"Baiklah, pria angkuh. Ke mana tujuan kita sekarang?" tanya Vanya.
"Rumahku." jawab Lucas.
"Baiklah. Hah? Apa? Rumahmu?" protes Vanya.
"Kenapa? Kita sudah sah." ucap Lucas seraya memperlihatkan buku nikahnya.
Lucas mengajakku ke rumahnya! Ah tidak!!!!!!
Apa yang akan dia lakukan padaku? Apa yang harus aku lakukan? Aku harus bagaimana????? batin Vanya.
"Tapi untuk apa?" Vanya masih menolak.
"Ada yang harus kita bicarakan." jawab Lucas.
"Tapi kenapa harus di rumahmu?" tanya Vanya.
"Kamu akan tahu sendiri, Vanya. Cepat masuk." jawab Lucas sambil membukakan pintu mobil untuk Vanya.
Laki-laki ini tidak akan berbuat macam-macam kan? Ya, tentu. Paman Edward sudah bilang semalam kalau dia tidak akan membiarkan siapapun menyakitiku termasuk laki-laki gila ini.
Tapi tapi tapi, kita kan sudah sah buku nikahnya sudah ada, ah bagaimana ini??? Lagipula tujuan pernikahan untuk memberikan anak untuk laki-laki ini, arghhh haruskah secepat ini??? batin Vanya.
Selama di dalam mobil, Vanya tidak henti-hentinya berpikir tentang apa yang akan dilakukan laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya. Meski sudah sah, Vanya tidak menganggap pernikahan ini adalah pernikahan sungguhan. Pernikahan yang memiliki tujuan lain dan ketika tujuan itu sudah dicapai maka pernikahan itu akan berakhir.
"Kamu tinggal sendiri?" tanya Vanya ketika sudah sampai di rumah Lucas.
"Ya." jawab Lucas.
"Di rumah yang sebesar ini?" tanya Vanya.
"Ya." jawab Lucas.
Lucas menduduki kursi di meja makan dengan secarik kertas dan bolpoin lalu diikuti oleh Vanya.
"Tulis apa yang boleh dan tidak boleh dalam pernikahan kita." kata Lucas.
Apakah ini yang dimaksud perjanjian pernikahan? Aku yang menulisnya sendiri? Ah senangnya. Ternyata laki-laki angkuh ini bukan seorang diktaktor kejam. batin Vanya.
Tidak tidur dalam 1 kamar.
Tidak boleh ada kontak fisik (bersentuhan).
Pernikahan bersifat bebas. Tidak ada larangan atau peraturan dalam pernikahan.
Masa pernikahan sesuai keinginan istri.
"Sudah, kurasa." kata Vanya sambil memberikan kertasnya.
Tak.. tak.. tak.. Lucas mencoret apa yang sudah ditulis oleh Vanya. Coretan terdengar 3 kali, jadi ada 3 yang dicoret Lucas.
T̶i̶d̶a̶k̶ ̶t̶i̶d̶u̶r̶ ̶d̶a̶l̶a̶m̶ ̶1̶ ̶k̶a̶m̶a̶r̶.̶
̶T̶i̶d̶a̶k̶ ̶b̶o̶l̶e̶h̶ a̶d̶a̶ ̶ k̶o̶n̶t̶a̶k̶ ̶f̶i̶s̶i̶k̶ ̶(̶b̶e̶r̶s̶e̶n̶t̶u̶h̶a̶n̶)̶.̶
Pernikahan bersifat bebas. Tidak ada larangan atau peraturan dalam pernikahan.
M̶a̶s̶a̶ ̶p̶e̶r̶n̶i̶k̶a̶h̶a̶n̶ ̶s̶e̶s̶u̶a̶i̶ ̶k̶e̶i̶n̶g̶i̶n̶a̶n̶ ̶i̶s̶t̶r̶i̶.̶
"Hei, kenapa dicoret?" protes Vanya.
"Tidak tidur dalam 1 kamar, tidak boleh ada kontak fisik, lalu bagaimana aku bisa mendapatkan pewarisku?" balas Lucas.
Vanya menelan ludah.
"Baiklah, tapi tidak tidur dalam 1 kamar." jawab Vanya.
"Kalau begitu kita tidur di ruang keluarga saja." balas Lucas.
Laki-laki gila! Berhenti mempermainkanku! batin Vanya.
Vanya menarik napas, mencoba mengendalikan amarahnya.
"Tidak tidur bersama, Lucas. Itu maksudku." kata Vanya.
"Tapi kamu harus menjamin kebutuhan seksualku terpenuhi." balas Lucas.
Mata Vanya kian melotot tajam ke arah Lucas. Sepertinya amarah yang sedang dia tahan ingin dia luapkan sekarang.
"Bukankah itu kewajiban seorang istri?" sambung Lucas sebelum Vanya meluap-luap.
Baiklah, Vanya. Benar. Itu benar. Yang dikatakan Lucas itu benar. Tapi apa dirimu sudah siap? batin Vanya.
"Aku sudah memberikanmu kesempatan untuk berhenti. Tetapi kamu bilang 'Sudahlah, aku benar-benar yakin dengan keputusanku.' Jadi kupikir kamu juga sudah memikirkan hal ini." kata Lucas.
"Baiklah. Pewaris tidak perlu banyak-banyak kan? Satu saja cukup. Nanti seperti kamu dan adik-adikmu, lagi." ucap Vanya.
"Ya, benar. Lalu yang keempat. Masa pernikahan sesuai keinginan istri. Masa pernikahan boleh berakhir kalau aku sudah mendapatkan pewarisku. Hmm, karena aku belum mengenalmu jadi aku coret saja. Aku takut kamu akan mengakhiri pernikahan sebelum aku mendapatkan pewarisku." kata Lucas.
"Ya terserah apa katamu saja." ucap Vanya.
"Aku ingin menambahkan." kata Lucas lalu menulis.
Pernikahan bersifat bebas. Tidak ada larangan atau peraturan dalam pernikahan. Tidak berhak mengetahui atau mencampuri urusan satu sama lain.
Istri harus memastikan kebutuhan seksual suami terpenuhi.
Istri harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, begitu juga suami.
Selama pernikahan berlangsung, kedua pihak harus bertingkah laku sebagai pasangan di depan umum dan tidak melakukan hal yang dapat merugikan satu sama lain.
Perjanjian ini berakhir ketika pernikahan berakhir. Pernikahan berakhir ketika salah satu pihak mengakhiri pernikahan dengan syarat kehadiran pewaris GH Group.
"Selesai." kata Lucas.
Bulu kuduk Vanya berdiri ketika membaca perjanjian yang baru ditulis Lucas. Sembari Vanya membaca isi perjanjian, Lucas mengambil tinta stempel sidik jari.
"Tanda tangan dengan bolpoin, lalu berikan cap sidik jarimu di atas kertas itu." kata Lucas.
"Huh, sebegitu tidak percayanya kamu padaku?" ucap Vanya lalu menandatangani perjanjian itu.
"Bukan tidak percaya. Agar terlihat lebih sah saja." balas Lucas.
"Sekarang giliranmu." kata Vanya.
"Setelah ini, apa yang akan kita lakukan?" sambung Vanya.
"Mencari cincin pernikahan dulu atau kamu pindah ke sini dulu?" tanya Lucas.
"Aku pilih pindah ke sini dulu." jawab Vanya.
"Tetapi aku memilih mencari cincin dulu. Kita sudah sah tetapi jari manis kita masih kosong. Jadi kita harus segera mengisi jari manis kita." kata Lucas.
"Lalu kenapa kamu bertanya padaku???" tanya Vanya.
"Karena ingin tahu apa jawabanmu." jawab Lucas.
"Kalau tidak begini saja, kamu mencari cincin, aku mengemas barang-barangku." kata Vanya.
"Bagaimana aku tahu kamu suka cincin seperti apa. Aku juga tidak tahu ukuran jari manismu. Lagi pula kita berdua sama-sama pengangguran hari ini, waktu kita masih banyak." balas Lucas.
"Baiklah baiklah." kata Vanya.
Sepertinya aku harus menarik ucapanku yang bilang bahwa laki-laki gila ini bukan diktaktor kejam. Selain gila, dia juga seorang diktaktor! Tetapi tidak kejam. batin Vanya.
———
DI TOKO PERHIASAN
"Yang ini saja." kata Vanya.
"Yakin? Tidak mau melihat-lihat yang lain?" tanya Lucas.
"Hey, untuk apa melihat-lihat lagi, pernikahan ini kan pernikahan di atas kertas." bisik Vanya.
"Baiklah." kata Lucas.
"Cepat ukur jarimu." ucap Vanya.
Kenapa harus cepat-cepat sih? Wanita ini daritadi bertingkah seperti dikejar oleh waktu. batin Lucas.
Setelah jari manis mereka sudah terisi oleh cincin, Lucas membawa Vanya ke rumah ayahnya untuk mengemas barang-barang Vanya yang akan dipindahkan ke rumah Lucas.
"Hey, sepertinya ini akan memakan waktu yang lama. Kamu pulang saja. Jemput aku lagi nanti 7 malam." kata Vanya.
"Sekarang jam 12 siang. Kamu membutuhkan waktu 7 jam untuk mengemas barang-barangmu?" tanya Lucas.
"Aku juga harus bicara dengan ayahku. Jam 7 malam kita baru selesai makan malam. Sudah jangan banyak bicara, ikuti saja, ok?" kata Vanya.
"Baiklah." jawab Lucas.
Vanya pun turun dari mobil dan membuka pintu rumahnya. Setelah melihat mobil Lucas meninggalkan rumahnya, Vanya bergegas keluar untuk menemui Jalu.
"Jalu, tolong antarkan aku ke suatu tempat." ucap Vanya.
"Baik, non. Tapi ke mana, non?" tanya Jalu.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca novel Laki-laki Pilihan Ayah. Berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan like, tips, komentar, dan vote. Jangan lupa tambahkan novel ini ke favorite Anda agar mengetahui up episode terbaru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 406 Episodes
Comments
Tommy Pissa
🫣
2023-06-30
0
Vera😘uziezi❤️💋
Penasaran
2021-04-21
0
Fitria E. Yusuf
garing amat nih cerita, kaku amat gaya penulisannya
2021-03-24
3