Rio segera mensejajarkan langkahnya dengan Sugeng ketika dia melihat bahwa Ameng, Acong, Timbul sudah terlebih dahulu memasuki rumah dinas miliknya.
Setelah berada di dalam rumah tersebut, dia segera mempersilahkan tamunya itu untuk duduk sambil sedikit basa-basi yang merendah.
"Silahkan duduk bang. Maklumlah seadanya. Aku belum bisa membeli rumah sendiri. Jadi, yah beginilah adanya," kata Rio merendah.
Memang, rumah dinas yang saat ini dia tempati itu tidaklah begitu besar, jika dibandingkan dengan rumah milik Ameng, Acong dan yang lainnya. Terlebih lagi rumah besar milik Tigor di komunitas elite kota Kemuning.
"Alaaah.., tenang saja lah kau Rio! Macam tak tau saja kau seperti apa kita dulu waktu di bawah jembatan Tasik Putri. Ingat dulu waktu Abang mu si Ucok sakit paru-paru basah karena setiap hari masuk angin, kehujanan, lambat makan, kadang sehari tak makan-makan karena tidak ada uang untuk membeli makanan? Ini jauh lebih baik daripada berada di bawah jembatan itu," balas Sugeng berusaha membesarkan hati Rio.
"Iya juga kan bang. Seharusnya aku bersyukur," gumam Rio sedikit menyesal.
"Namora. Namora mau makan apa nak?" Tanya Rio sambil mengelus kepala anak itu.
"Namora tidak mau makan, Paman. Tadi Paman Ameng mengatakan bahwa ayah Namora lebih hebat dari Superman. Lebih hebat dari Spiderman. Apa iya?" Tanya Anak itu. Sorot matanya berusaha meminta penjelasan dengan penuh harap. Penuh harap semoga Rio mengiyakan pertanyaannya. Karena, jika Rio menggelengkan kepalanya, dia pasti akan sangat kecewa setelah tadi sempat bangga dengan penjelasan dari Ameng.
Namora akhirnya bisa menarik nafas lega, dan tersenyum manakala Rio mengangguk sebagai tanda pembenaran dari pertanyaannya barusan.
"Ya. Di mata hukum, mungkin ayah mu adalah penjahat. Tapi, di mata kami, ayah mu adalah malaikat," jawab Rio kemudian.
"Mata hukum?" Tanya Namora tidak mengerti. Karena, di dalam pikirannya, dia membayangkan hukum itu adalah manusia yang punya mata, mulut, tangan dan kaki.
"Jelaskan kepadanya yang ringan-ringan saja, Rio!" Pinta Timbul yang tau bahwa Namora akan sangat sulit mencerna perkataan dari Rio barusan.
Rio tau akan hal itu. Maka, dia pun segera menjelaskan kepada Namora apa itu hukum.
"Begini anak ku. Hukum itu sama seperti ketika Namora di sekolah. Jika Namora berbuat salah, maka Namora akan menerima hukuman dari wali kelas. Nah. Ayah Namora juga begitu,"
"Lalu, Paman.., jika ayah baik, mengapa dia masuk penjara? Superman tidak masuk penjara. Spiderman juga tidak masuk penjara. Mereka selalu berkelahi dengan orang jahat,"
"Ayah mu juga sama. Dia juga selalu berkelahi dengan orang jahat. Hanya saja, ayah mu bukan bintang film seperti Spiderman dan Superman. Seharusnya, Namora harus bangga mempunyai ayah yang gagah dan pemberani," puji Rio kepada Abangnya yang saat ini sedang berada di balik jeruji besi.
"Tapi mengapa masuk penjara? Apakah ayah mencuri telur ayam?"
"Husy. Siapa yang mengatakan itu kepada mu?" Tanya Rio.
"Diaz, Dudul dan Ruben. Rudi juga mengatakan seperti itu. Katanya Namora adalah anak narapidana. Anak pencuri telor ayam," jawab anak itu dengan lugunya. Jelas dia tidak tau apa penyebab mengapa ayahnya bisa dipenjara.
"Namora. Dengarkan baik-baik apa yang akan paman katakan kepada mu. Paman akan menceritakan semuanya mengapa Ayahmu bisa masuk penjara," kata Rio sembari mengingat-ingat peristiwa puluhan tahun yang lalu.
Namora tampak dengan serius memasang telinganya. Dia ingin mendengarkan setiap yang akan dikatakan oleh adik ayahnya itu.
Rio tampak meraup wajahnya yang mulai merah padam. Terlihat juga matanya saat ini memerah seperti ada panas bara api tersembunyi dibalik tatapannya.
Sebenarnya, dia tidak ingin lagi mengingat kenangan kelam yang berusaha untuk dia lupakan. Tapi, sepertinya dia tidak bisa menghindar dari kejaran Namora yang ingin tau mengapa bisa ayahnya masuk penjara.
Sambil menghela nafas panjang, Rio pun memulai cerita puluhan tahun silam kepada Namora. "Namora. Kau lihat rumah ini. Ini dulu adalah rumah mendiang kakek mu, ayah dari ayah mu, dan juga paman.
Di rumah ini, kami dilahirkan. Di rumah ini pula kami dibesarkan. Walaupun paman ketika itu masih belum sekolah, tapi Ayahmu mengingat setiap kejadian di rumah ini.
Awalnya kami sekeluarga adalah keluarga yang sangat bahagia. Kakek mu yang bekerja sebagai kapten anggota kepolisian terkenal sangat penyayang terhadap keluarganya. Namun, semuanya musnah sekelip mata ketika sekelompok Gengster yang mengatasnamakan geng mereka dengan nama Geng Tengkorak datang menyerang ke kediaman ini dan membunuh kakek, serta nenek mu. Ketika itu paman berusia hampir enam tahun dan Ayahmu ketika itu usianya lebih sepuluh tahun.
Gugurnya kakek dan Nenek mu di tangan para penjahat itu mengubah kehidupan kami yang dulunya bahagia, serba berkecukupan, dan mendapatkan kasih sayang telah direnggut secara paksa. Kau tau seperti apa kehidupan kami setelah itu?" Tanya Rio kepada Namora.
Namora tidak tau apa jawabannya. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya saja sambil menunggu lanjutan dari kisah yang akan dikisahkan oleh Pamannya itu.
"Ayah dan Paman mu ini terpaksa menjadi pelarian. Bersembunyi dari incaran anggota geng Tengkorak, lalu menjadi gelandangan.
Ayah mu pernah dipukuli oleh pak satpam ketika dia kedapatan mencuri susu dan roti di minimarket. Ketika itu kami belum makan sejak beberapa hari. Paman terus menangis minta makan. Ayahmu tidak tega melihat paman terus menangis, sehingga dia memberanikan diri untuk mencuri."
Rio menyeka air matanya yang tiba-tiba menetes. Begitu pula dengan Ameng, Acong, Timbul dan Sugeng. Mereka jelas tau dan merasakan penderitaan yang dilalui oleh Tigor dan juga Rio ketika itu. Karena, mereka sama-sama berangkat dari kubangan kemiskinan sebelum mendapatkan kehidupan yang layak seperti saat ini.
"Lalu, apa yang terjadi terhadap ayah Namora, Paman?" Tanya anak itu ingin tau.
"Paman tidak tau pasti. Tapi, yang jelas, ketika ayah mu kembali dimana dia meninggalkan paman, bibirnya sudah pecah dan berdarah. Begitupula dengan hidungnya. Wajah, tangan dan bagian pinggulnya lebam memar.
Untuk mengisi perut yang kosong ketika itu, ayah mu dan Paman terpaksa mengais sisa makanan dari tong sampah di dekat restoran tepatnya di gang Kumuh. Kami melarikan diri hanya dengan satu tekat. Bangkit, lalu membalas dendam atas kematian kakek mu. Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa pula,"
kembali Rio mengambil beberapa lembar tisu, lalu dia menyeka air matanya. Walaupun ketika itu usianya masih sangat muda, tapi dia dapat merasakan seperti apa kenangan pahit itu dia lalui bersama dengan Abangnya.
Karena dendam, rasa sakitnya kehilangan, rasa pedihnya penderitaan dari anak seorang anggota kepolisian tiba-tiba harus bergelut dengan kerasnya dunia jalanan. Hal itulah yang menempah tekad Rio untuk menjadi anggota kepolisian dan menumpas sindikat yang mengatasnamakan geng Tengkorak tersebut.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 273 Episodes
Comments
On fire
💞💓🩶💓
2025-01-18
0
On fire
💞🩷💓
2025-01-18
0
Boru Panjaitan
Namora hidupmu sudah enak nak, dulu hidup ayahmu susah banget sampe2 tidur di bawah jembatan
2023-01-03
4