tuanya.
"Enak." kata Lucas.
"Tentu. Oh ya, Lucas. Sebelum memasuki rumah ini, aku berpikir aku akan bosan karena tidak melakukan apa-apa.... tapi ternyata... aku akan bekerja. Oleh karena itu aku bilang kita membutuhkan ART." ucap Vanya.
"Bekerja apa?" tanya Lucas.
"Bekerja di sebuah firma hukum. Aku akan menjadi asisten pengacara." jawab Vanya.
"Oh ya, jangan kasih tahu ayah. Jangan pernah. Ingat itu." sambung Vanya.
"Baiklah. Jangan lupakan perjanjian." ucap Lucas.
Vanya bingung bukan kepalang. Perjanjian yang nomor berapa??? Kenapa aku mendadak lupa semua isinya? batin Vanya.
"Rupanya kamu tidak mengingatnya ya? Perjanjian nomor dua: Istri harus memastikan kebutuhan seksual suami terpenuhi. Oh ya, jangan lupakan yang nomor tiga: Istri harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, begitu juga suami. Kurasa 2 itu saling berhubungan." sambung Lucas dengan intonasi yang penuh penekanan.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca novel Laki-laki Pilihan Ayah. Berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan like, tips, komentar, dan vote. Jangan lupa tambahkan novel ini ke favorite Anda agar mengetahui up episode terbaru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 406 Episodes
Comments
Tommy Pissa
🫣🫣🫣
2023-10-04
0
Gayun Yuni
kenapa selalu ada pengulangan dr bab ke bab
2022-06-16
0
Sadrianty Yanti
vanya perjanjian d poin satu mungkin menguntungkanmu tapi perjajian di poin selanjutnya yg menyinggung tentang kewajiban seorang istri secara tdk langsung melemahkan poin satu....mantal lucas aku suka isi perjanjianmu.....
2021-04-26
0