"Namora. Kau jangan kemana-mana ya nak. Ibu akan berbelanja keperluan kita sebentar. Kau jaga rumah ya!" Pesan sang ibu kepada Namora yang saat ini sedang asyik bermain mobil-mobilan sendirian.
"Iya Bu!" Jawab Namora patuh. Dia berhenti bermain sejenak, lalu berdiri di depan pintu sambil melihat kepergian sang ibu.
Aneh juga perasaan anak itu. Biasanya dia akan diajak oleh sang ibu kemanapun dia pergi. Tapi mengapa kali ini dia tidak diajak?
Namora kembali masuk ke rumah, kemudian mengunci pintu rapat-rapat.
Kini, dia kembali bermain mobil-mobilan yang tadi sempat tertunda.
"Ngeeeeng... Ngeeeeng...!" Katanya menirukan suara mesin mobil.
Dia tidak mempunyai teman untuk bermain bersama. Walaupun koleksi mainan Namora bisa dikatakan sangat lengkap. Mulai dari mobil remote control, pedang yang memiliki baterai, pistol-pistolan, dan lain sebagainya. Tapi, tetap saja dia merasa bosan juga bermain sendirian. Tidak jarang dia akan berbicara sendiri, lalu menjawab perkataanya tadi sehingga terdengar lucu. Tapi itulah Namora. Anak yang tidak mempunyai teman dan selalu merasa sendirian walau di keramaian.
Sementara itu, Mirna yang berada di dalam mobilnya segera mengeluarkan ponselnya, laku menghubungi seseorang.
"Hallo kak!" Sapa satu suara lelaki di ujung sana.
"Ameng. Kau di mana sekarang?" Tanya Mirna.
"Aku berada di sekitar kampung baru ini kak. Ada apa?" Tanya Ameng penasaran. Tidak biasanya Mirna, istri dari sahabat sekaligus Ketuanya itu menghubungi dirinya.
"Meng. Aku akan ke kota Batu. Kita bertemu di sana. Nanti aku akan mengirim lokasinya. Kau bisa menemui ku di sana!"
"Baik kak. Tapi, ada apa ya?" Tanya Ameng semakin heran.
"Nanti saja! Aku mau bicara dengan kalian. Ada hal yang ingin aku sampaikan!" Kata Mirna. Dia lalu mengakhiri panggilan setelah Ameng mengatakan iya dan berjanji akan menemuinya.
***
Di salah satu kafe yang terdapat di pinggiran kota batu, tampak satu unit mobil Honda Brio memasuki area parkir.
Dari dalam, tampak seorang wanita cantik keluar dari dalam mobil tersebut, lalu memasuki kafe tadi, kemudian memilih meja yang dekat dengan jendela.
Salah seorang pelayan di kafe tersebut tampak dengan ramah menghampiri wanita tadi.
Setelah memesan sesuatu, pelayan tadi pun pergi, dan kini wanita tadi segera mengeluarkan ponselnya. Tampak dia seperti sedang membagikan lokasinya saat ini.
Sekitar lima belas menit berselang, terlihat satu unit mobil BMW hitam memasuki area parkir di depan kafe tadi. Dan kini, dari dalam mobil, keluar lah empat orang pemuda yang lumayan tampan.
Tanpa banyak tola tole, keempat pemuda itu pun segera berjalan menuju ke bagian dalam kafe dan berhenti di meja yang saat ini sudah ada yang menempatinya. Dialah wanita yang mengendarai mobil Honda Brio tadi.
"Kak. Kami sudah di sini. Sekarang, kakak katakan mengapa memanggil kami datang menemui kakak di sini?" Tanya salah seorang dari keempat pemuda itu.
"Silahkan kalian duduk dulu!" Kata wanita itu.
"Terimakasih kak. Tapi, aku masih bertanya-tanya, mengapa kakak menyuruh kami untuk menemui kakak. Padahal, jika kakak menyuruh kami datang ke rumah pun, kami pasti akan datang!"
"Itulah kalian. Untuk apa aku menyuruh kalian datang ke rumah? Apa kalian mau, aku dan Namora semakin dijauhi oleh masyarakat?"
"Kak Mirna. Apa maksudnya kak?"
"Ameng. Sekarang aku bertanya. Untuk apa kau dan Acong menemui Namora di sekolahnya?" Tanya wanita cantik yang ternyata adalah Mirna itu.
"Oh. Masalah itu. Kami hanya rindu saja. Mengapa kak?" Tanya Ameng heran. Untuk apa hanya karena menemui Namora saja, sampai-sampai Mirna merepotkan diri datang ke kota Batu ini dan meminta untuk bertemu.
"Namora ada mengatakan kepadaku bahwa dia bertemu dengan dua orang lelaki yang mengaku sebagai sahabat Ayahnya. Aku telah memarahi anak itu dan melarangnya untuk bertemu lagi dengan kalian. Dan kalian juga, jangan lagi menemui Namora!" Larang Mirna dengan ekspresi wajah tidak suka.
"Mengapa kak? Namora tadinya diganggu oleh anak-anak yang sebaya dengannya. Kami tidak tega melihat Namora diperlakukan seperti itu. Jadi, kami berdua menghampirinya sekadar untuk memberikan hiburan saja. Dan itu berhasil. Namora akhirnya mau pergi ke sekolah!" Jawab Ameng apa adanya.
"Aku tetap tidak suka. Katahuilah! Aku sengaja pindah ke kampung baru ini karena tidak tahan melihat Namora selalu dihina di sana. Ternyata di sini juga hal yang sama terjadi kepada anak itu. Ketika orang-orang tau bahwa kalian adalah sahabat ayah nya, maka Namora akan semakin dibenci. Apa menurutmu itu baik bagi dirinya?" Tanya Mirna.
"Di sini juga sama kan kak? Namora sudah di hina dan di bully. Ada atau tidaknya kami, Namora tetap mendapat penghinaan kok. Dia selalu diganggu oleh anak-anak sebaya dengannya. Lalu, apa bedanya?" Kali ini giliran Acong pula yang buka suara. Sejak tadi dia hanya diam saja karena Ameng terus yang berbicara.
"Kak. Kami ini adalah sahabat bang Tigor sejak kecil. Kami mengenal bang Tigor jauuuuh sebelum kakak mengenalnya. Namora itu adalah keponakan bersama. Sama seperti kami dulu menganggap Rio sebagai adik bersama. Namora tidak akan bisa bersungguh-sungguh belajar, kalau rasa kepercayaan dirinya jatuh. Bagaimana dia bisa percaya diri, jika setiap hari selalu mendapat tekanan dari lingkungan? Anak itu akan menjadi bodoh jika terus seperti itu," kata Sugeng pula.
"Kami juga pernah melalui masa-masa itu. Kami dulu juga anak-anak. Bahkan, kehidupan kami jauh lebih menyakitkan daripada Namora sekarang. Tapi, sepahit apapun kehidupan kami dulu, semenderita apapun kami, namun kami tidak membiarkan orang lain membully kami. Berani membully atau menghina kami, berarti tandanya orang itu telah memesan tiket ke rumah sakit! Kakak tidak boleh membiarkan hal ini terus-menerus dihadapi oleh Namora. Bisa rusak otak anak itu!" Kata Timbul pula menimpali.
Mirna benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia bahkan merasakan lidahnya mendadak kelu tidak mampu berkata-kata. Hanya air matanya saja yang mengalir. Bagaimanapun, perkataan dari keempat sahabat suaminya itu ada benarnya. Namora pasti akan tetap mendapat tekanan dari lingkungannya, ada atau tidaknya mereka bersama dengan Namora.
Didalam kegalauan hatinya, Mirna akhirnya mengalah juga. Tapi, yang namanya emak-emak, walaupun sudah mengaku kalah, pasti akan tetap mengajukan syarat.
"Baiklah. Mungkin aku salah dan kalian benar. Tapi, kalian tetap tidak boleh ikut campur dalam urusan Namora. Biarkan keadaan yang menempah dirinya. Kalian hanya boleh melindungi dirinya andai dia dalam bahaya," kata Mirna pula. Dia lalu menyambar tasnya, kemudian meninggalkan kafe itu sebelum meletakkan selembar uang di atas meja.
Melihat kepergian Mirna, Sugeng, Ameng, Timbul dan Acong hanya bisa mengangkat pundak mereka.
"Kasihan kak Mirna. Dia hanya korban keadaan. Aku tau betul bahwa dari dulu sampai sekarang, dia tidak pernah bahagia," kata Ameng dengan wajah sedih.
"Sudahlah. Kita anggap saja dia khilaf dan tidak mampu berfikir jernih. Bagaimanapun, dia adalah seorang ibu yang menginginkan kebaikan untuk anaknya. Tapi, caranya saja yang kurang benar!"
"Sekarang bagaimana?" Tanya Acong.
"Bagaimana apanya? Sudah di sini, pesan sajalah sesuatu!"
"Hahaha. Kalian ini. Ya sudah! Kita makan dan minum, kemudian kembali ke bukit batu. Tapi hati-hati! Tetap jaga sikap, jika tidak ingin menjadi tersangka dan menyusul bang Tigor kedalam penjara!"
"Hahahaha!"
Mereka tertawa cekikikan sambil melambaikan tangan untuk memanggil pelayan.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 273 Episodes
Comments
On fire
🩶🩶💞🩷
2025-01-18
0
On fire
💗💗💞🩶
2025-01-18
0
Sofyan Muchtar
ibunya namora dungu, anak kalau ditindas terus secara psikologis akan rusak mentalnya
2024-08-20
1