"Tenang saja. Aku tidak mendengkur." teriak Lucas dari dalam kamar mandi.
Rupanya Lucas mendengarnya. "Semua ini karena selimut!! Aku menyesal sudah memberikan dia selimut!!! Argh, Vanya!!! Kenapa juga kamu harus memberikan dia selimut?!?!"
Ting.. tong.. "Suara bel? Siapa yang datang?" ucap Vanya lalu beranjak turun dari ranjangnya.
"Siapa yang datang pagi-pagi begini? Apa ayah? Atau papanya Lucas?" ucap Vanya sambil menuruni tangga.
Vanya membuka pintu dan melihat orang yang datang bukan ayahnya, dan bukan juga papanya Lucas. Tetapi seorang wanita paruh baya.
"Siapa ya?" tanya Vanya.
"Ini rumahnya pak Lucas kan?" tanya wanita tersebut.
"Iya benar, ini rumahnya Lucas. Anda siapa ya?" tanya Vanya.
"Saya ART di sini bu. Ibu sendiri siapa?" tanya ART.
"Oooo ART, silahkan masuk." jawab Vanya.
"Memangnya Lucas tidak memberitahu PIN sandi rumah ini?" tanya Vanya.
"Tidak bu." jawab ART.
"Oh nama saya Vanya. Nama bibi siapa?" tanya Vanya.
"Nama saya Nani bu. Maaf, ibu siapanya pak Lucas? Adik?" tanya Nani.
"Adik? Hahahahaha.." Vanya tertawa kencang.
"Seperti itukah kelihatannya?" sambung Vanya.
"Ya, memang saya masih muda sekali. Umur saya masih 21 tahun sedangkan Lucas sudah mau kepala 3 hahaahaha.."
Nani masih bingung dengan ucapan Vanya sedangkan Vanya masih tertawa terbahak-bahak sampai menuju kamarnya. Lucas yang baru keluar dari kamar mandi pun bingung melihat aksi Vanya.
"Ada apa?" tanya Lucas.
"Hey, Lucas. Apa ART-mu orangnya jujur?" tanya Vanya.
"Ya, begitu. Kenapa?" tanya Lucas.
"Hahahaah sudah kuduga. ART-mu memang benar. Hahahahah.." jawab Vanya.
"Ada apa?" tanya Lucas.
"Sini deh." ucap Vanya sambil menarik tangan Lucas dan membawanya ke depan meja rias.
"Apa kita kelihatannya begitu? Sepertinya iya. Hahahahha.. Hey, Lucas. Lihatlah dirimu. Sebentar lagi kamu memasuki usia kepala 3, sedangkan aku? Aku masih 21 tahun. Hahahahah.." rupanya Vanya masih belum bisa berhenti tertawa.
"Kenapa kamu ini?" Sedangkan Lucas masih bingung dengan Vanya yang sedari tadi tertawa.
"ART-mu bilang aku ini adikmu. Hahahahahaha.. awalnya aku terkejut tapi setelah kupikirkan benar juga. Usia kita bahkan beda jauh." kata Vanya.
"Hanya karena itu? Hanya karena itu kamu tertawa? Dasar wanita aneh." balas Lucas.
"Hey bayangkan di pesta pernikahan nanti, apa yang ada di pikiran tamu undangan ketika melihat kamu menikah denganku." kata Vanya.
"Kamu cantik. Aku tidak salah memilih wanita." jawab Lucas.
"Hah?????"
"Maksudku, tamu undangan nanti akan berpikir kalau kamu cantik, aku tidak salah memilih wanita. Tentu saja karena nanti wajahmu akan dirias dan kamu menjadi cantik. Ya kan?" jelas Lucas lalu memalingkan wajahnya.
"Jadi kalau wajahku tidak dirias, aku jelek, begitu?" tanya Vanya.
"Apa itu perlu ditanya lagi? Jawabannya sudah pasti ya." jawab Lucas.
"Kamu jahat sekali dengan adikmu." ucap Vanya lalu berjalan menuju kamar mandi.
Sebelum jauh, Lucas menarik tangan Vanya sehingga membuat Vanya berbalik ke Lucas. "Tahu cara mengikat dasi?" tanya Lucas.
Pasti dia akan menyuruhku memasangkan dasi untuknya. batin Vanya.
"Tidak. Aku di Jerman belajar hukum bukan belajar mengikat dasi." jawab Vanya
"Baiklah, kalau begitu akan aku ajarkan." balas Lucas.
Vanya!!! Bodoh sekali kenapa kamu menjawab tidak... batin Vanya.
"Pegang ini. Lalu bagi menjadi 2.." ucap Lucas sambil mengarahkan tangan Vanya.
"Sebentar. Untuk apa kamu mengajari aku cara mengikat dasi?" tanya Vanya.
"Supaya kamu bisa." jawab Lucas.
"Untuk apa aku bisa?" tanya Vanya.
"Supaya bisa memasangkan dasi untukku setiap pagi." jawab Lucas.
"Hah? Hey, Luc.." ucap Vanya terpotong.
"Itu termasuk dalam kewajiban istri. Karena kamu sudah memperhatikanku, maka jangan setengah-setengah." ucap Lucas.
"Rupanya kamu keenakan ya menerima perhatianku.. baiklah, Lucas. Sebaiknya aku juga mengatakan ini kepadamu. Jangan menyukaiku, aku tidak ingin kamu menyukaiku." balas Vanya.
"Tidak perlu khawatir, Vanya istriku. Kalau begitu, pasangkanlah." jawab Lucas.
Dengan berat hati Vanya memasangkan dasi untuk Lucas. Lucas melihat Vanya di kaca yang sedang memasangkan dasi untuknya. Beralih dari kaca, Lucas melihat Vanya langsung yang berdiri di hadapannya.
"Kenapa melihat aku?" tanya Vanya saat dirinya merasa dilihat oleh Lucas.
"Aku tidak melihatmu. Aku melihat dasinya benar atau tidak." jawab Lucas.
"Ya tidak mungkin juga kamu melihat wajahku yang jelek ini. Sudah, benar kan?" kata Vanya.
"Darimana kamu tahu cara mengikat dasi? Katamu di Jerman kamu belajar hukum." tanya Lucas.
"Dari sebuah film. Sudah ya, aku mau mandi." jawab Vanya.
"Baiklah, aku tunggu di bawah." balas Lucas.
Vanya pun masuk ke kamar mandi dan Lucas keluar kamar menuju ke bawah dengan pakaian yang rapi ditambah dengan dasi yang diikat oleh istrinya.
"Selamat pagi, pak. Sepatu kerja bapak sudah saya semir, ada di sana." ucap Nani.
"Terima kasih bi, oh ya, tolong buatkan sarapan ya." kata Lucas.
"Oh tidak sarapan di rumah sakit?" tanya Nani.
"Mulai hari ini saya sarapan di rumah." jawab Lucas.
"Ohh.. itu adiknya mau sekalian sarapan juga?" tanya Nani.
Lucas menarik napas sebal. Adik apanya???
"Itu istri saya bi. Dia tidak bisa sarapan di luar." jawab Lucas.
"Oh istrinya.. Hah??? Istri? Kapan menikahnya? Kok bibi tidak tahu?" tanya Nani.
"Baru beberapa hari yang lalu. Sabtu nanti pesta pernikahan kita, datang ya bi." jawab Lucas.
"Oh begitu. Bibi tidak tahu, kirain adiknya. Masih muda sekali." balas Nani.
"Ya, bi. Tidak apa-apa." jawab Lucas.
Lucas menonton tv tapi pikirannya tidak ke tv. Melainkan ke persoalan Vanya yang terlihat seperti adiknya. Adik apanya? Jelas-jelas dia sudah kelihatan dewasa begitu.. Tapi masih tidak bisa dipungkiri umurnya yang baru 21 tahun. Tapi tetap saja, tidak pantas kalau dia menjadi adikku. batin Lucas.
Tidak lama setelah itu, Vanya keluar dari kamarnya dengan pakaian blazer dan bawahan yang warnanya senada yaitu putih. Ditambah dengan tas selempang yang menggantung di lengan kirinya dan sepatu heels runcing berukuran 5 cm.
Modis sekali gaya berpakaiannya. Aku menyukainya. Eh tunggu, yang aku suka adalah pakaiannya, bukan orangnya! batin Lucas.
"Lucas, apa kamu punya obat maag?" tanya Vanya.
"Tidak ada, bu. Pak Lucas tidak punya sakit maag sejak dulu." jawab Nani dari dapur.
"Kenapa? Kamu sakit maag?" tanya Lucas.
"Sepertinya maag ku kambuh." jawab Vanya.
"Bi tolong ambilkan madu dan segelas air hangat." kata Lucas.
Vanya duduk di sofa bersama Lucas.
"Sejak kapan?" tanya Lucas.
"Sejak di Jerman." jawab Vanya.
"Apa kamu telat makan?" tanya Lucas.
"Bukan telat, tetapi tidak. Aku melewatkan makan malam kemarin." jawab Vanya.
"Kenapa bisa tidak makan?" tanya Lucas.
"Kamu seperti menginterogasiku saja." jawab Vanya.
Nani datang membawakan madu dan segelas air hangat. Lucas menuangkan madu dari botol ke sendok.
"Minum ini." kata Lucas sambil memberikan sendok yang ada madu.
Alih-alih mengambil sendok tersebut, Vanya langsung meminum madu dengan sendok yang masih dipegang Lucas.
Lucas terkejut melihat Vanya barusan, padahal itu bukan apa-apa.
"Boleh aku minum air hangat itu?" tanya Vanya.
Segera Lucas menyerahkan gelas yang berisi air hangat dan kali ini Vanya mengambil dan meminum dengan tangannya sendiri. Lucas memberikan sendok ke Nani dan Nani kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
"Ada madu di pinggir bibirmu." kata Lucas.
Mendengar hal itu, Vanya segera mencari-cari letak madu tersebut dengan lidahnya. Lucas yang melihatnya segera menghapus madu dengan bibirnya.
"Manis." ucap Lucas.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca novel Laki-laki Pilihan Ayah. Berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan like, tips, komentar, dan vote. Jangan lupa tambahkan novel ini ke favorite Anda agar mengetahui up episode terbaru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 406 Episodes
Comments
Cherry
ihhh Lucas,mau ya pk cium segala 🤣🤣
2021-08-06
0
Intan Putri
morning kiss
2021-04-27
1
Vera😘uziezi❤️💋
🤣 🤣 🤣 🤣
2021-04-21
1