Vanya pun turun dari mobil dan membuka pintu rumahnya. Setelah melihat mobil Lucas meninggalkan rumahnya, Vanya bergegas keluar untuk menemui Jalu.
"Jalu, tolong antarkan aku ke suatu tempat." ucap Vanya.
"Baik, non. Tapi ke mana, non?" tanya Jalu.
———
"Halo, mama. Maaf aku jarang mengunjungi mama. Bagaimana mama di sana? Di sini aku baik-baik saja. Apalagi di Jerman. Mama tahu, aku sekarang sudah berhasil menyelesaikan studiku. Aku bahkan meraih gelar cumlaude. Mama pasti bangga denganku kan?
Selepas kepergian mama, aku selalu berusaha untuk baik-baik saja namun ternyata sulit. Begitu juga dengan ayah. Ayah mungkin terlihat baik-baik saja tapi ternyata tidak. Walaupun hubungan kita tidak baik, tapi aku tahu ayah tidak baik-baik saja. Kita merindukan mama.
Oh ya, ma. Hari ini aku sudah resmi menikah. Tapi tidak dengan laki-laki yang aku cintai, melainkan dengan pilihan ayah.
Tidak tahu pasti kenapa ayah menyuruhku menikah tetapi sepertinya ayah terganggu dengan kehadiranku. Aku tidak ada alasan untuk menolaknya. Aku menerimanya dengan harapan hubunganku dengan ayah segera membaik.
Dampingi aku dan lindungi aku dari sana ya, ma. Ok? Maaf tidak bisa berlama-lama tapi aku janji aku akan sering mengunjungi mama. Sampai jumpa, mama. Aku sayang mama."
Setelah mencurahkan semua isi hatinya di depan makam mamanya, Vanya memutuskan untuk pulang. Masih ada hal yang harus dia lakukan.
"Sudah non?" tanya Jalu.
"Iya, Lu. Ayo kita pulang sekarang." jawab Vanya.
———
DI KEDIAMAN HARY
"Kamu habis darimana Vanya?" tanya Hary.
"Makam mama." jawab Vanya.
"Baru sekarang kamu mengunjunginya? Di mana hati nuranimu?" tanya Hary.
"Aku sedang tidak ingin berdebat dengan ayah. Aku dan Lucas sudah mendaftarkan pernikahan kita. Dia memintaku untuk tinggal bersama di rumahnya." jawab Vanya lalu meninggalkan Hary.
Vanya mulai mengemasi semua barang-barang yang harus dia bawa. Vanya memang tidak ditakdirkan untuk tinggal di rumah itu. Saat berusia 4 tahun, Vanya sudah tinggal bersama neneknya karena orangtuanya bekerja dan tidak bisa mengurusnya. Setelah 3 tahun, Vanya kembali ke rumahnya. Setahun kemudian, Vanya pindah ke asrama sekolah dari usia 8 tahun sampai 15 tahun. Setelah itu Vanya disekolahkan di Jerman dan melanjutkan studinya di sana. Hingga sekarang, baru beberapa hari dia tinggal di rumah itu, kini dia harus meninggalkan tempat itu lagi.
Ini akan menjadi yang terakhir kalinya aku pergi dari sini. Karena aku akan pergi dan tidak akan kembali lagi ke rumah ini. batin Vanya.
Apalagi ya yang harus kubawa? Jangan sampai ada yang ketinggalan dan mengharuskan aku untuk datang lagi ke sini.. gumam Vanya.
Setelah beberapa jam Vanya menyiapkan barang yang akan dibawa akhirnya selesai juga. Vanya keluar dengan membawa 2 koper besar.
"Wah non.. sudah mau pergi lagi ya?" kata Minah.
"Iya bi. Makan malamnya sudah jadi?" tanya Vanya.
"Sudah non. Mau makan sekarang?" tanya Minah.
"Iya. Ayah di mana?" tanya Vanya.
"Di kamarnya non." jawab Minah.
Setelah memindahkan kopernya ke lantai bawah, Vanya berjalan ke kamar ayahnya.
Tok.. tok.. tok.. "Makan malam sudah siap, ayah." kata Vanya.
"Ya, nanti ayah akan turun." jawab ayah.
Vanya pun meninggalkan kamar ayahnya dan bergerak meja makan. Vanya menunggu ayahnya di meja makan tetapi ayahnya tidak kunjung turun sekitar 30 menit lamanya.
"Apa tuan belum lapar yah non? Tapi biasanya jam segini tuan sudah makan." kata Minah.
Sebegitukah ayah tidak senang padaku? Padahal ini menjadi makan malam terakhir kita tetapi ayah memilih untuk berdiam di kamarnya.
Baiklah, Vanya. Sudah cukup kamu menunggu. batin Vanya.
Vanya mulai mengambil sendok makannya.
Cklek. Rupanya ayah Vanya baru keluar dari kamarnya dan hendak turun.
"Kenapa belum makan?" tanya Hary.
"Nunggu ayah." jawab Vanya.
"Kenapa harus menunggu ayah?" tanya Hary.
"Ayah tidak lihat 2 koper itu? Aku akan pergi dari rumah ini dan malam ini menjadi makan malam terakhir kita." jawab Vanya.
"Baiklah, ayo kita makan." kata Hary.
Makan malam itu diselimuti keheningan. Padahal ini merupakan makan malam terakhir mereka. Sampai makanan habis pun tidak ada satupun dari mereka yang memulai percakapan. Setelah selesai makan, ayah Vanya hendak meninggalkan meja makan beserta putrinya.
"Lucas akan datang 5 menit lagi. Bisakah ayah tidak ke kamar?" ucap Vanya.
"Ayah akan ke ruang keluarga." jawab Hary.
Ting.. tong..
"Biar saya yang buka saja non." kata Minah ketika terdengar suara bel.
Vanya bersiap diri karena yang datang pasti tidak lain adalah Lucas.
"Malam, om." sapa Lucas.
"Eh Lucas. Kok masih manggil om? Kalian kan sudah resmi menikah." jawab Hary.
"Oh iya, ayah. Aku mau menjemput Vanya untuk tinggal bersamaku. Bolehkah?" tanya Lucas.
"Ah, tentu saja boleh, Lucas. Tolong jaga putriku dengan baik." jawab Hary.
"Tidak usah khawatir, ayah." kata Lucas.
Kenapa aku harus menyaksikan pertunjukkan yang menggelikan ini? batin Vanya.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Jaga kesehatan ayah dengan baik. Aku akan sering mengunjungi ayah." kata Vanya.
"Tidak usah khawatirkan ayah. Ayah akan baik-baik saja. Semoga kalian hidup bahagia." kata Hary.
Vanya berinisiatif untuk memeluk ayahnya terlebih dahulu. Karena tidak mungkin ayahnya itu akan memeluk dirinya.
"Aku pergi." ucap Vanya lalu berjalan ke luar dengan 2 koper besarnya.
"Berikan padaku." kata Lucas lalu mengambil 2 koper besar Vanya dari genggamannya.
"Hati-hati." ucap ayah sebelum Vanya masuk ke dalam mobil.
Setelah Lucas menutupkan pintu mobil untuk Vanya dan ingin masuk ke dalam mobil, Hary memanggilnya.
"Lucas." panggilnya.
"Ya ayah?" jawab Lucas.
"Aku tahu pernikahan kalian bukan sungguhan. Tetapi, tolong perlakukan Vanya dengan baik. Anggaplah ini balasan karena dia sudah menyelamatkan posisimu." kata Hary.
"Ya, ayah. Ayah tidak perlu khawatir akan hal itu." jawab Lucas.
"Terima kasih, Lucas. Ayah titip Vanya padamu." kata Hary.
"Kalau begitu, kami pergi sekarang. Jaga kesehatan ayah, jangan sampai ayah jatuh sakit karena itu akan membuat Vanya khawatir." jawab Lucas.
Hary mengangguk. "Pergilah.."
Lucas masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobilnya.
"Bicara apa dengan ayah tadi?" tanya Vanya.
"Perjanjian pertama pernikahan bersifat bebas. Tidak ada larangan atau peraturan dalam pernikahan. Tidak berhak mengetahui atau mencampuri urusan satu sama lain. Kamu lupa?" jawab Lucas.
"Kamu tadi bicara dengan ayahku. Tentu itu akan menjadi urusanku juga." balas Vanya.
"Sedekat itukah hubunganmu dengan ayahmu? Sampai kamu berhak tahu apa yang kita bicarakan?" tanya Lucas.
"Ya, ya. Terserahmu saja." jawab Vanya.
"Lebih baik persiapkan malam nanti." ucap Lucas.
Hah????? Dasar laki-laki gila!!! Bisa-bisanya dia bilang seperti itu?? Apa yang harus lakukan untuk malam nanti? Tidak tidak. Tidak mau. Aku tidak mau!!! batin Vanya.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca novel Laki-laki Pilihan Ayah. Berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan like, tips, komentar, dan vote. Jangan lupa tambahkan novel ini ke favorite Anda agar mengetahui up episode terbaru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 406 Episodes
Comments
Tommy Pissa
🤨
2023-07-01
0
Vera😘uziezi❤️💋
Penasaran banget
2021-04-21
0
Vina Rodiana
terlalu dipersingkat ceritanya thor, padahal alurnya bagus banget😁
2021-04-12
0