"Lucas bilang padaku bahwa Vanya sudah mau menerima perjodohan ini. Sepertinya kita harus bergerak ke langkah selanjutnya." jawab Edward.
"Oh ya.. benarkah?" tanya Hary.
"Iya, ayah." sahut Vanya yang mengejutkan 3 orang laki-laki itu.
"Itu benar. Aku menerima perjodohan ini. Untuk langkah selanjutnya, biar aku dan Lucas yang menyiapkannya. Kalian tidak perlu khawatir, aku tidak akan berubah pikiran." sambung Vanya.
"Ah, terima kasih banyak Vanya. Om janji, tidak ada satu orang pun yang bisa menyakitimu, termasuk Lucas." kata Edward.
"Ahahaha itu terlalu berlebihan om." balas Vanya.
"Tidak kok kalau buat kamu. Baiklah, kalau begitu karena ini sudah malam, kita pamit pulang." kata Edward.
"Hati-hati om, Lucas." ucap Vanya.
"Keputusan yang tepat. Tidurlah, sudah malam." kata ayah Vanya selepas kepulangan Edward dan Lucas.
"Aku tidak pernah mengambil keputusan yang salah, kau tahu itu." balas Vanya lalu kembali ke kamarnya.
———
DI DALAM MOBIL LUCAS
"Cepat persiapkan pernikahan kalian sebelum Vanya berubah pikiran." kata Edward.
"Ya, papa tenang saja." jawab Lucas.
"Besok ambillah cuti sehari untuk mengurusnya. Jangan mempersulit Vanya." kata Edward.
"Ya, akan kulakukan." jawab Lucas.
———
DI RUMAH VANYA
"Dorrr!!" Vanya mengagetkan Minah yang sedang memasak di dapur.
"Eh ayam copot! Yaampun non bikin saya kaget saja." jerit bu Minah.
"Bibi, masak apa?" tanya Vanya.
"Sup non." jawab Minah.
"Loh itu bukannya sup untuk meredakan pengar (mabuk) ya bi? Siapa yang mabuk bi?" tanya Vanya.
"Tuan, non. Semalam tuan habis minum." jawab Minah.
Vanya membuka kulkas dan melihat ada beberapa sisa botol bir. Dirinya mematung seketika. Dia baru tahu kalau ayahnya memiliki stok minuman bir. Kecerahan di wajah Vanya seketika hilang bagaikan langit akan hujan. Padahal ini masih pagi.
"Bi.. apa ayah sering mabuk?" tanya Vanya.
"Jarang non. Setahun sekali kayaknya yah." jawab Minah.
Vanya segera berlari ke kamarnya.
"Lah si non malah naik lagi padahal sudah mau jadi ini supnya euy." ucap Minah.
Tidak lama kemudian Vanya kembali turun dengan pakaian yang berbeda, yang lebih rapi tentunya ditambah dengan polesan make up yang tipis.
Vanya berjalan dengan terburu-buru seperti seseorang yang akan tertinggal kereta. "Non, mau kemana non? Ini sarapannya sudah jadi non. Non Vanya?" teriak Minah.
Teriak Minah rupanya diabaikan oleh Vanya yang sedang terburu-buru ingin pergi ke suatu tempat. Vanya membuka pintu rumahnya dan.. muncullah sesosok laki-laki dingin alias Lucas di hadapannya.
"Eh pantesan buru-buru. Sudah ditungguin ternyata euy." ucap Minah.
Segera Vanya menarik tangan Lucas dan membawa Lucas jauh dari pintu rumahnya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Lucas.
"Mau menemuimu. Cepat buka mobilnya." jawab Vanya.
Lucas segera membuka mobilnya dan Vanya masuk ke dalam. Mau menemuiku? batin Lucas.
"Kita mau ke mana?" tanya Lucas.
"Bukannya seharusnya aku yang bertanya itu?" balas Vanya.
"Kamu menyuruhku membuka mobilku." kata Lucas.
"Kamu datang ke rumahku pasti ingin menemuiku. Ada apa? Memangnya kamu tidak ke rumah sakit?" balas Vanya.
"Aku mengambil cuti." kata Lucas.
"Cuti? Lalu? Sekarang kita akan ke mana?" tanya Vanya.
"Mendaftarkan pernikahan dulu atau ke butik dulu?" balas Lucas.
"Kamu gila?" ucap Vanya.
"Tidak." jawab Lucas.
"Kamu mengambil cuti hanya untuk melakukan ini? Sungguh, Lucas. Aku tidak mengerti denganmu." kata Vanya.
"Apa itu terlalu sulit untukmu? Papa bilang aku tidak boleh menyulitkanmu." ucap Lucas.
"Lucas. Dengarkan aku. Di depan sebelah kanan sana ada coffeeshop. Kita berhenti di sana." kata Vanya.
"Ah kamu belum sarapan ya? Baiklah kita sarapan dulu untuk hari yang panjang ini." ucap Lucas.
Vanya mengabaikan ucapan Lucas. Otaknya tidak bisa berhenti berpikir sampai kepalanya terasa mau pecah kenapa ayahnya meminum bir.
"Caramel macchiato nya 1." kata Vanya lalu membuka dompetnya.
"Argh aku lupa menukarkan euro ke rupiah." eluh Vanya.
Lucas tersenyum. "Tambah americano nya satu." ucap Lucas seraya memberikan kartu miliknya kepada kasir.
"Sepertinya kehidupanmu di Jerman menyenangkan ya sampai kamu lupa menukar mata uang." sindir Lucas.
"Bukan menyenangkan tetapi sangat menyenangkan." balas Vanya.
"Sayangnya itu di Jerman. Sekarang ini di Indonesia." kata Lucas.
"Aku akan membayar macchiato-ku. Tenang saja." ucap Vanya.
"Tidak usah sungkan denganku. Sebentar lagi kita akan menikah, kamu lupa?" kata Lucas.
"Lucas." panggil Vanya.
"Hm?" sahut Lucas.
"Ayah minum bir semalam." ucap Vanya.
Mata Lucas melotot tajam seketika mendengar ucapan Vanya.
"Kurasa sampai mabuk." sambung Vanya.
"Apa katamu?" kata Lucas.
Vanya terdiam. Air matanya sudah terkumpul banyak. Dia memalingkan wajahnya melihat ke arah luar jendela. Namun sayangnya, Lucas masih bisa melihat wajah Vanya dari pantulan kaca jendela.
"Bagaimana keadaan ayahmu?" tanya Lucas perlahan.
"Aku belum melihatnya." jawab Vanya.
"Bagaimana kalau dia tidak sadarkan diri?" tanya Lucas.
Vanya melihat ke arah Lucas dengan tatapan sinis.
"Itu yang aku khawatirkan." sambung Lucas.
"Sepertinya ini bukan pertama kalinya ayah minum minuman keras saat mengidap asma." kata Vanya.
"Apa maksudmu?" tanya Lucas.
"Setidaknya satu kali dalam setahun ayah melakukannya. Kata ART-ku." jawab Vanya.
"Kamu tidak mengetahuinya?" sambung Vanya.
"Tidak. Aku baru mengetahuinya darimu." jawab Lucas.
Vanya menarik napas untuk menyudahi ini semua.
"Mendaftarkan pernikahan atau kebutik dulu, aku memilih untuk mendaftarkan pernikahan. Mari lakukan sekarang." kata Vanya.
"Apa kamu yakin?" tanya Lucas.
"Ya." jawab Vanya.
"Kenapa? Kenapa tiba-tiba kamu menerima perjodohan ini?" tanya Lucas.
"Karena ini permintaan pertama dan terakhir ayahku." jawab Vanya.
———
Lucas dan Vanya kini sedang berada di dalam mobil yang sama. Suasana di dalam mobil itu sangat hening, tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Vanya menyandarkan kepalanya di jok dan menghadap ke luar. Sedangkan Lucas sesekali melirik Vanya. Sampai tiba-tiba Lucas menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Kenapa berhenti?" tanya Vanya.
"Kamu bisa membatalkannya sebelum terlambat. Aku akan bilang ke ayahmu ka..." ucap Lucas terpotong.
"Sudahlah. Aku benar-benar yakin dengan keputusanku." balas Vanya.
Hari itu, Vanya dan Lucas telah resmi menjadi pasangan suami istri. Mereka bahkan sudah memiliki buku nikah mereka masing-masing. Meski begitu, pernikahan mereka hanyalah buatan. Tidak ada cinta dan kasih sayang yang mengikat.
"Lucas, boleh kutanya satu hal? Kamu boleh diam dan tidak menjawabku." kata Vanya.
"Apa?"
"Kenapa kamu bersikeras ingin mewarisi GH Group?" tanya Vanya.
"Aku memilih untuk diam dan tidak menjawabmu." jawab Lucas.
"Baiklah, pria angkuh. Ke mana tujuan kita sekarang?" tanya Vanya.
"Rumahku." jawab Lucas.
"Baiklah. Hah? Apa? Rumahmu?" protes Vanya.
"Kenapa? Kita sudah sah." ucap Lucas seraya memperlihatkan buku nikahnya.
Lucas mengajakku ke rumahnya! Ah tidak!!!!!!
Apa yang akan dia lakukan padaku? Apa yang harus aku lakukan? Aku harus bagaimana????? batin Vanya.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca novel Laki-laki Pilihan Ayah. Berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan like, tips, komentar, dan vote. Jangan lupa tambahkan novel ini ke favorite Anda agar mengetahui up episode terbaru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 406 Episodes
Comments
Tommy Pissa
\(^-^)/
2023-06-29
0
elma sukmala
baru mau daftar nikah kok udah sda buku nikah.bingung udah sah aja 🤕🤕🤕
2022-03-29
0
Vera😘uziezi❤️💋
Waduh bingung kok gampang banget nikah nya ga pake saksi dan lainnya
2021-04-21
0