Keempat pemuda yang berdiri di bawah sebatang pohon beringin terlihat tersenyum melihat seorang anak kecil menghampiri mereka dengan memayungi kepalanya dengan tas.
Terlihat anak itu menyeringai menahan sengatan sinar matahari sehingga kulit putihnya memerah akibat terkena sengatan matahari yang dirasakan cukup panas hari ini.
"Paman!" Sapa anak itu tersenyum.
"Namora. Kau pernah jalan-jalan ke kota Kemuning? Di sana ada pasar malam. Nanti paman akan mengajak mu bermain mobil-mobilan di sana. Mau?" Tanya Ameng kepada anak itu.
"Kota Kemuning itu jauh, Paman. Nanti ibuku marah. Lebih baik Namora pulang saja. Kasihan ibu sendirian di rumah," Namora menolak ajakan dari Ameng tadi dengan halus.
"Baiklah jika kau tidak mau. Tidak apa-apa. Lalu, apa kau tidak bosan di rumah terus? Bukankah kau ingin punya teman bermain?" Tanya Acong pula.
"Tidak ada yang mau bermain dengan ku, Paman. Aku sudah terbiasa sendiri!" Jawab Namora lesu.
Sedih juga hati keempat pemuda itu mendengar jawaban polos dari anak kecil ini.
"Kasihan sekali kau, Namora. Masa kecil mu habis begitu saja tanpa kebahagiaan," kata Timbul dalam hatinya.
"Ayo paman antar kau pulang," ajak Ameng sambil menyuruh anak itu untuk masuk ke dalam mobil.
Mobil mereka pun akhirnya berlalu dari tempat itu sambil diikuti dengan tatapan mata dari keempat anak-anak yang sebaya dengan Namora.
Dari raut wajah mereka, terlihat kekesalan karena hari ini, mereka tidak dapat mengganggu Namora.
"Sial. Padahal aku ingin mengerjai anak narapidana yang tidak tau diri itu," gerutu Diaz sewot. Jelas saja dia kesal. Karena, selama ini Namora adalah anak yang bisa mereka kerjai. Tidak ada yang membela anak itu. Jika mereka sedang bosan atau iseng, maka Namora lah tempat pelampiasan mereka.
"Ayo lah kita pulang. Panas banget hari ini. Masih ada hari esok. Kita bisa mengerjai anak itu," kata Ruben pula.
"Ya sudah. Ayo kita pulang!"
Keempat anak itu pun segera berlalu pergi meninggalkan bagian depan sekolah dasar kampung baru ini. Sekolah yang bagi mereka adalah tempat mereka bisa melakukan apa saja. Apa lagi Diaz. Ayahnya adalah guru kelas 6. Ketika nanti dia berada di kelas 6, semakin merdeka lah dia. Karena ayahnya yang akan menjadi gurunya di kelas tersebut. Sudah pasti dia akan menjadi ketua kelas yang bisa melakukan apa saja terhadap murid lainnya. Setidaknya seperti itulah yang ada dalam benak anak itu.
Sementara itu, di dalam mobil, Ameng dan yang lainnya terus mengajak Namora bercerita. Namora juga terlihat banyak bercerita kepada keempat pamannya itu. Mulai dari barang-barang mainan, berapa nilainya di kelas, sampai Hero yang dia sukai di film.
Dia suka Superman. Dia juga suka Jacky Chan. Apa lagi power ranges. Semua itu adalah Hero yang dia sukai di televisi.
Mendengar ini, Ameng hanya tertawa saja. Lalu, dia pun mulai menceritakan kepada anak itu, bahwa ada seorang super Hero yang lebih hebat dari yang diceritakan oleh Namora tadi.
"Namora. Semua Hero yang kau ceritakan tadi memang hebat-hebat belaka. Hanya saja, itu tidak wujud dalam dunia nyata. Itu hanyalah fiksi. Sedangkan Hero bagi paman di dunia nyata ini adalah Ayah mu!" Kata Ameng yang diperkuat pula oleh Timbul, Acong dan Sugeng.
"Benar Nak. Ayah mu adalah super Hero di dunia nyata. Ketika ayah mu sudah bergerak, tidak bakalan ada yang lolos dari incarannya," timpal Acong lagi.
"Apa iya, Paman? Lalu, jika ayah ku adalah super Hero, mengapa dia dipenjarakan? Setahu Namora, penjara itu tempatnya orang-orang jahat. Makanya Namora benci ayah!" Jawab anak itu. Wajar, karena dia tidak tau cerita di balik mengapa ayahnya bisa dipenjara. Karena, ketika Tigor dibui, Namora masih berada di dalam perut.
"Namora. Seorang anak, tidak boleh membenci orang tuanya. Walau bagaimanapun, jika tidak ada orang tua, Namora tidak akan pernah terlahir ke dunia ini. Sebagai anak yang baik, tugas Namora hanya berbakti kepada orang tua. Jika Namora membenci orang tua, Tuhan bisa murka. Kalau Tuhan sampai murka, nanti Namora bisa masuk neraka," kata Ameng menasehati anak itu. Baginya, ini jelas sangat berbahaya. Jika rasa benci Namora kepada ayahnya dibiarkan begitu saja tanpa ada yang menjelaskan duduk persoalannya, maka semakin lama kebencian itu akan berkarat. Jika sudah demikian, maka akan sangat sulit untuk menghapus rasa tersebut.
"Namora tidak tau apa-apa. Karena, ketika itu Namora belum lahir. Paman-paman mu ini lah yang menjadi saksi atas perjuangan ayahmu dulu. Jika Namora sekarang punya ibu, punya rumah untuk berteduh, punya mainan, bisa menonton film, bisa sarapan pagi, terlebih lagi Namora bisa sekolah. Jika ayah mu dan Paman-paman mu ini dulu, kami tidak memiliki rumah, tidak punya waktu untuk menonton film, mainan kami hanyalah kemoceng dan kami akan membersihkan kaca mobil orang di lampu merah demi uang seratus rupiah. Apa lagi sekolah. Jadi, sebenarnya kehidupan Namora lebih beruntung. Namora masih punya ibu walau ayah berada di penjara. Namun kami, sama sekali kami tidak memiliki orang tua. Masih enakan Namora kan?" Tanya Sugeng sambil membelai rambut lurus kemerahan milik anak itu.
"Tadi paman mengatakan bahwa ayah ku lebih hebat dari superhero. Apa kehebatan ayah ku, Paman?!" Tanya Namora. Dia bersiap-siap untuk mendengarkan penuturan dari keempat pamannya itu.
"Dulu. Ketika ayah mu seusia dengan mu. Eh tidak. Dia sedikit lebih tua dari usia mu saat ini ketika itu. Waktu itu kami belum kenal dengan Ayah mu. Jadi, pas ketika kami sedang mengamen di dekat jembatan Tasik Putri, ayah mu lewat sambil menggandeng tangan paman Rio mu. Tepat ketika ayah mu lewat, dia diganggu oleh ketua kami bernama Bungkring. Kau tau apa yang terjadi?" Tanya Sugeng menggantung ceritanya.
Namora menggeleng. Lalu dia meminta agar Sugeng menceritakan lagi kelanjutan dari ceritanya tadi.
"Waktu itu, terjadi lah perkelahian antara si Bungkring ini dengan Ayah mu. Ayah mu memungut sebongkah batu, lalu memukulkan ke kepala si Bungkring itu. Akhirnya Bungkring pun mati dan kami terbebas dari Kungkungan si Bungkring itu. Itu baru sepersekian dari kehebatan ayah mu. Kehebatan yang lainnya adalah, walaupun kami ketika itu masih gelandangan, dia mampu menyekolahkan paman Rio mu sampai jadi seorang polisi. Mana lebih hebat, Superman atau Ayah mu?" Tanya Sugeng.
"Wah. Lalu?" Tanya Namora semakin penasaran.
"Dulu, tidak pernah terpikir di benak kami bisa punya rumah sendiri, apa lagi punya mobil. Semua ini adalah berkat perjuangan keras dari ayah mu. Dia sendirian yang mengangkat derajat kami. Dulu, bisa makan sekali sehari pun sudah sangat bersyukur. Namora sekarang bisa tidur di kasur empuk, bisa punya rumah, punya mobil, bisa sekolah juga. Itu semua berkat perjuangan dari ayah Namora. Bayangkan saja jika dia tidak berjuang seperti superhero, sudah pasti Namora dan ibu mu akan menjadi gelandangan. Dia dipenjara tapi meninggalkan warisan yang lumayan untuk kalian. Apakah Superman ada membelikan Namora mainan? Jika yang tidak pernah memberi saja bisa kau puja, apa lagi ayah mu. Sesungguhnya, ayah lebih hebat dari super Hero manapun di dunia ini!"
Namora tampak seperti merenungi semua yang dikatakan oleh keempat pamannya itu.
"Berarti selama ini Namora telah salah membenci ayah?" Gumam anak itu lirih.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 273 Episodes
Comments
On fire
💓🖤🩶💗
2025-01-18
0
On fire
💗💗💗
2025-01-18
0
Boru Panjaitan
Bg Tigor itu pahlawan bagi Rio dan 4 sahabat
2023-01-03
5