"Kamu menganggap pernikahan ini yang pertama dan terakhirnya di dalam hidupmu? Bukannya kamu tahu pernikahan ini hanya sebatas.." kata Lucas terpotong.
"Aku tahu, aku tahu maksudmu. Tapi yang kumaksud sekali dalam seumur hidup adalah berada di tempat yang banyak orang. Karena setelah ini aku akan menghindari tempat yang banyak orang." ucap Vanya.
"Ohh. Baguslah. Sudah seharusnya seperti itu." jawab Lucas.
———
"Jangan lupa telepon aku kalau sudah mau pulang." ucap Lucas ketika sudah sampai di depan gedung firma.
"Iya." kata Vanya lalu hendak membuka pintu mobil.
"Eeehh.." panggil Lucas.
"Apa lagi?" tanya Vanya
"Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu padaku gitu?" tanya Lucas.
"Tidak ada tuh." jawab Vanya.
"Tidak ada ya? Baiklah. Sana, turun." balas Lucas.
"Dasar aneh." ucap Vanya lalu turun dari mobil dan memasuki gedung.
"Tidak ada yang ingin dia sampaikan? Hahahaha dia pikir aku ini orang asing? Aku ini suaminya! Seharusnya dia bilang 'hati-hati ya di jalan' atau we 'jangan ngebut ya' atau juga 'kabari aku kalau sudah sampai'. Dia apaan? Langsung turun begitu saja!! Bahkan orang asing saja jika diberi tumpangan dia mengucapkan terima kasih!!" oceh Lucas.
———
DI RUMAH SAKIT GLORY HOLY
"Ini laporan pemeriksaan kondisi pasien." kata perawat.
"Baik. Segera siapkan ruangan operasinya." balas Lucas.
"Baik, dok." Perawat keluar dari ruangan Lucas.
Ting.. bunyi notifikasi pesan masuk ke ponsel Lucas.
Vanya Istriku.
Balas pesanku kalau sudah sampai.
Disaat yang bersamaan,
Triririring.. bunyi panggilan masuk ke telepon kantor Lucas.
"Vanya dulu atau telepon? Lucas, berpikirlah. Kalau kamu abaikan Vanya dia juga tidak akan mengirimimu pesan lagi. Tapi kalau telepon aku abaikan pasti dia akan berbunyi lagi. Baiklah, balas Vanya dulu." oceh Lucas.
Lucas.
Sudah sampai. Kenapa?
Lucas menatap tajam ponselnya. "Kenapa Vanya belum balas? Oh mungkin sedang membuka kunci ponsel. Eh iya kan Vanya tidak pakai kunci. Tapi kenapa dia tidak balas?" oceh Lucas.
Tririring..
"Dari mana saja kamu? Cepat ke ruangan papa sekarang." kata Edward di telepon.
"Ya, pa. Aku ke sana sekarang." jawab Lucas.
Sebaiknya aku harus membawa ponsel supaya kalau Vanya balas, aku langsung membalasnya lagi. gumam Lucas.
———
DI RUANGAN PAPA LUCAS
"Bagaimana persiapan pesta pernikahan kalian?" tanya Edward.
"Sudah siap tinggal menunggu hari H." jawab Lucas. Lucas mengecek ponselnya tetapi tidak ada notifikasi yang masuk.
Untuk pertama kalinya Lucas mematikan mode silent di ponselnya.
"Bagaimana dengan menantu papa?" tanya Edward.
"Baik. Dia tidak kesulitan dengan pesta ini." jawab Lucas. Lucas mengecek ponselnya untuk kedua kalinya dan hasilnya masih sama. Tidak ada notifikasi pesan masuk.
Padahal selama ini ponsel Lucas memang tidak pernah ada notifikasi pesan yang masuk. Tetapi kali ini Lucas ingin marah semarah-marahnya jika melihat di ponselnya kosong tidak ada notifikasi.
"Kenapa dia tidak datang ke sini, mengunjungi papa. Sebelum menikah dia sering datang ke sini membawakan makan siang untukmu." kata Edward.
"Masakannya tidak enak, tawar seperti makanan di rumah sakit. Jadi aku menyuruhnya tidak usah masak lagi." jawab Lucas. Lucas mengecek ponselnya untuk yang ketiga kalinya. Kenapa dia tidak membalasku? Dia sudah mengirim pesan duluan tetapi tidak membalas lagi. Aku seperti orang yang sedang dicampakkan oleh kekasih. batin Lucas.
"Lucas? Kenapa melihat ponsel terus? Kamu sudah tidak berhubungan dengan dokter anestesi itu lagi kan?" tanya Edward mencurigai.
"Tidak. Aku harus mengoperasi pasien. Aku pergi dulu." Lucas undur diri dari ruangan Edward.
Vanya!! Akan kuberi waktu 2 jam sampai operasiku selesai. Awas saja kamu belum membalasku!! batin Lucas.
Lucas mengesampingkan sejenak Vanya dari pikirannya selama di dalam ruang operasi. Selama 2 jam, berkutat dengan organ tubuh pasien, akhirnya Lucas berhasil mengoperasi dengan tangannya yang mahir.
"Operasi selesai. Pindahkan pasien ke ruang perawatan." ucap Lucas.
"Baik, dok." balas perawat.
Lucas segera meninggalkan ruang operasi dan berlari menuju ruang kerjanya. Setelah keluar dari ruang operasi, pikiran Lucas hanya tertuju pada Vanya. Apa Vanya sudah balas? Dia balas apa?
Lucas ingin segera sampai di ruangannya. Namun seorang perawat memanggil.
"Dokter Lucas." panggil perawat.
"Ya, ada apa?" kata Lucas.
"Ada pasien yang mengalami pendarahan di dalam perut. Ini hasil pemeriksaan USG dan harus segera dioperasi." kata perawat sambil menyerahkan selembar kertas.
"Siapa dokter yang bertangggung jawab?" tanya Lucas.
"Dokter Yun. Tetapi dia menghubungi departemen Anda ingin meminta bantuan." jawab perawat.
"Baiklah. Persiapkan ruang operasinya." kata Lucas.
"Baik, dok."
Sudah menjadi kebiasaan Lucas ketika harus bolak-balik ruang operasi. Bahkan kebiasaan itu sudah melekat dan mendarah daging di tubuh Lucas. Tetapi kali ini berbeda. Dia tidak ingin melakukan banyak operasi.
Lucas kembali ke ruangannya dan mendapati ponselnya masih kosong tanpa notifikasi. Ada apa dengan ponsel ini? Kenapa belum ada balasan dari Vanya? Apa karena jarang digunakan makanya jadi rusak dan pesan Vanya belum masuk? Sepertinya aku harus mengganti yang baru. Baiklah, setelah operasi nanti aku akan membeli ponsel yang baru. batin Lucas.
Lucas segera bersiap diri menuju ruang operasi yang kedua kalinya. Di dalam pikirannya masih menyimpan kekesalan terhadap ponselnya yang kini sudah dianggap rusak.
"Baiklah, sampai di sini. Sisanya akan dilanjutkan dokter Yun." kata Lucas.
"Terima kasih dokter Lucas."
Lucas bersyukur karena diberikan tangan yang mahir dalam membedah pasien. Dengan tangan itu, Lucas bisa dengan cepat menyelesaikan operasi dan ingin membeli ponsel baru.
"Apa saya ada operasi lagi?" tanya Lucas kepada perawat yang bertugas di departemennya.
"Tidak ada untuk hari ini." jawab perawat.
"Baiklah. Saya mau keluar sebentar." kata Lucas.
Dengan hati yang lega, Lucas mengendarakan mobilnya menuju toko elektronik untuk membeli ponsel yang baru. Ketika sudah mendapatkan ponsel barunya, Lucas memasukkan SIM card nomor yang lama tetapi betapa terkejutnya Lucas saat mendapati Vanya yang masih belum membalasnya.
Aku sudah mengoperasi 2 orang tetapi manusia ini masih belum membalas pesanku? Apa maunya dia ini sebenarnya? Kenapa harus mengirim pesan kalau akhirnya dia mengabaikanku! Tidak pernah sekalipun di dalam hidupku pesanku diabaikan. Yang ada malah aku yang mengabaikan pesan orang. Tidak bisa dibiarkan ini. Lucas Anderson tidak boleh diabaikan oleh siapapun itu! OK fine, Vanya. Habis ini aku tidak akan membalas pesanmu lagi! batin Lucas.
Tingg...
"Hah? Siapa ini? Vanya? Dia baru membalasku rupanya.. aku tidak akan membalasnya. Tidak." ucap Lucas lalu masuk ke dalam mobilnya untuk kembali ke rumah sakit.
"Argh manusia ini. Kenapa harus terus muncul di pikiranku!" ucap Lucas lalu menepikan mobilnya. Lucas menepikan mobilnya hanya untuk melihat pesan Vanya.
"Hanya lihat, Lucas. Hanya lihat. Jangan sampai kamu balas." ucap Lucas memperingatkan dirinya sendiri.
Vanya Istriku.
Sudah makan siang?
Wah kalau pesan ini mana bisa tidak dibalas. Baiklah aku akan membalasnya. batin Lucas.
Lucas.
Belum. Mau makan siang bersama?
Vanya Istriku.
Tidak. Aku makan siang dengan rekan kerjaku.
What!!! Vanya!!!!!
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca novel Laki-laki Pilihan Ayah. Berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan like, tips, komentar, dan vote. Jangan lupa tambahkan novel ini ke favorite Anda agar mengetahui up episode terbaru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 406 Episodes
Comments
Shenaylin..😌😌
🤭
2023-11-06
0
Lee Fay
Jatuh cinta emg buat kita jd oon wkwkwkwk
2022-06-10
1
Nhya Naggh Sulungk
mulai asyik crtax
2021-10-31
0