Ting Ting Ting Ting...!
Lonceng di sekolah dasar kampung baru berdenting menandakan bahwa waktu bagi para siswa di sekolah dasar itu telah berakhir.
Sama seperti hari-hari sebelumnya, kesemua siswa berebut saling mendahului untuk keluar meninggalkan kelas. Bagi mereka, semakin cepat keluar, semakin baik. Seolah-olah ruang belajar itu mereka anggap seperti penjara saja. Tapi, begitu lah anak-anak. Ketika libur, mereka ingin bersekolah, ketika sekolah, mereka kepingin untuk libur.
Namora, anak yang sering mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan dari teman-teman sekelasnya hanya duduk saja menatapi mereka yang saling berebut untuk keluar. Dia berusaha untuk tidak ikut-ikutan karena khawatir perlakuan seperti kemarin akan terulang kembali.
Ketika seluruh siswa telah keluar, barulah dia bangkit dari duduknya, kemudian melangkah menuju pintu.
Menyedihkan memang, untuk anak seusianya yang seharusnya gembira ria bermain bersama dengan teman-teman yang lain. Tapi apalah daya, dia hanya seorang anak narapidana yang dikucilkan dari pergaulan.
Terkadang ingin dia bermain kelereng bersama dengan yang lainnya. Akan tetapi, setiap kali dia hendak bergabung bermain bersama-sama, maka dia akan mendapatkan penolakan. Bahkan tidak jarang dia diusir.
"Entah apa salahku kepada mereka. Aku hanya ingin berteman, bermain bersama dan belajar bersama. Tapi mereka selalu mengasingkan ku," begitulah Namora mengadukan semua yang dia alami kepada ibunya. Dan jawaban dari sang ibu selalu itu-itu saja. Yaitu, bersabarlah!.
"Bu. Nanti kalau Namora sudah SMP, Namora ingin sekolah nya yang jauh. Namora tidak mau di kampung baru ini. Mereka tidak mau berteman dengan Namora. Nanti, Namora mau menumpang saja di rumah Paman Rio. Namora bisa sekolah di SMP bukit batu!" Kata-kata itu sering diucapkan oleh Namora. Bahkan, hampir setiap minggu dia akan mengingatkan sang ibu. Sepertinya dia sangat khawatir kalau-kalau ibunya akan lupa.
***
Namora terus berjalan menyusuri jalan yang biasa dia lalui. Kali ini dia harus segera tiba di rumah. Karena, dia tidak ingin ibunya khawatir lagi. Namun, lagi-lagi anak ini tidak bisa berbuat apa-apa ketika dia kembali dihadang oleh Diaz, Ruben, Dudul dan Rudi. Bahkan, kali ini bertambah dua orang lagi.
Namora berdoa di dalam hatinya, semoga saja keenam anak-anak yang sebaya dengannya itu tidak menggangu dirinya. Tapi, harapan dan doanya tidak terkabul. Buktinya, begitu dia hampir melintasi keenam anak-anak itu, mereka langsung menghadang jalannya.
"Namora. Kemari lah! Mengapa kau buru-buru sekali?"
"Maaf Diaz. Ibuku menyuruh ku agar tidak terlambat pulang. Harap jangan menghalangi jalanku!" Pinta Namora harap-harap cemas.
"Ah. Sesekali terlambat pulang kan tidak apa-apa?! Ayo kita bermain dulu. Apa kau tidak ingin bermain dengan kami?" Kata Rudi pula menawarkan.
"Apakah aku boleh bermain dengan kalian?" Tanya Namora senang.
"Boleh. Kita main petak umpet ya! Kau yang jaga, biar kami yang akan bersembunyi. Siapa pertama yang dapat, dia yang akan jaga!" Kata si Dudul pula.
"Baiklah! Aku akan menutup mataku. Kalian boleh mencari tempat bersembunyi. Aku akan menghitung sampai sepuluh ya!" Kata Namora pula yang mulai memalingkan wajahnya sambil menutup mata, lalu segera menghitung.
"Satu!!" Kata Namora pula.
"Ayo kita pulang saja. Biarkan dia bermain sendirian seperti orang gila!" Kata Diaz mengusulkan.
"Ayo!" Jawab yang lainnya.
"Dua..!" Kata Namora lagi.
Begitu hitungan sampai ke sepuluh, Namora pun membuka matanya, lalu mulai mencari di mana keenam anak-anak tadi bersembunyi.
Sudah hampir setengah jam Namora berputar-putar mengelilingi antara gang-gang rumah warga, di balik pagar, di dekat semak-semak pohon bambu, namun yang dia cari tetap tidak kelihatan. Keringat pun mulai bercucuran di kening anak itu. Dia tidak tau bahwa dia telah dikerjai oleh mereka. Padahal, mereka semua mungkin sudah sampai di rumah mereka masing-masing. Manalah dia tau bahwa dia akan di tipu seperti itu.
"Kemana mereka semua?" Kata Namora pula seperti orang bodoh yang terus mencari di balik semak-semak.
Merasa bahwa dia tidak berhasil menemukan keenam anak tadi, dia pun segera ingin pulang ke rumah. Namun, dia khawatir akan dikatakan curang. Jika begitu, semakin tidak akan ada yang sudi lagi berteman dengannya.
Akhirnya Namora pun terduduk didekat tunggul pohon kelapa yang sudah lama ditebang. Nanti, setelah penatnya hilang, dia akan mencari lagi ke-enam orang tadi.
Sudah pukul dua sore, Namora tetap tidak menemukan keenam anak-anak tadi. Di sini, Namora mulai berfikir bahwa dia telah dikerjai oleh Diaz dan teman-temannya. Kini, sadarlah Namora bahwa sampai kapanpun dia tidak akan pernah dianggap ada oleh mereka.
Ada perasaan jengkel, marah, sedih dan rendah diri dihatinya.
Sambil tertunduk lesu, Namora pun melangkahkan kakinya untuk segera kembali ke rumah.
"Mengapa aku diperlakukan seperti ini? Jika tidak ingin berteman, aku tidak mengapa. Tapi, mengapa harus menipu ku?"
Berbagai pertanyaan saling silih berganti mengisi benak anak itu.
Kini, Namora telah sampai di rumah. Dan, benar saja. Sesampainya dia di rumah, ibunya segera bertanya mengapa dia bisa terlambat. Apa lagi ketika di lihat, baju seragam yang dia kenakan basah oleh keringat.
"Mengapa kau terlambat Namora? Apa kau berkelahi lagi?" Tanya sang ibu.
Namora menggeleng lesu. Dia segera duduk di samping ibunya, lalu menceritakan semuanya kepada sang ibu bahwa dia telah ditipu oleh teman-temannya.
"Sabar ya nak! Suatu saat, mereka pasti akan menyesal karena telah memperlakukan dirimu dengan buruk!"
"Bu. Tadi ada Paman-paman menemui Namora. Katanya, mereka itu temannya ayah," kata Namora menceritakan pertemuannya dengan Ameng dan Acong.
"Teman ayah mu? Apakah mereka ada menyebutkan nama?" Tanya sang ibu.
"Ada Bu. Katanya, Ameng dan Acong," jawab anak itu apa adanya.
"Hmmm. Untuk apa mereka ini menemui Namora. Apa jangan-jangan bang Tigor yang menyuruh?" Tanya Mirna dalam hati.
"Mengapa ibu diam? Apakah benar mereka sahabatnya ayah?" Tanya Namora yang heran ketika melihat ibunya terdiam.
"Oh.., eh. Iya. Mereka itu memang sahabat ayah mu. Tapi ingat Namora! Jangan terlalu dekat dengan mereka!" Kata sang ibu. Entah apa alasannya, tapi yang jelas, sepertinya Mirna tidak menyukai jika Ameng dan Acong atau yang lainnya mendekati anak lelakinya itu.
"Mengapa Bu?" Tanya Namora tidak mengerti. Sudah menjadi kebiasaan anak-anak yang selalu ingin tau.
"Tidak apa-apa. Mereka itu orang-orang dewasa. Kau tidak boleh berteman dengan orang-orang dewasa. Mengerti?" Kata sang ibu. Dia tau bahwa alasan itu sangat tidak dapat diterima. Tapi, mau bagaimana lagi. Dia tidak ingin anaknya akan semakin diasingkan. Apalagi dia tau bahwa Ameng dan Acong tidak akan membiarkan begitu saja melihat anaknya di bully. Bisa-bisa nanti mereka akan melabrak orang itu. Kan bisa semakin runyam urusan.
"Tapi Bu..,"
"Tidak ada tapi-tapian! Kau harus menuruti kata-kata ibu! Itu baru anak yang Sholeh namanya!" Tegas sang ibu.
Namora tidak lagi membantah. Dia segera berjalan menuju meja makan, karena perutnya dari tadi memang sudah minta untuk di isi.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 273 Episodes
Comments
On fire
💗🖤🖤💓
2025-01-17
0
On fire
💗💞🩷🩷
2025-01-17
0
Sofyan Muchtar
kenapa gak diajarin bela diri ????
2024-08-20
0