"Hey, apa itu namanya lamaran? Tidak ada cincin, tidak di tempat yang romantis. Dokter, kudengar umurmu sudah 29 tahun, tapi kamu tidak tahu lamaran yang benar." balas Vanya.
"Aku tahu. Tentu saja aku tahu. Tapi untuk apa, ini semua kan hanya sebuah perjodohan." kata Lucas.
Vanya terdiam. Hatinya barusan merasakan perih seperti ditusuk dengan pisau tajam. Sakit sekali.
"Sudah makannya? Kamu masih harus menjelaskan penyakit ayahku padaku." ucap Vanya.
"Terima kasih. Dua hari ini makan siangku sangat enak. Kamu yang memasaknya?" kata Lucas.
"Bukan. Bi Minah, ART ku." jawab Vanya.
"Mungkin akan lebih enak kalau kamu yang memasaknya." balas Lucas.
"Jangan mimpi. Aku masak untuk diriku sendiri saja jarang, apalagi untuk orang lain." kata Vanya.
"Ayo kita ke ruanganku." ajak Lucas.
Sesampainya di ruangan Lucas, dokter dingin itu sibuk mencari berkas rekam medis ayahnya dari awal terkena asma. Sembari menunggu Lucas, Vanya membombardir Lucas dengan beberapa pertanyaan.
"Lucas, sudah berapa lama menjadi dokter?" tanya Vanya.
"Dari seusia kamu." jawab Lucas.
"Tuh kan, semua orang mengawali karirnya di umur 21 tahun. Kenapa aku malah harus menikah?" ucap Vanya dengan jengkel.
"Memang kalau menikah kamu tidak bisa mengawali karirmu?" tanya Lucas.
"Kenapa sampai sekarang kamu belum menikah? Sstt.. tidak usah dijawab. Aku tahu jawabannya. Itu karena karir bukan? Kamu ingin membuktikan kalau kamu pantas menjadi pewaris GH Group." jawab Vanya.
"Ya, aku agak kasihan denganmu yang tidak bisa berkarir malah harus menikah. Tapi mau bagaimana lagi?" kata Lucas dengan dingin.
"Mau bagaimana lagi? Barusan kamu bilang apa? Mau bagaimana lagi? Kenapa kamu tidak mencari wanita lain saja sih?" protes Vanya.
"Ini rekam medis ayahmu pertama kali saat dia datang ke sini yaitu 2 tahun yang lalu. Dia mengeluhkan batuk sudah 2 minggu disertai dadanya yang sakit. Aku dan ayahku melakukan pemeriksaan rontgen tapi tidak menemukan apapun.
Kami tidak langsung mendiagnosis ayahmu terkena asma sebelum ayahmu menceritakan rutinitasnya. Dia bilang saat lari pagi, dia lebih cepat kehabisan napas dari biasanya, saat bermain golf dia bisa ngos-ngosan padahal biasanya tidak.
Sejak itu aku dan ayahku memberikan obat asma. Setelah 2 hari minum obatnya dan tidak melakukan olahraga, ayahmu bilang dia merasa jauh lebih baik.
Tetapi 2 minggu berikutnya ayahmu datang lagi karena batuknya dan mengatakan dia lebih sering sesak napas. Aku dan ayahku memberikan inhaler
2 tahun berhasil dilalui oleh ayahmu dengan obat dan inhaler."
Lucas menjelaskan penyakit ayah Vanya dengan jelas dan lengkap. Tidak banyak yang bisa Vanya katakan. Dia lebih banyak terdiam.
"A.. apa ayahku bisa sembuh dan tidak membutuhkan inhaler lagi?" tanya Vanya.
"Asma tidak bisa disembuhkan. Asma bisa kambuh kapan saja." jawab Lucas.
"Tapi kamu tidak perlu khawatir. Asma masih bisa dikendalikan dengan obat dan inhaler. Lagipula, sejak ayahmu memakai inhaler, keadaannya menjadi lebih baik. Batuknya sudah tidak parah dan jarang merasakan sesak napas." sambung Lucas.
"Lalu kenapa kamu kemarin-kemarin bilang seolah-olah ayah bisa meninggal kapan saja?" tanya Vanya.
"Ya, Vanya. Sesak napas ayahmu bisa datang kapan saja dan jika telat mengambil inhaler itu akan menyebabkan kematian, Vanya." jawab Lucas.
"Sebaiknya aku tidak menikah supaya aku bisa berada di samping ayah. Bukankah begitu dokter Lucas?" tanya Vanya.
"Ketahuilah, Vanya. Ada batasan untuk bertanya, ada hal-hal yang tidak bisa kamu ketahui. Ada juga hal-hal yang harus kamu cari tahu sendiri." jawab Lucas.
"Baiklah. Aku berhenti bertanya. Aku akan pulang. Lanjutkan pekerjaanmu." pamit Vanya.
"Akan kuantar kamu pulang." kata Lucas.
"Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri." tangkas Vanya lalu segera keluar dari ruangan Lucas.
Vanya kembali ke rumah dengan raut wajah yang bertolak belakang dari pagi tadi. Sulit baginya untuk ceria seperti tadi pagi.
"Vanya, sudah pulang?" tanya ayah.
"Ya, ayah.." jawab Vanya lalu berjalan ke kamarnya.
Di kamar, Vanya merenungkan ucapan Lucas tadi.
Ada batasan untuk bertanya, ada hal-hal yang tidak bisa kamu ketahui. Ada juga hal-hal yang harus kamu cari tahu sendiri.
Kenapa harus begitu? Apa yang tidak bisa aku ketahui? Kenapa dia harus menyembunyikannya padaku? Perasaanku tidak enak. Pernikahan nanti pasti akan menyulitkanku. batin Vanya.
Setelah otaknya lelah karena memikirkan ucapan Lucas, Vanya pun tertidur. Dia tertidur sampai melewatkan makan malam. Bi Minah sudah berusaha memanggil tetapi Vanya tertidur terlalu pulas sehingga tidak terbangun.
Jam 8 malam Bi Minah mencoba untuk membangunkan Vanya karena perutnya belum diisi sejak siang tadi.
"Non.. bangun non.. non belum makan malam loh.." kata Minah sambil menggoyang-goyangkan tubuh Vanya.
"Hoamm.. jam berapa sekarang bi?" kata Vanya.
"Jam 8 malam non. Turun yuk makan.. non belum makan dari pulang tadi." ucap Minah.
"Iya bi." Vanya pun turun ke meja makan sedangkan Minah menghangatkan kembali makanan untuk Vanya.
"Ayah sudah makan kan bi?" tanya Vanya.
"Sudah non." jawab Minah.
"Kenapa non? Tidak enak badan?" sambung Minah.
"Tidak kok bi. Tadi agak capek saja karena bolak-balik rumah sakit." jawab Vanya.
"Loh memangnya tidak bareng Jalu?" tanya Minah.
"Perginya diantar Jalu. Pulangnya sendiri." jawab Vanya.
"Loh kok gitu non. Kenapa tidak bareng Jalu saja non?" kata Minah.
"Sudah biasa jalan kaki di Jerman bi. Masih aneh rasanya kalau kemana-mana naik mobil." ucap Vanya.
"Oh gitu non. Ini makanannya. Dihabiskan ya non. Saya tinggal dulu ya non." kata Minah.
"Terima kasih ya bi."
Vanya pun menyantap makan malamnya yang terlambat itu. Untungnya, masakan bi Minah masih enak walaupun sudah dingin dan dipanaskan lagi.
Kalau makan masakan bi Minah selalu keinget mama karena mereka sering masak bersama dulu. Kangen mama.. batin Vanya.
Vanya menyantap makanannya sambil menahan tangis. Air matanya sudah berkumpul di matanya.
Tiba-tiba, bi Minah menghampiri dirinya.
"Non.. anu.. maaf mengganggu makan malam non.. tapi ada tamu yang datang non.. mereka lagi di ruang tamu non.." ucap bi Minah.
"Siapa?" tanya Vanya.
"Calon suami sama calon mertua non." jawab Minah.
"Oh. Suruh mereka tunggu ya bi. Panggil ayah juga ya bi. Saya mau ke kamar sebentar." kata Vanya.
"Iya baik non."
Vanya bergegas ke kamarnya dan Minah ke kamar Hary. Vanya membersihkan mukanya dan mengganti pakaian lalu turun menemui tamunya.
"Eh kalian.. ada apa kemari malam-malam begini?" tanya Hary.
"Kami sudah menyempatkan waktu tetapi tadi Lucas harus mengoperasi pasien dan jalanan macet jadinya kami tiba jam segini. Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan dan sepertinya ini tidak bisa ditunda lagi." jawab Edward selaku ayah Lucas.
"Oh ya, apa itu?" tanya Hary.
"Lucas bilang padaku bahwa Vanya sudah mau menerima perjodohan ini. Sepertinya kita harus bergerak ke langkah selanjutnya." jawab Edward.
"Oh ya.. benarkah?" tanya Hary.
"Iya, ayah." sahut Vanya yang mengejutkan 3 orang laki-laki itu.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca novel Laki-laki Pilihan Ayah. Berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan like, tips, komentar, dan vote. Jangan lupa tambahkan novel ini ke favorite Anda agar mengetahui up episode terbaru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 406 Episodes
Comments
Tommy Pissa
🤨🤨🤨
2023-06-28
0
Vera😘uziezi❤️💋
Dingin vanya
2021-04-21
0
yousi yosua
penasaran lanjutan nya
2021-04-07
0