Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba.
Menjelang sore itu, Namora yang memang sudah pulang dari sekolah segera berkemas.
Dia tampak begitu semangat sekali sore ini. Ini karena, dia dan ibunya akan mengunjungi rutan di kota batu dimana Ayahnya di tahan.
Kali ini, Namora terlihat sangat rapi sekali. Dengan rambut kemerahan miliknya yang di sisir belah samping, dia juga mengenakan jas dan celana ala anak-anak orang kaya. Bibirnya yang mungil kemerahan senantiasa menyunggingkan senyuman.
"Bu. Namora mau pakai sepatu yang itu!" Tunjuk anak itu. Sepatu yang dia tunjuk tadi adalah sepatu tempahan yang di tempah dari toko yang sangat terkenal di kota batu ini.
Maklum, untuk usia Namora, memang tidak menjual sepatu jenis itu. Karena, sepatu itu hanya dikenakan oleh orang-orang dewasa yang bekerja di kantoran.
Menurut Mirna, jika Namora mengenakan stelan blazer, tentu tidak akan cocok bila Namora memakai sepatu sport. Maka, ditempahlah sepatu pantofel yang sesuai dengan ukuran kaki anak itu.
Kini, penampilan Namora persis seperti pangeran dari negeri antah berantah.
Tidak henti-hentinya anak itu melanggak-lenggok di depan cermin kaca seolah-olah sedang membanggakan penampilannya yang kece badai itu.
Mirna sendiri hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat ulah dari anaknya itu. Kebahagiaan apa lagi yang bisa didapatkan oleh Namora selain bersama dengan orang-orang yang dekat dengannya. Sementara bagi Mirna pula, ulangtahun Namora kali ini berbeda dengan ulangtahun sebelumnya. Jika dulu Namora selalu membenci ayahnya, kini sudah tidak lagi. Dan itu adalah atas usaha dari Ameng CS, dan Rio.
"Sudah ganteng Bu?! Hehehe!" Namora nyengir kuda memperlihatkan dua giginya yang baru tumbuh separuh.
"Namora. Sebentar lagi Paman Rio mu akan sampai untuk menjemput kita. Kau jangan nakal nanti. Paman mu bawa pistol. Kalau kau nakal, dia akan menembak mu!" Kata Mirna menakut-nakuti anaknya itu.
"Paman Rio kan sayang sama Namora," bantah anak itu dengan cerdik.
"Pokoknya jangan nakal. Dua tahun lalu, karena kenakalan mu, tape mobil paman mu jadi rusak. Tahun lalu, karena kenakalan mu juga, lampu depan mobilnya pecah. Mobil itu milik mendiang kakek mu. Hanya itu warisan yang tersisa. Jangan nakal ya sayang ibu!" Bujuk Mirna sambil berjongkok di depan Namora sembari mengusap pipi anak itu agar bedak yang dia kenakan tidak belepotan.
Namora menganggukkan kepalanya. Dia tau dan akan menuruti semua perkataan dari Ibunya. Jika dua tahun yang lalu, serta setahun yang lalu dia nakalnya minta ampun, kini usianya sudah bertambah. Dan tentunya dia sudah bisa berfikir bahwa dia tidak boleh nakal.
Tak lama setelah kedua ibu dan anak itu selesai bersiap, dari arah depan terlihat mobil Toyota hardtop warna biru berhenti di depan rumah mereka.
Dari dalam mobil tersebut, keluar lah seorang pemuda bersama dengan seorang gadis yang sangat cantik tersenyum seraya mengucapkan salam.
"Assalamualaikum kak!" Kata pemuda itu menjenguk 'kan kepalanya di depan pintu.
"Itu paman mu sudah datang! Ayo Namora!" Kata Mirna sembari menarik tangan Namora.
"Waalaikumsalam!" Jawab Mirna yang langsung keluar dari kamar.
"Wah. Dengan siapa kau, Rio? Cantik sekali," puji Mirna kepada seorang gadis yang datang bersama dengan adik iparnya itu.
"Hehehe. Ini kak. I... Ini," Rio terlihat malu-malu.
"Salami kakak ipar ku!" Bisik Rio kepada gadis cantik tadi.
"Hallo kak. Nama saya Melia. Saya temannya bang Rio!" Kata gadis itu yang segera menyalami Mirna.
"Teman apa teman?" Goda Mirna.
Gadis itu terlihat tertunduk dengan pipi merona merah.
"Ayo kita berangkat sekarang kak!" Ajak Rio yang mati kutu. Untuk menghindari dirinya terus digoda oleh Mirna tentang gadis yang bersama dengannya tadi, dia pun segera mengalihkan perhatian dengan cara buru-buru mengajak mereka untuk segera berangkat ke rutan kota Batu.
"Mengapa buru-buru? Kau malu ya?" Kembali Mirna menggoda Rio.
Kali ini, Rio benar-benar gelagapan dikerjai oleh Mirna. Begitu juga dengan gadis bernama Melia tadi.
"Namora, sini! Berikan salam kepada calon Tante mu ini!" Kata Mirna kepada anaknya.
"Hallo Tante. Nama saya Namora!" Sapa anak itu dengan senyum yang menggemaskan.
Baru saja mereka akan berbincang-bincang, dari luar kembali terdengar suara deru mesin kendaran yang berhenti tepat di samping mobil Toyota hardtop milik Rio tadi.
Ketika Mirna melihat ke depan, di halaman rumahnya telah terparkir empat unit mobil mewah berwarna hitam dan silver.
Kini, dari dalam keempat unit mobil tadi, keluar lah sembilan orang pemuda dengan dua diantaranya membawa istri dan anak lelaki yang seusia dengan Namora.
"Wah... Aku tidak menyangka kalian akan datang juga," kata Mirna berbasa-basi menyambut kedatangan sembilan orang pemuda, dua orang wanita, dan dua orang anak lelaki yang seusia dengan Namora tadi.
"Terimalah salam hormat dari kami untuk kakak!" Kata mereka serentak.
"Sudahlah! Mari masuk. Aku akan menyiapkan minuman untuk kalian!" Kata Mirna pula yang langsung menuju ke dapur.
Melihat Mirna pergi ke dapur, dua orang wanita yang ikut dalam rombongan itu beserta gadis yang bersama Rio tadi segera menyusul.
"Hei Bang Andra. Sudah besar anak Abang ya. Bang Jabat juga. Anak mu sudah besar," kata Rio pula sembari menyalami mereka satu persatu.
"Hendro. Kau Salami Paman Rio. Setelah itu, beri Hormat kepada Tuan muda Namora!" Kata Andra memerintahkan kepada anak kecil yang seusia dengan Namora tadi.
Anak yang bernama Hendro tadi tampak seperti malas ketika menyalami Namora. Tapi tidak dengan anak yang satunya lagi.
"Udin. Beri salam kepada Tuan muda kita!" Kata Jabat pula.
Anak Jabat yang bernama Udin tadi langsung menyalami Namora, dan kemudian mereka saling peluk dengan akrab.
"Selamat ulang tahun untuk mu, Tuan muda!" Kata Udin tersenyum. Namun senyumnya segera hilang ketika dari arah dapur terdengar suara teguran.
"Panggil saja dengan nama Namora. Jika dipanggil dengan sebutan Tuan muda, dia akan besar kepala!"
Namora yang tidak mengerti apa itu Tuan muda hanya bengong saja. Dia malah asyik menarik tangan Udin untuk bermain, dan mengabaikan Hendro yang terlihat sangat acuh.
"Kak. Mengapa kakak betah di sini? Kembali lah ke kota Kemuning! Di sana ada kami yang akan menjaga kakak!" Kata Andra yang terlihat tidak tega melihat keadaan Mirna di kampung baru ini, sedangkan mereka hidup mewah di kota Kemuning.
Mirna hanya tersenyum sambil menggeleng pelan.
"Kenapa kak? Jika bang Tigor tau keadaan kakak seperti ini, kami bisa dihukum olehnya," kali ini Jabat pula yang berbicara.
"Kalian tau mengapa aku memilih kampung ini? Ini semua karena Namora. Biarkan kami di sini. Bang Tigor juga sudah tau dan tidak menyalahgunakan kalian," jawab Mirna menolak usul dari Andra dan Jabat tadi.
"Tidak apa-apa bang. Beberapa bulan lagi aku akan menikah. Kalian harus datang ya! Setelah itu, aku akan mengajak kakak ipar untuk serumah dengan kami di perumahan dinas kepolisian kota Batu," kata Rio menengahi. Bagaimanapun, dia tau kekhawatiran anak buah Abangnya itu terhadap diri Mirna dan Namora.
"Baiklah. Kami mengalah jika sudah begitu," Andra terlihat mendesah pasrah dengan keteguhan hati Mirna untuk tidak kembali ke kota Kemuning.
"Bagaimana? Ayo kita berangkat! Nanti bang Tigor malah kelamaan menunggu," sela Ameng pula.
"Di minum dulu airnya!" Kata Mirna mempersilahkan.
Mereka lalu meminum air yang telah dihidangkan oleh Mirna tadi. Dan setelah selesai, mereka lalu berangkat dari rumah Mirna di kampung baru, menuju ke rutan kota Batu.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 273 Episodes
Comments
On fire
💙🤍🤎❤️🩹❤️🩹
2025-01-20
0
On fire
🩶🩶💗🩵
2025-01-20
0
ponakan Bang Tigor
disambung ...
terima kasih banyak update-nya bang 🌻🌻🌻
semangat berkarya dan bekerja thor 💪💪💪
semoga pekerjaannya lancar dan aman. aamiin aamiin
semoga bang othor dan keluarga sehat selalu, semakin sukses, rezeki lancar dan bahagia setiap saat. aamiin aamiin
Namora imut sekali, bang 🔥🌻
2022-12-25
4