"Namora... Bangun nak! Sekolah!" Terdengar suara Mirna membangunkan sang putra agar bangun dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.
"Ummm..." Kata Namora menggeliat. "Namora tidak mau sekolah Bu. Namora malu dihina terus-terusan!" Jawab anak itu.
"Mau jadi apa kau kalau tidak sekolah? Mau jadi hantu?" Sergah sang Ibu.
"Bu. Namora bukannya tidak mau sekolah. Tapi, kalau terus-terusan dihina, Namora jadi malas. Di sekolah, Namora tidak ada teman bermain. Siapa yang mau berteman dengan Namora. Mereka semua mengatakan kalau Namora ini adalah anak Narapidana. Entah mengapa lah ayah bisa masuk penjara," keluh Namora sambil mengucak matanya.
"Jangan begitu nak. Ayah mu bukan orang jahat. Dia hanya korban dari keserakahan orang jahat," kata sang Ibu membela suaminya.
Mungkin sudah saatnya dirinya harus menceritakan kepada Namora siapa sebenarnya Tigor. Namun, dia pasti tidak akan sanggup menceritakannya. Hatinya pasti akan sangat sedih. Apa lagi saat ini sang suami berada di dalam penjara. Entah seperti apa keadaannya saat ini.
"Bu. Beberapa hari lagi Namora akan ulang tahun. Apakah kita akan merayakan ulang tahun Namora di penjara lagi?"
"Iya. Kita akan merayakan hari ulang tahun mu di penjara. Ayah mu pasti akan sangat bahagia. Sekarang kau sudah berusia sebelas tahun. Tidak terasa kan? Enam tahun lagi ayah mu akan terbebas dari penjara. Apa kau tidak suka?" Tanya sang ibu.
"Suka. Tapi, selama enam tahun lagi itu, selama itu pula lah Namora akan mendapat penghinaan dari teman-teman!" Jawab anak itu. Dalam hatinya, dia masih menyalahkan sang Ayah. Karena Ayah dipenjara, hal itu membuat dirinya mengalami penghinaan selama beberapa tahun ini.
"Bersabarlah nak! Sebentar lagi kau akan tamat sekolah dasar. Ibu akan mencarikan sekolah menengah pertama untuk mu, dimana tidak ada yang akan menghina mu!" Bujuk sang ibu.
"Sekarang pergi mandi, sarapan dan berangkat ke sekolah!"
"Baik Bu!" Jawab Namora patuh. Dia segera berguling ke arah pinggiran tempat tidur, lalu segera bangkit.
"Bu. Jangan berikan uang jajan kepada ku!" Tolak Namora ketika sang Ibu memberikan uang saku kepada Namora.
Sudah menjadi kebiasaan setiap orang tua, yang akan memberikan uang saku kepada anaknya ketika berangkat sekolah. Ini setidaknya bisa untuk membeli makanan atau air minum ketika sang anak kehausan selama di sekolah. Tidak terkecuali Mirna. Dia tidak ingin sang anak tidak fokus belajar karena menahan lapar.
Ketika uang pemberiannya di tolak oleh sang anak, Mirna pun mengernyitkan dahinya tanda tidak mengerti mengapa sang Putra menolak uang saku tersebut.
Mirna segera menanyakan mengapa anaknya itu tidak mau diberi uang.
"Percuma membawa uang jajan. Karena, ketika sampai di sekolah nanti, uang Namora akan dipalak oleh mereka. Namora tidak pernah bisa membeli makanan karena uangnya dirampas secara paksa oleh mereka, Bu," jawab anak itu apa adanya.
"Ya sudah. Namora sarapan pagi yang banyak! Supaya nanti tidak kelaparan di sekolah," kata sang ibu. Dia segera meninggalkan kamar putranya itu untuk menyiapkan keperluan sang anak untuk berangkat ke sekolah.
*********
"Bu. Namora berangkat dulu ke sekolah!" Namora segera menyalami lalu mencium tangan sang ibu sebelum berangkat ke sekolah.
Antara rumahnya dan sekolah tidak lah terlalu jauh. Jika berjalan kaki, sepuluh menit akan sampai dengan melalui jalan pintas. Tapi dasar Namora. Dia malah melalui jalan umum sehingga perjalanan itu bertambah jauh. Baginya, apa yang dia khawatirkan? Uang dia tidak punya. Tidak akan ada yang memalak dirinya. Karena memang dia tidak membawa uang jajan.
Sepertinya apa yang dipikirkan oleh Namora tadi sungguh meleset sangat jauh. Karena, begitu dipertengahan jalan, dia sudah dicegat oleh Diaz, Ruben, Dudul dan Rudi.
Namora tau ini tidak akan aman. Karena, hal seperti itu sudah sering kali terjadi terhadap dirinya.
"Heh anak Narapidana. Kesini kau!" Kata Dudul sambil menggamitkan tangannya.
Namora yang memang tidak membawa uang jajan, segera menghampiri keempat anak itu lalu berkata. "Aku tidak diberikan uang jajan oleh Ibu ku. Tidak ada yang bisa aku berikan kepada kalian!" Kata Namora pula setelah tiba dihadapan empat anak tadi.
"Kau pasti berbohong!" Kata Ruben. "Ayo kita geledah dia!" Ajak nya kepada ketiga teman-temannya.
Mereka berempat segera menggeledah mulai dari tas milik Namora, saku baju, saku celana, bahkan mereka sanggup membuka celana merah anak itu.
Setelah tidak mendapatkan apa-apa, kejengkelan pun mulai dirasakan oleh mereka.
Bugh!
"Bodoh kau ini. Besok bawa uang jajan! Jika tidak, kau akan aku telanjangi supaya tidak bisa sekolah."
"Awas kau!" Ancam Diaz sembari mendorong kepala Namora.
Namora hanya terjongkok sambil menangis di pinggir jalan. Dia baru berhenti menangis dan mendongak, ketika satu suara menegurnya.
"Masa sih jagoan menangis?!" Kata satu suara menegur.
Namora kini melihat dua orang pemuda berdiri menaungi dirinya dari sengatan matahari pagi.
"Mengapa kau menangis anak ganteng?" Tanya seorang lagi dari dua pemuda tadi.
"Siapa paman ini?" Tanya Namora heran.
"Kami? Kami ini adalah sahabat ayah mu. Sini bangun!" Jawab salah satu dari kedua pemuda itu sambil menarik tangan Namora.
"Sahabat ayah ku? Mengapa Paman di sini? Sahabat ayah ku dipenjara. Tidak mungkin paman ini sahabat ayahku!" Kata Namora mulai beringsut mundur. Dia ingat pesan ibunya bahwa, jika bertemu dengan orang-orang yang tidak dikenal, maka dia harus menjauh. Bisa saja orang itu mengaku sebagai kerabat. Padahal, nanti dia akan di culik lalu dijadikan tumbal.
Mengingat sampai di situ, Namora semakin ketakutan dan terus mundur sampailah punggungnya mentok di pagar rumah orang.
"Nama mu Namora kan?" Tanya pemuda itu tersenyum lembut. Ini dia lakukan agar anak itu tidak semakin ketakutan.
"Darimana paman tau namaku?"
"Nama mu Namora. Nama ayah mu Tigor. Nama ibumu Mirna. Nama paman mu Rio. Dia adalah seorang petugas kepolisian. Benar kan?" Tanya pemuda itu seakan-akan mengetahui semuanya tentang keluarga Namora.
"Benar. Tapi..,"
"Tidak perlu takut Nak. Kami ini benar-benar sahabat ayah mu. Hanya saja, kami tidak masuk penjara seperti apa yang dialami oleh ayah mu,"
"Oh ya. Nama Paman adalah Ameng. Sedangkan teman paman ini bernama Acong. Kau boleh memanggil kami dengan panggilan itu,"
"Wah. Ternyata benaran kalau paman ini sahabat ayah ku. Tapi, darimana paman tau aku sekolah di sini?" Tanya Namora mulai hilang rasa takutnya. Setidaknya, dia pernah mendengar dari ibunya bahwa ayahnya mempunyai lebih dari dua belas orang sahabat. Dan salah duanya adalah Ameng dan Acong.
"Kami tau. Bahkan sudah lama. Tapi Paman ingin Namora berjanji," kata Acong pula.
"Janji?" Namora menggaru kepalanya.
"Namora harus berjanji bahwa jangan katakan kepada siapapun kalau Namora bertemu dengan Paman Acong dan Paman Ameng. Janji?!" Kata Acong lagi sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
"Janji!" Jawab Namora pula sembari menyambut uluran jari kelingking Acong dengan jari kelingkingnya.
"Sekarang Namora harus berangkat sekolah. Setelah itu, nanti kita bisa jalan-jalan!"
"Ok paman. Namora berangkat sekolah dulu!" Kata anak itu tersenyum. Baru kali ini dia tersenyum sangat bahagia sekali. Setelah sekian lama senyuman itu seperti direnggut dengan paksa dari dirinya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 273 Episodes
Comments
On fire
Qaa💗💗💞
2025-01-17
0
On fire
💜🩶💞💓
2025-01-17
0
anna maryanah
masa kecilnyg miris dan masih sering trjadi hingga sekarang
2023-03-14
4