Keluhan anak lugu

Keempat orang anak lelaki itu saling pandang, lalu tertawa melihat ke arah Namora yang saat ini berdiri mematung karena langkahnya dihalangi oleh keempat anak tadi.

"Kalian dengar apa katanya? Dia bertanya apa salahnya, hahaha.. tidak lucu!" Kata salah satu dari keempat anak tadi.

Kemudian, seorang lagi yang dikenal bernama Diaz kini maju ke depan beberapa langkah. Dia melirik ke arah teman-temannya yang lain.

Mengerti apa maksud dari lirikannya, ketiga anak yang lainnya mulai mengelilingi Namora dan mulai melakukan serangan.

"Gara-gara kau, aku tadi sampai dilempar oleh Bu guru dengan kapur tulis. Sekarang, kau rasakan ini!"

Bugh..!

"Aduh!" Pekik Namora ketika Diaz menendang punggungnya.

Yang lain, begitu melihat Namora sudah meringis kesakitan bukannya merasa kasihan. Mereka malah mendorong tubuh Namora hingga jatuh terduduk, lalu segera menghujani anak itu dengan pukulan.

Perkelahian tak seimbang dan tanpa perlawanan itu akhirnya berhenti ketika hidung mancung milik Namora sudah mengucurkan darah.

Keempat anak-anak itu terlihat ketakutan dan segera lari pontang-panting.

Sebagai anak-anak, jelas mereka ketakutan melihat darah. Selain itu, mereka juga takut andai nanti masalah ini diketahui oleh guru, terlebih lagi kepala sekolah. Oleh karena itulah mereka memilih untuk kabur dan meninggalkan Namora yang saat ini sedang menangis.

Tidak ada yang memperdulikannya. Semua orang hanya lalu lalang, tapi tidak ada yang bertanya mengapa dia menangis.

Lelah seperti itu, Namora akhirnya bangun lalu memperhatikan keadaan dirinya. Kini dia melihat beberapa bagian pada baju seragamnya ada yang sobek, juga beberapa kancing pada bajunya telah putus.

Namora segera memukul-mukul debu yang menempel pada tas miliknya, kemudian kembali melangkah menuju ke rumahnya.

Dari kejauhan, terlihat empat orang lelaki dewasa hanya memperhatikan saja dengan wajah geram ke arah Namora yang terus melangkah semakin menjauh.

"Mengapa kau melarang aku, Meng?" Tanya lelaki itu kepada lelaki yang berada di sampingnya.

"Kau ingin menjadi anak-anak? Itu urusan mereka. Mengapa kau ikut campur?" Jawab lelaki yang disebut Meng tadi membela diri.

"Terus terang. Hatiku sakit mengetahui keponakan ku itu diperlakukan seperti itu!"

"Sabar Cong! Ingat pesan bang Tigor! Dia tidak ingin nantinya Namora menjadi manja. Apa-apa serba mengandalkan orang lain!"

"Ini keterlaluan. Akan ku hajar bapak anak itu. Anaknya seperti itu, karena bapaknya tidak mendidik anaknya dengan benar!"

"Sugeng! Kau jangan gila. Ini masalah anak-anak. Biarkan saja. Namora harus mampu melewati masa-masa sulitnya. Jika tidak, mana bisa kelak dia menjadi andalan kita!"

"Ya sudah lah. Ayo Cong kita pergi. Tinggalkan saja Ameng dan Timbul itu. Di sini juga kita ngapain? Hanya membuat aku sakit hati saja!"

"Ayo lah!"

Kedua pemuda itu meninggalkan kedua sahabatnya yang hanya bisa geleng-geleng kepala saja memperhatikan kepergian kedua sahabatnya.

"Acong.., Sugeng! Mau kemana kalian?" Tanya Ameng.

"Lebih baik aku kembali ke kota Kemuning saja. Cukup kau dan Timbul saja yang berada di sini!" Jawab Sugeng kesal.

Kedua orang itu terus berlalu dan menyebrangi jalan menuju ke arah dua unit mobil yang terparkir di bawah sebatang pohon yang rindang.

*********

Kepulangan Namora dari sekolah dalam keadaan morat-marit itu membuat sang ibu merasa kaget.

Walaupun ini bukan kali pertama dia kembali dengan keadaan seperti itu, tapi yang namanya ibu pasti akan merasa khawatir.

"Namora. Kau berkelahi lagi?" Tanya sang ibu.

Anak itu menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan dari sang Ibu.

"Lalu, mengapa baju mu robek di sana sini?" Tanya sang ibu lagi.

"Mereka mengeroyok ku, Bu," jawab Namora apa adanya.

"Bu. Sebenarnya apa kesalahan ayah sampai dipenjara? Namora malu Bu. Ayah yang dipenjara, tapi Namora yang menanggung malu. Kalau hanya sebatas ayah saja dipenjara, kita tidak apa-apa. Tapi mengapa Namora yang jadi sasaran cacian, hinaan dan diasingkan oleh mereka Bu?" Tanya anak itu sambil nangis.

"Anak ku. Bersabar lah. Ini hanya sementara. Tidak akan lama. Kelak, jika kau bersabar, semuanya akan indah pada waktunya!" Kata sang ibu berusaha untuk membesarkan hati putra semata wayangnya itu.

"Sebenarnya apa kesalahan ayah sehingga dipenjara? Apa benar ayah dipenjara karena mencuri telur ayam?" Tanya anak lugu itu.

"Siapa yang mengatakan itu kepada mu hah?" Tanya sang ibu yang mulai naik pitam.

"Mereka Bu. Mereka mengatakan bahwa ayah Namora seorang mafia. Ada yang bilang bahwa ayah Namora adalah maling. Mereka selalu mengatakan Tigor panangko tolor manuk!" Kata anak itu lagi sambil terus menangis.

(Panangko dalam bahasa Batak artinya pencuri. Sedangkan panangko tolor manuk, artinya pencuri telur ayam)

"Itu semua tidak benar. Kau jangan mempercayai semua itu. Mana mungkin Ayah mu seorang pencuri telur ayam,, sedangkan adiknya adalah seorang polisi. Kita juga punya rumah yang besar. Tidak pernah kekurangan uang. Tidak pernah kelaparan. apakan masuk akal jika ayah mu seorang pencuri telur ayam?"

"Tapi mengapa ayah sampai dipenjara, Bu?" Tanya anak itu lagi merasa tidak puas.

"Namora. Kau tidak akan mengerti andai ibu jelaskan. Tunggu lah sampai kau besar nanti. Ibu dan paman Rio mu akan menceritakan semuanya kepada mu!" Jawab sang ibu membujuk.

"Selalu itu saja yang ibu katakan. Sedikit-sedikit tunggu besar. Sedikit-sedikit tunggu Namora besar. Namora benci dengan Ayah. Gara-gara dia dipenjara, Namora menjadi malu!"

"Namora!!!" Bentak sang ibu yang mulai naik darah.

"Jika kau berkata seperti itu lagi, ibu akan menampar wajah mu!"

"Namora ingin seperti orang-orang. Pergi sekolah diantar oleh Ayah. Pergi kemana-mana bersama ayah dan ibu. Mana Ayah nya? Selama ini hanya ibu saja. Ayah tidak bisa pulang. Dia hanya berada di kamar besi saja. Setiap kita datang, ayah selalu di kamar besi. Benci kalau begini!" Kata Namora yang langsung membanting tas nya, lalu lari keluar rumah.

"Namora! Wah kurang ajar anak ini. Siapa yang mengajarkan kau begitu hah?" Sang ibu mulai berlari mengejar Namora. Namun, anak itu sudah melarikan diri menjauh.

"Kasihan sekali kau nak. Andai kau sudah bisa mengerti dan berfikiran sedikit dewasa, kau pasti akan bangga karena memiliki seorang ayah yang sangat hebat. Dia dipenjara karena menuntut haknya sebagai seorang anak yang dirampas kebahagiaannya oleh orang-orang yang mengatasnamakan diri mereka sebagai Geng Tengkorak. Kelak kau pasti akan bangga," kata sang ibu dalam hati.

Wanita cantik itu segera kembali memasuki rumah dengan perasaan yang bercampur aduk. Ada sendu dihatinya.

Sebenarnya, jika dipikir kembali, anak yang mana yang tidak menginginkan keluarganya lengkap. Ada ibu, dan ayah.

Anak yang mana yang tidak ingin diantar oleh Ayahnya ke sekolah. Semua anak pasti menginginkannya. Tidak terkecuali Namora. Mengingat ini, Mirna hanya bisa meneteskan air mata.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Nana Niez

Nana Niez

ibunya jg salah, knp jdi Namora yg dibilang kurang ajar,, dia hanya anak anak yg sakit kl di bully trs

2025-01-01

0

On fire

On fire

💞💜💓🩷🩷💗

2025-01-17

0

On fire

On fire

🩷🖤💗💗

2025-01-17

0

lihat semua
Episodes
1 Bab permulaan
2 Keluhan anak lugu
3 Ameng dan Acong menghampiri
4 Namora ditipu oleh teman-temannya
5 Mirna menemui keempat sahabat Tigor
6 Untung ada Ameng
7 Ayah mu lebih hebat dari superhero
8 Mengunjungi Rio
9 Kisah dari Rio
10 Penyesalan Namora
11 Panggilan telepon untuk Tigor
12 Dendam di hati Namora
13 Namora dimarahi oleh Ibunya
14 Jurus cakar ayam ala Namora
15 Jurus aneh yang diajarkan oleh Ameng
16 Hari ulangtahun Namora
17 Tiba di pusat tahanan kota Batu
18 Acara makan bersama semua tahanan
19 Sindiran keras untuk Tigor
20 Puncak dari acara ulang tahun Namora
21 Bersahabat dengan J7
22 Dikeroyok lagi
23 Namora kencing di celana
24 Harianto pujakesuma
25 Mulai berlatih
26 Metode aneh dari Rio
27 Nasehat untuk Namora
28 J7 dikeroyok
29 Sepeda Jol rusak parah
30 Namora diceramahi
31 Diaz yang sombong
32 Namora tidak mendapatkan izin
33 Jol yang sewot
34 Berpisah dengan pak Harianto
35 Namora tidak lulus SMA favorit
36 Nyemplung ke sungai
37 Janji berkumpul di rumah James
38 Meninjau sekolah baru
39 Lahirnya J7
40 Motor baru J7
41 Rencana licik, Rendra
42 Kenza
43 Pendirian Tigor tidak berubah
44 Peringatan dari Ameng
45 Hari pertama sekolah
46 Rencana untuk mempermainkan Namora
47 Taruhan di mulai
48 Acting yang sempurna
49 Permintaan mengada-ada dari Merisda
50 Salahkan dirimu yang miskin
51 Dihina oleh Merisda
52 Perubahan pada diri Namora
53 Tigor dan Mirna bertengkar
54 Tigor tidak mau disalahkan
55 Fighter Club
56 Kenza tiba di Fighter Club'
57 Namora yang penuh dengan misteri
58 Knock-out dari Kenza
59 Kacau-balau di aula Fighter Club'
60 Menabrak mobil milik orang
61 Rahasia tentang diri Kenza
62 Ameng akan membawa Namora ke kota Kemuning
63 Berangkat ke kota Kemuning
64 Namora dipermak
65 Penyambutan untuk Namora
66 Namora yang mampu menyesuaikan diri
67 kembali ke kota Batu
68 Ini sudah keterlaluan
69 Namora memukul Rendra
70 Mendaftar
71 Namora minta uang
72 Namora dikepung
73 Kena batunya
74 Melumpuhkan dua orang suruhan
75 Undangan dari Merisda
76 Memaksa Namora
77 Terasing dalam ramai
78 Penghinaan yang paling menyakitkan
79 Penyesalan Merisda
80 Tiba di Aula Fighter Club'
81 Memberi kesempatan kepada Willi
82 Mengantar Willi pulang
83 Memboyong Yamaha R1 ke kota Batu
84 Mencari informasi tentang diri Arda
85 Ternyata Rendra masih belum kapok juga
86 Namora kembali ke sekolah
87 Mengetahui identitas Arda
88 Ameng memeras Tigor
89 Zack berpindah tangan
90 Semakin acuh
91 Namora vs Hendro
92 Namora sang Otoriter
93 Pemecatan massal
94 Namora si tangan besi
95 Namora dimata-matai
96 Tanta yang salah sasaran
97 Ameng menampar Namora
98 Kematian Tanta
99 Rahasia organisasi
100 Zack menceritakan semuanya
101 Rencana kotor, Ardi
102 Ameng mengadukan ulah Namora
103 Membuat kekacauan di Dojo kampung baru
104 Rudi ditumbangkan
105 Kesadisan Namora
106 Ameng menghajar Ganjang
107 Arda dan Ardi terkepung
108 Bantuan tiba
109 Melepas keberangkatan Merisda
110 Namora, si pembuat onar
111 Jhonroy membunuh lagi
112 Semua meragukan kemampuan Namora
113 Bersiap untuk berangkat
114 Menelepon Jerry William
115 Jerry turun tangan
116 Black shadow dan Black Eagle
117 Rombongan sampai di Dolok ginjang
118 Kemenangan pertama Namora
119 Tiket ke babak 16 besar
120 Angga dan Teja
121 Berbeda pendapat
122 Teja tetap pada pendiriannya
123 Semifinal
124 Jhonroy menemui Sensei
125 Pembunuh bayaran
126 Skema matang seorang Jerry William
127 Diaz, over dosis
128 Kabar dari Dudul
129 Dihadang
130 Pembantaian
131 Kedatangan dua orang warga asing
132 Angga menyalahkan Teja
133 Kemarahan Namora
134 Namora akan menjadi pion bagi rencana Tigor
135 di kepung
136 Pengawal bayangan keluar untuk membantu
137 Namora dalam bahaya
138 Kemunculan Black shadow di saat genting
139 Pertarungan dua pejuang
140 Rio VS Jhonroy
141 Rio mendapat tekanan
142 Kabar dari Takimura
143 Namora masih belum siuman
144 Meminta bantuan ke Kuala Nipah
145 penawar dari Joe
146 Kelicikan Angga
147 Melawan racun dengan racun
148 Namora telah siuman
149 Kepala Namora pusing lagi
150 Jol berkunjung
151 kembali ke sekolah
152 Namora dihukum
153 Namora menemui Tigor
154 Dilema
155 Kedok di balik Dojo
156 Kisah tentang Sensei
157 Menanti kedatangan sang otoriter
158 Suasana rapat yang canggung
159 Mulai mendapatkan penentangan
160 Jadilah anjing yang baik!
161 Udin ngomel terus
162 Tekad Namora
163 Jiwa muda pak Karim
164 Obrolan dua orang beda usia
165 Namora Jagoan
166 Pertemuan di rumah Jhonroy
167 Tiba dikampung Permai
168 Keluarga Lan
169 Preman pasar
170 Amukan Namora di pasar Sabtu
171 Bertemu dengan Ibu Zack
172 Mengumumkan permusuhan
173 Don Mora
174 Mengajak keluarga pak Karim makan di Hotel
175 Operasi tanjung karang
176 Sehari sebelum kebebasan Tigor
177 Ke Tower Mall
178 Pertemuan tidak sengaja dengan walikota Rantau
179 Kabar buruk dari perusahaan
180 Hari kebebasan Tigor
181 Hari kebebasan Tigor
182 Namora ditekan
183 Pertemuan di mulai
184 Perdebatan semakin menegangkan
185 Acting sempurna
186 Penyesalan
187 Bertemu dengan Joe William
188 Kematian pengkhianat
189 Angga menemui Namora
190 Aku bukan bodoh
191 Alun-alun kota Kemuning
192 Menghajar Andi
193 Satu juta poundsterling
194 Entah apa rencana kotor Angga
195 Namora akan kembali ke kota Batu
196 Menjadi Target pembunuhan
197 Pak Dewanto
198 Penolakan Namora
199 Kembali ke Sekolah
200 Pembunuh bayaran telah tiba
201 Aksi penyelamatan
202 Yang bisa membunuhku masih belum lahir
203 Peperangan mulai tercetus
204 Retro Komersial Enterprise
205 Masih belum move-on
206 Don Mora beraksi
207 Perang terus berlanjut
208 Ameng Kasmaran
209 Namora kembali di kepung
210 Pengepung yang terkepung
211 Lepas dari mulut harimau, masuk ke dalam mulut buaya
212 Teja terbun*h
213 Bertemu dengan Xenita
214 Namora mati kutu
215 Namora dikambinghitamkan
216 Apakah Black Cat harus kembali?
217 Organisasi Hayabusa
218 Meninggalkan kampung Kuala Nipah
219 PH entertainment
220 Intermezzo
221 Kebakaran
222 Gurita Bisnis milik Jhonroy
223 Kedatangan Joe William
224 Di bakar lagi
225 Pembantaian oleh Namora
226 Jhonroy semakin tertekan
227 Erik membocorkan informasi
228 Peringatan keras dari Tengku Mahmud
229 Undangan makan malam dari pak Dewanto
230 Pertemuan dengan keluarga Dewanto
231 Jhonroy akan jadi gelandangan
232 Disergap pembunuh bayaran
233 Joe vs Sensei
234 Kemunculan Black Cat memakan korban
235 Pertarungan hidup dan mati
236 Memburu Jhonroy
237 Kau menanam, kau menuai
238 Tak tumbang dihina, tak terbang dipuji
239 Menyelidiki Namora
240 Aku tidak menjauh. tapi kau jangan mendekat
241 Yang Mulia Namora
242 Bintang muda
243 Bahaya yang mengintai
244 Malam perpisahan
245 Kedatangan Xenita
246 Kedatangan dua tamu tak diundang
247 Tantangan dari Dhani
248 Liciknya Angga
249 pemanasan dimulai
250 Provokasi Dhani
251 Sosok serba hitam
252 mengabari Namora
253 Kabar duka
254 Angga masih tetap licik
255 Dhani ketakutan
256 Rio gagal membawa Dhani
257 Dhani dilepaskan
258 Gelandangan
259 Tiba di kota Batu
260 Mematahkan kaki Dhani
261 Rio vs Lolo
262 Kemarahan Dhani
263 Kembali Angga menggunakan kelicikannya
264 Akhirnya Tigor turun tangan
265 Sosok serba hitam
266 kemunculan Black cat memakan korban
267 Ayank Mora IQ rendah
268 Tiga kacung
269 Joe dan Namora sekarat
270 Pertarungan tak seimbang
271 Tengku Mahmud vs Matsushima
272 Bab Akhir
273 Karya baru telah rilis
Episodes

Updated 273 Episodes

1
Bab permulaan
2
Keluhan anak lugu
3
Ameng dan Acong menghampiri
4
Namora ditipu oleh teman-temannya
5
Mirna menemui keempat sahabat Tigor
6
Untung ada Ameng
7
Ayah mu lebih hebat dari superhero
8
Mengunjungi Rio
9
Kisah dari Rio
10
Penyesalan Namora
11
Panggilan telepon untuk Tigor
12
Dendam di hati Namora
13
Namora dimarahi oleh Ibunya
14
Jurus cakar ayam ala Namora
15
Jurus aneh yang diajarkan oleh Ameng
16
Hari ulangtahun Namora
17
Tiba di pusat tahanan kota Batu
18
Acara makan bersama semua tahanan
19
Sindiran keras untuk Tigor
20
Puncak dari acara ulang tahun Namora
21
Bersahabat dengan J7
22
Dikeroyok lagi
23
Namora kencing di celana
24
Harianto pujakesuma
25
Mulai berlatih
26
Metode aneh dari Rio
27
Nasehat untuk Namora
28
J7 dikeroyok
29
Sepeda Jol rusak parah
30
Namora diceramahi
31
Diaz yang sombong
32
Namora tidak mendapatkan izin
33
Jol yang sewot
34
Berpisah dengan pak Harianto
35
Namora tidak lulus SMA favorit
36
Nyemplung ke sungai
37
Janji berkumpul di rumah James
38
Meninjau sekolah baru
39
Lahirnya J7
40
Motor baru J7
41
Rencana licik, Rendra
42
Kenza
43
Pendirian Tigor tidak berubah
44
Peringatan dari Ameng
45
Hari pertama sekolah
46
Rencana untuk mempermainkan Namora
47
Taruhan di mulai
48
Acting yang sempurna
49
Permintaan mengada-ada dari Merisda
50
Salahkan dirimu yang miskin
51
Dihina oleh Merisda
52
Perubahan pada diri Namora
53
Tigor dan Mirna bertengkar
54
Tigor tidak mau disalahkan
55
Fighter Club
56
Kenza tiba di Fighter Club'
57
Namora yang penuh dengan misteri
58
Knock-out dari Kenza
59
Kacau-balau di aula Fighter Club'
60
Menabrak mobil milik orang
61
Rahasia tentang diri Kenza
62
Ameng akan membawa Namora ke kota Kemuning
63
Berangkat ke kota Kemuning
64
Namora dipermak
65
Penyambutan untuk Namora
66
Namora yang mampu menyesuaikan diri
67
kembali ke kota Batu
68
Ini sudah keterlaluan
69
Namora memukul Rendra
70
Mendaftar
71
Namora minta uang
72
Namora dikepung
73
Kena batunya
74
Melumpuhkan dua orang suruhan
75
Undangan dari Merisda
76
Memaksa Namora
77
Terasing dalam ramai
78
Penghinaan yang paling menyakitkan
79
Penyesalan Merisda
80
Tiba di Aula Fighter Club'
81
Memberi kesempatan kepada Willi
82
Mengantar Willi pulang
83
Memboyong Yamaha R1 ke kota Batu
84
Mencari informasi tentang diri Arda
85
Ternyata Rendra masih belum kapok juga
86
Namora kembali ke sekolah
87
Mengetahui identitas Arda
88
Ameng memeras Tigor
89
Zack berpindah tangan
90
Semakin acuh
91
Namora vs Hendro
92
Namora sang Otoriter
93
Pemecatan massal
94
Namora si tangan besi
95
Namora dimata-matai
96
Tanta yang salah sasaran
97
Ameng menampar Namora
98
Kematian Tanta
99
Rahasia organisasi
100
Zack menceritakan semuanya
101
Rencana kotor, Ardi
102
Ameng mengadukan ulah Namora
103
Membuat kekacauan di Dojo kampung baru
104
Rudi ditumbangkan
105
Kesadisan Namora
106
Ameng menghajar Ganjang
107
Arda dan Ardi terkepung
108
Bantuan tiba
109
Melepas keberangkatan Merisda
110
Namora, si pembuat onar
111
Jhonroy membunuh lagi
112
Semua meragukan kemampuan Namora
113
Bersiap untuk berangkat
114
Menelepon Jerry William
115
Jerry turun tangan
116
Black shadow dan Black Eagle
117
Rombongan sampai di Dolok ginjang
118
Kemenangan pertama Namora
119
Tiket ke babak 16 besar
120
Angga dan Teja
121
Berbeda pendapat
122
Teja tetap pada pendiriannya
123
Semifinal
124
Jhonroy menemui Sensei
125
Pembunuh bayaran
126
Skema matang seorang Jerry William
127
Diaz, over dosis
128
Kabar dari Dudul
129
Dihadang
130
Pembantaian
131
Kedatangan dua orang warga asing
132
Angga menyalahkan Teja
133
Kemarahan Namora
134
Namora akan menjadi pion bagi rencana Tigor
135
di kepung
136
Pengawal bayangan keluar untuk membantu
137
Namora dalam bahaya
138
Kemunculan Black shadow di saat genting
139
Pertarungan dua pejuang
140
Rio VS Jhonroy
141
Rio mendapat tekanan
142
Kabar dari Takimura
143
Namora masih belum siuman
144
Meminta bantuan ke Kuala Nipah
145
penawar dari Joe
146
Kelicikan Angga
147
Melawan racun dengan racun
148
Namora telah siuman
149
Kepala Namora pusing lagi
150
Jol berkunjung
151
kembali ke sekolah
152
Namora dihukum
153
Namora menemui Tigor
154
Dilema
155
Kedok di balik Dojo
156
Kisah tentang Sensei
157
Menanti kedatangan sang otoriter
158
Suasana rapat yang canggung
159
Mulai mendapatkan penentangan
160
Jadilah anjing yang baik!
161
Udin ngomel terus
162
Tekad Namora
163
Jiwa muda pak Karim
164
Obrolan dua orang beda usia
165
Namora Jagoan
166
Pertemuan di rumah Jhonroy
167
Tiba dikampung Permai
168
Keluarga Lan
169
Preman pasar
170
Amukan Namora di pasar Sabtu
171
Bertemu dengan Ibu Zack
172
Mengumumkan permusuhan
173
Don Mora
174
Mengajak keluarga pak Karim makan di Hotel
175
Operasi tanjung karang
176
Sehari sebelum kebebasan Tigor
177
Ke Tower Mall
178
Pertemuan tidak sengaja dengan walikota Rantau
179
Kabar buruk dari perusahaan
180
Hari kebebasan Tigor
181
Hari kebebasan Tigor
182
Namora ditekan
183
Pertemuan di mulai
184
Perdebatan semakin menegangkan
185
Acting sempurna
186
Penyesalan
187
Bertemu dengan Joe William
188
Kematian pengkhianat
189
Angga menemui Namora
190
Aku bukan bodoh
191
Alun-alun kota Kemuning
192
Menghajar Andi
193
Satu juta poundsterling
194
Entah apa rencana kotor Angga
195
Namora akan kembali ke kota Batu
196
Menjadi Target pembunuhan
197
Pak Dewanto
198
Penolakan Namora
199
Kembali ke Sekolah
200
Pembunuh bayaran telah tiba
201
Aksi penyelamatan
202
Yang bisa membunuhku masih belum lahir
203
Peperangan mulai tercetus
204
Retro Komersial Enterprise
205
Masih belum move-on
206
Don Mora beraksi
207
Perang terus berlanjut
208
Ameng Kasmaran
209
Namora kembali di kepung
210
Pengepung yang terkepung
211
Lepas dari mulut harimau, masuk ke dalam mulut buaya
212
Teja terbun*h
213
Bertemu dengan Xenita
214
Namora mati kutu
215
Namora dikambinghitamkan
216
Apakah Black Cat harus kembali?
217
Organisasi Hayabusa
218
Meninggalkan kampung Kuala Nipah
219
PH entertainment
220
Intermezzo
221
Kebakaran
222
Gurita Bisnis milik Jhonroy
223
Kedatangan Joe William
224
Di bakar lagi
225
Pembantaian oleh Namora
226
Jhonroy semakin tertekan
227
Erik membocorkan informasi
228
Peringatan keras dari Tengku Mahmud
229
Undangan makan malam dari pak Dewanto
230
Pertemuan dengan keluarga Dewanto
231
Jhonroy akan jadi gelandangan
232
Disergap pembunuh bayaran
233
Joe vs Sensei
234
Kemunculan Black Cat memakan korban
235
Pertarungan hidup dan mati
236
Memburu Jhonroy
237
Kau menanam, kau menuai
238
Tak tumbang dihina, tak terbang dipuji
239
Menyelidiki Namora
240
Aku tidak menjauh. tapi kau jangan mendekat
241
Yang Mulia Namora
242
Bintang muda
243
Bahaya yang mengintai
244
Malam perpisahan
245
Kedatangan Xenita
246
Kedatangan dua tamu tak diundang
247
Tantangan dari Dhani
248
Liciknya Angga
249
pemanasan dimulai
250
Provokasi Dhani
251
Sosok serba hitam
252
mengabari Namora
253
Kabar duka
254
Angga masih tetap licik
255
Dhani ketakutan
256
Rio gagal membawa Dhani
257
Dhani dilepaskan
258
Gelandangan
259
Tiba di kota Batu
260
Mematahkan kaki Dhani
261
Rio vs Lolo
262
Kemarahan Dhani
263
Kembali Angga menggunakan kelicikannya
264
Akhirnya Tigor turun tangan
265
Sosok serba hitam
266
kemunculan Black cat memakan korban
267
Ayank Mora IQ rendah
268
Tiga kacung
269
Joe dan Namora sekarat
270
Pertarungan tak seimbang
271
Tengku Mahmud vs Matsushima
272
Bab Akhir
273
Karya baru telah rilis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!