Berkat penjelasan dari Rio, yang diperkuat oleh Ameng, Acong, Sugeng dan Timbul, akhirnya Namora pun mulai berbesar hati menerima ejekan-ejekan yang dia terima dari teman-teman sekolahnya.
Hal ini semakin membuat mereka tidak lagi mengejek Namora sebagai anak seorang narapidana. Tapi, kini anak-anak seusia dengannya mulai melakukan tindak kekerasan.
Walaupun ada Ameng dan teman-temannya yang selalu mengantar dan menjemput Namora ke sekolah, bukan berarti Namora 100% aman dari gangguan anak-anak yang sebaya dengannya. Di dalam kelas, Namora selalu mendapatkan perlakuan buruk dari orang-orang yang membenci dirinya.
Seperti hari ini, Namora tetap bersekolah seperti biasanya.
Beberapa orang mulai mengejek dan menghinanya dengan sebutan anak narapidana.
Tapi, Namora hanya acuh dan berlalu meninggalkan mereka. Dia lebih memilih menyendiri dibawah pohon rambutan rindang.
Ketika itu, Namora mendengar bahwa orang-orang sedang menceritakan tentang seorang master beladiri yang akan membuka Dojo tidak jauh dari sekolah mereka ini.
Para anak-anak sekolah dasar di kampung baru ini tertarik untuk mengikuti pelajaran beladiri yang dibuka oleh seorang lelaki keturunan Jepang.
Namora yang penasaran juga tidak ingin terlewatkan informasi itu. Dia dengan seksama mendengarkan setiap pembicaraan mereka yang sepertinya ingin mendaftar sebagai murid di Dojo milik orang keturunan Jepang itu. Sampailah pada akhirnya dia mendapatkan informasi letak Dojo tersebut tidak jauh dari sekolahnya. Tepatnya, bekas rumah kontrakan yang memiliki halaman belakang yang sangat luas. Halaman belakang inilah yang akan digunakan oleh keturunan Jepang itu untuk membuat perguruan karate.
Rencananya, sepulang dari sekolah, Namora akan ikut melihat-lihat tempat latihan yang saat ini terbuka bagi siapa saja yang ingin berkunjung. Dalam hatinya, jika Diaz, Ruben, Dudul dan Rudi saja bisa masuk, mengapa dia tidak.
Sepulangnya dari sekolah, Namora tidak langsung kembali ke rumah. dia yang sangat penasaran seperti apa perguruan karate itu segera membuntuti Diaz dan yang lainnya ke Dojo tersebut.
Karena jalan menuju ke bekas rumah kontrakan empat pintu itu berbeda dengan jalan yang biasa dia lalui ketika pulang sekolah, maka dia tidak bertemu dengan Ameng yang biasa menjemputnya sepulang sekolah.
Dengan tetap menjaga jarak antara dirinya dengan rombongan Diaz, kini Namora pun akhirnya sampai juga di bangunan rumah empat pintu yang telah direnovasi menjadi perguruan karate itu.
Ketika memasuki ruangan itu, Namora terkagum-kagum melihat banyaknya koleksi senjata baik itu berupa tongkat, Toya, Boomerang, bahkan katana yang terletak di tempat khusus.
Di sana Namora juga melihat ada banyaknya gambar-gambar tentang pergerakan dasar bela diri.
Terus ke bagian belakang, Namora kini melihat lapangan luas dan di tengah-tengah lapangan tadi, ada semacam panggung kecil. Mungkin panggung ini kegunaannya adalah untuk latih tanding antara murid-murid yang belajar di sini kelak.
Keasyikan melihat-lihat, sampai-sampai Namora tidak sadar telah menabrak punggung Dudul sehingga si Dudul pun kaget bukan main.
Anak itu bertambah acting nya berpura-pura kesakitan ketika dia tau siapa yang menabrak dirinya. Hal ini spontan saja membuat ketiga orang lainnya serentak menoleh ke arah Namora.
"Aduh!" Kata Dudul berpura-pura terjatuh.
"Maaf. Aku tidak sengaja. Maafkan aku ya Dudul!" Kata Namora berusaha untuk membantu Dudul agar berdiri. Namun, tangannya segera ditepis oleh Dudul, dan dia kembali mengaduh kesakitan.
Ramai yang melihat kejadian itu, bersorak dan meminta kepada Diaz agar membalas Namora.
Merasa panas atas sorakan dari orang-orang yang berada di tempat itu, kini Diaz segera mendekat, lalu menarik kerah baju Namora yang ketika itu sedang tertunduk untuk membantu Dudul berdiri.
"Kau ini, Namora!" Kata Diaz sembari menarik kerah baju Namora kuat-kuat.
Gubrak!
Namora yang ditarik dengan paksa oleh Diaz tadi, tidak lagi mampu menjaga keseimbangan. Dia tertarik beberapa langkah kebelakang, lalu jatuh tepat menghantam penyangga beberapa batang tongkat di ruangan itu hingga tumbang dan tampaklah beberapa batang tongkat berjatuhan tak tentu arah.
Mendengar ribut-ribut dari ruangan itu, tentu saja membuat beberapa orang pembantu di Dojo itu berdatangan.
Kini, tidak kurang dari lima orang pemuda berpakaian seragam karate serba hitam menghampiri Namora, lalu membantu anak itu berdiri.
"Ada apa ini?" Tanya salah satu dari kelima orang tadi.
"Itu bang. Namanya Namora. Dia memang nakal. Tadi dia mendorong teman ku hingga terjatuh. Setelah itu dia sengaja bersandar pada tempat penyangga tongkat itu sehingga tumbang. Benar kan teman-teman!" Tanya Diaz yang langsung dibenarkan oleh semua anak-anak yang ada di ruangan itu.
"Apa benar begitu adik?" Tanya pemuda tadi berusaha untuk memastikan.
Namora ingin menjawab dan membantah tuduhan dari Diaz tadi. Tapi dia tidak memiliki kesempatan karena belum lagi dia bicara, Diaz sudah menyela. "Sudah jelas dia bersalah, Bang. Mana mungkin dia berani mengakui,"
"Adik. Sebaiknya kau pulang saja. Sebelum barang-barang yang ada di tempat ini rusak. Pulanglah!" Kata pemuda tadi mempersilahkan kepada Namora untuk pulang.
"Tapi bang!" Namora masih ingin membela diri. Tapi, Diaz kembali berkata, "Bang. Namora itu anak penjahat. Ayahnya seorang pencuri telor ayam, sekarang dipenjara!"
Geram betul hati Namora mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Diaz tadi. Ingin rasanya dia meninju wajah anak yang sebaya dengannya itu. Tapi itu tidak dia lakukan karena dia pasti akan kalah.
"Sudahlah. Kau pulang saja dik. Cukup sekali ini saja kau membuat kekacauan di sini. Abang tidak akan mempermasalahkan perbuatan mu ini. Tapi, jangan pernah datang lagi ke Dojo ini ya!"
Namora menggenggam erat kepalan tangannya. Dalam hati dia berjanji bahwa suatu saat, setiap dari mereka yang berada di ruangan itu akan membayar mahal karena telah memperlakukan dirinya secara tidak adil.
Sambil menahan genangan air matanya yang ingin menetes, Namora akhirnya membalikkan badannya mengarah ke pintu agar segera keluar dari ruangan itu.
Sulit baginya membedakan apakah tangisannya itu adalah luapan kemarahan atau memang dia jenis anak yang cengeng. Tapi, dalam hatinya kini jelas terbakar api dendam kepada orang-orang yang telah memperlakukan dirinya dengan buruk.
"Namora!" Panggil Diaz setelah Namora sudah tiba di ambang pintu.
Namora berpaling ke arah datangnya suara tadi. Dan kini dia melihat Diaz berjalan ke arahnya dengan senyuman bangga.
"Kau harus tau diri. Ini adalah perguruan karate. Kau tidak boleh di sini. Cari saja perguruan yang lain!" Kata Diaz mengejek.
"Apa salahku kepadamu, Diaz? Kau tidak pernah berhenti menganggu ku," tanya Namora dengan suara bergetar.
"Kau anak pencuri. Buktinya, mana ayah mu? Kami semua punya ayah. Kau mana ayah mu?"
Pertanyaan itu benar-benar memukul perasaan Namora. Tanpa banyak bicara lagi, dia langsung meninggalkan tempat perguruan karate yang sempat menimbulkan harapan dihatinya tadi.
Kini, dengan hati yang hampa dia berjalan kembali ke sekolahnya untuk menuju ke jalan yang biasa dia lalui pulang ke rumah sepulangnya dari sekolah.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 273 Episodes
Comments
On fire
💜💓🩶
2025-01-20
0
On fire
🩷🖤💛💗
2025-01-20
0
art
oi
2023-01-14
1