Ameng yang duduk di kursi belakang mengapit Namora yang duduk di tengah, dengan Sugeng berada di pinggir kiri segera mengusap kepala anak itu. Mungkin sudah saatnya menceritakan yang sebenarnya kepada Namora. Dia sudah berumur lebih dari sepuluh tahun. Baginya, pasti sedikit-sedikit Namora sudah bisa berfikir dan memilah mana yang benar dan mana yang salah.
Sudah saatnya mereka menghapuskan kebencian di hati Namora yang selama ini tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah.
Jika dilihat dari kacamata seorang anak-anak, siapa sih yang tidak ingin mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari sebuah keluarga yang utuh? Hal ini tidak didapatkan oleh Namora. Terlebih lagi, tekanan dari lingkungan yang mengatakan bahwa ayahnya adalah seorang penjahat yang dipenjara. Mana ada orang baik-baik masuk bui. Setiap anak pasti akan berpikiran seperti itu. Maka dari itu, peran mereka sangat diperlukan untuk mengubah cara berpikir Namora terhadap ayahnya. Pikirkan yang selama ini dia dapatkan dari tekanan lingkungan.
"Paman. Namora masih bertanya-tanya. Mengapa ayah bisa masuk penjara? Apakah ayah tertangkap saat mencuri telur ayam?" Tanya anak itu dengan lugunya.
Nyaris saja Ameng, Acong, Timbul dan Sugeng tersedak mendengar pertanyaan yang meluncur dari bibir anak yang masih belum terlalu tau apa-apa ini.
Tertangkap karena mencuri telur ayam? Sungguh suatu penghinaan besar terhadap identitas Black Cat yang ditakuti di seantero Kota Kemuning, Kota Batu, Tasik Putri, Dolok ginjang, dan Tanjung Karang. Yang benar saja seorang Black Cat mencuri telur ayam. Benar-benar tidak lucu.
"Namora. Paman akan menelepon ibu mu dulu ya!" Kata Ameng sambil mengeluarkan ponselnya.
"Untuk apa Paman? Bukankah kita akan ke rumah?"
"Namora ingin tau kan, mengapa ayah Namora bisa masuk penjara? Paman bisa caja menceritakan semuanya. Tapi, tidak baik jika yang bersangkutan tidak ikut memberikan penjelasan kepada mu. Paman akan meminta izin kepada ibumu untuk membawamu ke rumah paman Rio mu. Dia yang akan menceritakan semuanya kepada mu mengapa ayah mu bisa menjadi narapidana," kata Ameng. Dia lalu mencari informasi kontak di dalam handphone nya, lalu mengklik tombol panggil.
"Bagaimana Meng?" Tanya Sugeng setelah Ameng selesai melakukan panggilan kepada Mirna.
"Beres!" Jawab Ameng singkat.
"Cakep!" Acong tampak mengacungkan jempol tangannya ke arah Ameng. "Biar ku banting-banting stir ini menuju ke kota Batu!" Kata Acong sekali lagi.
"Copot stir itu, kapok kita gak bisa ke kota Batu," kata Sugeng pula yang disambut dengan gelak tawa mereka yang ada di dalam mobil tersebut.
Setelah hampir tiga puluh menit berkendara, akhirnya mereka tiba juga di kota batu. Kemudian mobil itu berbelok menuju ke perumahan dinas kepolisian kota Batu dimana di sana seorang polisi muda yang karirnya terus menanjak berada.
Tiba di depan salah satu rumah dinas yang dulu diketahui bahwa rumah itu bekas kapten anggota kepolisian bernama Bonar Habonaran yang terbunuh sekitar puluhan tahun yang lalu.
Tin tin tin..!
Suara klakson mobil yang dikendarai oleh mereka tadi membuat para penghuni rumah menjenguk kan kepala mereka karena penasaran siapa pula yang brisik di siang bolong ini. Tidak terkecuali juga orang yang ingin mereka temui, yaitu Rio Habonaran.
Rio, yang saat ini sedang beristirahat siang juga keluar karena suara bising klakson itu memang sangat menggangu.
Dia hendak menegur orang yang membunyikan klakson tadi. Tapi, begitu dia melihat siapa yang iseng itu, dia segera tersenyum. Terlebih lagi dia melihat ada Sugeng di sana. Mana berani dia menegur salah satu dari keempat sahabat Abang nya itu.
"Wih. Ada tamu dari kota Kemuning ternyata. Hahaha. Mari bang!" Ajak Rio sambil menghampiri mobil yang terparkir di luar pagar rumah dinasnya itu.
"Rio. Adik kebanggan ku. Sehat kau dik?" Tanya Sugeng setelah keluar dari mobil.
"Alhamdulillah sehat bang. Ada angin apa yang membawa kalian datang ke rumah ku ini?" Tanya Rio sekadar basa-basi.
"Angin Utara!" Jawab Sugeng yang langsung disambut dengan gelak tawa yang lainnya.
"Ayo masuk dulu bang! Kebetulan tadi calon orang rumah ada membawa makan siang. Mari kita makan bersama!" Ajak Rio.
"Aaah... Kau saja lah yang makan. Abang mu ini entah apa saja yang sudah masuk ke perut," jawab Ameng pula yang keluar dari mobil sambil menggandeng tangan Namora.
"Eh. Namora juga ada. Bang.., Abang membawa Namora ke sini, nanti bisa geger jika kakak ipar ku kehilangan," kata Rio yang sedikit terkejut ketika melihat Namora, keponakan satu-satunya juga ikut serta mengunjungi rumah dinasnya.
"Kedatangan kami ke sini ada hubungannya dengan Namora ini. Sebaiknya kita ke dalam saja," ajak Ameng sambil menarik tangan Namora.
Rio mengernyitkan dahinya mendengar perkataan dari Ameng tadi. Dia bisa menangkap kemana arah tujuan dari kata-kata yang baru saja dikatakan oleh Ameng barusan.
"Kau jangan seperti itu. Kami kemari ingin memintamu menjelaskan mengapa sampai bang Tigor bisa masuk penjara. Sudah saatnya untuk menceritakan semuanya kepada anak itu. Dia sudah cukup lama tertekan dengan ejekan yang selalu dia terima dari orang-orang yang berada di lingkungannya. Jika dibiarkan terus-menerus seperti itu, dia bisa benci kepada ayahnya. Dan yang lebih parah lagi, kelak dia akan memusuhi Bang Tigor. Jika sudah begitu, akan semakin sulit untuk menjelaskan kepadanya," bisik Sugeng pelan ke telinga Rio.
Rio hanya manggut-manggut saja mendengar kata-kata yang dibisikkan oleh Sugeng tadi. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk menjelaskan kepada Namora mengapa ayahnya bisa masuk penjara.
Awalnya dia memang ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Namora. Namun, dia menunggu setidaknya Namora duduk di bangku sekolah menengah pertama. Ketika itu nanti, mungkin dia sudah menikah. Dan, niatnya memang, setelah dia menikah nanti, dia akan mengajak Mirna dan Namora untuk tinggal di rumahnya. Dengan begitu, dia bisa mengawasi perkembangan tumbuh besar Namora. Hanya saja, di merasa sungkan untuk mengajak Mirna satu atap dengannya, karena menghindari gunjingan para tetangga.
Terkadang, lidah manusia lebih tajam dari belati. Oleh karena itu dia terus menahan diri untuk tidak mengajak mereka satu rumah, sampailah setelah dia menikah nanti. Tapi rupanya itu terlalu lama. Sampailah pada saatnya Ameng, Acong, Timbul dan Sugeng sendiri yang mengajak Namora menemuinya.
Bisa saja Ameng dan yang lainnya menjelaskan kepada Namora seperti apa perjalanan hidup sang ayah. Tapi, alangkah lebih baik, jika yang menjelaskan semua itu datang dari orang yang benar-benar bersangkutan. Istilah kata kerennya, lebih afdhol.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 273 Episodes
Comments
On fire
🩶🩷💓🖤
2025-01-18
0
On fire
💗💗💜
2025-01-18
0
Asma
bener otak nya itu, 😁 pintar si Rio ini...
2023-11-04
1