"Lebih baik persiapkan malam nanti." ucap Lucas.
Hah????? Dasar laki-laki gila!!! Bisa-bisanya dia bilang seperti itu?? Apa yang harus lakukan untuk malam nanti? Tidak tidak. Tidak mau. Aku tidak mau!!! batin Vanya.
"Nanti malam kita harus memikirkan pesta pernikahan. Itu maksudku." sambung Lucas.
"Huh.." Vanya bernapas lega dan mengusap dadanya berulang kali, takut jantungnya copot.
Lucas tersenyum melihat kelakuan wanita yang baru menjadi istrinya. Menggemaskan.
———
"Itu kamar utama yang biasa kutempati. Tapi aku lebih sering tidur di sofa karena pulang kerja biasanya aku capek dan malas menaiki tangga. Kamu tempati saja kamarku." ucap Lucas.
"Tidak ada kamar lain?" tanya Vanya.
"Ada." jawab Lucas.
"Ya, sudah aku di sana (kamar lain) saja." kata Vanya.
"Harus dibersihkan dulu. Sementara kamu tidur di kamarku saja. Aku akan tidur di sofa." balas Lucas.
"Baiklah." jawab Vanya.
Lucas membawakan 2 koper besar milik Vanya ke kamarnya. Kini mereka berada di kamar Lucas yang berubah kepemilikan menjadi kamar Vanya.
"Kamu lihat lemari itu?" tanya Lucas sambil menunjuk sebuah lemari.
"Lemari sebesar itu mana mungkin tidak terlihat." jawab Vanya.
"Ya. Bagian kiri sudah kukosongkan. Kamu bisa menaruh bajumu di sana. Kalau kurang kamu bisa ke ruang sebelah. Itu walk in closet-ku. Kebetulan masih banyak yang kosong di sana." kata Lucas.
"Jadi maksudmu, kita berbagi lemari, begitu?" tanya Vanya.
"Ya. Di kertas (perjanjian) hanya tertulis kita tidak berbagi kamar itu artinya kita bisa berbagi lemari." jawab Lucas.
Vanya menelan ludahnya.
"Kalau tidak berbagi kamar, itu artinya tidak berbagi juga dengan seisi kamar, termasuk lemari!!!" ucap Vanya dengan emosinya.
"Di kertas hanya tertulis tidak berbagi kamar, bukan tidak berbagi kamar beserta isinya. Oh ya, aku mandi di kamar mandi itu jadi kita berbagi kamar mandi juga." kata Lucas sambil menunjuk kamar mandi yang berada di dalam kamar.
Vanya menghela napas panjang.
"Baiklah. Sekarang kamu bisa keluar." kata Vanya dengan penuh kesabaran.
"Tidak. Aku mau mandi." tangkas Lucas lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Mimpi apa semalam sampai bisa menikah sama laki-laki gila ini! Lama-lama aku bisa menjadi gila juga!!! Sabar Vanya, sabar. Belum 24 jam kamu resmi menjadi istri orang gila ini. Sabar.. gumam Vanya.
Vanya memindahkan pakaian yang ada di koper ke lemari. "Lemarinya cukup besar juga. Tidak apa-apa kalau harus berbagi dengan pria gila itu." ucap Vanya.
Lalu Vanya memindahkan skincare, makeup miliknya ke meja rias. "Yang benar saja, di atas meja ini hanya ada 1 parfum? Seperti itukah pria? Atau hanya pria gila itu saja?" ucap Vanya.
Tidak lama kemudian, keluarlah Lucas dari kamar mandi. "Kamu tidak mandi?" tanya Lucas.
"Aku akan mandi." jawab Vanya.
"Baiklah. Aku menunggumu di bawah." kata Lucas lalu berjalan keluar dari kamar.
"Ternyata pria gila itu juga menggunakan perawatan untuk wajahnya." kata Vanya ketika melihat wastafel di dalam kamar mandi.
"Aku akan menaruh sikat gigiku di sini. Lalu shampo dan sabunku di sini. Tapi kenapa barang-barangku selalu berada di tempat yang sama dengan pria gila itu? Di mana ada barangku di sana ada barang miliknya. Huhuhu, bukan seperti ini yang aku inginkan!!! Aku menginginkan tempat yang terpisah darinya!!" kata Vanya.
Setelah menghabiskan waktu untuk mandi, Vanya pun turun menemui Lucas di bawah yang sedang menonton tv.
"Besok aku bekerja, cutiku hanya hari ini. Jadi, kurasa ini saat yang tepat untuk membicarakan pesta pernikahan." kata Lucas.
"Haruskah? Haruskah ada pesta?" balas Vanya.
"Tentu. Kamu tahu suamimu berasal dari GH Group." jawab Lucas.
Suami? Apa katanya? Suami? Dia bilang dia suamiku? batin Vanya.
"Baiklah. Harus darimana kita membicarakannya?" kata Vanya.
"Tempat. Kamu mau di tempat terbuka, atau tertutup?" tanya Lucas.
"Tertutup." jawab Vanya.
"Kamu mau konsep pernikahan yang seperti apa?" tanya Lucas.
"Haruskah kita membicarakan konsep? Kamu tahu pernikahan ini seperti apa." jawab Vanya.
"Aku juga tidak ada mau ada pesta. Tapi ini semua kulakukan untuk nama baik GH Group." balas Lucas.
"Baiklah. Kita langsung saja mencari gedung, venue, fitting busana dan lain lain. Untuk konsep kita sama-sama tidak tahu, jadi biarkan wedding organizer saja yang memilih." kata Vanya.
"Sudah kubilang besok aku bekerja." balas Lucas.
"Aku tidak memintamu untuk melakukannya besok. Karena untuk nama baik GH Group, kamu yang lebih tahu waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan." kata Vanya.
"Baiklah baiklah baiklah." ucap Lucas lalu mengambil ponselnya.
"Papa, sepertinya aku harus mengambil cuti lagi untuk besok. Bisakah?
Aku harus mencari gedung, fitting busana dengan Vanya.
Oh ya, hari ini kita juga sudah mendaftarkan pernikahan. Kita juga sudah mendapatkan buku pernikahan.
Baiklah, pa. Terima kasih." ucap Lucas di telepon.
"Kamu pikir bisa melakukan semuanya dalam 1 hari?" tanya Vanya.
"Bisa. Kenapa tidak?" balas Lucas.
"Apa kamu sudah pernah menikah, Lucas?" tanya Vanya.
"Belum." jawab Lucas.
"Lalu kenapa kamu yakin bisa melakukan semuanya dalam 1 hari?" tanya Vanya.
"Kalau begitu, memangnya kamu sudah menikah? Sampai kamu tahu kalau mempersiapkan pernikahan tidak bisa dalam 1 hari?" balas Lucas.
Vanya menarik napas panjang.
"Aku punya teman yang bekerja di bagian wedding organizer, aku juga punya teman yang bekerja di bagian busana. Kita hanya perlu menemuinya saja. Untuk gedung, aku juga sudah tahu gedung yang tepat. Aku yakin semuanya bisa selesai dalam 1 hari. Tidak perlu khawatir." sambung Lucas.
"Baiklah. Kalau bisa urus saja semuanya tanpa melibatkanku." jawab Vanya lalu bergegas pergi ke kamar meninggalkan Lucas.
"Huh pria itu. Menyebalkan sekali! Setiap berbicara dengannya selalu membuatku naik darah. Aku bahkan selalu menarik napas saat berbicara dengannya. Aku memang sudah cukup sabar dengannya. Belum tentu orang lain akan sepertiku!" ucap Vanya lalu membantingkan dirinya di atas ranjang.
"Ranjangnya sangat empuk. Bantalnya juga. Sayang sekali dia lebih memilih tidur di sofa. Tapi ada bagusnya juga. Kalau dia tidur di kamar ini, nanti aku yang akan tidur di sofa." ucap Vanya.
"Hari ini hari yang melelahkan. Aku sudah mendaftarkan pernikahan, mengunjungi makam mama, pindah ke rumah ini... sebaiknya aku tidur sekarang untuk mempersiapkan hari esok. Mempersiapkan diriku untuk menghadapi pria gila itu." ucap Vanya lalu memejamkan matanya untuk tidur.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca novel Laki-laki Pilihan Ayah. Berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan like, tips, komentar, dan vote. Jangan lupa tambahkan novel ini ke favorite Anda agar mengetahui up episode terbaru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 406 Episodes
Comments
Tommy Pissa
🤨
2023-10-03
0
elma sukmala
vanya kenapa ya.kalau gax mau dari awal gax usah terima ke pedean banget jadi perempuan.
2022-03-29
0
Vera😘uziezi❤️💋
Penasaran
2021-04-21
0