Ameng dan Acong menghampiri

"Namora... Bangun nak! Sekolah!" Terdengar suara Mirna membangunkan sang putra agar bangun dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.

"Ummm..." Kata Namora menggeliat. "Namora tidak mau sekolah Bu. Namora malu dihina terus-terusan!" Jawab anak itu.

"Mau jadi apa kau kalau tidak sekolah? Mau jadi hantu?" Sergah sang Ibu.

"Bu. Namora bukannya tidak mau sekolah. Tapi, kalau terus-terusan dihina, Namora jadi malas. Di sekolah, Namora tidak ada teman bermain. Siapa yang mau berteman dengan Namora. Mereka semua mengatakan kalau Namora ini adalah anak Narapidana. Entah mengapa lah ayah bisa masuk penjara," keluh Namora sambil mengucak matanya.

"Jangan begitu nak. Ayah mu bukan orang jahat. Dia hanya korban dari keserakahan orang jahat," kata sang Ibu membela suaminya.

Mungkin sudah saatnya dirinya harus menceritakan kepada Namora siapa sebenarnya Tigor. Namun, dia pasti tidak akan sanggup menceritakannya. Hatinya pasti akan sangat sedih. Apa lagi saat ini sang suami berada di dalam penjara. Entah seperti apa keadaannya saat ini.

"Bu. Beberapa hari lagi Namora akan ulang tahun. Apakah kita akan merayakan ulang tahun Namora di penjara lagi?"

"Iya. Kita akan merayakan hari ulang tahun mu di penjara. Ayah mu pasti akan sangat bahagia. Sekarang kau sudah berusia sebelas tahun. Tidak terasa kan? Enam tahun lagi ayah mu akan terbebas dari penjara. Apa kau tidak suka?" Tanya sang ibu.

"Suka. Tapi, selama enam tahun lagi itu, selama itu pula lah Namora akan mendapat penghinaan dari teman-teman!" Jawab anak itu. Dalam hatinya, dia masih menyalahkan sang Ayah. Karena Ayah dipenjara, hal itu membuat dirinya mengalami penghinaan selama beberapa tahun ini.

"Bersabarlah nak! Sebentar lagi kau akan tamat sekolah dasar. Ibu akan mencarikan sekolah menengah pertama untuk mu, dimana tidak ada yang akan menghina mu!" Bujuk sang ibu.

"Sekarang pergi mandi, sarapan dan berangkat ke sekolah!"

"Baik Bu!" Jawab Namora patuh. Dia segera berguling ke arah pinggiran tempat tidur, lalu segera bangkit.

"Bu. Jangan berikan uang jajan kepada ku!" Tolak Namora ketika sang Ibu memberikan uang saku kepada Namora.

Sudah menjadi kebiasaan setiap orang tua, yang akan memberikan uang saku kepada anaknya ketika berangkat sekolah. Ini setidaknya bisa untuk membeli makanan atau air minum ketika sang anak kehausan selama di sekolah. Tidak terkecuali Mirna. Dia tidak ingin sang anak tidak fokus belajar karena menahan lapar.

Ketika uang pemberiannya di tolak oleh sang anak, Mirna pun mengernyitkan dahinya tanda tidak mengerti mengapa sang Putra menolak uang saku tersebut.

Mirna segera menanyakan mengapa anaknya itu tidak mau diberi uang.

"Percuma membawa uang jajan. Karena, ketika sampai di sekolah nanti, uang Namora akan dipalak oleh mereka. Namora tidak pernah bisa membeli makanan karena uangnya dirampas secara paksa oleh mereka, Bu," jawab anak itu apa adanya.

"Ya sudah. Namora sarapan pagi yang banyak! Supaya nanti tidak kelaparan di sekolah," kata sang ibu. Dia segera meninggalkan kamar putranya itu untuk menyiapkan keperluan sang anak untuk berangkat ke sekolah.

*********

"Bu. Namora berangkat dulu ke sekolah!" Namora segera menyalami lalu mencium tangan sang ibu sebelum berangkat ke sekolah.

Antara rumahnya dan sekolah tidak lah terlalu jauh. Jika berjalan kaki, sepuluh menit akan sampai dengan melalui jalan pintas. Tapi dasar Namora. Dia malah melalui jalan umum sehingga perjalanan itu bertambah jauh. Baginya, apa yang dia khawatirkan? Uang dia tidak punya. Tidak akan ada yang memalak dirinya. Karena memang dia tidak membawa uang jajan.

Sepertinya apa yang dipikirkan oleh Namora tadi sungguh meleset sangat jauh. Karena, begitu dipertengahan jalan, dia sudah dicegat oleh Diaz, Ruben, Dudul dan Rudi.

Namora tau ini tidak akan aman. Karena, hal seperti itu sudah sering kali terjadi terhadap dirinya.

"Heh anak Narapidana. Kesini kau!" Kata Dudul sambil menggamitkan tangannya.

Namora yang memang tidak membawa uang jajan, segera menghampiri keempat anak itu lalu berkata. "Aku tidak diberikan uang jajan oleh Ibu ku. Tidak ada yang bisa aku berikan kepada kalian!" Kata Namora pula setelah tiba dihadapan empat anak tadi.

"Kau pasti berbohong!" Kata Ruben. "Ayo kita geledah dia!" Ajak nya kepada ketiga teman-temannya.

Mereka berempat segera menggeledah mulai dari tas milik Namora, saku baju, saku celana, bahkan mereka sanggup membuka celana merah anak itu.

Setelah tidak mendapatkan apa-apa, kejengkelan pun mulai dirasakan oleh mereka.

Bugh!

"Bodoh kau ini. Besok bawa uang jajan! Jika tidak, kau akan aku telanjangi supaya tidak bisa sekolah."

"Awas kau!" Ancam Diaz sembari mendorong kepala Namora.

Namora hanya terjongkok sambil menangis di pinggir jalan. Dia baru berhenti menangis dan mendongak, ketika satu suara menegurnya.

"Masa sih jagoan menangis?!" Kata satu suara menegur.

Namora kini melihat dua orang pemuda berdiri menaungi dirinya dari sengatan matahari pagi.

"Mengapa kau menangis anak ganteng?" Tanya seorang lagi dari dua pemuda tadi.

"Siapa paman ini?" Tanya Namora heran.

"Kami? Kami ini adalah sahabat ayah mu. Sini bangun!" Jawab salah satu dari kedua pemuda itu sambil menarik tangan Namora.

"Sahabat ayah ku? Mengapa Paman di sini? Sahabat ayah ku dipenjara. Tidak mungkin paman ini sahabat ayahku!" Kata Namora mulai beringsut mundur. Dia ingat pesan ibunya bahwa, jika bertemu dengan orang-orang yang tidak dikenal, maka dia harus menjauh. Bisa saja orang itu mengaku sebagai kerabat. Padahal, nanti dia akan di culik lalu dijadikan tumbal.

Mengingat sampai di situ, Namora semakin ketakutan dan terus mundur sampailah punggungnya mentok di pagar rumah orang.

"Nama mu Namora kan?" Tanya pemuda itu tersenyum lembut. Ini dia lakukan agar anak itu tidak semakin ketakutan.

"Darimana paman tau namaku?"

"Nama mu Namora. Nama ayah mu Tigor. Nama ibumu Mirna. Nama paman mu Rio. Dia adalah seorang petugas kepolisian. Benar kan?" Tanya pemuda itu seakan-akan mengetahui semuanya tentang keluarga Namora.

"Benar. Tapi..,"

"Tidak perlu takut Nak. Kami ini benar-benar sahabat ayah mu. Hanya saja, kami tidak masuk penjara seperti apa yang dialami oleh ayah mu,"

"Oh ya. Nama Paman adalah Ameng. Sedangkan teman paman ini bernama Acong. Kau boleh memanggil kami dengan panggilan itu,"

"Wah. Ternyata benaran kalau paman ini sahabat ayah ku. Tapi, darimana paman tau aku sekolah di sini?" Tanya Namora mulai hilang rasa takutnya. Setidaknya, dia pernah mendengar dari ibunya bahwa ayahnya mempunyai lebih dari dua belas orang sahabat. Dan salah duanya adalah Ameng dan Acong.

"Kami tau. Bahkan sudah lama. Tapi Paman ingin Namora berjanji," kata Acong pula.

"Janji?" Namora menggaru kepalanya.

"Namora harus berjanji bahwa jangan katakan kepada siapapun kalau Namora bertemu dengan Paman Acong dan Paman Ameng. Janji?!" Kata Acong lagi sambil mengulurkan jari kelingkingnya.

"Janji!" Jawab Namora pula sembari menyambut uluran jari kelingking Acong dengan jari kelingkingnya.

"Sekarang Namora harus berangkat sekolah. Setelah itu, nanti kita bisa jalan-jalan!"

"Ok paman. Namora berangkat sekolah dulu!" Kata anak itu tersenyum. Baru kali ini dia tersenyum sangat bahagia sekali. Setelah sekian lama senyuman itu seperti direnggut dengan paksa dari dirinya.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

On fire

On fire

Qaa💗💗💞

2025-01-17

0

On fire

On fire

💜🩶💞💓

2025-01-17

0

anna maryanah

anna maryanah

masa kecilnyg miris dan masih sering trjadi hingga sekarang

2023-03-14

4

lihat semua
Episodes
1 Bab permulaan
2 Keluhan anak lugu
3 Ameng dan Acong menghampiri
4 Namora ditipu oleh teman-temannya
5 Mirna menemui keempat sahabat Tigor
6 Untung ada Ameng
7 Ayah mu lebih hebat dari superhero
8 Mengunjungi Rio
9 Kisah dari Rio
10 Penyesalan Namora
11 Panggilan telepon untuk Tigor
12 Dendam di hati Namora
13 Namora dimarahi oleh Ibunya
14 Jurus cakar ayam ala Namora
15 Jurus aneh yang diajarkan oleh Ameng
16 Hari ulangtahun Namora
17 Tiba di pusat tahanan kota Batu
18 Acara makan bersama semua tahanan
19 Sindiran keras untuk Tigor
20 Puncak dari acara ulang tahun Namora
21 Bersahabat dengan J7
22 Dikeroyok lagi
23 Namora kencing di celana
24 Harianto pujakesuma
25 Mulai berlatih
26 Metode aneh dari Rio
27 Nasehat untuk Namora
28 J7 dikeroyok
29 Sepeda Jol rusak parah
30 Namora diceramahi
31 Diaz yang sombong
32 Namora tidak mendapatkan izin
33 Jol yang sewot
34 Berpisah dengan pak Harianto
35 Namora tidak lulus SMA favorit
36 Nyemplung ke sungai
37 Janji berkumpul di rumah James
38 Meninjau sekolah baru
39 Lahirnya J7
40 Motor baru J7
41 Rencana licik, Rendra
42 Kenza
43 Pendirian Tigor tidak berubah
44 Peringatan dari Ameng
45 Hari pertama sekolah
46 Rencana untuk mempermainkan Namora
47 Taruhan di mulai
48 Acting yang sempurna
49 Permintaan mengada-ada dari Merisda
50 Salahkan dirimu yang miskin
51 Dihina oleh Merisda
52 Perubahan pada diri Namora
53 Tigor dan Mirna bertengkar
54 Tigor tidak mau disalahkan
55 Fighter Club
56 Kenza tiba di Fighter Club'
57 Namora yang penuh dengan misteri
58 Knock-out dari Kenza
59 Kacau-balau di aula Fighter Club'
60 Menabrak mobil milik orang
61 Rahasia tentang diri Kenza
62 Ameng akan membawa Namora ke kota Kemuning
63 Berangkat ke kota Kemuning
64 Namora dipermak
65 Penyambutan untuk Namora
66 Namora yang mampu menyesuaikan diri
67 kembali ke kota Batu
68 Ini sudah keterlaluan
69 Namora memukul Rendra
70 Mendaftar
71 Namora minta uang
72 Namora dikepung
73 Kena batunya
74 Melumpuhkan dua orang suruhan
75 Undangan dari Merisda
76 Memaksa Namora
77 Terasing dalam ramai
78 Penghinaan yang paling menyakitkan
79 Penyesalan Merisda
80 Tiba di Aula Fighter Club'
81 Memberi kesempatan kepada Willi
82 Mengantar Willi pulang
83 Memboyong Yamaha R1 ke kota Batu
84 Mencari informasi tentang diri Arda
85 Ternyata Rendra masih belum kapok juga
86 Namora kembali ke sekolah
87 Mengetahui identitas Arda
88 Ameng memeras Tigor
89 Zack berpindah tangan
90 Semakin acuh
91 Namora vs Hendro
92 Namora sang Otoriter
93 Pemecatan massal
94 Namora si tangan besi
95 Namora dimata-matai
96 Tanta yang salah sasaran
97 Ameng menampar Namora
98 Kematian Tanta
99 Rahasia organisasi
100 Zack menceritakan semuanya
101 Rencana kotor, Ardi
102 Ameng mengadukan ulah Namora
103 Membuat kekacauan di Dojo kampung baru
104 Rudi ditumbangkan
105 Kesadisan Namora
106 Ameng menghajar Ganjang
107 Arda dan Ardi terkepung
108 Bantuan tiba
109 Melepas keberangkatan Merisda
110 Namora, si pembuat onar
111 Jhonroy membunuh lagi
112 Semua meragukan kemampuan Namora
113 Bersiap untuk berangkat
114 Menelepon Jerry William
115 Jerry turun tangan
116 Black shadow dan Black Eagle
117 Rombongan sampai di Dolok ginjang
118 Kemenangan pertama Namora
119 Tiket ke babak 16 besar
120 Angga dan Teja
121 Berbeda pendapat
122 Teja tetap pada pendiriannya
123 Semifinal
124 Jhonroy menemui Sensei
125 Pembunuh bayaran
126 Skema matang seorang Jerry William
127 Diaz, over dosis
128 Kabar dari Dudul
129 Dihadang
130 Pembantaian
131 Kedatangan dua orang warga asing
132 Angga menyalahkan Teja
133 Kemarahan Namora
134 Namora akan menjadi pion bagi rencana Tigor
135 di kepung
136 Pengawal bayangan keluar untuk membantu
137 Namora dalam bahaya
138 Kemunculan Black shadow di saat genting
139 Pertarungan dua pejuang
140 Rio VS Jhonroy
141 Rio mendapat tekanan
142 Kabar dari Takimura
143 Namora masih belum siuman
144 Meminta bantuan ke Kuala Nipah
145 penawar dari Joe
146 Kelicikan Angga
147 Melawan racun dengan racun
148 Namora telah siuman
149 Kepala Namora pusing lagi
150 Jol berkunjung
151 kembali ke sekolah
152 Namora dihukum
153 Namora menemui Tigor
154 Dilema
155 Kedok di balik Dojo
156 Kisah tentang Sensei
157 Menanti kedatangan sang otoriter
158 Suasana rapat yang canggung
159 Mulai mendapatkan penentangan
160 Jadilah anjing yang baik!
161 Udin ngomel terus
162 Tekad Namora
163 Jiwa muda pak Karim
164 Obrolan dua orang beda usia
165 Namora Jagoan
166 Pertemuan di rumah Jhonroy
167 Tiba dikampung Permai
168 Keluarga Lan
169 Preman pasar
170 Amukan Namora di pasar Sabtu
171 Bertemu dengan Ibu Zack
172 Mengumumkan permusuhan
173 Don Mora
174 Mengajak keluarga pak Karim makan di Hotel
175 Operasi tanjung karang
176 Sehari sebelum kebebasan Tigor
177 Ke Tower Mall
178 Pertemuan tidak sengaja dengan walikota Rantau
179 Kabar buruk dari perusahaan
180 Hari kebebasan Tigor
181 Hari kebebasan Tigor
182 Namora ditekan
183 Pertemuan di mulai
184 Perdebatan semakin menegangkan
185 Acting sempurna
186 Penyesalan
187 Bertemu dengan Joe William
188 Kematian pengkhianat
189 Angga menemui Namora
190 Aku bukan bodoh
191 Alun-alun kota Kemuning
192 Menghajar Andi
193 Satu juta poundsterling
194 Entah apa rencana kotor Angga
195 Namora akan kembali ke kota Batu
196 Menjadi Target pembunuhan
197 Pak Dewanto
198 Penolakan Namora
199 Kembali ke Sekolah
200 Pembunuh bayaran telah tiba
201 Aksi penyelamatan
202 Yang bisa membunuhku masih belum lahir
203 Peperangan mulai tercetus
204 Retro Komersial Enterprise
205 Masih belum move-on
206 Don Mora beraksi
207 Perang terus berlanjut
208 Ameng Kasmaran
209 Namora kembali di kepung
210 Pengepung yang terkepung
211 Lepas dari mulut harimau, masuk ke dalam mulut buaya
212 Teja terbun*h
213 Bertemu dengan Xenita
214 Namora mati kutu
215 Namora dikambinghitamkan
216 Apakah Black Cat harus kembali?
217 Organisasi Hayabusa
218 Meninggalkan kampung Kuala Nipah
219 PH entertainment
220 Intermezzo
221 Kebakaran
222 Gurita Bisnis milik Jhonroy
223 Kedatangan Joe William
224 Di bakar lagi
225 Pembantaian oleh Namora
226 Jhonroy semakin tertekan
227 Erik membocorkan informasi
228 Peringatan keras dari Tengku Mahmud
229 Undangan makan malam dari pak Dewanto
230 Pertemuan dengan keluarga Dewanto
231 Jhonroy akan jadi gelandangan
232 Disergap pembunuh bayaran
233 Joe vs Sensei
234 Kemunculan Black Cat memakan korban
235 Pertarungan hidup dan mati
236 Memburu Jhonroy
237 Kau menanam, kau menuai
238 Tak tumbang dihina, tak terbang dipuji
239 Menyelidiki Namora
240 Aku tidak menjauh. tapi kau jangan mendekat
241 Yang Mulia Namora
242 Bintang muda
243 Bahaya yang mengintai
244 Malam perpisahan
245 Kedatangan Xenita
246 Kedatangan dua tamu tak diundang
247 Tantangan dari Dhani
248 Liciknya Angga
249 pemanasan dimulai
250 Provokasi Dhani
251 Sosok serba hitam
252 mengabari Namora
253 Kabar duka
254 Angga masih tetap licik
255 Dhani ketakutan
256 Rio gagal membawa Dhani
257 Dhani dilepaskan
258 Gelandangan
259 Tiba di kota Batu
260 Mematahkan kaki Dhani
261 Rio vs Lolo
262 Kemarahan Dhani
263 Kembali Angga menggunakan kelicikannya
264 Akhirnya Tigor turun tangan
265 Sosok serba hitam
266 kemunculan Black cat memakan korban
267 Ayank Mora IQ rendah
268 Tiga kacung
269 Joe dan Namora sekarat
270 Pertarungan tak seimbang
271 Tengku Mahmud vs Matsushima
272 Bab Akhir
273 Karya baru telah rilis
Episodes

Updated 273 Episodes

1
Bab permulaan
2
Keluhan anak lugu
3
Ameng dan Acong menghampiri
4
Namora ditipu oleh teman-temannya
5
Mirna menemui keempat sahabat Tigor
6
Untung ada Ameng
7
Ayah mu lebih hebat dari superhero
8
Mengunjungi Rio
9
Kisah dari Rio
10
Penyesalan Namora
11
Panggilan telepon untuk Tigor
12
Dendam di hati Namora
13
Namora dimarahi oleh Ibunya
14
Jurus cakar ayam ala Namora
15
Jurus aneh yang diajarkan oleh Ameng
16
Hari ulangtahun Namora
17
Tiba di pusat tahanan kota Batu
18
Acara makan bersama semua tahanan
19
Sindiran keras untuk Tigor
20
Puncak dari acara ulang tahun Namora
21
Bersahabat dengan J7
22
Dikeroyok lagi
23
Namora kencing di celana
24
Harianto pujakesuma
25
Mulai berlatih
26
Metode aneh dari Rio
27
Nasehat untuk Namora
28
J7 dikeroyok
29
Sepeda Jol rusak parah
30
Namora diceramahi
31
Diaz yang sombong
32
Namora tidak mendapatkan izin
33
Jol yang sewot
34
Berpisah dengan pak Harianto
35
Namora tidak lulus SMA favorit
36
Nyemplung ke sungai
37
Janji berkumpul di rumah James
38
Meninjau sekolah baru
39
Lahirnya J7
40
Motor baru J7
41
Rencana licik, Rendra
42
Kenza
43
Pendirian Tigor tidak berubah
44
Peringatan dari Ameng
45
Hari pertama sekolah
46
Rencana untuk mempermainkan Namora
47
Taruhan di mulai
48
Acting yang sempurna
49
Permintaan mengada-ada dari Merisda
50
Salahkan dirimu yang miskin
51
Dihina oleh Merisda
52
Perubahan pada diri Namora
53
Tigor dan Mirna bertengkar
54
Tigor tidak mau disalahkan
55
Fighter Club
56
Kenza tiba di Fighter Club'
57
Namora yang penuh dengan misteri
58
Knock-out dari Kenza
59
Kacau-balau di aula Fighter Club'
60
Menabrak mobil milik orang
61
Rahasia tentang diri Kenza
62
Ameng akan membawa Namora ke kota Kemuning
63
Berangkat ke kota Kemuning
64
Namora dipermak
65
Penyambutan untuk Namora
66
Namora yang mampu menyesuaikan diri
67
kembali ke kota Batu
68
Ini sudah keterlaluan
69
Namora memukul Rendra
70
Mendaftar
71
Namora minta uang
72
Namora dikepung
73
Kena batunya
74
Melumpuhkan dua orang suruhan
75
Undangan dari Merisda
76
Memaksa Namora
77
Terasing dalam ramai
78
Penghinaan yang paling menyakitkan
79
Penyesalan Merisda
80
Tiba di Aula Fighter Club'
81
Memberi kesempatan kepada Willi
82
Mengantar Willi pulang
83
Memboyong Yamaha R1 ke kota Batu
84
Mencari informasi tentang diri Arda
85
Ternyata Rendra masih belum kapok juga
86
Namora kembali ke sekolah
87
Mengetahui identitas Arda
88
Ameng memeras Tigor
89
Zack berpindah tangan
90
Semakin acuh
91
Namora vs Hendro
92
Namora sang Otoriter
93
Pemecatan massal
94
Namora si tangan besi
95
Namora dimata-matai
96
Tanta yang salah sasaran
97
Ameng menampar Namora
98
Kematian Tanta
99
Rahasia organisasi
100
Zack menceritakan semuanya
101
Rencana kotor, Ardi
102
Ameng mengadukan ulah Namora
103
Membuat kekacauan di Dojo kampung baru
104
Rudi ditumbangkan
105
Kesadisan Namora
106
Ameng menghajar Ganjang
107
Arda dan Ardi terkepung
108
Bantuan tiba
109
Melepas keberangkatan Merisda
110
Namora, si pembuat onar
111
Jhonroy membunuh lagi
112
Semua meragukan kemampuan Namora
113
Bersiap untuk berangkat
114
Menelepon Jerry William
115
Jerry turun tangan
116
Black shadow dan Black Eagle
117
Rombongan sampai di Dolok ginjang
118
Kemenangan pertama Namora
119
Tiket ke babak 16 besar
120
Angga dan Teja
121
Berbeda pendapat
122
Teja tetap pada pendiriannya
123
Semifinal
124
Jhonroy menemui Sensei
125
Pembunuh bayaran
126
Skema matang seorang Jerry William
127
Diaz, over dosis
128
Kabar dari Dudul
129
Dihadang
130
Pembantaian
131
Kedatangan dua orang warga asing
132
Angga menyalahkan Teja
133
Kemarahan Namora
134
Namora akan menjadi pion bagi rencana Tigor
135
di kepung
136
Pengawal bayangan keluar untuk membantu
137
Namora dalam bahaya
138
Kemunculan Black shadow di saat genting
139
Pertarungan dua pejuang
140
Rio VS Jhonroy
141
Rio mendapat tekanan
142
Kabar dari Takimura
143
Namora masih belum siuman
144
Meminta bantuan ke Kuala Nipah
145
penawar dari Joe
146
Kelicikan Angga
147
Melawan racun dengan racun
148
Namora telah siuman
149
Kepala Namora pusing lagi
150
Jol berkunjung
151
kembali ke sekolah
152
Namora dihukum
153
Namora menemui Tigor
154
Dilema
155
Kedok di balik Dojo
156
Kisah tentang Sensei
157
Menanti kedatangan sang otoriter
158
Suasana rapat yang canggung
159
Mulai mendapatkan penentangan
160
Jadilah anjing yang baik!
161
Udin ngomel terus
162
Tekad Namora
163
Jiwa muda pak Karim
164
Obrolan dua orang beda usia
165
Namora Jagoan
166
Pertemuan di rumah Jhonroy
167
Tiba dikampung Permai
168
Keluarga Lan
169
Preman pasar
170
Amukan Namora di pasar Sabtu
171
Bertemu dengan Ibu Zack
172
Mengumumkan permusuhan
173
Don Mora
174
Mengajak keluarga pak Karim makan di Hotel
175
Operasi tanjung karang
176
Sehari sebelum kebebasan Tigor
177
Ke Tower Mall
178
Pertemuan tidak sengaja dengan walikota Rantau
179
Kabar buruk dari perusahaan
180
Hari kebebasan Tigor
181
Hari kebebasan Tigor
182
Namora ditekan
183
Pertemuan di mulai
184
Perdebatan semakin menegangkan
185
Acting sempurna
186
Penyesalan
187
Bertemu dengan Joe William
188
Kematian pengkhianat
189
Angga menemui Namora
190
Aku bukan bodoh
191
Alun-alun kota Kemuning
192
Menghajar Andi
193
Satu juta poundsterling
194
Entah apa rencana kotor Angga
195
Namora akan kembali ke kota Batu
196
Menjadi Target pembunuhan
197
Pak Dewanto
198
Penolakan Namora
199
Kembali ke Sekolah
200
Pembunuh bayaran telah tiba
201
Aksi penyelamatan
202
Yang bisa membunuhku masih belum lahir
203
Peperangan mulai tercetus
204
Retro Komersial Enterprise
205
Masih belum move-on
206
Don Mora beraksi
207
Perang terus berlanjut
208
Ameng Kasmaran
209
Namora kembali di kepung
210
Pengepung yang terkepung
211
Lepas dari mulut harimau, masuk ke dalam mulut buaya
212
Teja terbun*h
213
Bertemu dengan Xenita
214
Namora mati kutu
215
Namora dikambinghitamkan
216
Apakah Black Cat harus kembali?
217
Organisasi Hayabusa
218
Meninggalkan kampung Kuala Nipah
219
PH entertainment
220
Intermezzo
221
Kebakaran
222
Gurita Bisnis milik Jhonroy
223
Kedatangan Joe William
224
Di bakar lagi
225
Pembantaian oleh Namora
226
Jhonroy semakin tertekan
227
Erik membocorkan informasi
228
Peringatan keras dari Tengku Mahmud
229
Undangan makan malam dari pak Dewanto
230
Pertemuan dengan keluarga Dewanto
231
Jhonroy akan jadi gelandangan
232
Disergap pembunuh bayaran
233
Joe vs Sensei
234
Kemunculan Black Cat memakan korban
235
Pertarungan hidup dan mati
236
Memburu Jhonroy
237
Kau menanam, kau menuai
238
Tak tumbang dihina, tak terbang dipuji
239
Menyelidiki Namora
240
Aku tidak menjauh. tapi kau jangan mendekat
241
Yang Mulia Namora
242
Bintang muda
243
Bahaya yang mengintai
244
Malam perpisahan
245
Kedatangan Xenita
246
Kedatangan dua tamu tak diundang
247
Tantangan dari Dhani
248
Liciknya Angga
249
pemanasan dimulai
250
Provokasi Dhani
251
Sosok serba hitam
252
mengabari Namora
253
Kabar duka
254
Angga masih tetap licik
255
Dhani ketakutan
256
Rio gagal membawa Dhani
257
Dhani dilepaskan
258
Gelandangan
259
Tiba di kota Batu
260
Mematahkan kaki Dhani
261
Rio vs Lolo
262
Kemarahan Dhani
263
Kembali Angga menggunakan kelicikannya
264
Akhirnya Tigor turun tangan
265
Sosok serba hitam
266
kemunculan Black cat memakan korban
267
Ayank Mora IQ rendah
268
Tiga kacung
269
Joe dan Namora sekarat
270
Pertarungan tak seimbang
271
Tengku Mahmud vs Matsushima
272
Bab Akhir
273
Karya baru telah rilis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!