Namora berjalan keluar dari kamarnya, lalu duduk di kursi tepat di samping ibunya.
Anak itu seperti merenung sejenak, lalu kemudian berucap. "Namora tadinya sangat tertarik untuk mendaftarkan diri menjadi murid di Dojo yang baru dibuka itu.
Karena itulah Namora membuntuti Diaz. Maksudnya, Namora ingin melihat-lihat terlebih dahulu sebelum mendaftar. Namora suka. Tapi mereka kembali jahat kepada Namora. Dudul sengaja berhenti supaya tertabrak oleh Namora. Kemudian Diaz menarik Namora hingga menabrak penyangga tongkat hingga tongkat-tongkat itu berserakan. Lalu, Diaz dan yang lainnya mengatakan bahwa Namora sengaja melakukan itu. Penjaga di Dojo itu memang tidak marah. Tapi mereka menyuruh Namora untuk pergi dan tidak boleh datang lagi," jawab anak itu dengan wajah yang terlihat sangat sedih.
"Kurang asam kelebihan garam mereka itu," geram Acong.
"Bu. Carikan Namora guru. Namora juga ingin berlatih seperti mereka. Akan Namora balas setiap yang mereka lakukan kepada Namora selama ini,"
"Namora. Jika tujuan mu belajar beladiri hanya untuk berkelahi, maka ibu tidak akan pernah mengizinkan," bentak Mirna membuat Namora terkejut lalu tertunduk.
"Ibu selalu begitu. Tidak boleh berkelahi. Tapi, Namora sering dipukuli, uang jajan Namora sering dirampas. Kapan Namora bisa aman kalau begitu terus. Sekali lagi, kalau Namora sudah tidak tahan, Namora akan berhenti sekolah. Tidak mau ke sekolah lagi,"
"Mau kemana kau Namora!" Panggil Mirna ketika anak itu mulai merajuk lalu berjalan memasuki kamarnya.
"Kak. Lelaki itu tidak sama dengan wanita. Lelaki itu ingin terlihat hebat. Tidak suka diintimidasi. Ingin terlihat keren dengan kemampuan yang dia miliki. Jika melindungi diri sendiri saja dia tidak bisa, bagaimana dia bisa melindungi orang yang dia sayangi? Suatu saat, aku khawatir jika Namora akan tumbuh sebagai pemuda yang tidak memiliki rasa percaya diri. Anak itu ibarat kertas putih yang masih polos. Jika kakak salah dalam memberi warna, maka dia akan menjadi tidak berguna!
Seekor induk singa akan berpura-pura kesakitan ketika anaknya menggigitnya. Padahal, apalah tenaga dari seekor anak singa yang masih kecil. Tapi, bagi kita yang memiliki kemampuan menalar setiap kejadian, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa induk singa yang berpura-pura kesakitan itu tidak lain karena ingin membangkitkan kepercayaan diri pada diri anaknya. Ketika dia memiliki rasa kepercayaan diri terhadap kemampuan yang dia miliki, tinggal menunggu waktu saja baginya untuk menjadi raja di rimba," kata Ameng memberi pandangan kepada Mirna.
"Aku jadi ingat dengan perkataan bang Tigor ketika Rio dulu akan memasuki SMP. Ketika itu dia mengatakan bahwa Rio tidak boleh merasa rendah, tidak boleh merasa kerdil, tidak boleh merasa miskin, juga tidak boleh diintimidasi. Karena, itu akan sangat berpengaruh terhadap mental nya. Jika rasa percaya diri Rio anjlok ketika itu, dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mampu menyerap pelajaran dengan benar.
Oleh karena itulah mengapa bang Tigor memberikan fasilitas yang mencukupi kepada Rio dan Pak Harianja ketika itu. Baginya, Rio harus merasa bahwa duduk sama rendah, dan berdiri sama tinggi. Itu baru benar. Tapi, aku lihat Namora ini selalu saja kakak larang untuk begini dan begitu. Itu bukan sayang namanya kak. Tapi, kakak ingin membatasi kemampuan anak itu untuk menjadi dirinya sendiri. Jangan di larang kak! Karena, ketika dia memberontak, kakak akan kehilangan Namora walaupun dia berada di sisi kakak. Cukup tanamkan asas akhlak yang baik sebagai pondasi baginya!" Timpal Acong pula memberikan pandangannya.
"Sepertinya kalian lebih faham semua ini daripada aku ibunya," kata Mirna yang merasa bahwa opini dari kedua sahabat suaminya itu memang masuk akal.
"Kehidupan di jalanan memang menempa diri kami kak. Kami dipaksa untuk dewasa sebelum waktunya."
"Sekarang bagaimana? Menurut mu, di mana Namora harus belajar beladiri?" Tanya Mirna yang sudah melunak hatinya.
"Dia tidak boleh langsung memasuki perguruan. Sebaiknya, dia belajar dulu dasar-dasarnya dengan kami. Sugeng, dia adalah orang yang paling mengerti tentang bela diri setelah bang Tigor. Aku rasa, dia cocok untuk mengajarkan dasar-dasar ilmu beladiri kepada Namora sebelum anak itu memasuki perguruan," kata Ameng menjawab pertanyaan dari Mirna.
"Kak. Sebaiknya biar kami bujuk dulu Namora. Dia merajuk tuh," kata Acong pula.
"Pergilah! Aku percayakan kepada kalian. Tapi awas! Jika Namora berubah nakal, aku akan mencakar mu!" Kata Mirna sambil menunjukkan sepuluh kuku jari tangan nya.
Merinding juga Ameng dan Acong mendengar ancaman dari Mirna. Itu baru dari Mirna. Belum lagi dari Tigor.
Ameng dan Acong pun segera beranjak dari kursinya, lalu melangkah menuju ke kamar Namora.
Di dalam kamar, Tampak Namora sedang mengacak-acak tempat tidurnya. Entah karena kesal karena tidak mendapat izin dari ibunya, atau karena merasa jengkel karena jika dia tidak belajar ilmu beladiri, maka dendamnya kepada Diaz dan kawan-kawannya hanya tinggal dendam kosong. Tapi dalam hatinya, dia memang berniat akan membalas setiap perbuatan yang dia terima dari keempat anak yang telah puas mengerjainya itu.
"Ya ampun. Woy. Ngapain kau!" Tanya Ameng begitu melihat kamar anak itu seperti kapal pecah.
"Benci kalau begini," jawab Namora tanpa menoleh.
"Benci kepada siapa? Benci kepada ibumu ya? Mau masuk neraka kau?" Tanya Acong pula. Dia memang tidak suka melihat kalau ada anak-anak yang durhaka kepada ibunya.
"Namora tidak berani," jawab anak itu ketakutan.
"Jangan pernah mengatakan seperti itu lagi. Walau apapun, seorang anak tidak punya hak untuk benci kepada orang tuanya. Ingat itu Namora!"
"Tapi..,"
"Tidak ada tapi-tapian. Kewajiban seorang anak adalah berbakti kepada orang tua!"
"Semua tidak boleh. Ini tidak boleh, itu tidak boleh. Berkelahi tidak boleh. Padahal Namora sering pulang dengan baju sobek, kadang kotor. Mau belajar beladiri pun tidak diizinkan," keluh anak itu sewot.
"Siapa bilang tidak diizinkan? Kau akan berlatih dengan Paman Sugeng. Dia tidak ada sekarang. Dia ada pekerjaan di kota Kemuning. Besok dia akan pulang. Kita akan menemuinya besok," bujuk Ameng sembari duduk di samping anak itu.
"Benar, Paman? Apakah ibu sudah mengizinkan?" Tanya Namora antusias. Mendadak wajah sewotnya hilang, dan kini berganti dengan wajah penuh keceriaan.
Ameng dan Acong mengangguk bersamaan. Hal ini tentu membuat Namora sangat senang. Dia segera berdiri di tempat tidurnya, lalu mencak-mencak menirukan jurus-jurus yang entah apa namanya.
"Ciaaat.., hiyaaaa.., sap sap sap!" Kata Namora terus mengeluarkan jurus-jurus aliran timur barat selatan dan Utara tersebut.
Lelah dengan kelakuannya sendiri, Namora pun jatuh terduduk dengan nafas megap-megap.
"Seperti itu kan Paman?" Tanya Namora sangat bangga.
"Jika sudah tau, ngapain kau belajar lagi. Gunakan saja jurus antah berantah mu itu!" Kata Ameng yang langsung berdiri meninggalkan kamar Namora. Dia berniat untuk menggoda anak itu.
Namora terperangah melihat Ameng dan Acong yang keluar meninggalkan kamarnya. Tadinya dia mengira akan mendapat pujian dengan jurus-jurus yang dia pertontonkan. Tapi apa daya, dia malah ditinggal sendirian.
"Paman!" Panggil Namora sambil melompat dari atas tempat tidurnya.
Dia langsung menubruk Ameng dari belakang, kemudian memeluk paha lelaki itu dari belakang.
"Paman..," rengek Namora.
"Kau sudah pintar. Untuk apa belajar lagi,"
"Itu tadi hanya jurus cakar elang," jawab Namora sok tau. Udahlah sok tau, bangga nya selangit tembus.
"Bukan cakar elang. Tapi ceker ayam!"
"Bukan Paman! Cakar elang!" Namora ngotot mempertahankan bahwa jurus yang tak tau juntrungannya itu adalah jurus cakar elang.
"Ya sudah! Kalau begitu, tidak usah belajar lagi!" Ancam Ameng yang ingin meninggalkan dirinya.
"Iya iya iya. Ceker ayam pun tak apa-apa," jawab Namora sambil terseret oleh ayunan langkah Ameng, karena dia terus memeluk paha lelaki itu.
Mirna yang mengintai dari dapur setengah pingsan menahan tawa melihat adegan itu. Belum pernah dia melihat Namora sebahagia ini. Hal ini membuat air matanya menetes. Entah air mata haru karena bahagia, atau air mata iba kepada anak lajang kecilnya yang hanya semata wayang tersebut.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 273 Episodes
Comments
On fire
🖤💜💜
2025-01-20
0
On fire
💞💓💓💓💓
2025-01-20
0
Asma
gitulah mak mirna, jgn modal khawatir doang
2023-11-04
2