"Apa.. aku.. akan menyusahkan ayah kalau aku tidak menikah dengan Lucas?" ucap Vanya dengan lirih.
"Tentu saja. Apa kurangnya Lucas? Dia handal menjadi dokter bedah, mapan, secara fisik juga sempurna. Dia juga akan menjadi pewaris tunggal GH Group." kata ayah Vanya.
"Kalau begitu, atur pertemuan kami lagi." ucap Vanya lalu pergi meninggalkan meja makan.
Vanya kembali ke kamarnya dan menyalakan ponselnya yang belum dia sentuh ketika tiba di Jakarta.
Notifikasi bergiliran masuk. Kalau tidak dari Mily pasti dari Raya. Hanya 2 orang itu yang akan mengirim pesan spam ke Vanya.
Mily.
Apa kamu sudah bertemu dengan laki-laki itu? Bagaimana? Apa dia tampan? Berapa umurnya? Apa dia masih melajang? Atau sudah punya anak? Vanya tolong cepat balas pesanku.
Raya.
Apa kamu benar-benar dijodohkan?
Vanya tersenyum ketika melihat pesan yang masuk dari kedua temannya itu. 2 orang teman yang memiliki sifat dan karakter yang bertolak belakang. Aku bersyukur masih memiliki kalian. gumam Vanya.
Vanya.
Ya, benar. Aku dijodohkan oleh seorang laki-laki yang tidak aku kenal. Untuk wujud rupanya, kalian bisa melihatnya di pernikahan kami nanti.
Setelah membalas pesan temannya, Vanya tidur untuk mempersiapkan diri di hari esok.
———
KEESOKAN HARINYA.
Vanya terbangun ketika sinar matahari masuk melalui celah gordynnya. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Dia berpikir untuk melanjutkan tidurnya lagi karena kini dirinya seorang pengangguran. Tidak ada yang harus dilakukan.
Tok tok tok. "Non Vanya, tuan sudah menunggu non di bawah untuk sarapan." ucap Minah.
Baru saja Vanya memejamkan mata, Bi Minah sudah menyuruhnya turun untuk sarapan. Arghh, sungguh.
"Iya Bi."
Vanya segera mencuci mukanya sebelum turun untuk sarapan.
"Hari ini Lucas ada banyak jadwal operasi. Dia tidak bisa datang ke sini." ucap ayah Vanya dengan dingin.
"Baiklah. Bisa besok." jawab Vanya.
"Apa katamu? Kamu sebaiknya datang menemui dia. Bawakan makan siang untuknya." ucap ayah Vanya dengan nada meninggi.
"Katanya jadwal dia penuh?" balas Vanya.
"Setidaknya tidak saat jam makan siang." ucap ayah Vanya.
"Ya, baiklah." jawab Vanya.
Ayah Vanya pergi meninggalkan meja makan.
"Bi Minah." panggil Vanya.
"Ya, non. Ada apa non?" jawab Minah.
"Ayah rutin minum obatnya kan?" tanya Vanya.
"Iya, non. Rutin kok, non." jawab Minah.
"Oh, baiklah. Bi nanti tolong buatin bekal makan siang ya bi." kata Vanya.
"Baik, non."
Vanya pun meninggalkan meja makan dan kembali ke kamarnya. Vanya menyalakan ponselnya dan melihat teman-temannya itu sedang berjuang menjadi jaksa dan hakim.
Aku iri. Kalau bukan karena perjodohan bodoh ini aku pasti juga sedang berjuang menjadi pengacara. gumam Vanya.
5 jam berlalu. Vanya bersiap diri ke rumah sakit tempat di mana Lucas bekerja. Rumah sakit yang sekaligus dipimpin Lucas. Tidak lupa tangan Vanya memegang paperbag yang berisi bekal makan untuk Lucas.
"Permisi, saya ingin bertemu dengan Lucas." ucap Vanya.
"Dokter Lucas maksudnya?" tanya perawat yang bertugas di meja.
"Ah iya. Katanya hari ini dia penuh jadwal operasi. Apa masih bisa bertemu?" balas Vanya.
"Ya, betul. Hari ini Dokter Lucas penuh jadwal operasi. Kamu bisa menunggu di kursi tunggu sementara kami akan menghubungi departemen dokter Lucas bekerja." jawab perawat.
"Baiklah." kata Vanya.
"Atas nama siapa?" tanya perawat.
"Vanya. Bilang saja Vanya ingin bertemu." jawab Vanya.
"Baiklah, Bu Vanya. Mohon menunggu." ucap perawat.
Sambil menunggu di kursi tunggu, Vanya tidak henti-hentinya memanyunkan bibirnya, menatap jam yang melingkar di tangannya.
Demi pernikahan bodoh ini, aku rela melakukan hal bodoh. Huh. batin Vanya.
———
Edward (ayah Lucas) bersama rekan dokter lainnya turun ke lobi untuk pergi makan siang.
"Ke mana tujuan kita untuk makan siang, dokter Edward?" kata rekannya.
"Sepertinya menu iga sapi cocok untuk kita siang ini." jawab rekan yang lain.
"Ah betul. Mari kita eh?" jawab Edward lalu terputus ketika melihat sosok Vanya duduk di kursi tunggu.
"Calon menantuku!" pekik Edward lalu menghampiri Vanya.
"Vanya? Sedang apa kamu di sini?" ucap Edward.
"Ah, paman. Aku sedang menunggu....." jawab Vanya terpotong.
"Menunggu? Siapa yang membuat calon menantuku ini menunggu? Katakan pada paman. Apa mereka yang menyuruhmu menunggu?" ucap Edward dengan nada meninggi sambil menunjuk perawat.
"Ah bukan paman. Bukan begitu. Aku sedang menunggu Lucas. Katanya jadwal dia sedang penuh dengan operasi." jawab Vanya.
"Oh begitu. Iya benar tetapi...." kata Edward terputus ketika rekan kerja yang dia tinggal menghampirinya.
"Dokter Edward? Siapa dia?" tanya rekannya.
"Oh ini calon menantuku." jawab Edward.
"Halo, nama saya Vanya. Senang bertemu dengan kalian." sahut Vanya.
"Dokter Edward sungguh luar biasa. Tidak hanya berbakat di atas meja operasi tetapi dia juga berbakat mencari menantu." kata rekannya.
"Benar. Dia sangat cantik." kata rekan yang lain.
"Ahah terima kasih. Tapi maaf saya tidak bisa bergabung makan siang hari ini." ucap Edward.
"Hahah ya tidak apa apa. Kalau begitu, kami pergi dulu." balas rekannya.
Selepas kepergian rekannya, Edward mengajak Vanya untuk ke ruangannya.
"Lucas! Datang ke ruanganku cepat! Vanya datang ingin menemuimu! Cepat!" ucap Edward di telepon.
"Paman, kalau Lucas masih harus mengoperasi pasien tidak apa-apa. Mungkin lain waktu kita bisa bertemu." kata Vanya.
"Ah tidak mungkin, Vanya. Ini kan jam makan siang. Tidak ada dokter yang mengoperasi pasien." balas Edward.
———
"Jam berapa jadwal operasiku berikutnya?" tanya Lucas kepada perawat.
"Jam 1 siang, dok." jawab perawat.
"Saya akan ke ruangan pimpinan Edward." ucap Lucas lalu pergi menuju ruangan Edward.
"Vanya." ucap Lucas ketika masuk ke dalam ruangan Edward.
"Beritahu orangmu di bawah untuk tidak membuat Vanya menunggu. Jangan sampai kejadian tadi terulang kembali." kata Edward.
"Ya, ayah. Vanya, kamu ingin menemuiku?" ucap Lucas.
"Pergi. Carilah tempat yang bisa membuat calon menantuku nyaman." kata Edward.
Segera Lucas menarik tangan Vanya dan membawanya pergi dari ruangan Edward. Setelah memasuki lift, rupanya tangan Lucas masih menggenggam tangan Vanya. Dengan sigap, Vanya melepasnya.
"Pertemuan pertama kamu menyentuh rambutku. Pertemuan kedua kamu menyentuh tanganku. Apa kamu tidak mengetahui perihal kesopanan? Aku rasa kita tidak sedekat itu sampai kamu bisa menyentuhku." ucap Vanya.
"Ya, aku tidak mengetahui kesopanan yang kamu maksud. Berhati-hatilah. Pertemuan ketiga aku akan menyentuhmu lagi." balas Lucas.
Bulu kuduk Vanya bergidik. Seram sekali mendengar perkataan Lucas barusan. Lucas seperti laki-laki mesum.
"Lagipula.." ucap Lucas sambil menghadap Vanya.
"Bukannya kita dekat? Sangat dekat." sambung Lucas sambil berjalan maju sedangkan Vanya terus berjalan mundur.
"Kita kan akan segera menikah." bisik Lucas di telinga Vanya.
Tingg.. Lift terbuka. Sampailah mereka di atap rumah sakit milik Lucas. Keluarlah Lucas dari dalan lift. Huhh aku hampir kehabisan napas karena dia!! batin Vanya.
Hah.. kenapa dia memilih tempat terbuka lagi? Bagaimana kalau rambutku berterbangan lagi? batin Vanya saat melihat dirinya tiba di atap.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca novel Laki-laki Pilihan Ayah. Berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan like, tips, komentar, dan vote. Jangan lupa tambahkan novel ini ke favorite Anda agar mengetahui up episode terbaru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 406 Episodes
Comments
Tommy Pissa
😶🫣
2023-06-25
1
elma sukmala
lanjut thor.
2022-03-28
0
Nuraeti Ethy
ahsiaapppp mertuanya keren
2022-03-16
0