Keempat orang anak lelaki itu saling pandang, lalu tertawa melihat ke arah Namora yang saat ini berdiri mematung karena langkahnya dihalangi oleh keempat anak tadi.
"Kalian dengar apa katanya? Dia bertanya apa salahnya, hahaha.. tidak lucu!" Kata salah satu dari keempat anak tadi.
Kemudian, seorang lagi yang dikenal bernama Diaz kini maju ke depan beberapa langkah. Dia melirik ke arah teman-temannya yang lain.
Mengerti apa maksud dari lirikannya, ketiga anak yang lainnya mulai mengelilingi Namora dan mulai melakukan serangan.
"Gara-gara kau, aku tadi sampai dilempar oleh Bu guru dengan kapur tulis. Sekarang, kau rasakan ini!"
Bugh..!
"Aduh!" Pekik Namora ketika Diaz menendang punggungnya.
Yang lain, begitu melihat Namora sudah meringis kesakitan bukannya merasa kasihan. Mereka malah mendorong tubuh Namora hingga jatuh terduduk, lalu segera menghujani anak itu dengan pukulan.
Perkelahian tak seimbang dan tanpa perlawanan itu akhirnya berhenti ketika hidung mancung milik Namora sudah mengucurkan darah.
Keempat anak-anak itu terlihat ketakutan dan segera lari pontang-panting.
Sebagai anak-anak, jelas mereka ketakutan melihat darah. Selain itu, mereka juga takut andai nanti masalah ini diketahui oleh guru, terlebih lagi kepala sekolah. Oleh karena itulah mereka memilih untuk kabur dan meninggalkan Namora yang saat ini sedang menangis.
Tidak ada yang memperdulikannya. Semua orang hanya lalu lalang, tapi tidak ada yang bertanya mengapa dia menangis.
Lelah seperti itu, Namora akhirnya bangun lalu memperhatikan keadaan dirinya. Kini dia melihat beberapa bagian pada baju seragamnya ada yang sobek, juga beberapa kancing pada bajunya telah putus.
Namora segera memukul-mukul debu yang menempel pada tas miliknya, kemudian kembali melangkah menuju ke rumahnya.
Dari kejauhan, terlihat empat orang lelaki dewasa hanya memperhatikan saja dengan wajah geram ke arah Namora yang terus melangkah semakin menjauh.
"Mengapa kau melarang aku, Meng?" Tanya lelaki itu kepada lelaki yang berada di sampingnya.
"Kau ingin menjadi anak-anak? Itu urusan mereka. Mengapa kau ikut campur?" Jawab lelaki yang disebut Meng tadi membela diri.
"Terus terang. Hatiku sakit mengetahui keponakan ku itu diperlakukan seperti itu!"
"Sabar Cong! Ingat pesan bang Tigor! Dia tidak ingin nantinya Namora menjadi manja. Apa-apa serba mengandalkan orang lain!"
"Ini keterlaluan. Akan ku hajar bapak anak itu. Anaknya seperti itu, karena bapaknya tidak mendidik anaknya dengan benar!"
"Sugeng! Kau jangan gila. Ini masalah anak-anak. Biarkan saja. Namora harus mampu melewati masa-masa sulitnya. Jika tidak, mana bisa kelak dia menjadi andalan kita!"
"Ya sudah lah. Ayo Cong kita pergi. Tinggalkan saja Ameng dan Timbul itu. Di sini juga kita ngapain? Hanya membuat aku sakit hati saja!"
"Ayo lah!"
Kedua pemuda itu meninggalkan kedua sahabatnya yang hanya bisa geleng-geleng kepala saja memperhatikan kepergian kedua sahabatnya.
"Acong.., Sugeng! Mau kemana kalian?" Tanya Ameng.
"Lebih baik aku kembali ke kota Kemuning saja. Cukup kau dan Timbul saja yang berada di sini!" Jawab Sugeng kesal.
Kedua orang itu terus berlalu dan menyebrangi jalan menuju ke arah dua unit mobil yang terparkir di bawah sebatang pohon yang rindang.
*********
Kepulangan Namora dari sekolah dalam keadaan morat-marit itu membuat sang ibu merasa kaget.
Walaupun ini bukan kali pertama dia kembali dengan keadaan seperti itu, tapi yang namanya ibu pasti akan merasa khawatir.
"Namora. Kau berkelahi lagi?" Tanya sang ibu.
Anak itu menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan dari sang Ibu.
"Lalu, mengapa baju mu robek di sana sini?" Tanya sang ibu lagi.
"Mereka mengeroyok ku, Bu," jawab Namora apa adanya.
"Bu. Sebenarnya apa kesalahan ayah sampai dipenjara? Namora malu Bu. Ayah yang dipenjara, tapi Namora yang menanggung malu. Kalau hanya sebatas ayah saja dipenjara, kita tidak apa-apa. Tapi mengapa Namora yang jadi sasaran cacian, hinaan dan diasingkan oleh mereka Bu?" Tanya anak itu sambil nangis.
"Anak ku. Bersabar lah. Ini hanya sementara. Tidak akan lama. Kelak, jika kau bersabar, semuanya akan indah pada waktunya!" Kata sang ibu berusaha untuk membesarkan hati putra semata wayangnya itu.
"Sebenarnya apa kesalahan ayah sehingga dipenjara? Apa benar ayah dipenjara karena mencuri telur ayam?" Tanya anak lugu itu.
"Siapa yang mengatakan itu kepada mu hah?" Tanya sang ibu yang mulai naik pitam.
"Mereka Bu. Mereka mengatakan bahwa ayah Namora seorang mafia. Ada yang bilang bahwa ayah Namora adalah maling. Mereka selalu mengatakan Tigor panangko tolor manuk!" Kata anak itu lagi sambil terus menangis.
(Panangko dalam bahasa Batak artinya pencuri. Sedangkan panangko tolor manuk, artinya pencuri telur ayam)
"Itu semua tidak benar. Kau jangan mempercayai semua itu. Mana mungkin Ayah mu seorang pencuri telur ayam,, sedangkan adiknya adalah seorang polisi. Kita juga punya rumah yang besar. Tidak pernah kekurangan uang. Tidak pernah kelaparan. apakan masuk akal jika ayah mu seorang pencuri telur ayam?"
"Tapi mengapa ayah sampai dipenjara, Bu?" Tanya anak itu lagi merasa tidak puas.
"Namora. Kau tidak akan mengerti andai ibu jelaskan. Tunggu lah sampai kau besar nanti. Ibu dan paman Rio mu akan menceritakan semuanya kepada mu!" Jawab sang ibu membujuk.
"Selalu itu saja yang ibu katakan. Sedikit-sedikit tunggu besar. Sedikit-sedikit tunggu Namora besar. Namora benci dengan Ayah. Gara-gara dia dipenjara, Namora menjadi malu!"
"Namora!!!" Bentak sang ibu yang mulai naik darah.
"Jika kau berkata seperti itu lagi, ibu akan menampar wajah mu!"
"Namora ingin seperti orang-orang. Pergi sekolah diantar oleh Ayah. Pergi kemana-mana bersama ayah dan ibu. Mana Ayah nya? Selama ini hanya ibu saja. Ayah tidak bisa pulang. Dia hanya berada di kamar besi saja. Setiap kita datang, ayah selalu di kamar besi. Benci kalau begini!" Kata Namora yang langsung membanting tas nya, lalu lari keluar rumah.
"Namora! Wah kurang ajar anak ini. Siapa yang mengajarkan kau begitu hah?" Sang ibu mulai berlari mengejar Namora. Namun, anak itu sudah melarikan diri menjauh.
"Kasihan sekali kau nak. Andai kau sudah bisa mengerti dan berfikiran sedikit dewasa, kau pasti akan bangga karena memiliki seorang ayah yang sangat hebat. Dia dipenjara karena menuntut haknya sebagai seorang anak yang dirampas kebahagiaannya oleh orang-orang yang mengatasnamakan diri mereka sebagai Geng Tengkorak. Kelak kau pasti akan bangga," kata sang ibu dalam hati.
Wanita cantik itu segera kembali memasuki rumah dengan perasaan yang bercampur aduk. Ada sendu dihatinya.
Sebenarnya, jika dipikir kembali, anak yang mana yang tidak menginginkan keluarganya lengkap. Ada ibu, dan ayah.
Anak yang mana yang tidak ingin diantar oleh Ayahnya ke sekolah. Semua anak pasti menginginkannya. Tidak terkecuali Namora. Mengingat ini, Mirna hanya bisa meneteskan air mata.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 273 Episodes
Comments
Nana Niez
ibunya jg salah, knp jdi Namora yg dibilang kurang ajar,, dia hanya anak anak yg sakit kl di bully trs
2025-01-01
0
On fire
💞💜💓🩷🩷💗
2025-01-17
0
On fire
🩷🖤💗💗
2025-01-17
0