Acara makan-makan di lapangan rutan kota Batu ini berjalan dengan sangat meriah.
Setiap dari mereka merasa terpuaskan setelah sekian lama tidak pernah menyentuh yang namanya makanan enak.
Sementara itu, Tigor walaupun terus tersenyum dan tertawa bersama para sahabatnya, namun matanya masih jelalatan mencari keberadaan sosok istri dan anaknya yang masih lagi belum menampakkan diri.
Baru lah sekitar pukul delapan malam, setelah mereka semua sedang asyik menikmati minuman yang memang disediakan oleh orang-orang bawahan Tigor, dari arah pintu besi, masuklah dua orang wanita sambil mengapit seorang anak lelaki yang terlihat sangat tampan.
Senyuman dari ketiga orang yang baru memasuki kawasan lapangan rutan itu terlihat begitu manis sehingga jika dibandingkan dengan gula, tentu saja gula lebih manis.
Tigor yang melihat kedatangan ketiga orang itu sedikit merasa heran. Dia jelas tau wanita yang sedikit lebih tua dan anak kecil itu. Itu adalah istri dan anaknya. Tapi, seorang gadis yang menggandeng tangan kiri Namora, dia sama sekali tidak kenal.
Seakan dapat menangkap maksud dari Abangnya, Rio pun segera berdehem membuat Tigor mengalihkan perhatian ke arah Rio.
"Calon adik ipar mu, bang!" Kata Rio tersipu malu.
"Haaaa. Sudah pandai kau sekarang ya!" Kata Tigor menjulurkan tangannya berniat untuk menjewer kuping Rio.
"Bagaimana menurut Abang?" Tanya Rio meminta pandangan dari Abangnya itu.
"Abang tidak bisa memberikan penilaian. Asalkan kau bahagia, ya sudah, jadikan saja. Tapi ingat! Jika kau suka karena kecantikannya, ingat lah bahwa itu tidak selamanya. Jika kau menyukainya karena harta, tidak selamanya orang akan berharta. Karena harta itu hanya titipan. Tapi jika kau jatuh cinta karena kepribadiannya yang baik, akhlaknya yang mulia, maka itu yang akan kekal hingga ke surga," kata Tigor memberikan pandangan serta wejangannya kepada Rio.
"Terimakasih bang. Aku mengenalnya ketika masih SMA dulu. Waktu itu aku sudah berada di kelas tiga, dan dia di kelas satu,"
"Pantas saja kau boros ketika SMA. Ternyata sudah pandai menggatal kau ya!" Tigor membesarkan matanya membuat Rio serba salah antara takut atau lucu.
"Sudah lah bang. Yang di makan sudah jadi kotoran. Apa iya Abang mau mengungkitnya lagi? Lagi pula, hanya aku sanak saudara mu yang tersisa. Jika aku tidak boros, Abang akan terlalu cepat menjadi orang kaya raya,"
"Betul itu bang. Untuk apa Abang kaya kalau kikir?!" Kata Ucok pula membela Rio.
"Di sekolah dasar, Rio sudah sengsara. Di SMP dia sering di hina. Ketika Abangnya sudah memiliki banyak uang, apa salahnya si adik mengambil beberapa dan hidup layaknya seperti kebanyakan anak muda. Bukankah Abang juga yang mengatakan bahwa hidup Abang hanya untuk dua tujuan. Balas dendam, dan untuk menyekolahkan Rio agar menjadi polisi. Sekarang mau perhitungan?" Sela Thomas pula.
"Bang. Budi baik yang akan dikenang," kini Jabat pula yang ambil bagian menceramahi Tigor.
"Diam kalian!" Kata Tigor yang sudah mulai terpojok.
Mereka semua kini tertawa terbahak-bahak melihat Tigor yang mati kutu. Kapan lagi mereka bisa mengerjai Tigor jika tidak sekarang,"
"Itu mereka sudah sampai bang!" Kata Rio mengalihkan pembicaraan. Dia khawatir kalau Tigor akan mengungkit lagi masalah keborosannya di SMA dulu.
"Hmmm. Sudah lajang juga anak ku. Tidak terasa kalau aku sudah mulai tua," kata Tigor bergumam. Lalu, dia merentangkan tangannya untuk menyambut Namora yang sudah berlari ke arahnya. Ini adalah moment yang sangat langka dan baru sekali ini terjadi. Dimana Namora lah yang berinisiatif untuk memeluknya terlebih dahulu.
"Ayah!" Kata anak itu sambil memeluk pinggang Tigor.
"Hohoho... Sudah lajang kau sekarang, Hasian ku. Berat pula kau ini," kata Tigor yang langsung mengangkat tubuh Namora lalu melemparkannya ke atas, kemudian di tangkap lagi.
"Apakah Ayah merindukan kami?" Tanya Namora di sela-sela tawanya.
"Ya. Ayah sangat merindukan Namora," jawab Tigor.
"Namora juga rindu ayah. Ayo kita pulang saja. Namora selalu di hina karena tidak punya ayah," kata anak itu sambil menarik tangan Tigor.
"Ingat perjanjian kita dulu kan? Ayah tidak boleh pulang sebelum Namora memasuki SMA. Makanya jika Namora ingin ayah cepat bebas, Namora harus giat belajar. Jangan sampai tinggal kelas," kata Tigor berbohong.
"Namora sudah giat belajar. Ujian terakhir ini, Namora harus dapat ranking satu. Jika tidak, maka Namora akan malu," kata anak itu bersemangat.
"Wow. Hebat sekali Namora," kata Tigor memuji.
"Iya hebat lah. Namora juga sudah pandai bela diri," kata anak itu lagi dengan angkuhnya.
"Bela diri? Beladiri seperti apa itu?" Tanya Tigor pura-pura tidak tahu.
"Ayah perhatikan ya!" Kata Namora pula. Dia lalu menjauhkan diri dari Tigor, kemudian mulai membuka jurus.
"Hiat... Cah cah cah. Sap sap sap...!" Kata Namora dengan mencakar-cakar dan menendang ke sana ke mari. Entah jurus apa namanya. Pokoknya Namora terus saja bergerak seperti orang kesurupan.
"Namora. Itu jurus apa? Siapa yang mengajarkan kepadamu?" Tanya Tigor berusaha menahan tawa.
"Ini jurus cakar elang. Tapi Paman Ameng mengatakan bahwa ini jurus ceker ayam. Tidak apa-apa. Ceker ayam pun jadi," jawab Namora terengah-engah karena baru saja mempraktekkan jurus antah berantah tadi.
Setengah mati mereka yang berada di tempat itu menahan tawa dengan jawaban polos dari anak kecil itu.
Untuk tingkat kepercayaan diri, Namora mungkin sudah menguasai. Buktinya, dia dengan penuh bersemangat menunjukkan jurus-jurus antah berantah yang entah dari mana dia dapat. Namun, jika dijadikan modal berkelahi, tentu saja Namora akan babak belur oleh lawannya.
"Namora. Siapa yang mengajarkan jurus itu kepadamu?" Tanya Tigor berjongkok merangkul pundak anak itu.
"Tv," jawab Namora singkat.
"Lalu, apakah ada jurus beladiri yang lain?" Tanya Tigor.
"Ada dong. Tapi Namora heran dengan jurus yang satunya lagi. Entah kapan berkelahinya. Karena, tidak ada pukul pukulan," jawab anak itu.
"Coba kau praktekkan!" Pinta Tigor penasaran. Dia ingin tau, seperti apa jurus yang diajarkan oleh Ameng kepada putranya itu.
"Baiklah!" Jawab Namora. Dia lalu berdiri tegak, kemudian mengangkat tangannya.
"Allahuakbar!" Kata Namora. Dia lalu mendekap tangannya di atas pusat.
"Allahuakbar," kata Namora lagi. Lalu dia pun tunduk seperti orang sedang rukuk.
"Allahuakbar!" Kemudian dia kembali tegak.
Tigor terperangah melihat jurus yang diperagakan oleh Namora tadi. Kemudian, dia menatap ke arah Ameng.
"Itu bukan jurus beladiri. Itu gerakan sholat!" Kata Tigor melotot ke arah Ameng.
"Siapa bilang itu bukan jurus beladiri? Gerakan itulah yang akan membela dirinya nanti di akhirat!" Tegas Ameng kepada Tigor.
Dug...
Seperti pukulan palu yang kuat, hati Tigor terasa benar-benar dipukul mendengar jawaban dari Ameng tadi.
"Ini..., Ini adalah sindiran yang sangat menyakitkan. Betapa aku lalai sebagai seorang ayah. Terimakasih karena telah mengingatkan aku bahwa hidup itu untuk mati. Tapi ketika mati, bekal apa yang akan di bawa. Aku lalai sebagai seorang ayah. Pantas saja Namora sangat membenciku," kata Tigor yang langsung terduduk kembali di tikar plastik yang di gelar di lapangan itu.
"Kau tidak salah bang. Kau hanya mangsa keadaan. Jika ditanya kepada orang-orang, seribu kali pun mereka akan menolak berada di posisi mu. Kami yang di luar yang bebas dari jerat hukum ini lah yang akan menggantikan dirimu mendidik Namora. Abang juga jangan lupa. Walaupun di dalam penjara, tidak boleh lupa kepada Allah. Kan Abang yang dulu mengajarkan kepada kami seperti itu,"
"Iya. Benar juga katamu. Aku telah di uji dengan kemiskinan. Tapi ketika itu aku kaya hati. Allah ganti menguji ku dengan harta. Mendadak aku jadi miskin hati."
Tigor tampak merenung menatap lurus ke arah ujung tikar di depan kakinya. Sedangkan Ameng, Sugeng, Acong dan Timbul hanya bisa saling pandang. Niat untuk nge-prank Tigor berubah menjadi suasana haru.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 273 Episodes
Comments
On fire
❤️🩹🤎🤍💛💕💙❤️🧡💚
2025-01-21
0
On fire
🙏💜💗💗💞
2025-01-21
0
Naga Hitam
anak sebelas tahun itu sudah gede banget bang..kok masih bisa dilempar ke atas...
2024-10-25
0