Suasana di dalam rumah Rio saat itu mendadak hening. Semua orang yang berada di ruangan itu sedang bergelut dengan pikiran masa lalu mereka yang begitu suram.
Memang dulu bagi mereka, jangankan memimpikan punya mobil. Bermimpi punya sepeda pun mereka tidak berani.
Rio Habonaran. Nasibnya di sekolah juga kurang lebih nyaris sama dengan Namora. Bedanya, dia di bully karena miskin. Pakai sepatu yang sobek dan jempol kakinya sampai keluar dari sepatu, pakai celana dan baju yang itu-itu saja sampai pudar warnanya.
Ketika pulang dari sekolah, Rio akan mencuci baju sekolah nya agar bisa kembali dikenakan keesokan harinya.
Baru setelah dia menduduki bangku sekolah menengah atas, dia merasakan kenyamanan karena memiliki sepatu yang bagus, seragam sekolah yang baru, dan tempat tinggal yang lebih layak. Karena, ketika itu, Tigor sudah menjadi orang nomor dua di kota Tasik Putri, walaupun Rio baru mengetahui setelah dia menjadi polisi.
Suasana hening di dalam ruangan itu pecah juga ketika Sugeng menghempaskan nafasnya dengan keras.
Dengan mata berair, dia membelai rambut Namora sembari berkata, "Namora. Seharusnya kau bangga dengan Ayah mu. Berkat dia, lihatlah paman Rio mu saat ini! Menjadi anggota kepolisian yang paling menonjol dan memiliki masa depan yang cerah. Memang, semua itu bergantung terhadap kemampuan Paman Rio mu ini. Tapi, jika tidak melalui usaha dari ayah mu, kemungkinan Paman Rio mu hanya bisa tulis baca saja, dan sekarang profesi nya paling hanya sebagai kuli upahan. Begitu juga dengan kami ini,"
"Paman. Mengapa Kakek Namora dibunuh orang? Namora ingin cepat besar supaya bisa membalas orang itu!" Kata Namora geram. Jiwa belapatinya meronta-ronta ketika dia tau bahwa kakeknya di bunuh oleh orang-orang penjahat.
Kini, giliran Rio pula yang menghembuskan nafasnya dengan keras.
Dia segera menggelengkan kepalanya, lalu berkata. "Masalah itu sudah selesai. Karena itu juga lah ayah mu sampai masuk penjara," jawab Rio terhadap perkataan dari keponakannya itu.
"Ayah mu dan kami semua, sudah membalasnya. Geng Tengkorak sudah tidak ada lagi, walaupun banyak dari mereka yang masih selamat dan melarikan diri. Ayah mu, yang seluruh hidupnya dia korbankan demi membalas dendam telah berhasil membentuk satu kekuatan yang akhirnya mampu melawan kekuatan dari geng Tengkorak. Dengan dibantu oleh orang-orang dari Dragon Empire, kami mulai bergerak menyerang geng Tengkorak.
Jika dipikir-pikir, seharusnya kami semua sudah masuk ke dalam penjara akibat bentrokan dengan geng tengkorak itu. Tapi, sekali lagi ayah mu mengorbankan dirinya. Dia rela ditangkap oleh Paman Rio mu agar kami semua bisa hidup bebas, dan Paman Rio mu mendapatkan penghargaan dari prestasi yang telah dia raih karena berhasil memberantas anggota geng yang sangat meresahkan tersebut," kata Ameng pula.
"Jadi, mengapa Paman Rio tega menangkap ayah ku? Bukankah ayah ku adalah Abang paman sendiri?" Namora kini menjadi sengit ketika mengetahui bahwa Rio lah yang telah menangkap dan memenjarakan ayahnya.
"Nah. Disinilah letaknya hukum. Paman adalah seorang anggota kepolisian. Tugas dan kewajiban paman adalah memberantas dan menangkap para penjahat. Walaupun ayah mu adalah orang baik bagi para sahabatnya dan juga bagi Paman, tapi di mata hukum, ayah mu adalah penjahat yang harus di tangkap. Sebagai seorang polisi, Paman harus bisa mengesampingkan persaudaraan demi tegaknya hukum di negara ini. Namora harus mengerti bahwa Paman juga tidak tega. Seandainya ayahmu tidak di tangkap, maka sampai kapanpun dia tidak akan bisa membersihkan namanya. Kelak, jika ayah mu sudah keluar dari penjara, dia tidak akan mempunyai masalah lagi dengan hukum. Dan kalian akan bisa bersama sebagai satu keluarga yang bahagia!" Kata Rio memberikan penjelasan kepada Namora supaya tidak terjadi salah paham antara dirinya dengan anak itu yang bisa mengakibatkan anak itu berbalik membenci dirinya.
Namora tertunduk. Dia masih bingung dengan penjelasan tadi. Otaknya tidak begitu mampu untuk mencerna setiap penjelasan yang dia peroleh.
"Namora. Seharusnya kau bangga mempunyai seorang ayah yang berjiwa besar. Mampu mengayomi kami sebagai bawahannya, bisa mengangkat derajat kami termasuk Paman Rio mu ini. Bagi kami, ayah mu lebih hebat dari Jacky Chan. Lebih hebat dari Bruce Lee. Lebih hebat dari Superman dan Spiderman yang kau kagumi itu. Dia hidup seperti akar yang memberi makanan kepada pohon. Walaupun dia tidak mendapat pujian, tetapi dia tetap iklas.
Ketika pohon tumbuh subur, berbuah lebat dan berdaun rindang, yang mendapat pujian pasti pohonnya, daunnya, juga buahnya. Tidak ada yang mau memuji akarnya yang mensuplai kebutuhan bagi pohon tersebut. Ayah mu adalah akar dari pohon itu. Kelak, jika kau sudah besar, kau akan memahami apa yang kami katakan ini. Ingatlah baik-baik anakku!" Kata Timbul menimpali.
"Namora harus bangga nak. Jangan hiraukan ejekan dari teman-teman mu yang mengatakan bahwa kau adalah anak narapidana. Ketika kau merasa bangga terhadap ayah mu, semua kata-kata hinaan itu hanya angin lalu saja bagimu!"
"Tapi Paman. Namora terus diasingkan. Namora marah ketika Namora diejek sebagai anak narapidana," keluh anak itu geram.
"Mereka akan terus mengejek mu ketika kau marah. Karena, mereka akan semakin suka dengan tanggapan yang kau berikan. Coba kau biarkan saja mereka mengejek mu. Pasti mereka akan bosan, lelah, lalu lama kelamaan mereka akan berhenti sendiri. Mengapa mesti malu ketika kau sudah tau bahwa ayah mu adalah seorang super Hero? Bangga dong!"
"Benar. Jangan hiraukan mereka. Jadilah anak yang patuh, serta berbakti kepada kedua orang tua mu. Mereka tidak tau yang sebenarnya. Karena, yang mereka tau hanyalah menghina dan mengejek mu saja. Abaikan, dan mulai berpikir untuk pelajaran mu di sekolah. Toh juga kau tidak pernah meminta-minta kepada mereka. Jadi, apa ruginya? Jika kau tidak punya teman, paman akan menjadi teman mu. Kita bisa naik mobil, jalan-jalan, dan banyak lagi. Mereka yang menghina mu apa punya mobil?" Kata Acong pula sekenanya.
"Paman. Namora tidak mau lagi membenci ayah. Namora ingin bertemu dengan ayah. Namora mau minta maaf," kata anak itu kepada Rio.
"Jangan sekarang nak. Nanti kita akan menemui ayah mu ketika kau ulang tahun nanti. Bagaimana?" Tanya Rio.
"Paman janji?" Tanya Namora penuh harap.
"Ya. Paman janji. Kita akan merayakan ulang tahun mu bersama dengan Ayahmu nanti. Dia pasti akan sangat bahagia sekali melihat anak satu-satunya merayakan ulang tahun dengan gembira. Tidak seperti tahun lalu. Ketika itu, kau tampak tidak suka, menjaga jarak dan memasang wajah kebencian," kata Rio mengingat Namora yang ketika itu tidak suka merayakan hari ulang tahunnya di penjara bersama dengan Tigor.
"Namora menyesal," kata Anak itu mulai menangis.
Ada nada pilu di tangisan anak itu. Dia sangat menyesal telah melukai perasaan ayahnya. Mungkin ketika itu, ayahnya ingin memeluk dan menciumnya. Tapi, Namora terus menghindar.
Ingin rasanya dia pergi sendiri ke pusat tahanan dan menemui ayahnya untuk memeluknya erat-erat. Dia ingin mengatakan, 'maafkan Namora, ayah'! Tapi apalah daya. Mungkin dia akan di usir oleh penjaga tahanan karena dia masih anak-anak.
"Namora ingin bertemu ayah! Hiks hiks hiks..," Namora terus menangis iba.
"Tinggal seminggu lagi. Bersabarlah ya nak!" Kata Rio membujuk.
"Ayah, Paman!" Rengek Namora tidak mau mengalah.
Melihat Namora yang semakin kuat menangis, Rio segera mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan video call kepada salah satu sipir di penjara tempat Tigor di tahan. Dia akan meminta kepada pak sipir untuk meminjamkan handphone nya kepada Tigor agar bisa berbicara dengan Namora.
Walaupun tidak bertemu langsung, setidaknya Namora akan sedikit bisa tenang setelah berbicara dengan Tigor melalui panggilan video tersebut.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 273 Episodes
Comments
On fire
🩵🧡🧡💚🤍🤎❤️🩹💙💕🤍🤎❤️🩹💙💛💛
2025-01-19
0
On fire
🩷🩷🩷🩷
2025-01-19
0
On fire
🩷💞💓🖤
2025-01-19
0