Hari ulangtahun Namora

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba.

Menjelang sore itu, Namora yang memang sudah pulang dari sekolah segera berkemas.

Dia tampak begitu semangat sekali sore ini. Ini karena, dia dan ibunya akan mengunjungi rutan di kota batu dimana Ayahnya di tahan.

Kali ini, Namora terlihat sangat rapi sekali. Dengan rambut kemerahan miliknya yang di sisir belah samping, dia juga mengenakan jas dan celana ala anak-anak orang kaya. Bibirnya yang mungil kemerahan senantiasa menyunggingkan senyuman.

"Bu. Namora mau pakai sepatu yang itu!" Tunjuk anak itu. Sepatu yang dia tunjuk tadi adalah sepatu tempahan yang di tempah dari toko yang sangat terkenal di kota batu ini.

Maklum, untuk usia Namora, memang tidak menjual sepatu jenis itu. Karena, sepatu itu hanya dikenakan oleh orang-orang dewasa yang bekerja di kantoran.

Menurut Mirna, jika Namora mengenakan stelan blazer, tentu tidak akan cocok bila Namora memakai sepatu sport. Maka, ditempahlah sepatu pantofel yang sesuai dengan ukuran kaki anak itu.

Kini, penampilan Namora persis seperti pangeran dari negeri antah berantah.

Tidak henti-hentinya anak itu melanggak-lenggok di depan cermin kaca seolah-olah sedang membanggakan penampilannya yang kece badai itu.

Mirna sendiri hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat ulah dari anaknya itu. Kebahagiaan apa lagi yang bisa didapatkan oleh Namora selain bersama dengan orang-orang yang dekat dengannya. Sementara bagi Mirna pula, ulangtahun Namora kali ini berbeda dengan ulangtahun sebelumnya. Jika dulu Namora selalu membenci ayahnya, kini sudah tidak lagi. Dan itu adalah atas usaha dari Ameng CS, dan Rio.

"Sudah ganteng Bu?! Hehehe!" Namora nyengir kuda memperlihatkan dua giginya yang baru tumbuh separuh.

"Namora. Sebentar lagi Paman Rio mu akan sampai untuk menjemput kita. Kau jangan nakal nanti. Paman mu bawa pistol. Kalau kau nakal, dia akan menembak mu!" Kata Mirna menakut-nakuti anaknya itu.

"Paman Rio kan sayang sama Namora," bantah anak itu dengan cerdik.

"Pokoknya jangan nakal. Dua tahun lalu, karena kenakalan mu, tape mobil paman mu jadi rusak. Tahun lalu, karena kenakalan mu juga, lampu depan mobilnya pecah. Mobil itu milik mendiang kakek mu. Hanya itu warisan yang tersisa. Jangan nakal ya sayang ibu!" Bujuk Mirna sambil berjongkok di depan Namora sembari mengusap pipi anak itu agar bedak yang dia kenakan tidak belepotan.

Namora menganggukkan kepalanya. Dia tau dan akan menuruti semua perkataan dari Ibunya. Jika dua tahun yang lalu, serta setahun yang lalu dia nakalnya minta ampun, kini usianya sudah bertambah. Dan tentunya dia sudah bisa berfikir bahwa dia tidak boleh nakal.

Tak lama setelah kedua ibu dan anak itu selesai bersiap, dari arah depan terlihat mobil Toyota hardtop warna biru berhenti di depan rumah mereka.

Dari dalam mobil tersebut, keluar lah seorang pemuda bersama dengan seorang gadis yang sangat cantik tersenyum seraya mengucapkan salam.

"Assalamualaikum kak!" Kata pemuda itu menjenguk 'kan kepalanya di depan pintu.

"Itu paman mu sudah datang! Ayo Namora!" Kata Mirna sembari menarik tangan Namora.

"Waalaikumsalam!" Jawab Mirna yang langsung keluar dari kamar.

"Wah. Dengan siapa kau, Rio? Cantik sekali," puji Mirna kepada seorang gadis yang datang bersama dengan adik iparnya itu.

"Hehehe. Ini kak. I... Ini," Rio terlihat malu-malu.

"Salami kakak ipar ku!" Bisik Rio kepada gadis cantik tadi.

"Hallo kak. Nama saya Melia. Saya temannya bang Rio!" Kata gadis itu yang segera menyalami Mirna.

"Teman apa teman?" Goda Mirna.

Gadis itu terlihat tertunduk dengan pipi merona merah.

"Ayo kita berangkat sekarang kak!" Ajak Rio yang mati kutu. Untuk menghindari dirinya terus digoda oleh Mirna tentang gadis yang bersama dengannya tadi, dia pun segera mengalihkan perhatian dengan cara buru-buru mengajak mereka untuk segera berangkat ke rutan kota Batu.

"Mengapa buru-buru? Kau malu ya?" Kembali Mirna menggoda Rio.

Kali ini, Rio benar-benar gelagapan dikerjai oleh Mirna. Begitu juga dengan gadis bernama Melia tadi.

"Namora, sini! Berikan salam kepada calon Tante mu ini!" Kata Mirna kepada anaknya.

"Hallo Tante. Nama saya Namora!" Sapa anak itu dengan senyum yang menggemaskan.

Baru saja mereka akan berbincang-bincang, dari luar kembali terdengar suara deru mesin kendaran yang berhenti tepat di samping mobil Toyota hardtop milik Rio tadi.

Ketika Mirna melihat ke depan, di halaman rumahnya telah terparkir empat unit mobil mewah berwarna hitam dan silver.

Kini, dari dalam keempat unit mobil tadi, keluar lah sembilan orang pemuda dengan dua diantaranya membawa istri dan anak lelaki yang seusia dengan Namora.

"Wah... Aku tidak menyangka kalian akan datang juga," kata Mirna berbasa-basi menyambut kedatangan sembilan orang pemuda, dua orang wanita, dan dua orang anak lelaki yang seusia dengan Namora tadi.

"Terimalah salam hormat dari kami untuk kakak!" Kata mereka serentak.

"Sudahlah! Mari masuk. Aku akan menyiapkan minuman untuk kalian!" Kata Mirna pula yang langsung menuju ke dapur.

Melihat Mirna pergi ke dapur, dua orang wanita yang ikut dalam rombongan itu beserta gadis yang bersama Rio tadi segera menyusul.

"Hei Bang Andra. Sudah besar anak Abang ya. Bang Jabat juga. Anak mu sudah besar," kata Rio pula sembari menyalami mereka satu persatu.

"Hendro. Kau Salami Paman Rio. Setelah itu, beri Hormat kepada Tuan muda Namora!" Kata Andra memerintahkan kepada anak kecil yang seusia dengan Namora tadi.

Anak yang bernama Hendro tadi tampak seperti malas ketika menyalami Namora. Tapi tidak dengan anak yang satunya lagi.

"Udin. Beri salam kepada Tuan muda kita!" Kata Jabat pula.

Anak Jabat yang bernama Udin tadi langsung menyalami Namora, dan kemudian mereka saling peluk dengan akrab.

"Selamat ulang tahun untuk mu, Tuan muda!" Kata Udin tersenyum. Namun senyumnya segera hilang ketika dari arah dapur terdengar suara teguran.

"Panggil saja dengan nama Namora. Jika dipanggil dengan sebutan Tuan muda, dia akan besar kepala!"

Namora yang tidak mengerti apa itu Tuan muda hanya bengong saja. Dia malah asyik menarik tangan Udin untuk bermain, dan mengabaikan Hendro yang terlihat sangat acuh.

"Kak. Mengapa kakak betah di sini? Kembali lah ke kota Kemuning! Di sana ada kami yang akan menjaga kakak!" Kata Andra yang terlihat tidak tega melihat keadaan Mirna di kampung baru ini, sedangkan mereka hidup mewah di kota Kemuning.

Mirna hanya tersenyum sambil menggeleng pelan.

"Kenapa kak? Jika bang Tigor tau keadaan kakak seperti ini, kami bisa dihukum olehnya," kali ini Jabat pula yang berbicara.

"Kalian tau mengapa aku memilih kampung ini? Ini semua karena Namora. Biarkan kami di sini. Bang Tigor juga sudah tau dan tidak menyalahgunakan kalian," jawab Mirna menolak usul dari Andra dan Jabat tadi.

"Tidak apa-apa bang. Beberapa bulan lagi aku akan menikah. Kalian harus datang ya! Setelah itu, aku akan mengajak kakak ipar untuk serumah dengan kami di perumahan dinas kepolisian kota Batu," kata Rio menengahi. Bagaimanapun, dia tau kekhawatiran anak buah Abangnya itu terhadap diri Mirna dan Namora.

"Baiklah. Kami mengalah jika sudah begitu," Andra terlihat mendesah pasrah dengan keteguhan hati Mirna untuk tidak kembali ke kota Kemuning.

"Bagaimana? Ayo kita berangkat! Nanti bang Tigor malah kelamaan menunggu," sela Ameng pula.

"Di minum dulu airnya!" Kata Mirna mempersilahkan.

Mereka lalu meminum air yang telah dihidangkan oleh Mirna tadi. Dan setelah selesai, mereka lalu berangkat dari rumah Mirna di kampung baru, menuju ke rutan kota Batu.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

On fire

On fire

💙🤍🤎❤️‍🩹❤️‍🩹

2025-01-20

0

On fire

On fire

🩶🩶💗🩵

2025-01-20

0

ponakan Bang Tigor

ponakan Bang Tigor

disambung ...
terima kasih banyak update-nya bang 🌻🌻🌻
semangat berkarya dan bekerja thor 💪💪💪
semoga pekerjaannya lancar dan aman. aamiin aamiin
semoga bang othor dan keluarga sehat selalu, semakin sukses, rezeki lancar dan bahagia setiap saat. aamiin aamiin
Namora imut sekali, bang 🔥🌻

2022-12-25

4

lihat semua
Episodes
1 Bab permulaan
2 Keluhan anak lugu
3 Ameng dan Acong menghampiri
4 Namora ditipu oleh teman-temannya
5 Mirna menemui keempat sahabat Tigor
6 Untung ada Ameng
7 Ayah mu lebih hebat dari superhero
8 Mengunjungi Rio
9 Kisah dari Rio
10 Penyesalan Namora
11 Panggilan telepon untuk Tigor
12 Dendam di hati Namora
13 Namora dimarahi oleh Ibunya
14 Jurus cakar ayam ala Namora
15 Jurus aneh yang diajarkan oleh Ameng
16 Hari ulangtahun Namora
17 Tiba di pusat tahanan kota Batu
18 Acara makan bersama semua tahanan
19 Sindiran keras untuk Tigor
20 Puncak dari acara ulang tahun Namora
21 Bersahabat dengan J7
22 Dikeroyok lagi
23 Namora kencing di celana
24 Harianto pujakesuma
25 Mulai berlatih
26 Metode aneh dari Rio
27 Nasehat untuk Namora
28 J7 dikeroyok
29 Sepeda Jol rusak parah
30 Namora diceramahi
31 Diaz yang sombong
32 Namora tidak mendapatkan izin
33 Jol yang sewot
34 Berpisah dengan pak Harianto
35 Namora tidak lulus SMA favorit
36 Nyemplung ke sungai
37 Janji berkumpul di rumah James
38 Meninjau sekolah baru
39 Lahirnya J7
40 Motor baru J7
41 Rencana licik, Rendra
42 Kenza
43 Pendirian Tigor tidak berubah
44 Peringatan dari Ameng
45 Hari pertama sekolah
46 Rencana untuk mempermainkan Namora
47 Taruhan di mulai
48 Acting yang sempurna
49 Permintaan mengada-ada dari Merisda
50 Salahkan dirimu yang miskin
51 Dihina oleh Merisda
52 Perubahan pada diri Namora
53 Tigor dan Mirna bertengkar
54 Tigor tidak mau disalahkan
55 Fighter Club
56 Kenza tiba di Fighter Club'
57 Namora yang penuh dengan misteri
58 Knock-out dari Kenza
59 Kacau-balau di aula Fighter Club'
60 Menabrak mobil milik orang
61 Rahasia tentang diri Kenza
62 Ameng akan membawa Namora ke kota Kemuning
63 Berangkat ke kota Kemuning
64 Namora dipermak
65 Penyambutan untuk Namora
66 Namora yang mampu menyesuaikan diri
67 kembali ke kota Batu
68 Ini sudah keterlaluan
69 Namora memukul Rendra
70 Mendaftar
71 Namora minta uang
72 Namora dikepung
73 Kena batunya
74 Melumpuhkan dua orang suruhan
75 Undangan dari Merisda
76 Memaksa Namora
77 Terasing dalam ramai
78 Penghinaan yang paling menyakitkan
79 Penyesalan Merisda
80 Tiba di Aula Fighter Club'
81 Memberi kesempatan kepada Willi
82 Mengantar Willi pulang
83 Memboyong Yamaha R1 ke kota Batu
84 Mencari informasi tentang diri Arda
85 Ternyata Rendra masih belum kapok juga
86 Namora kembali ke sekolah
87 Mengetahui identitas Arda
88 Ameng memeras Tigor
89 Zack berpindah tangan
90 Semakin acuh
91 Namora vs Hendro
92 Namora sang Otoriter
93 Pemecatan massal
94 Namora si tangan besi
95 Namora dimata-matai
96 Tanta yang salah sasaran
97 Ameng menampar Namora
98 Kematian Tanta
99 Rahasia organisasi
100 Zack menceritakan semuanya
101 Rencana kotor, Ardi
102 Ameng mengadukan ulah Namora
103 Membuat kekacauan di Dojo kampung baru
104 Rudi ditumbangkan
105 Kesadisan Namora
106 Ameng menghajar Ganjang
107 Arda dan Ardi terkepung
108 Bantuan tiba
109 Melepas keberangkatan Merisda
110 Namora, si pembuat onar
111 Jhonroy membunuh lagi
112 Semua meragukan kemampuan Namora
113 Bersiap untuk berangkat
114 Menelepon Jerry William
115 Jerry turun tangan
116 Black shadow dan Black Eagle
117 Rombongan sampai di Dolok ginjang
118 Kemenangan pertama Namora
119 Tiket ke babak 16 besar
120 Angga dan Teja
121 Berbeda pendapat
122 Teja tetap pada pendiriannya
123 Semifinal
124 Jhonroy menemui Sensei
125 Pembunuh bayaran
126 Skema matang seorang Jerry William
127 Diaz, over dosis
128 Kabar dari Dudul
129 Dihadang
130 Pembantaian
131 Kedatangan dua orang warga asing
132 Angga menyalahkan Teja
133 Kemarahan Namora
134 Namora akan menjadi pion bagi rencana Tigor
135 di kepung
136 Pengawal bayangan keluar untuk membantu
137 Namora dalam bahaya
138 Kemunculan Black shadow di saat genting
139 Pertarungan dua pejuang
140 Rio VS Jhonroy
141 Rio mendapat tekanan
142 Kabar dari Takimura
143 Namora masih belum siuman
144 Meminta bantuan ke Kuala Nipah
145 penawar dari Joe
146 Kelicikan Angga
147 Melawan racun dengan racun
148 Namora telah siuman
149 Kepala Namora pusing lagi
150 Jol berkunjung
151 kembali ke sekolah
152 Namora dihukum
153 Namora menemui Tigor
154 Dilema
155 Kedok di balik Dojo
156 Kisah tentang Sensei
157 Menanti kedatangan sang otoriter
158 Suasana rapat yang canggung
159 Mulai mendapatkan penentangan
160 Jadilah anjing yang baik!
161 Udin ngomel terus
162 Tekad Namora
163 Jiwa muda pak Karim
164 Obrolan dua orang beda usia
165 Namora Jagoan
166 Pertemuan di rumah Jhonroy
167 Tiba dikampung Permai
168 Keluarga Lan
169 Preman pasar
170 Amukan Namora di pasar Sabtu
171 Bertemu dengan Ibu Zack
172 Mengumumkan permusuhan
173 Don Mora
174 Mengajak keluarga pak Karim makan di Hotel
175 Operasi tanjung karang
176 Sehari sebelum kebebasan Tigor
177 Ke Tower Mall
178 Pertemuan tidak sengaja dengan walikota Rantau
179 Kabar buruk dari perusahaan
180 Hari kebebasan Tigor
181 Hari kebebasan Tigor
182 Namora ditekan
183 Pertemuan di mulai
184 Perdebatan semakin menegangkan
185 Acting sempurna
186 Penyesalan
187 Bertemu dengan Joe William
188 Kematian pengkhianat
189 Angga menemui Namora
190 Aku bukan bodoh
191 Alun-alun kota Kemuning
192 Menghajar Andi
193 Satu juta poundsterling
194 Entah apa rencana kotor Angga
195 Namora akan kembali ke kota Batu
196 Menjadi Target pembunuhan
197 Pak Dewanto
198 Penolakan Namora
199 Kembali ke Sekolah
200 Pembunuh bayaran telah tiba
201 Aksi penyelamatan
202 Yang bisa membunuhku masih belum lahir
203 Peperangan mulai tercetus
204 Retro Komersial Enterprise
205 Masih belum move-on
206 Don Mora beraksi
207 Perang terus berlanjut
208 Ameng Kasmaran
209 Namora kembali di kepung
210 Pengepung yang terkepung
211 Lepas dari mulut harimau, masuk ke dalam mulut buaya
212 Teja terbun*h
213 Bertemu dengan Xenita
214 Namora mati kutu
215 Namora dikambinghitamkan
216 Apakah Black Cat harus kembali?
217 Organisasi Hayabusa
218 Meninggalkan kampung Kuala Nipah
219 PH entertainment
220 Intermezzo
221 Kebakaran
222 Gurita Bisnis milik Jhonroy
223 Kedatangan Joe William
224 Di bakar lagi
225 Pembantaian oleh Namora
226 Jhonroy semakin tertekan
227 Erik membocorkan informasi
228 Peringatan keras dari Tengku Mahmud
229 Undangan makan malam dari pak Dewanto
230 Pertemuan dengan keluarga Dewanto
231 Jhonroy akan jadi gelandangan
232 Disergap pembunuh bayaran
233 Joe vs Sensei
234 Kemunculan Black Cat memakan korban
235 Pertarungan hidup dan mati
236 Memburu Jhonroy
237 Kau menanam, kau menuai
238 Tak tumbang dihina, tak terbang dipuji
239 Menyelidiki Namora
240 Aku tidak menjauh. tapi kau jangan mendekat
241 Yang Mulia Namora
242 Bintang muda
243 Bahaya yang mengintai
244 Malam perpisahan
245 Kedatangan Xenita
246 Kedatangan dua tamu tak diundang
247 Tantangan dari Dhani
248 Liciknya Angga
249 pemanasan dimulai
250 Provokasi Dhani
251 Sosok serba hitam
252 mengabari Namora
253 Kabar duka
254 Angga masih tetap licik
255 Dhani ketakutan
256 Rio gagal membawa Dhani
257 Dhani dilepaskan
258 Gelandangan
259 Tiba di kota Batu
260 Mematahkan kaki Dhani
261 Rio vs Lolo
262 Kemarahan Dhani
263 Kembali Angga menggunakan kelicikannya
264 Akhirnya Tigor turun tangan
265 Sosok serba hitam
266 kemunculan Black cat memakan korban
267 Ayank Mora IQ rendah
268 Tiga kacung
269 Joe dan Namora sekarat
270 Pertarungan tak seimbang
271 Tengku Mahmud vs Matsushima
272 Bab Akhir
273 Karya baru telah rilis
Episodes

Updated 273 Episodes

1
Bab permulaan
2
Keluhan anak lugu
3
Ameng dan Acong menghampiri
4
Namora ditipu oleh teman-temannya
5
Mirna menemui keempat sahabat Tigor
6
Untung ada Ameng
7
Ayah mu lebih hebat dari superhero
8
Mengunjungi Rio
9
Kisah dari Rio
10
Penyesalan Namora
11
Panggilan telepon untuk Tigor
12
Dendam di hati Namora
13
Namora dimarahi oleh Ibunya
14
Jurus cakar ayam ala Namora
15
Jurus aneh yang diajarkan oleh Ameng
16
Hari ulangtahun Namora
17
Tiba di pusat tahanan kota Batu
18
Acara makan bersama semua tahanan
19
Sindiran keras untuk Tigor
20
Puncak dari acara ulang tahun Namora
21
Bersahabat dengan J7
22
Dikeroyok lagi
23
Namora kencing di celana
24
Harianto pujakesuma
25
Mulai berlatih
26
Metode aneh dari Rio
27
Nasehat untuk Namora
28
J7 dikeroyok
29
Sepeda Jol rusak parah
30
Namora diceramahi
31
Diaz yang sombong
32
Namora tidak mendapatkan izin
33
Jol yang sewot
34
Berpisah dengan pak Harianto
35
Namora tidak lulus SMA favorit
36
Nyemplung ke sungai
37
Janji berkumpul di rumah James
38
Meninjau sekolah baru
39
Lahirnya J7
40
Motor baru J7
41
Rencana licik, Rendra
42
Kenza
43
Pendirian Tigor tidak berubah
44
Peringatan dari Ameng
45
Hari pertama sekolah
46
Rencana untuk mempermainkan Namora
47
Taruhan di mulai
48
Acting yang sempurna
49
Permintaan mengada-ada dari Merisda
50
Salahkan dirimu yang miskin
51
Dihina oleh Merisda
52
Perubahan pada diri Namora
53
Tigor dan Mirna bertengkar
54
Tigor tidak mau disalahkan
55
Fighter Club
56
Kenza tiba di Fighter Club'
57
Namora yang penuh dengan misteri
58
Knock-out dari Kenza
59
Kacau-balau di aula Fighter Club'
60
Menabrak mobil milik orang
61
Rahasia tentang diri Kenza
62
Ameng akan membawa Namora ke kota Kemuning
63
Berangkat ke kota Kemuning
64
Namora dipermak
65
Penyambutan untuk Namora
66
Namora yang mampu menyesuaikan diri
67
kembali ke kota Batu
68
Ini sudah keterlaluan
69
Namora memukul Rendra
70
Mendaftar
71
Namora minta uang
72
Namora dikepung
73
Kena batunya
74
Melumpuhkan dua orang suruhan
75
Undangan dari Merisda
76
Memaksa Namora
77
Terasing dalam ramai
78
Penghinaan yang paling menyakitkan
79
Penyesalan Merisda
80
Tiba di Aula Fighter Club'
81
Memberi kesempatan kepada Willi
82
Mengantar Willi pulang
83
Memboyong Yamaha R1 ke kota Batu
84
Mencari informasi tentang diri Arda
85
Ternyata Rendra masih belum kapok juga
86
Namora kembali ke sekolah
87
Mengetahui identitas Arda
88
Ameng memeras Tigor
89
Zack berpindah tangan
90
Semakin acuh
91
Namora vs Hendro
92
Namora sang Otoriter
93
Pemecatan massal
94
Namora si tangan besi
95
Namora dimata-matai
96
Tanta yang salah sasaran
97
Ameng menampar Namora
98
Kematian Tanta
99
Rahasia organisasi
100
Zack menceritakan semuanya
101
Rencana kotor, Ardi
102
Ameng mengadukan ulah Namora
103
Membuat kekacauan di Dojo kampung baru
104
Rudi ditumbangkan
105
Kesadisan Namora
106
Ameng menghajar Ganjang
107
Arda dan Ardi terkepung
108
Bantuan tiba
109
Melepas keberangkatan Merisda
110
Namora, si pembuat onar
111
Jhonroy membunuh lagi
112
Semua meragukan kemampuan Namora
113
Bersiap untuk berangkat
114
Menelepon Jerry William
115
Jerry turun tangan
116
Black shadow dan Black Eagle
117
Rombongan sampai di Dolok ginjang
118
Kemenangan pertama Namora
119
Tiket ke babak 16 besar
120
Angga dan Teja
121
Berbeda pendapat
122
Teja tetap pada pendiriannya
123
Semifinal
124
Jhonroy menemui Sensei
125
Pembunuh bayaran
126
Skema matang seorang Jerry William
127
Diaz, over dosis
128
Kabar dari Dudul
129
Dihadang
130
Pembantaian
131
Kedatangan dua orang warga asing
132
Angga menyalahkan Teja
133
Kemarahan Namora
134
Namora akan menjadi pion bagi rencana Tigor
135
di kepung
136
Pengawal bayangan keluar untuk membantu
137
Namora dalam bahaya
138
Kemunculan Black shadow di saat genting
139
Pertarungan dua pejuang
140
Rio VS Jhonroy
141
Rio mendapat tekanan
142
Kabar dari Takimura
143
Namora masih belum siuman
144
Meminta bantuan ke Kuala Nipah
145
penawar dari Joe
146
Kelicikan Angga
147
Melawan racun dengan racun
148
Namora telah siuman
149
Kepala Namora pusing lagi
150
Jol berkunjung
151
kembali ke sekolah
152
Namora dihukum
153
Namora menemui Tigor
154
Dilema
155
Kedok di balik Dojo
156
Kisah tentang Sensei
157
Menanti kedatangan sang otoriter
158
Suasana rapat yang canggung
159
Mulai mendapatkan penentangan
160
Jadilah anjing yang baik!
161
Udin ngomel terus
162
Tekad Namora
163
Jiwa muda pak Karim
164
Obrolan dua orang beda usia
165
Namora Jagoan
166
Pertemuan di rumah Jhonroy
167
Tiba dikampung Permai
168
Keluarga Lan
169
Preman pasar
170
Amukan Namora di pasar Sabtu
171
Bertemu dengan Ibu Zack
172
Mengumumkan permusuhan
173
Don Mora
174
Mengajak keluarga pak Karim makan di Hotel
175
Operasi tanjung karang
176
Sehari sebelum kebebasan Tigor
177
Ke Tower Mall
178
Pertemuan tidak sengaja dengan walikota Rantau
179
Kabar buruk dari perusahaan
180
Hari kebebasan Tigor
181
Hari kebebasan Tigor
182
Namora ditekan
183
Pertemuan di mulai
184
Perdebatan semakin menegangkan
185
Acting sempurna
186
Penyesalan
187
Bertemu dengan Joe William
188
Kematian pengkhianat
189
Angga menemui Namora
190
Aku bukan bodoh
191
Alun-alun kota Kemuning
192
Menghajar Andi
193
Satu juta poundsterling
194
Entah apa rencana kotor Angga
195
Namora akan kembali ke kota Batu
196
Menjadi Target pembunuhan
197
Pak Dewanto
198
Penolakan Namora
199
Kembali ke Sekolah
200
Pembunuh bayaran telah tiba
201
Aksi penyelamatan
202
Yang bisa membunuhku masih belum lahir
203
Peperangan mulai tercetus
204
Retro Komersial Enterprise
205
Masih belum move-on
206
Don Mora beraksi
207
Perang terus berlanjut
208
Ameng Kasmaran
209
Namora kembali di kepung
210
Pengepung yang terkepung
211
Lepas dari mulut harimau, masuk ke dalam mulut buaya
212
Teja terbun*h
213
Bertemu dengan Xenita
214
Namora mati kutu
215
Namora dikambinghitamkan
216
Apakah Black Cat harus kembali?
217
Organisasi Hayabusa
218
Meninggalkan kampung Kuala Nipah
219
PH entertainment
220
Intermezzo
221
Kebakaran
222
Gurita Bisnis milik Jhonroy
223
Kedatangan Joe William
224
Di bakar lagi
225
Pembantaian oleh Namora
226
Jhonroy semakin tertekan
227
Erik membocorkan informasi
228
Peringatan keras dari Tengku Mahmud
229
Undangan makan malam dari pak Dewanto
230
Pertemuan dengan keluarga Dewanto
231
Jhonroy akan jadi gelandangan
232
Disergap pembunuh bayaran
233
Joe vs Sensei
234
Kemunculan Black Cat memakan korban
235
Pertarungan hidup dan mati
236
Memburu Jhonroy
237
Kau menanam, kau menuai
238
Tak tumbang dihina, tak terbang dipuji
239
Menyelidiki Namora
240
Aku tidak menjauh. tapi kau jangan mendekat
241
Yang Mulia Namora
242
Bintang muda
243
Bahaya yang mengintai
244
Malam perpisahan
245
Kedatangan Xenita
246
Kedatangan dua tamu tak diundang
247
Tantangan dari Dhani
248
Liciknya Angga
249
pemanasan dimulai
250
Provokasi Dhani
251
Sosok serba hitam
252
mengabari Namora
253
Kabar duka
254
Angga masih tetap licik
255
Dhani ketakutan
256
Rio gagal membawa Dhani
257
Dhani dilepaskan
258
Gelandangan
259
Tiba di kota Batu
260
Mematahkan kaki Dhani
261
Rio vs Lolo
262
Kemarahan Dhani
263
Kembali Angga menggunakan kelicikannya
264
Akhirnya Tigor turun tangan
265
Sosok serba hitam
266
kemunculan Black cat memakan korban
267
Ayank Mora IQ rendah
268
Tiga kacung
269
Joe dan Namora sekarat
270
Pertarungan tak seimbang
271
Tengku Mahmud vs Matsushima
272
Bab Akhir
273
Karya baru telah rilis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!