Tigor terlihat manggut-manggut sebelum kembali berkata. "Hmmm... Ya. Aku tau seperti apa Namora ini. Dia terlalu halus dan sangat sensitif. jangankan dia, aku saja sampai saat ini masih takut berhadapan dengan orang tua itu. Seperti apapun aku berusaha, tetap saja kalah. Namora tidak akan sanggup. Pepatah mengatakan, bilah pisau tidak akan bisa meraut gagangnya sendiri. Dia butuh bila pisau yang lain untuk meraut gagangnya. Begitu juga dengan Namora. Dia harus belajar dengan orang lain. Karena, dia tidak akan sanggup jika belajar dengan kakek uyutnya,"
"Bang. Apakah abang setuju jika Namora berlatih ilmu beladiri?' tanya Rio. Karena, sejujurnya dia tidak terlalu setuju dengan keinginan anak itu untuk berlatih ilmu beladiri.
"Kedepannya akan semakin sulit. Dia itu anak lelaki. Dia memiliki tanggung jawab di pundaknya. Aku tidak selamanya bisa melindungi dirinya. Kabar yang sering aku dengar bahwa anak ku ini selalu diperlukan secara tidak baik oleh teman-temannya di sekolah. Sejujurnya, itu bukan sifat keluarga kita. Apakah kau mau melihat keponakan mu selalu di bawah?"
Rio sontak menggelengkan kepalanya. Dia mungkin telah salah karena menganggap bahwa jika Namora belajar seni beladiri, maka anak itu akan sulit untuk diatur. Hal yang sama juga ada dalam benak Mirna. Mereka berdua sama-sama tidak setuju. Padahal, seni beladiri bukan hanya untuk berkelahi. Tapi, lebih dari itu, untuk menyehatkan jasmani.
"Ayo bang. Aku telah menyiapkan tempat khusus di lapangan rutan ini untuk merayakan hari ulang tahun Namora. Kali ini kita rayakan bersama dengan para tahanan yang lainnya. Untuk ini, aku telah menyiapkan puluhan polisi dibantu oleh anak buah Ameng untuk mengawal keadaan. Mereka juga sudah berjanji bahwa jika ada yang kabur, maka mereka akan di buru oleh anak buah mu dan jawabannya adalah mati," kata Rio sambil merangkul pundak Tigor untuk bergabung dengan yang lainnya.
"Mereka tidak akan berani berbuat macam-macam. Aku adalah raja di penjara ini!" Kata Tigor sambil tersenyum mengejek.
Sekali lagi Rio tersenyum kecut mendengar dan melihat perkataan dan ekspresi dari Tigor yang sesukanya itu.
Begitu Tigor duduk di meja yang hanya memiliki dua kursi saja, Monang yang sejak tadi hanya diam dan berada di antara sahabat-sahabatnya yang lain langsung menghampiri Tigor sambil menyerahkan map berisi laporan keuangan di perusahaan miliknya di kota Kemuning.
"Gor. Mumpung lagi di sini, aku ingin membentangkan budget perusahaan di kota Kemuning. Semuanya sudah direkap oleh Pak Burhan. Beruntung ada dia. Jika tidak, kami sama sekali tidak mengerti apa-apa tentang bisnis," kata Monang pula sembari meletakkan tumpukan kertas di atas meja. "Semuanya atas nama Namora!" Katanya lagi.
Tigor membolak-balik kertas tersebut kemudian mengangguk-angguk tanda dia sangat memahami semua yang tertera di kertas tadi.
"Terimakasih, Monang. Sepertinya Martins Hotel yang sangat menguntungkan," kata Tigor yang kemudian langsung menutup map berisi laporan budget perusahaan tadi.
"Ya. Semua ini tidak lepas dari bantuan Tuan besar Jerry William," jawab Monang.
"Hmmm. Baiklah. Sekarang mari kita rayakan hari ulangtahun keponakan kalian. Aku sudah tidak sabaran," kata Tigor.
"Bukan di sini bang! Mari kita ke lapangan!" Ajak Rio.
Mereka yang ada di ruangan itu pun segera keluar mengikuti Rio dan beberapa petugas kepolisian bagian lapas tersebut.
Ketika mereka sampai di lapangan, ternyata di sana sudah ramai para tahanan yang lainnya menunggu mereka.
"Wah hari ini kita akan makan enak!" Teriak beberapa orang diantara mereka.
"Benar. Sudah lama kita tidak makan makanan yang enak," celetuk yang lainnya.
"Mari semuanya. Kalian bisa makan sepuasnya. Tapi ingat! Kita telah melakukan perjanjian yang haram untuk kalian langgar. Kalian tau siapa Dragon Empire kan? Kalian akan di buru sampai ke liang lahat sekalipun jika berani melarikan diri," ancam Rio memperingatkan.
"Bapak Kapolres jangan khawatir. Kami tidak akan melanggar janji kami," kata mereka.
Setelah mereka berkata demikian, kini dari arah belakang berdatangan puluhan orang lelaki berpakaian hitam-hitam dengan di tangan mereka membawa bungkusan besar.
Ketika di buka, ternyata bungkusan besar dari puluhan lelaki berpakaian hitam itu adalah makanan yang sudah di kemas ke dalam bungkusan-bungkusan kecil.
Mereka meletakkan bungkusan itu di atas meja. Dan benar saja. Baru saja mereka meletakkan bungkusan itu di meja yang telah tersedia, kini para narapidana yang berada di lapangan itu langsung berebut mengambil sebanyak mungkin makanan untuk mereka santap bersama.
Rio dan yang lainnya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah dari para narapidana ini.
Tigor, yang melihat kejadian itu bukannya marah, malah dia meminta kepada Ameng untuk menambah lagi makanan membuat Ameng kelimpungan menelepon ke sana dan kemari untuk mengorder makanan dari restoran-restoran terdekat.
"Kalian jangan takut. Makanan tidak akan habis walaupun perut kalian pecah!" Kata Tigor yang ikut-ikutan mengambil makanan dalam kemasan yang berada di atas meja.
Terus terang saja. Bagi mereka para tahanan, mendapatkan makanan yang enak itu bisa dikatakan sangat mustahil. Terlebih lagi, di penjara ini adalah penjara bagian kriminal. Tentu saja pengawalan di sini sangat ketat, bahkan ekstra ketat.
Mereka yang berada di dalam tahanan ini tidaklah memiliki kasus yang ringan. Karena, paling rendah kasus yang menjerat mereka adalah membunuh.
Ada banyak diantara mereka yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran, bos sindikat narkoba, pemerdagangan wanita-wanita untuk budak pemuas nafsu, dan juga ada di antara mereka yang berada di pusat tahanan itu adalah otak dari berbagai kejadian seperti tero*** dan sebagainya.
Jadi, tidak heran jika mereka sangat antusias dengan acara seperti ini. Bahkan, ini adalah acara ulangtahun yang sangat spesial. Karena, baru kali ini Rio mengizinkan untuk mengadakan perayaan besar di area penjara ini.
Beruntung bagi mereka bahwa Namora sudah tidak membenci Tigor lagi. Andai masih seperti tahun-tahun sebelumnya, mustahil akan diadakan pesta makan seperti ini.
"Bang. Jujur saja ya. Sudah lama kami tidak makan daging. Ini sungguh sangat nikmat!" Kata mereka sambil terus mengunyah.
"Hahaha. Benar sekali bang. Untung ada Abang di sini. Jika tidak, mana mungkin kita bisa makan enak,"
"Sudahlah! Makan saja. Nanti tersedak," kata Tigor pula. Bibirnya menyunggingkan senyum. Tapi matanya terus melirik ke sana ke mari mencari sosok istri dan putranya yang masih belum kelihatan batang hidungnya. Ingin bertanya kepada Rio, sepertinya Rio malah mengatakan ada, tapi sampai sekarang dia belum tau seperti apa penampilan anak dan istrinya.
"Bang. Ayo lah kita sama-sama makan!" Ajak mereka yang langsung membuyarkan lamunan Tigor.
"Oh iya. Mari!" Balas Tigor. Dia langsung membuka satu bungkus makanan dan menikmati makan itu bersama-sama dengan yang lainnya.
Melihat Tigor mulai makan, hal ini membuat Yang lainnya seperti Monang, Ameng, Ucok dan yang lainnya ikut duduk di tikar plastik itu. Bahkan Rio juga ikut-ikutan duduk dan makan bersama.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 273 Episodes
Comments
On fire
🩷🖤🖤💓
2025-01-21
0
On fire
💜🩷🩷🩷
2025-01-21
0
ponakan Bang Tigor
disambung ...
Alhamdulillah makasi banyak update-nya bang 🌻🌻🌻
semoga pekerjaannya lancar dan aman. aamiin aamiin
semangat berkarya dan bekerja thor 💪💪💪
semoga othor dan keluarga sehat selalu, semakin sukses, rezeki lancar dan bahagia setiap saat. aamiin aamiin
selamat malam dan selamat beristirahat 👋🌻
2022-12-28
1