"Ya, makanya aku suruh kamu mempersiapkan dirimu." jawab Lucas.
"Gosh, itu terlalu cepat." kata Vanya
"Oh ya, bukannya kita sudah sah menjadi pasangan suami istri? Berarti kita sudah bisa membuat pewaris untukku. Benar kan? Kapan kita bisa melakukannya?" tanya Lucas.
"Kamu hanya menyuruhku mempersiapkan diri untuk pesta pernikahan." jawab Vanya.
"Apa untuk memenuhi kewajiban seorang istri dibutuhkan persiapan?" tanya Lucas.
"Khusus yang itu, butuh." jawab Vanya.
"Yang 'itu' ? 'Itu' apa maksudmu?" tanya Lucas.
"Berhentilah. Kamu mengetahuinya." jawab Vanya.
"Tapi lebih cepat lebih baik. Kalau kita segera memiliki keturunan, bukannya itu lebih baik? Kita bisa mengakhiri pernikahan." balas Lucas.
"Lucas. Aku selalu bertanya-tanya pada diriku, kenapa harus aku? Kenapa kamu tidak mencari wanita lain saja yang bisa kamu jadikan mesin penghasil anak?" tanya Vanya.
"Entahlah. Sepertinya aku tidak bisa menjawabmu." jawab Lucas.
"Kamu tidak bisa menjawabku, tapi kamu punya jawabannya, benar begitu?' tanya Vanya.
"Entahlah. Pertanyaanmu sulit dijawab seperti soal ujian." jawab Lucas.
"Baiklah. Kita akhiri saja." ucap Vanya lalu meninggalkan Lucas.
———
"Kenapa dia tidak bisa menjawabku? Apa susah tinggal menjawab? Perasaanku tidak enak. Apa ada tujuan lain di pernikahan ini yang Lucas sembunyikan? Tapi apa? Dia bilang pertanyaanku sulit dijawab seperti soal ujian tapi dia sendiri juga sulit untuk kumengerti!!! Enyahlah kau, Lucas!" ucap Vanya yang sedang berendam di bathtub.
Vanya berendam air hangat yang dipercaya bisa menghilangan stres. Bukan karena pekerjaan, tetapi stres karena harus memiliki suami gila yang hobinya membuat Vanya menarik napas terus.
"Apa punya anak akan menyelesaikan semuanya? Sesuai perjanjian, pernikahan bisa berakhir kalau punya anak. Tapi mana mungkin aku membiarkan anakku hidup di keluarga broken home nantinya? Tapi tujuan pernikahan ini memang untuk memberi pewaris. Huh, tidak tahulah. Biarkan semuanya terjadi seiring berjalannya waktu."
Setelah air hangat Vanya berubah menjadi dingin, Vanya segera beranjak dari bathtub dan memakai pakaian. Kini, Vanya sudah lebih rileks dibandingan tadi saat sebelum mandi. Saatnya tidur. ucap Vanya.
Namun rupanya tidur tidak segampang yang diucapkan, mata Vanya masih ingin terbuka dan otaknya masih terus bekerja.
"Tapi, setelah dipikir-pikir, aku tidak merasa kesulitan dengan pernikahan ini. Aku masih bisa bekerja, Lucas tidak mengurungku di rumah ini, tidak melarangku melakukan hal yang kuinginkan, dia juga rela tidur di sofa untukku. Sejauh ini aku memang tidak kesulitan. Apa memang belum waktunya saja? Apa suatu saat aku akan merasa kesulitan dengan pernikahan ini? Amit-amit jangan sampai. Berhenti mengucapkan yang tidak-tidak, Vanya." ucap Vanya.
Krrruukk.. krruukk.. "Uhh lapar. Aku melewatkan makan malam tadi." eluh Vanya.
"Apa Lucas memiliki sesuatu yang bisa kumakan?" kata Vanya lalu dia beranjak turun dari ranjangnya. Dia membuka pintu kamarnya dengan hati-hati karena takut Lucas sudah tertidur.
Dan benar saja, Lucas tertidur tetapi tv masih menyala. "Huh, pemborosan." ucap Vanya lalu mematikan tv.
Namun, perut Vanya sudah tidak sabar alhasil kakinya membawa dia ke sebuah kulkas. Memang kerjasama yang sempurna.
Vanya membuka pintu kulkas, "Hah? Tidak ada satupun yang bisa kumakan? Bagaimana ini perut?" ucap Vanya sambil memegangi perutnya.
"Baiklah aku minum air saja yang banyak lalu tidur supaya tidak merasa lapar lagi." Vanya berjalan mengambil air untuk mengisi kekosongan perutnya. Setelah itu dia hendak kembali ke kamarnya.
Namun kakinya berhenti ketika melihat sang suami tertidur tanpa selimut. "Bagaimana kalau dia digerogoti nyamuk? Tidak-tidak. Di rumah ini tidak ada nyamuk." ucap Vanya lalu kembali berjalan ke kamarnya.
"Bagaimana kalau dia kedinginan?" ucap Vanya ketika sudah sampai di kamarnya.
Tanpa pikir panjang, Vanya langsung mengambil selimut di atas ranjangnya dan membawanya turun. Untuk apa? Untuk apa lagi selain menutupi suaminya agar tidak kedinginan.
Vanya rela memberikan selimut milik di kamarnya agar sang suami tidak kedinginan. Setelah Vanya menutupi Lucas dengan selimut, sontak mata Lucas terbuka padahal Vanya sudah melakukannya dengan hati-hati.
"Jangan menyukaiku." ucap Lucas dengan setengah sadar lalu matanya kembali terpejam.
"Apa dia mengigau?" kata Vanya.
Vanya kembali ke kamarnya. "Kedua kalinya aku mendengar kalimat itu dari mulut Lucas. Aku hanya memberikan perhatianku dan menjalankan kewajibanku sebagai istri. Apa itu salah?" kata Vanya.
Setelah itu, Vanya benar-benar tertidur. Tidur tanpa selimut.
———
PAGI HARI
Lucas terbangun dan menyadari tubuhnya dibalut oleh selimut. "Berarti.. semalam itu.. bukan mimpi?" ucap Lucas.
Lucas segera naik ke kamar istrinya dan melihat Vanya masih tertidur. Istrinya tidur tanpa selimut sepanjang malam. Tidak lama kemudian, Vanya membuka matanya karena kesilauan sinar matahari.
Vanya mengecek jam di ponselnya, jam masih menunjukkan pukul 6 pagi. Masih ada 2 jam lagi untuk bekerja. Vanya kembali membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Baru sedetik memejamkan mata, mata Vanya seketika terbuka seperti akan keluar.
"Lucas? Kenapa diam di sana?" tanya Vanya.
"Aku kira semalam aku sedang bermimpi tapi ternyata tidak." kata Lucas.
"Jangan menyukaiku. Seingatku aku sudah mengatakan hal itu padamu." sambung Lucas.
"Apa yang kamu pikirkan setelah aku memberikan selimutku padamu? Kamu pikir aku melakukan itu karena aku menyukaimu? Perjanjian nomor tiga: Istri harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dan aku sedang menjalankan kewajibanku dengan memberi perhatian untuk suamiku. Menjalankan kewajiban istri bukan hanya tentang seksual saja, kan?" balas Vanya.
"Benar. Aku tidak mau istriku kedinginan. Ini juga merupakan kewajiban suami untuk memastikan istrinya baik-baik saja." kata Lucas.
"Tidur tanpa selimut tidak membuatku berada dalam bahaya." balas Vanya.
"Berhubung selimut hanya ada 1 dan kita tidak bisa tidur tanpa AC, bagaimana kalau kita tidur bersama supaya sama-sama bisa memakai selimut?" kata Lucas.
"Aku lebih baik tidur kedinginan daripada harus tidur denganmu!" balas Vanya.
"Oh kamu tidak tahu ya? Menemani dan tidur di samping suami itu juga termasuk kewajiban istri. Sudah, nanti malam aku akan tidur di sini bersamamu." kata Lucas lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Lucas!!! Jangan macam-macam denganku!!! Dasar laki-laki brengs*k. Aku benci padamu!!" teriak Vanya.
"Aargghhh!! Lucas sial*n! Aku benci dia! Tenang, Vanya. Tenang. Jangan membiarkan hal ini merusak pagimu. Tenang, ok. Hanya tidur bersama, kan? Hanya tidur, iya. Hanya tidur. Tapi bagaimana kalau dia mendengkur? Aaa!!! Aku paling tidak bisa tidur dengan suara dengkuran!!!" celoteh Vanya.
"Tenang saja. Aku tidak mendengkur." teriak Lucas dari dalam kamar mandi.
Rupanya Lucas mendengarnya. "Semua ini karena selimut!! Aku menyesal sudah memberikan dia selimut!!! Argh, Vanya!!! Kenapa juga kamu harus memberikan dia selimut?!?!"
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca novel Laki-laki Pilihan Ayah. Berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan like, tips, komentar, dan vote. Jangan lupa tambahkan novel ini ke favorite Anda agar mengetahui up episode terbaru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 406 Episodes
Comments
Aqiyu
masa selimut cuma atu
2021-06-11
0
Asma Liyya
beli selimut lah
2021-04-23
0
Vera😘uziezi❤️💋
Bingung penasaran
2021-04-21
0