Seorang sipir penjara di pusat tahanan kota batu terlihat sedang sangat mengantuk. Namun, seketika rasa kantuknya hilang ketika dia dikejutkan oleh suara ponsel miliknya yang berdering. Terlebih lagi, dia tau siapa orang yang menelepon dirinya. Seketika itu pula rasa kantuknya terbang ke Paris dan tidak kembali-kembali lagi. Mungkin tidak ada ongkos.
"Hallo Komandan!" Kata sang sipir penjara tadi dengan lagak siap.
"Pak sipir. Aku butuh bantuan mu!" Kata si penelepon. Berhubung panggilan itu adalah Video call, maka terlihat jelas bahwa pak sipir tadi menegakkan badannya agar terlihat gagah. Padahal, memang gagah sih.
"Siap!" Jawab pak sipir lagi masih dengan sikap yang seperti tadi.
"Bapak kenal kan dengan tahanan di pusat tahanan bagian kriminal bernama Tigor?"
"Siap komandan! Saya kenal," jawab pak sipir itu.
"Tolong pinjamkan handphone bapak kepada tahanan bernama Tigor itu! Ada sesuatu yang sangat penting. Bisa?"
"Siap laksanakan Komandan!" Lalu pak sipir tadi pun segera berjalan menuju ke pusat tahanan yang tepat di belakang ruangan kerja miliknya.
Suara kunci beradu bergemerincing ketika pak sipir tadi melewati lorong-lorong sel di pusat tahanan itu.
Ketika dia lewat, tidak satupun orang yang berani berisik. Ini karena, sipir ini terkenal dengan ketegasannya. Jika ada yang berkelahi dan tidak dapat didamaikan, maka dia akan dengan senang hati membuka gelanggang untuk mereka berkelahi layaknya seperti di Ultimate fighting Championship. Bahkan, lebih sadis lagi pertarungan di gelanggang yang terdapat di pusat tahanan ini.
Jika di Ultimate fighting Championship ada aturan-aturan yang harus di patuhi, maka di sini sistemnya siapa yang masih berdiri, maka dialah pemenangnya. Karena, salah satu dari mereka harus ada yang tergeletak. Kalau bisa, harus mandi darah. Mereka yang bertarung bebas memukul bagian mana saja yang bisa di pukul. Dan itu semuanya sah alias boleh.
Kreeeng...!
Suara pintu terali besi di buka oleh sang sipir tadi, lalu sambil memasang wajah sangar, dia menunjuk ke arah satu-satunya orang yang berada di ruangan itu. Orang yang berada di dalam sel tahanan itulah yang bernama Tigor.
Wajahnya tampan. Sekilas, mirip artis Korea. Wajahnya teduh dan sepertinya keadaan pengap dan terkungkung di dalam penjara tidak membuatnya tertekan.
Orang yang bernama Tigor ini, jika dilihat sekilas pandang, maka sampai mampus pun tidak akan ada yang percaya bahwa dirinya adalah narapidana. Tapi, kenyataannya dia berada di sini.
Wajah lembutnya, keteduhan tatapannya, serta bibirnya yang sering menyunggingkan senyuman menguatkan lagi bantahan orang-orang bahwa dirinya ini adalah penjahat kelas berat. Tapi, jangan pandang semua kelembutan itu! Karena, jika dia marah, bersiaplah meminta batuan dukun patah tulang.
Jawaban mengapa Tigor berada sendirian di sel tahanan itu adalah, karena tidak ada yang berani berada satu tahanan dengannya. Terlebih lagi, kasusnya yang sangat berat, membantai anggota geng Tengkorak sampai bukit batu menjadi ajang pembantaian dan darah.
*********
Lelaki tampan bak artis Korea tadi hanya melirik sedikit ke arah pak sipir, lalu kembali duduk menyandar di dinding sambil memeluk lututnya. Dia sama sekali tidak memperdulikan tatapan garang dari pak sipir tadi. Namun, seketika itu juga dia menoleh ketika sang sipir kembali menegurnya.
"Tigor! Ada panggilan untuk mu. Dari komandan Rio Habonaran. Kau ambil ponselku ini. Tapi awas! Jika lecet, aku minta ganti yang baru. Bukan hanya baru saja! Tapi, keluaran terbaru!" Tegas sang sipir sambil melemparkan ponselnya ke sisi lain, berharap handphone itu jatuh dan Tigor akan menggantinya dengan yang baru. Tapi apa daya, gerakan Tigor yang gesit mementahkan harapan dari pak sipir tadi.
"Pak sipir. Pergerakan mu masih terlalu lambat buatku!" Kata Tigor sambil tersenyum. Lalu, diapun segera menatap ke arah layar ponsel.
Beruntung panggilan itu tidak terputus ketika Tigor menangkap lesatan handphone yang dilemparkan oleh sipir tadi.
Ketika Tigor melihat ke arah layar handphone pak sipir itu, kini dia melihat wajah seorang pemuda di sana sambil tersenyum.
Tigor dapat melihat bahwa senyuman itu adalah senyum paksaan. Karena, dia dapat melihat ke arah wajah dan mata pemuda itu merah seperti habis menangis.
"Rio. Ada apa kau menghubungi ku? Apakah ada masalah dalam keluarga ku?" Tanya Tigor yang sudah kembali bersandar di dinding ruang tahanan itu.
"Bang. Anak jantan mu si Namora ini ingin berbicara dengan mu. Katanya dia rindu!" Kata pemuda bernama Rio tadi. Kemudian, dia pun menyerahkan handphone miliknya kepada seorang anak lelaki berusia sekitar sepuluhan tahun lebih.
Berdesir darah Tigor mendengar bahwa putra satu-satunya itu yang meminta agar Rio menelepon dirinya.
Tidak ada angin, tidak ada hujan. Tiba-tiba Namora sendiri yang berinisiatif untuk menghubungi dirinya. Heran juga hati Tigor. Bukankah selama ini Namora sangat benci kepada dirinya?
Dengan tangan gemetaran, Tigor mengangkat sedikit handphone yang berada di tangannya agar lebih jelas. Kini, dia dapat melihat ke arah layar ponsel dimana di sana dia melihat seorang anak lelaki yang tampak baru selesai menangis sedang menatap ke arahnya sambil berkata, "Ayah...!"
"Namora.., Namora anak Ayah. Mengapa kau menangis nak?" Tanya Tigor. Semakin gemetaran tangan Tigor memegang handphone milik pak sipir tadi.
"Ayah pulang! Mengapa ayah betah di situ? Namora ingin ayah ada di sini!" Meledak lah kembali tangisan anak itu setelah berucap meminta agar ayahnya segera pulang.
"Ayah belum boleh pulang, Nak! Ayah harus berada di sini beberapa lama lagi!" Jawab Tigor yang ikut-ikutan menangis.
"Namora tau. Ayah kan hebat. Lebih hebat dari superhero. Mengapa tidak lari saja? Namora di sini selalu diejek oleh orang-orang. Pulang saja supaya Namora tidak diejek lagi oleh mereka!"
"Tidak boleh nak. Ayah akan pulang setelah Namora nanti berada di bangku SMA. Makanya Namora harus giat belajar. Supaya cepat naik kelas. Jika Namora cepat duduk di bangku SMA, maka ayah akan cepat pulang. Karena, syarat ayah bebas adalah ketika Namora berada di kelas satu SMA!" Kata Tigor berbohong. Padahal, dia memang terkena hukuman tujuh belas tahun penjara. Maka, jika dihitung, tepat ketika Namora berumur enam belas tahun, dia akan bebas. Dan ketika itu, memang benar bahwa Namora sudah duduk di bangku SMA.
"Ayah janji?!" Kata Namora seperti menagih.
"Iya. Ayah janji. Sekarang, Namora tidak boleh sedih ya! Namora jangan lagi memperdulikan orang-orang yang mengejek Namora. Selagi mereka tidak menyakiti Namora dengan memukul, maka biarkan saja. Mereka akan letih dengan sendirinya!"
"Iya. Tapi ayah janji ya! Akan pulang setelah Namora masuk SMA!" Kata anak itu lagi sambil menunjukkan jari kelingkingnya ke arah kamera handphone milik Rio.
"Ayah janji!" Kataa Tigor pula sambil melakukan hal yang sama. Seolah-olah mereka sedang mengaitkan jari kelingking masing-masing.
"Minggu depan Namora akan ulang tahun. Seperti yang dulu, Ibu bilang bahwa Namora akan merayakannya bersama ayah," kata Namora membuat Tigor berbinar-binar.
"Iya nak. Paman Rio mu akan mengantar kalian nanti. Tapi, apakah ayah boleh memelukmu pas di hari ulangtahun mu?" Tanya Tigor berharap. Sebenarnya, wajar jika Tigor menanyakan hal seperti itu. Karena, selama ini, Namora selalu menolak dan terkesan sangat benci apabila Tigor meraih tangannya dan hendak memeluknya.
Sebagai jawaban, Namora menganggukkan kepalanya, lalu memberikan handphone kepada Rio pamannya.
Tidak ada yang paling membahagiakan bagi Tigor, selain dapat berbicara dengan putranya.
Berulang kali dia menciumi handphone milik pak sipir tadi, sambil diperhatikan oleh pemilik handphone dengan mata mendelik.
"Mari sini handphone ku. Basah layarnya terkena air liur mu!" Kata pak sipir tadi. Lalu, dia segera meninggalkan ruangan tahanan itu sambil mengomel dari Sabang sampai Merauke.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 273 Episodes
Comments
On fire
🩷🖤💞💜💓
2025-01-19
0
On fire
🖤💜🩶💛💛
2025-01-19
0
Hafizhusna01
ijin bang bikin cerita yang isinya berdirinya dragon Empire dan tiger syam kayanya seru itu bang...
2023-03-11
5