Selepas menerima perlakuan yang tidak mengenakkan ketika berada di Dojo yang baru akan dibuka untuk menerima murid baru itu, Namora pun akhirnya pulang dengan hati hampa.
Dihatinya kini hanya ada satu tekad, yaitu pembuktian. Pembuktian bahwa dia harus lebih baik, lebih hebat, dan lebih dari segalanya dibandingkan dengan murid-murid yang akan berlatih di pusat pelatihan bela diri baru itu.
Dia terus melangkahkan kakinya dengan cepat. Harapannya adalah, menemui ibunya untuk meminta agar sang ibu mau mencarikan guru untuknya. Atau paling tidak, meminta izin dari sang ibu agar memberikan izin untuknya berlatih ilmu bela diri.
Sesampainya di rumah, dia melihat bahwa Ameng baru juga tiba bersama dengan Acong.
Ameng yang ketika itu tampak berwajah gusar langsung menghampiri Namora sambil berkata, "ini dia anaknya. Kemana saja kau Namora? Kau tau bahwa kami sibuk mencari dirimu? Lihat ibu mu yang sedang merisaukan keselamatan dirimu!" Ujar Ameng dengan wajah geram bukan main.
Bagaimana tidak geram? Namora yang biasanya tidak pernah telat pulang malah telat beberapa jam. Sebagai seorang anak yang masih kecil, tentu saja ibunya menjadi khawatir. Terlebih lagi Namora sering mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari teman-teman yang sebaya dengannya.
Bagi Ameng sendiri, Namora ini adalah amanah yang harus dia jaga.
Tigor memang mengamanatkan anaknya satu-satunya itu kepada mereka semua. Namun, karena Andra dan Ucok masing-masing juga sudah berkeluarga, maka Ameng lah yang dimintai tolong oleh Tigor untuk menjaga keluarga nya.
Dari arah dalam, kini keluar seorang wanita cantik. Terlihat jelas bahwa ekspresi wajahnya sedang gusar.
Dia segera menerpa ke arah Namora lalu memegangi kedua pipi anak itu.
"Namora. Mengapa kau terlambat?" Tanya Mirna kepada anaknya yang sempat membuat dirinya tadi sangat khawatir.
Namora tidak langsung menjawab. Sebaliknya, dia menatap ke arah Ameng dan Acong yang berdiri dengan nafas masih memburu.
Baru kali ini Namora melihat kedua sahabat Ayahnya itu seperti ini. Dan itu semua karena dirinya yang pergi ke Dojo tanpa meminta izin atau memberitahu terlebih dahulu.
"Namora... Apakah kau tidak mendengar pertanyaan ibumu?" Tegur Ameng.
"Maafkan Namora, Bu. Namora tadi pergi melihat Dojo yang akan menerima murid baru untuk berlatih. Tidak tau akan membuat Ibu khawatir," jawab anak itu sambil tertunduk.
"Dojo? Apa lagi itu?" Tanya Mirna yang tidak tau apa itu arti dari perkataan Dojo.
"Kak. Dojo itu seperti perguruan pencak silat. Dalam bahasa Jepang, mereka sering mengatakan Dojo," Ameng yang menjawab mewakilkan Namora.
"Perguruan pencak silat? Untuk apa kau ke sana?" Tanya Mirna heran. Jelas dia heran. Karena, tidak pernah Namora ini tertarik dengan yang begituan. Tapi akhir-akhir ini, Namora memang sering terlihat memilih-milih tontonan. Dia tidak lagi mau menonton film Ultraman ataupun Spiderman. Tapi yang dia tonton adalah Film-film kungfu. Tidak di sangka bahwa film-film itu dapat merubah minatnya terhadap seni beladiri.
"Namora ingin belajar karate," jawab Namora ragu-ragu. Dia takut bahwa ibunya akan semakin marah. Walaupun dalam hatinya dia berharap akan mendapat izin dari sang ibu.
"Belajar karate?" Mirna menatap ke arah Ameng meminta penjelasan.
"Karate itu adalah seni beladiri dari negara Jepang, Kak. Kalau di kita ini, seperti silat ataupun kungfu kalau di China," kata Ameng lagi.
"Tidak!" Spontan Mirna membentak Namora sehingga anak itu terperanjat kaget.
"Kau tidak boleh belajar karate itu! Mau jadi apa? Mau jadi begundal? Belajar saja dengan benar di sekolah. Ibu tidak ingin kau belajar silat!"
"Tapi, B!?" Namora tidak menyangka bahwa dirinya akan mendapat penentangan dari ibunya yang tampak sangat tidak setuju dengan keinginannya.
"Tidak ada tapi-tapian. Masuk sekarang!" Bentak Mirna gusar.
Namora tidak berani lagi membantah. Dia segera mencopot sepatunya, kemudian menenteng sepatu itu memasuki rumah dengan diiringi tatapan dari Ibunya.
"Mengapa kakak terlalu keras dengan anak itu?" Tanya Acong yang kurang setuju dengan tindakan dari Mirna yang dia rasakan terlalu berlebihan.
"Mau jadi apa dia? Mau jadi begundal dengan belajar seni beladiri? Aku sudah cukup kehilangan Bang Tigor walaupun dia akan kembali kepadaku. Aku tidak ingin Namora mengikuti jejak ayahnya!" Tegas Mirna.
"Mengikuti jejak ayahnya? Apa maksud kakak? Buruk sangat kah bang Tigor itu kak?" Tanya Ameng heran. Dia tidak menyangka bahwa perkataan itu akan dilontarkan oleh Mirna.
"Apa yang bisa didapatkan dari belajar bela diri? Mau jadi jagoan? Mau jadi tukang pukul, lalu masuk penjara?" Jawab Mirna tidak mau kalah.
"Kakak menanyakan apa yang didapat? Jika bang Tigor tidak pandai bela diri, dia sudah pasti tidak akan dipakai oleh Martin. Buntut dari kepandaiannya itu, dia menjadi orang nomor dua di kota Tasik Putri. Andai dia biasa-biasa saja, tidak mungkin dia disegani oleh Monang ketika itu. Kakak tau jika bang Tigor tidak bisa bela diri, otomatis dia tidak akan dipakai oleh Martin. Dan kakak, selamanya akan tetap berada di pusat hiburan malam sebagai wanita...," Ameng menghentikan kata-katanya. Dia buru-buru sadar bahwa jika dia teruskan, pasti Mirna akan terluka.
"Maafkan aku kak. Tapi kakak sudah keterlaluan. Jika bang Tigor tidak pandai ilmu bela diri, selamanya kota batu ini akan dikuasai oleh geng Tengkorak. Sepertinya kakak belum mengenal bang Tigor seperti kami mengenal dirinya. Berterimakasih lah atas seni beladiri yang ada pada diri bang Tigor. Karena kalau tidak, kita mungkin akan masih kekal di tempat sampah! Lalu, siapa pula yang akan membalaskan hutang nyawa Birong kepada orang tua bang Tigor?" Bantah Ameng yang seketika itu juga membuat Mirna terbungkam.
"Kak. Seni beladiri itu tidak hanya untuk berkelahi. Seni beladiri juga bagus untuk kesehatan. Karena, serangkaian gerakan bunga-bunga dari jurus silat itu adalah senam. Apa ruginya belajar ilmu beladiri? Namanya juga beladiri. Tanpa belajar ilmu beladiri pun, jika ada yang mengganggu kita, wajib kita mempertahankan diri. Itu lah beladiri yang sesungguhnya. Bukan petantang-petenteng mencari lawan!" Timpal Acong pula.
"Begini kak. Namora ini sering sekali dijahili oleh orang-orang disekitarnya. Kami saja tidak tega melihatnya. Jika dia memiliki bekal ilmu beladiri, setidaknya dia tidak akan terlalu di-bully oleh anak-anak yang sebaya dengannya. Kakak berikan izin supaya dia bisa belajar dengan baik,"
Mirna terdiam sejenak. Dalam hatinya, memang apa yang dikatakan oleh kedua sahabat suaminya itu banyak benarnya.
"Lalu, kapan kau akan belajar, Namora?!" Tanyanya kepada Namora.
"Percuma saja Bu. Namora sudah ditolak di sana," jawab Namora dari dalam rumah.
"Di tolak? Apa maksudmu Namora? Mengapa kau bisa ditolak di sana?" Tanya Acong heran.
Bagaimana Namora bisa di tolak. Dan apa alasannya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 273 Episodes
Comments
On fire
🧡🩵💙💚🤍🤎❤️🩹❤️
2025-01-20
0
On fire
💓💞🩶💛
2025-01-20
0
Asma
mak nya ini gimana sih aku kesal.
sudahlah tdk bisa melindungi anaknya eh anak nya pengen melindungi diri malah ga boleh, ntar stres gila anakmu baru nyalahin anak, ga ini ga itu dimasa depan...
ini lah perlu seorang ibu itu harus berpendidikan tinggi, setidaknya tau cara memahami anak, jgn cuman modal perasaan n pikiran negatif doang... ah kesel aku jadinya, soalnya anak aku gitu juga, dibully disekolah, lapor guru malah ga jadi solusi, dibelakang guru lain pula kawan nya kerjakan, ku masukkan club beladiri anak ku, setidaknya dia mampu membela diri ketika ditindas, ga ada cara lain krn semua cara uda di coba dan ga pernah berhasil, si pembully ttp dgn bullyan nya, krn bully itu penyakit susah disembuhkan kan, apalagi sampai tahap sudah jadi kebutuhan, ya kaya diaz cs, ga bully rasanya badannya gatal2... 😒😞😔
2023-11-04
4