Suasana yang tadinya hangat langsung berubah menjadi senyap oleh renungan Tigor tentang apa yang baru saja dia terima.
Dia menyadari betapa penjara ini telah menjauhkan dirinya dengan keluarga. Yang lebih parah lagi, dirinya bahkan menjauhkan anaknya dari mengenal siapa Tuhannya.
Dirinya yang juga seolah-olah larut dalam kesenangan dunia semakin memperburuk hubungan kerohaniannya kepada sang maha pencipta.
Sindiran super keras dari Ameng tadi seolah-olah menampar kesadarannya bahwa betapa pentingnya pendidikan dini bagi anak untuk mengenal siapa yang telah menciptakan dirinya dan untuk apa dia diciptakan. Karena sesungguhnya, tidaklah Tuhan menciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk menyembah-Nya. Menyembah Dia yang Tunggal, yang Esa, yang Maha dari segala yang Maha.
Istri dan anak itu memang sungguh sangat menyenangkan. Sangat membahagiakan. Apa lagi mereka tumbuh besar dalam keadaan yang sehat tidak kurang satu apapun. Namun, jika didikan keimanannya kurang, bukan mustahil kelak anak bisa berubah menjadi musuh. Dan Tigor sadar akan hal itu. Itulah yang membuatnya kini menunduk menatap ujung sudut tikar plastik tempatnya kini duduk.
"Ayah. Bagaimana dengan jurus Namora tadi?"
Lamunan Tigor terhenti seketika begitu Namora, putra semata wayangnya itu menghampiri dirinya.
Tigor berusaha keras untuk tersenyum dan menarik tangan anaknya agar anak itu duduk di atas pangkuannya.
"Jurus mu tadi sangat bagus. Sangat teratur. Tapi Namora perlu guru yang benar-benar bisa mengajarkan Namora tentang kedua jurus tadi. Kelak Namora akan mengerti betapa pentingnya jurus yang terakhir tadi. Itu bukan jurus untuk berkelahi. Namun, sangat penting bahkan wajib bagi kita. Karena, keselamatan yang hakiki itu bukan di dunia ini. Melainkan di sana!" Kata Tigor sambil menunjuk ke atas.
"Di sana?" Namora tampak tidak mengerti. Anak itu berulang kali mendongak ke atas. Tidak ada yang bisa dia lihat kecuali bintang-bintang yang menemani sang rembulan, serta kegelapan malam.
"Ya. Ada kehidupan yang kekal setelah kehidupan di dunia yang singkat ini. Kita hanya merantau di dunia ini. Merantau untuk mencari bekal bagi perjalanan yang sangat panjang menuju akhirat. Apakah Namora pernah mengaji?" Tanya Tigor dengan lembut.
"Ya pernah. Di kota Kemuning Namora ada guru ngaji. Tapi di sini tidak. Karena, tidak ada yang mau menerima Namora. Mereka bilang, Namora anak maling telor ayam," jawab anak itu polos.
"Bersabarlah nak. Setelah paman menikah, paman akan memboyong kalian ke kota Batu. Setelah itu, kau bisa kembali belajar mengaji," kata Rio pula.
Terenyuh hati Tigor mendengar jawaban polos dari Putranya itu. Namun dia tau bahwa semua ini akan membentuk kepribadian anaknya. Namora, sebagai seorang anak dari orang yang paling berkuasa di lima kota ini harus kuat. Karena, jika dia cengeng, maka dia tidak akan layak untuk meneruskan apa yang sudah dirintis oleh Tigor. Setidaknya itulah yang ada di dalam hati Tigor. Tanpa dia sadari, tekanan yang berlebihan dari lingkungan inilah yang kelak akan merubah karakter Namora menjadi sosok manusia berhati salju.
"Sebentar lagi akan pukul 12 malam. Mari kita persiapkan kue ulangtahun nya!" Ajak Acong kepada yang lainnya.
Beberapa orang langsung bangkit dari tempat duduk mereka, lalu berjalan menuju ke arah luar di mana mobil mereka di parkir.
Tidak berapa lama kemudian, mereka kembali lagi memasuki kawasan lapang di lapas tersebut dengan di tangan mereka membawa kotak besar yang berisikan kue ulangtahun untuk Namora.
Ketika mereka tiba, tanpa dikomandoi, semua orang yang berada di tempat itu langsung beranjak dan membuat lingkaran. Kini, Namora bersama dengan kedua orangtuanya berada di tengah-tengah lingkaran.
"Ayo pasang dan nyalakan lilinnya!" Kata Rio pula.
Timbul langsung mengeluarkan korek api, lalu menyalakan lilin yang berada di bagian paling atas kue ulangtahun tiga tingkat milik Namora tadi.
Begitu lilin menyala, mereka beramai-ramai mulai bertepuk tangan dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Namora.
Suasana yang tadi sempat membuat hati Tigor berkecamuk, kini kembali ceria. Apa lagi ketika dia melihat anaknya juga ikut bertepuk tangan sambil tersenyum dan ikut-ikutan menyanyikan lagu selamat ulang tahun.
"Selamat ulang tahun.."
"Selamat ulang tahun..."
"Bahagia.., sejahtera.., semoga panjang umur!"
"Ayo Namora! Berdoa dulu, lalu tiup lilinnya!" Ujar Jabat sambil bertepuk tangan.
Namora terlihat memejamkan matanya, lalu membukanya perlahan. Setelah itu, kini dia mulai meniup lilin yang berada di kue ulangtahun miliknya.
Dengan susah payah, akhirnya lilin tadi pun padam. Kini, mulailah Namora memotong kue ulangtahun miliknya dengan dibantu oleh Tigor dan Mirna.
"Ayo Namora. Untuk siapa potongan pertama kue ulangtahun mu?" Tanya Rio bersemangat.
Namora terlihat kebingungan. "Maaf Ayah. Potongan yang pertama Namora berikan kepada ibu!"
Tigor mengangguk dan tersenyum. Baginya, Mirna memang pantas mendapatkan potongan pertama dari kue ulangtahun anaknya itu. Bagaimanapun, bagi seorang anak, derajatnya tiga tingkat dibanding ayah. Tentunya bukan dalam segala hal.
Ketika Namora menyerahkan potongan kue ulangtahun miliknya yang pertama, Mirna segera menerima kue pemberian dari anaknya itu, tapi Mirna tidak langsung memakannya. Melainkan, dia memberikan gigitan pertama kepada Tigor. Setelah itu, sisa dari gigitan Tigor tadi, barulah dia masukkan ke mulutnya.
"So sweet...!" Ejek Ameng sambil tertawa.
Yang lain juga ikut tertawa. Kemudian, suasana menjadi bergemuruh dengan tepuk tangan dari semua orang yang berada di tempat itu.
"Namora ingin hadiah apa dari ayah?" Tanya Tigor. Kembali dia mendudukkan Namora di atas pangkuannya.
"Namora tidak ingin apa-apa. Hanya ingin cepat SMA agar ayah segera pulang," jawab anak polos itu apa adanya.
"Pasti bisa. Hanya saja, semuanya butuh proses," kata Tigor pula.
"Namora. Ini hadiah dari ku!" Terlihat seorang anak yang sebaya dengannya memberikan kotak hadiah kepada Namora.
"Terimakasih, Udin!" Namora menerima kotak hadiah pemberian dari Udin.
Tepat ketika giliran Hendro, dia hanya menyerahkan saja tanpa berkata apapun. Dan Namora juga menerimanya. Bahkan tanpa memandang ke arah Hendro. Dia sudah terlanjur merasa tidak nyaman dengan anak Andra itu.
Tepat ketika jam sudah menunjukkan waktu 01 dinihari, puluhan personil kepolisian mulai menggiring para tahanan untuk kembali memasuki ruangan mereka masing-masing.
Kini, giliran Tigor pula yang akan kembali memasuki ruangan di mana dia di penjara.
Terasa berat untuk melepaskan orang yang tersayang. Apa lagi kini dia merasakan kebahagiaan karena Namora tidak lagi membenci dirinya.
Setelah berpamitan, Akhirnya istri, anak beserta para sahabatnya pun satu persatu meninggalkan pusat tahanan tersebut untuk kembali ke rumah masing-masing.
Sekarang, tinggallah Tigor sendirian berada di sel tahanannya. Seperti biasa, dia kembali terduduk sendirian sambil bersandar di dinding batu.
Banyak pelajaran yang dia dapatkan hari ini. Dia berusaha untuk ridho terhadap apa yang dia terima dan menjalaninya dengan sabar.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 273 Episodes
Comments
On fire
🤍🤎💙💕🩵❤️🧡❤️🩹🧡🩷🩷
2025-01-21
0
On fire
💗💞💜🩶
2025-01-21
0
ponakan Bang Tigor
disambung ...
terima kasih banyak update-nya bang 🌻🌻🌻
semangat berkarya dan bekerja thor 💪💪💪
semoga othor dan keluarga sehat selalu, semakin sukses, rezeki lancar dan bahagia setiap saat. aamiin aamiin
semoga pekerjaannya lancar. aamiin aamiin
makasi banyak reminder-nya ya, bang. Alhamdulillah 2 bab ini banyak pelajaran yang didapat 🌻. aku yakin Namora kelak tumbuh menjadi anak yang kuat 🔥
selamat malam dan selamat beristirahat 👋
2022-12-30
4