Tingg.. Lift terbuka. Sampailah mereka di atap rumah sakit milik Lucas. Keluarlah Lucas dari dalan lift. Huhh aku hampir kehabisan napas karena dia!! batin Vanya.
Hah.. kenapa dia memilih tempat terbuka lagi? Bagaimana kalau rambutku berterbangan lagi? batin Vanya saat melihat dirinya tiba di atap.
Vanya memberanikan kakinya untuk melangkah keluar dari lift. Lucas yang keluar terlebih dahulu rupanya sedang menikmati angin yang berlarian kesana kemari.
"Aku tidak punya banyak waktu. Jadi kurasa ini tempat yang tepat." ucap Lucas dengan dinginnya.
Vanya masih jengkel dengan ucapan Lucas yang selalu dingin itu. Padahal selang beberapa menit yang lalu, Lucas sendiri yang mengatakan mereka sudah dekat karena akan menikah.
"Ayahku menyuruhku untuk membawakan ini untukmu." kata Vanya seraya memberikan paperbag.
"Tentu saja kamu bergerak karena ayahmu. Tidak mungkin kamu rela datang ke sini dan menungguku." balas Lucas.
"Aku tidak ingin berdebat denganmu." ucap Vanya lalu duduk di bangku yang tidak jauh dari sana.
"Semoga besok ayahmu juga menyuruhmu membawakan bekal seperti hari ini." kata Lucas seraya membuka bekal makanan.
"Omong kosong. Kamu bilang kamu tidak punya banyak waktu bukan? Kalau begitu langsung saja.
Kalau kita menikah, tentu kamu tidak akan merasa terancam lagi untuk menjadi pewaris GH Group." kata Vanya.
"Tidak sampai aku memiliki penerus GH Group." balas Lucas.
"Ya itu maksudnya. Tentu itu akan menguntungkan sekali untuk kamu. Keuntungan yang sangat besar. Benar begitu?" tanya Vanya.
"Ya, benar." jawab Lucas.
"Lalu keuntungan apa yang aku dapatkan? Aku tidak mungkin membiarkanmu untung sendirian." balas Vanya.
"Entahlah. Apa yang kamu inginkan?" tanya Lucas.
"Kamu belum memikirkan keuntungan untukku? Berani sekali kamu ingin aku membantumu." jawab Vanya.
"Tentu aku sudah memikirkannya. Tapi sepertinya kamu memiliki keinginan lain. Katakanlah apa yang kamu inginkan." balas Lucas.
"Apa keuntungan untukku yang sudah kupikirkan?" tanya Vanya.
"Rekam medis ayahmu." jawab Lucas.
"Aku rasa kamu membutuhkannya." sambung Lucas.
Vanya terdiam. Apa itu bisa disebut keuntungan? Pernikahan bodoh yang harus dia jalani hanya untuk mendapat rekam medis ayahnya, apa itu setimpal?
"Kata siapa? Aku tidak membutuhkannya. Kamu salah." elak Vanya.
"Dan kamu pikir aku akan menikah denganmu hanya karena ingin mendapatkan rekam medis ayahku? Hahahaha konyol." sambung Vanya.
"Aku yakin kamu tidak ingin mengulang kejadian yang sama." kata Lucas.
"Berhenti membawa kematian mamaku!" bentak Vanya.
"Kamu bilang kamu membutuhkan bantuanku tetapi kelihatannya tidak. Kamu mengancamku dengan membawa kematian mamaku! Kamu pikir rekam medis ayahku setimpal dengan pernikahan bodoh ini?!" ucap Vanya dengan marah.
Kesabaran Vanya sudah habis. Ditambah lagi Lucas membawa kematian mamanya.
"Aku seorang dokter. Bukan seorang pembisnis yang bisa memikirkan keuntungan untuk klienku. Kamu bisa mengatakan apa yang kamu inginkan, tidak perlu marah padaku." ucap Lucas dengan datar.
Laki-laki ini memang gila. Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu dengan ekspresi datar? Seharusnya dia sedang memohon-mohon padaku! Atau setidaknya dia memberikan keuntungan yang setimpal! batin Vanya.
"Lupakan. Lupakan perjodohan bodoh ini." ucap Vanya lalu bergegas pergi meninggalkan Lucas.
Dan Lucas? Dia tetap duduk di bangku, menikmati bekal dari Vanya, menikmati hembusan angin sebelum dia kembali bertempur di ruang operasi.
———
KEDIAMAN HARY (AYAH VANYA)
"Eh non, sudah pulang?" sapa Bi Minah.
"Iya bi." jawab Vanya dengan wajah datar.
Langkah kaki Vanya berjalan ke kamarnya karena tidak ada tujuan lain selain ke kamar. Sayangnya, perjalanannya ke kamar harus melewati ruang baca ayahnya. Tepat ketika Vanya melewati ruangan itu, ayahnya keluar. Aish.. aku harus berurusan dengan pria tua ini lagi.. batin Vanya.
"Baga..." perkataan ayah Vanya terpotong.
"Aku tidak ingin menikah dengan laki-laki itu. Lupakan perjodohan bodoh ini." ucap Vanya lalu melanjutkan perjalanannya.
Baru selangkah, Vanya terpaksa harus berhenti lagi.
"Sampai kapan kamu ingin hidup bebas sesuka hatimu? Sampai kapan kamu ingin menyusahkanku?" ucap ayah Vanya dengan ketusnya.
Vanya terdiam sejenak ketika mendengar ucapan ayahnya barusan. Namun, dia berbalik.
"Kenapa aku menyusahkanmu kalau aku menolak perjodohan ini? Jelaskan padaku." kata Vanya.
"Sudahlah. Menikah saja. Anggap ini permintaan pertama dan terakhirku padamu." ucap ayah Vanya.
Ayah Vanya pergi meninggalkan Vanya yang sedang berdiri termatung. "Uhukk!! Uhukk!! Uhukk!!"
Vanya mendengar jelas suara batuk ayahnya itu. "Bagaimana ini?" lirih Vanya.
Sejak percakapan tadi siang dengan ayahnya, Vanya belum keluar dari kamarnya. Dia terus memikirkan perkataan ayahnya. "Permintaan pertama dan terakhir?"
"Aku yakin kamu tidak ingin mengulang kejadian yang sama." Vanya mengingat ucapan Lucas.
"Astaga! Apa jangan-jangan ayah akan menyusul mama? Lucas mengetahui tentang penyakit ayah, makanya dia bilang begitu padaku? Apa penyakit ayah semakin parah?
Ah, ma, aku benar-benar ingin bersamamu sekarang." ucap Vanya.
Tok tok tok.. "Non Vanya. Makan malam sudah siap, non." ucap Minah.
"Iya, bi." Vanya beranjak dari ranjangnya dan turun ke bawah.
Di meja makan, sudah ada ayahnya yang lebih dulu duduk. Vanya pun ikut duduk dan menyantap makan malamnya.
Makan malam mereka diselimuti oleh keheningan. Tidak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan sepatah katapun. Sampai selesai makan, ayah Vanya lebih memilih untuk meninggalkan ruang makan dan kembali ke kamarnya.
"Maklum non, non Vanya kan tahu sendiri kalau tuan orangnya gak banyak ngomong." kata Minah.
"Apa itu wajar kalau ke anaknya juga, bi?" tanya Vanya.
"Hm, non menurut bibi sih non pikirkan lagi tentang pernikahan non. Bibi takut tuan akan kesepian lagi kalau non menikah dan meninggalkan rumah ini." jawab Minah.
"Ada saya di sini malah mengganggu dia, bi. Oh ya, bi besok tolong buatin bekal makan siang lagi ya." kata Vanya lalu meninggalkan ruang makan.
Vanya kembali ke kamarnya, melanjutkan sesi mikir yang sempat terpotong tadi. "Apa keputusanku ini tepat?"
Sepertinya Vanya baru saja mengambil keputusan baru di dalam hidupnya. Vanya mendatangi kamar ayahnya. Tenang, Vanya. Jangan sampai kalian berantem lagi kali ini. gumam Vanya.
Tok tok tok. Vanya membuka pintu. "Ayah, belum tidur?" kata Vanya.
"Ada apa?" tanya ayah.
"Apa ayah tidak akan kesepian kalau aku menikah dan meninggalkan rumah ini?" tanya Vanya.
"Tidak usah pikirkan ayah. Pikirkan saja dirimu sendiri." jawab ayah.
"Kata ayah aku tidak boleh berbuat bebas sesuka hatiku lagi. Aku tidak akan menyusahkan ayah lagi." balas Vanya.
Ayah terdiam.
"Kalau begitu, pastikan ayah tidak akan menyesal sudah memberi permintaan terakhir ayah padaku. Sudah malam, tidurlah. Jangan lupa minum obatnya. Selamat malam." ucap Vanya lalu menutup pintu dan kembali ke kamarnya.
Hary masih setia dalam diamnya. Ada 2 hal yang mengejutkan Hary di waktu yang bersamaan, pertama ternyata putrinya sudah tahu tentang penyakitnya dan kedua, putrinya menuruti permintaannya untuk menikah dengan laki-laki pilihannya.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca novel Laki-laki Pilihan Ayah. Berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan like, tips, komentar, dan vote. Jangan lupa tambahkan novel ini ke favorite Anda agar mengetahui up episode terbaru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 406 Episodes
Comments
Tommy Pissa
😐🤔🤨
2023-06-26
0
Rina
masih bingung saya dgn ceritanya, bingung tentang apa yg membuat anya terpaksa mau mengambil keputusan yg ditentukan ayahnya.
2021-07-17
0
Vera😘uziezi❤️💋
Masih bingung
2021-04-21
1