Pusat tahanan kota Batu
Sore itu, tepat pukul 18-00 waktu Indonesia bagian mana saja, rombongan Rio, Mirna dan Namora bersama dengan Ameng, Andra, Ucok dan yang lainnya pun tiba juga di rutan kota Batu tersebut.
Rio, yang memang bertugas di kota Batu ini sebagai Kapolres, sama sekali tidak mengalami satu halangan pun.
Dia memang sengaja melarang orang-orang terdekat dari Tigor untuk mengunjunginya di rutan ini dengan tujuan, agar dia bisa meminta waktu khusus agar atasannya mengizinkan Tigor untuk merayakan hari ulang tahun putranya di rutan kota Batu ini.
Ketika mereka memasuki ruangan di mana di sana para narapidana yang lainnya juga diperbolehkan untuk ikut serta, Ameng yang seminggu yang lalu mendengar ocehan dari pak sipir penjara itu segera menghampiri petugas tersebut dengan membawa bungkusan plastik ditangannya.
"Selamat sore pak!" Kata Ameng menyapa penjaga lapas tersebut.
"Ya. Selamat sore!" Jawab bapak tadi.
"Begini pak. Minggu lalu, ketika bapak meminjamkan handphone bapak kepada saudara Tigor, saya ada mendengar bahwa bapak ingin handphone yang baru dan terbaru. Ini ada pemberian dari saya. Ikhlas untuk bapak," kata Ameng sambil menyerahkan bungkusan kepada sipir penjara tersebut.
Hati pak sipir tadi serasa berbunga-bunga ketika melihat di tangan Ameng yang menyodorkan bungkusan kepadanya. Namun, untuk menjaga wibawa, sang Sipir tadi segera memasang tampang tegas sembari berkata. "Apakah kamu ini berusaha untuk menyogok saya? Maaf! Saya tidak menerima suap!"
Mendengar perkataan dari pak sipir tadi, Ameng hanya bisa tersenyum. Karena, bagi dirinya itu adalah pemberian iklas.
"Begini pak. Apakah saya ada membuat kesalahan?"
Sang sipir menggeleng sebagai jawaban.
Ameng segera bertanya lagi. "apakah saya ada melanggar hukum?"
Sang sipir kembali menggeleng.
"Jika begitu, dari mana asalnya saya ingin menyuap bapak? Saya tidak bersalah. Lalu, untuk apa saya menyuap bapak? Sudah lah pak. Terima saja. Ini pemberian ikhlas dari saya!" Kata Ameng memaksa tangan pak sipir tadi untuk menerima pemberiannya.
Pak sipir gugup sejenak sambil memandang ke arah Rio. Barulah dia tersenyum setelah Rio menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah. Jika begitu, dengan berat hati saya menerima pemberian anda ini. Tapi ingat! Saya tidak pernah berhutang Budi kepada siapapun. Ketika kau bersalah, dan masuk penjara, saya akan memperlakukan mu sama dengan yang lainnya," tegas pak sipir.
"Apakah bapak mendoakan saya masuk penjara?" Tanya Ameng bercanda.
"Oh tidak. Tentu saja tidak," jawab bapak sipir tadi menggeleng. "hindari penjara! Jangan lakukan tindakan yang melanggar hukum. Karena, bukan saja kau akan dikurung di dalam penjara ini, tapi kau juga akan dicap jelek oleh masyarakat. Ingat itu!"
"Saya mengingatnya pak!" Jawab Ameng singkat. Lalu dia pun segera menggabungkan diri dengan yang lainnya.
*********
Kreeeeng...
Terdengar suara pintu yang terbuat dari besi di buka oleh seorang petugas di pusat tahanan kota Batu ini.
Begitu pintu tadi terbuka, kini dari arah depan muncullah seorang lelaki yang dikawal oleh dua orang polisi.
Beberapa orang di ruangan itu tampak tersenyum ketika melihat lelaki tampan bak artis Korea itu memasuki ruangan di mana mereka tadi menunggu.
Ketika melewati pintu tadi, dua orang petugas polisi di bagian tahanan ini segera melepaskan pegangan tangan mereka di lengan lelaki tadi, lalu mempersilahkan lelaki itu untuk bergabung dengan orang-orang yang telah memenuhi ruangan tunggu tadi.
"Bagaimana keadaan mu bang?" Tanya Rio sembari menyalami tangan lelaki yang baru tiba tadi. Dia juga merunduk dan menciumi tangan lelaki itu.
"Kau lihat sendiri! Aku tidak kurang satu apapun," jawab lelaki itu.
"Syukurlah kalau begitu. Maafkan, karena aku tidak bisa membantu meringankan hukuman mu bang!. Karena, Abang telah mematahkan kaki dua orang tahanan di sini. Jadi, karena tindakan Abang itu, pengadilan memutuskan untuk tidak memberikan remisi kepada Abang, sehingga Abang akan tetap menjalani hukuman selama 17 tahun penuh!" Kata Rio dengan wajah sangat menyesal.
"Hahaha. Aku juga tidak membutuhkan remisi. Bagiku, tambah dua tahun lagi juga tidak mengapa. Asalkan, jika ada yang membuat aku marah bisa segera mendapatkan ganjarannya. Beruntung nyawanya tidak ku cabut," jawab lelaki itu sambil mengibaskan tangannya.
Rio hanya mampu menelan ludah mendengar perkataan dari lelaki yang sebenarnya adalah Abang kandungnya itu. Hanya lelaki itu lah sanak-saudara miliknya yang tersisa di dunia ini.
"Mana keponakan mu?" Tanya lelaki itu memperhatikan sekeliling ruangan.
"Ada. Dia sudah hebat sekarang. Sudah berlatih ilmu beladiri kepada sahabat-sahabat Abang yang entah dari mana ilmu beladiri mereka dapat," jawab Rio.
"Belajar ilmu beladiri?" Lelaki itu mengernyitkan dahinya mendengar jawaban dari Rio.
Rio hanya mengangguk saja. Tersungging senyuman jenaka dari bibirnya yang tidak terlalu diperhatikan oleh lelaki tahanan tadi.
Kini, lelaki tadi segera menghampiri beberapa orang yang berada di ruangan itu. Yang mana langsung disambut dengan pelukan oleh mereka semua.
"Bang Tigor. Kau tambah gemuk sekarang?!" Ujar Ameng sambil memegangi pundak lelaki tahanan yang ternyata adalah Tigor.
"Bagaimana tidak gemuk? Aku di kurung di sini tanpa bisa bergerak. Keluar dari dalam jeruji pun kaki ku harus di rantai," jawab Tigor tersenyum kecut.
"Separah itukah bang?" Tanya Acong seperti tidak percaya.
"Kau tau seperti apa kita kan? Sudahlah! Kalian jangan banyak tanya. Hanya hari ini aku tidak dirantai. Tapi yang terpenting bagiku adalah, aku tidak boleh terputus dengan dunia luar. Aku harus tau seperti apa kalian menjalankan perusahaan kita di kota Kemuning,"
"Itu masalah sepele bang. Dengan kami bergotong royong, tidak ada pekerjaan yang tidak bisa kami selesaikan. Jika tidak bisa dengan cara halus, cara kasar pun kami tempuh. Siapa yang berani macam-macam dengan orang-orang Dragon Empire?" Sela Ucok sombong.
"Apakah ada perwakilan dari Metro City yang datang kepada kalian?" Tanya Tigor lagi.
"Bukan hanya perwakilan bang. Tapi Tuan besar Jerry William malah mengirim langsung putranya untuk belajar kepada maha guru Tengku Mahmud di Kuala Nipah. Baru beberapa hari ini tiba di kampung itu. Tuan Jeff langsung yang mengantarkan. Kalau aku tidak salah, namanya Joe William. Hanya saja, aku masih belum tau seperti apa wajah anak itu. Kalau menurut perkiraan, usianya lebih tua dua tahun dari Namora. Sekarang dia menduduki sekolah SMP di kampung Indra sakti," jawab Ameng.
"Tuan muda kita baru sampai ke Kuala Nipah. Tapi kalian malah tidak mengenalnya. Sialan kalian ini!" Marah Tigor kepada Ameng.
"Abang jangan marah. Kami dilarang untuk dekat dengan Tuan muda itu. Tuan Jeff sendiri yang berpesan bahwa kami tidak boleh menemuinya di Kuala Nipah. Identitas anak itu juga masih disembunyikan. Anak itu sendiri tidak tau siapa dirinya. Dia hidup seperti anak kebanyakan yang menjalani hidup susah. Apalagi Tengku Mahmud, Abang tau sendirilah seperti apa dia mendidik anak. Kalau Namora, dia pasti tidak akan tahan dan akan menangis sepanjang hari. Belum lagi di bentak. Di lirik saja Namora sudah kencing di celana,"
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 273 Episodes
Comments
On fire
🖤🩶🩶💞💓
2025-01-20
0
On fire
✌️💓🖤🩶🖤
2025-01-20
0
eka aisati
rada2 nggak nyambung nih bang
2023-04-05
0