Vanya Istriku.
Sudah makan siang?
Wah kalau pesan ini mana bisa tidak dibalas. Baiklah aku akan membalasnya. batin Lucas.
Lucas.
Belum. Mau makan siang bersama?
Vanya Istriku.
Tidak. Aku makan siang dengan rekan kerjaku.
What!!! Vanya!!!!!
Lucas.
Untuk apa kamu bertanya kalau gitu?
Vanya Istriku.
Untuk menjalankan perjanjian nomor ketiga.
(Istri harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, begitu juga suami.)
Lucas.
Makanlah yang kenyang, tidak usah pikirkan aku.
Vanya Istriku.
OK ^_^
"O K? Dia barusan menjawab OK? Padahal dia bilang sebelumnya ingin menjalankan kewajibannya sebagai istri. Kalau tidak bisa makan bersama paling tidak dia membawakan makanan ke rumah sakit atau suruh kurir mengantar juga tidak masalah. Dasar istri durhaka. Baiklah makan sana yang kenyang, makan sana makan! Tidak usah pikirkan aku!" gerutu Lucas.
Tririring...
"Sekarang meneleponku, huh? Sudah merasa bersalahkah kamu?" ucap Lucas sambil mengemudi.
"Eh bukan Vanya tuh. Dari rumah sakit ternyata." ucap Lucas ketika sudah melihat ponselnya.
"Halo, dokter Lucas. Ada kecelakaan bus yang menyebabkan 17 orang luka-luka, sopir bus mengalami patah tulang di kaki kirinya dan lengan kanannya sobek. Bisakah dokter kembali ke rumah sakit?" ucap perawat.
"Baiklah saya ke sana sekarang." jawab Lucas.
Aku bahkan belum makan siang. batin Lucas.
Lucas kembali ke rumah sakit dan siap melakukan operasi walaupun belum makan siang. Kalau dilihat saat belum bertemu Vanya, melewatkan makan siang itu hal yang biasa bagi Lucas. Namun kini berbeda. Hatinya seolah-olah iri karena istrinya bisa makan kenyang sedangkan dirinya tidak.
"Bagaimana?" tanya Lucas kepada perawat ketika tiba di rumah sakit.
"Ini hasil pemeriksaannya. Sopir sudah tiba di ruang operasi 1 dan dokter Edward turut membantu. Dan ini ada korban yang mengalami luka di bagian dadanya." jawab perawat.
"Masukkan korban yang mengalami luka di bagian dada ke ruang OP 2. Suruh dokter yang menangani untuk segera lakukan operasi. Nanti saya akan ke ruang OP 2 setelah selesai di ruang OP 1." balas Lucas.
"Baik, dok."
Lucas segera berlari menuju ruang OP 1 yang di mana sudah ada papanya sendiri. Betapa beruntungnya sang sopir bus ditangani oleh sepasang ayah-anak yang tangannya mahir di atas meja operasi.
"Habis darimana saja kamu?" tanya Edward.
"Makan sama Vanya." jawab Lucas.
"Oohh.."
"Murwadi, 56 tahun mengalami patah tulang di kaki kirinya dan lengan kanannya sobek sepanjang 12 cm." kata perawat.
"Bisa kita mulai?" tanya Edward.
"Silahkan." jawab Lucas.
"Mari bertukar tempat. Kamu dokter yang bertanggung jawab. Papa hanya membantu." ucap Edward.
"Baik. Dokter Edward bisakah anda menjahit lengan kanannya? Saya akan menangani kaki kirinya." ucap Lucas.
"Dengan senang hati, dokter Lucas." balas Edward.
Ayah dan anak itu melakukan pekerjaannya masing-masing, di ruangan yang sama, dan korban yang sama karena keduanya sama-sama merupakan dokter yang handal. Kemampuan mereka di atas meja operasi tidak perlu diragukan lagi.
2 jam kemudian...
"Bagian kaki kiri sudah dipasangkan besi. Dokter Edward bisa melanjutkan sisanya." kata Lucas.
"Baik, dok." kata Edward.
"Saya akan ke ruang OP 2." kata Lucas.
Lucas keluar dari ruang OP 1 menuju ruang OP 2.
"Bagaimana?" tanya Lucas kepada dokter penanggung jawab.
"Pasien sempat kehilangan detak jantung namun sekarang sudah stabil. Luka di bagian dadanya cukup dalam sampai ke jantung. Kalau operasi ini dilakukan.. saya tidak yakin pasien akan selamat." kata dokter penanggung jawab.
"Lakukan operasi." kata Lucas.
"Tapi detak jantung pasien akan berhenti." balas dokter.
"Tangani luka di bagian jantung dan sekitarnya terlebih dahulu." kata Lucas.
"Tapi bagaimana kalau detak jantungnya akan berhenti? Saya yang akan disalahkan karena saya dokter yang menangani." balas dokter.
"Sudah berapa tahun anda bekerja menjadi dokter di sini?" tanya Lucas.
"2 tahun." jawab dokter.
"Hey, dokter tahun kedua. Tidak sepenuhnya anda yang akan disalahkan. Rumah sakit ini juga akan disalahkan dan pemimpinnya adalah saya. Cepat lakukan operasi sebelum detak jantungnya berhenti." kata Lucas.
Dokter penanggung jawab masih terdiam. Dia masih sangat ragu untuk melakukan operasi terhadap pasiennya.
"Tidak mau? Baiklah, keluarlah dari rumah sakit ini setelah pasienmu dinyatakan selamat karena tanganku." kata Lucas.
"Bovie." pinta Lucas kepada perawat.
Lucas mulai melakukan pembedahan langsung dengan tangan mahirnya meskipun nyawa pasien terancam. Tetapi jika tidak dioperasi, nyawa pasien tidak bisa tertolong lagi. Mengambil keputusan seperti ini sangatlah sulit bagi seorang dokter. Tapi tidak untuk Lucas. Baginya lebih baik berusaha menyelamatkan walaupun akhirnya tidak bisa diselamatkan daripada tidak melakukan apapun.
1 jam berlalu. Lucas sendiri tidak menyangka akan selesai dalam waktu 1 jam saja, perkiraannya adalah 3 jam. Lucas sudah menutup luka di daerah jantung dan sekitarnya. Dan yang paling penting, pasien masih selamat, detak jantungnya stabil.
"Operasi selesai. Pasien bisa dipindahkan ke ruang perawatan." ucap Lucas mengakhiri operasi.
"Baik, dok." kata perawat.
"Pasienmu masih hidup, tepati perkataanku." kata Lucas kepada dokter tahun kedua yang sedari tadi hanya terdiam di pojokan menyaksikan Lucas mengoperasi.
Lucas kembali ke ruangannya dan mendapati Vanya sedang duduk menunggu di depan pintu.
"Vanya? Sedang apa di sini?" tanya Lucas.
"Aku sakit." jawab Vanya.
"Sakit? Sakit apa?!" tanya Lucas.
"Anu-ku sakit." bisik Vanya tepat di telinga Lucas.
Lucas tersenyum lega.
"Rupanya pemimpin rumah sakit sangat sibuk ya. Aku kira seorang pemimpin bebas dari pekerjaan." kata Vanya.
"Aku memang pemimpin yang sibuk. Apalagi dalam memimpin rumah tangga kita." balas Lucas.
"Idih!"
"Kenapa ke sini?" tanya Lucas.
"Aku sudah menunggu 2 jam lebih, bahkan kamu tidak membawaku masuk ke ruanganmu?" balas Vanya.
"Iya iya, ayo masuk." ajak Lucas.
"Kurasa aku orang yang sangat baik. Aku membelikanmu makanan, mencari taksi, membawakanmu makanan, menunggumu selama 2 jam lebih. Kamu beruntung karena aku yang menjadi istrimu. Bagaimana kalau orang lain? Belum tentu akan sepertiku." kata Vanya sambil membuka plastik makanan yang dia bawa.
"Baiklah, Vanya Istriku. Apa yang membuatmu melakukan ini?" tanya Lucas.
"Aku dan rekan kerjaku makan ini. Tempatnya santai dan nyaman sekali, makanannya enak-enak, harganya juga murah. Kapan-kapan kita makan bersama di sana ya? Aku jamin kamu pasti suka." jawab Vanya.
Lucas mengamati Vanya sejenak.
"Bagaimana rekan kerjamu? Sepertinya kalian sudah akrab, sampai bisa makan bersama." kata Lucas.
"Tentu. Di dalam firma mereka orang yang serius seperti pepatah 'senggol\=bacok' tetapi di luar firma mereka orang yang lucu." ucap Vanya.
"Oh ya! Kamu tahu? Kasus pertana yang aku kerjakan sudah dimenangkan oleh atasanku! Dan kamu tahu juga? Atasanku menang karena kartu emas yang aku cari. Ah, senangnya." sambung Vanya.
"Kamu tidak ingat karena kamu mencari kartu emas itu kamu sampai pulang larut malam dan membuatku kesal." ucap Lucas.
"Ingat kok. Jangan kesal lagi padaku, ya? Kan aku sudah membawakanmu makan siang." kata Vanya.
"As you wish, aku tidak kesal lagi." kata Lucas. (Seperti yang kamu minta.)
"Ah aku tahu sebenarnya kamu sudah tidak kesal saat malam itu kan." ucap Vanya.
"Malam 'itu' ? Malam apa maksudmu?" tanya Lucas.
"Sudah jangan pura-pura bodoh. Oh ya, kurasa tadi aku menunggumu lebih lama dari biasanya." kata Vanya.
"Ya, aku menyelamatkan 2 orang. Ngomong-ngomong, kamu bisa datang ke sini bahkan menungguku selama 2 jam, VANYA! jangan-jangan kamu sudah dipecat dan diberi uang lalu uangnya kamu beli makanan ini?!" kata Lucas.
"Tidak. Mana mungkin, bodoh. Atasanku itu sedang bertemu klien baru. Dan karena aku sudah membantu memenangkan kasusnya, aku diberi waktu untuk pulang." balas Vanya.
"Ooh.. kenapa tidak pulang saja? Kenapa membelikan aku makan? Jangan-jangan... kamu sudah menyukaiku?" tanya Lucas.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca novel Laki-laki Pilihan Ayah. Berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan like, tips, komentar, dan vote. Jangan lupa tambahkan novel ini ke favorite Anda agar mengetahui up episode terbaru.
maaf baru up soalnya kemarin jaringanku lagi lemot banget parah :(
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 406 Episodes
Comments
Whila Abigail
hhhh ngakak aku ni SM dr Lucas 😂🤣🤭
2022-06-11
0
Hermina Simbolon
suka banget ceritanya
2021-05-08
0
Asma Liyya
ya ampun lucu bangeeet sih buat mereka Bucin thor
2021-04-23
1