Penyesalan Namora

Suasana di dalam rumah Rio saat itu mendadak hening. Semua orang yang berada di ruangan itu sedang bergelut dengan pikiran masa lalu mereka yang begitu suram.

Memang dulu bagi mereka, jangankan memimpikan punya mobil. Bermimpi punya sepeda pun mereka tidak berani.

Rio Habonaran. Nasibnya di sekolah juga kurang lebih nyaris sama dengan Namora. Bedanya, dia di bully karena miskin. Pakai sepatu yang sobek dan jempol kakinya sampai keluar dari sepatu, pakai celana dan baju yang itu-itu saja sampai pudar warnanya.

Ketika pulang dari sekolah, Rio akan mencuci baju sekolah nya agar bisa kembali dikenakan keesokan harinya.

Baru setelah dia menduduki bangku sekolah menengah atas, dia merasakan kenyamanan karena memiliki sepatu yang bagus, seragam sekolah yang baru, dan tempat tinggal yang lebih layak. Karena, ketika itu, Tigor sudah menjadi orang nomor dua di kota Tasik Putri, walaupun Rio baru mengetahui setelah dia menjadi polisi.

Suasana hening di dalam ruangan itu pecah juga ketika Sugeng menghempaskan nafasnya dengan keras.

Dengan mata berair, dia membelai rambut Namora sembari berkata, "Namora. Seharusnya kau bangga dengan Ayah mu. Berkat dia, lihatlah paman Rio mu saat ini! Menjadi anggota kepolisian yang paling menonjol dan memiliki masa depan yang cerah. Memang, semua itu bergantung terhadap kemampuan Paman Rio mu ini. Tapi, jika tidak melalui usaha dari ayah mu, kemungkinan Paman Rio mu hanya bisa tulis baca saja, dan sekarang profesi nya paling hanya sebagai kuli upahan. Begitu juga dengan kami ini,"

"Paman. Mengapa Kakek Namora dibunuh orang? Namora ingin cepat besar supaya bisa membalas orang itu!" Kata Namora geram. Jiwa belapatinya meronta-ronta ketika dia tau bahwa kakeknya di bunuh oleh orang-orang penjahat.

Kini, giliran Rio pula yang menghembuskan nafasnya dengan keras.

Dia segera menggelengkan kepalanya, lalu berkata. "Masalah itu sudah selesai. Karena itu juga lah ayah mu sampai masuk penjara," jawab Rio terhadap perkataan dari keponakannya itu.

"Ayah mu dan kami semua, sudah membalasnya. Geng Tengkorak sudah tidak ada lagi, walaupun banyak dari mereka yang masih selamat dan melarikan diri. Ayah mu, yang seluruh hidupnya dia korbankan demi membalas dendam telah berhasil membentuk satu kekuatan yang akhirnya mampu melawan kekuatan dari geng Tengkorak. Dengan dibantu oleh orang-orang dari Dragon Empire, kami mulai bergerak menyerang geng Tengkorak.

Jika dipikir-pikir, seharusnya kami semua sudah masuk ke dalam penjara akibat bentrokan dengan geng tengkorak itu. Tapi, sekali lagi ayah mu mengorbankan dirinya. Dia rela ditangkap oleh Paman Rio mu agar kami semua bisa hidup bebas, dan Paman Rio mu mendapatkan penghargaan dari prestasi yang telah dia raih karena berhasil memberantas anggota geng yang sangat meresahkan tersebut," kata Ameng pula.

"Jadi, mengapa Paman Rio tega menangkap ayah ku? Bukankah ayah ku adalah Abang paman sendiri?" Namora kini menjadi sengit ketika mengetahui bahwa Rio lah yang telah menangkap dan memenjarakan ayahnya.

"Nah. Disinilah letaknya hukum. Paman adalah seorang anggota kepolisian. Tugas dan kewajiban paman adalah memberantas dan menangkap para penjahat. Walaupun ayah mu adalah orang baik bagi para sahabatnya dan juga bagi Paman, tapi di mata hukum, ayah mu adalah penjahat yang harus di tangkap. Sebagai seorang polisi, Paman harus bisa mengesampingkan persaudaraan demi tegaknya hukum di negara ini. Namora harus mengerti bahwa Paman juga tidak tega. Seandainya ayahmu tidak di tangkap, maka sampai kapanpun dia tidak akan bisa membersihkan namanya. Kelak, jika ayah mu sudah keluar dari penjara, dia tidak akan mempunyai masalah lagi dengan hukum. Dan kalian akan bisa bersama sebagai satu keluarga yang bahagia!" Kata Rio memberikan penjelasan kepada Namora supaya tidak terjadi salah paham antara dirinya dengan anak itu yang bisa mengakibatkan anak itu berbalik membenci dirinya.

Namora tertunduk. Dia masih bingung dengan penjelasan tadi. Otaknya tidak begitu mampu untuk mencerna setiap penjelasan yang dia peroleh.

"Namora. Seharusnya kau bangga mempunyai seorang ayah yang berjiwa besar. Mampu mengayomi kami sebagai bawahannya, bisa mengangkat derajat kami termasuk Paman Rio mu ini. Bagi kami, ayah mu lebih hebat dari Jacky Chan. Lebih hebat dari Bruce Lee. Lebih hebat dari Superman dan Spiderman yang kau kagumi itu. Dia hidup seperti akar yang memberi makanan kepada pohon. Walaupun dia tidak mendapat pujian, tetapi dia tetap iklas.

Ketika pohon tumbuh subur, berbuah lebat dan berdaun rindang, yang mendapat pujian pasti pohonnya, daunnya, juga buahnya. Tidak ada yang mau memuji akarnya yang mensuplai kebutuhan bagi pohon tersebut. Ayah mu adalah akar dari pohon itu. Kelak, jika kau sudah besar, kau akan memahami apa yang kami katakan ini. Ingatlah baik-baik anakku!" Kata Timbul menimpali.

"Namora harus bangga nak. Jangan hiraukan ejekan dari teman-teman mu yang mengatakan bahwa kau adalah anak narapidana. Ketika kau merasa bangga terhadap ayah mu, semua kata-kata hinaan itu hanya angin lalu saja bagimu!"

"Tapi Paman. Namora terus diasingkan. Namora marah ketika Namora diejek sebagai anak narapidana," keluh anak itu geram.

"Mereka akan terus mengejek mu ketika kau marah. Karena, mereka akan semakin suka dengan tanggapan yang kau berikan. Coba kau biarkan saja mereka mengejek mu. Pasti mereka akan bosan, lelah, lalu lama kelamaan mereka akan berhenti sendiri. Mengapa mesti malu ketika kau sudah tau bahwa ayah mu adalah seorang super Hero? Bangga dong!"

"Benar. Jangan hiraukan mereka. Jadilah anak yang patuh, serta berbakti kepada kedua orang tua mu. Mereka tidak tau yang sebenarnya. Karena, yang mereka tau hanyalah menghina dan mengejek mu saja. Abaikan, dan mulai berpikir untuk pelajaran mu di sekolah. Toh juga kau tidak pernah meminta-minta kepada mereka. Jadi, apa ruginya? Jika kau tidak punya teman, paman akan menjadi teman mu. Kita bisa naik mobil, jalan-jalan, dan banyak lagi. Mereka yang menghina mu apa punya mobil?" Kata Acong pula sekenanya.

"Paman. Namora tidak mau lagi membenci ayah. Namora ingin bertemu dengan ayah. Namora mau minta maaf," kata anak itu kepada Rio.

"Jangan sekarang nak. Nanti kita akan menemui ayah mu ketika kau ulang tahun nanti. Bagaimana?" Tanya Rio.

"Paman janji?" Tanya Namora penuh harap.

"Ya. Paman janji. Kita akan merayakan ulang tahun mu bersama dengan Ayahmu nanti. Dia pasti akan sangat bahagia sekali melihat anak satu-satunya merayakan ulang tahun dengan gembira. Tidak seperti tahun lalu. Ketika itu, kau tampak tidak suka, menjaga jarak dan memasang wajah kebencian," kata Rio mengingat Namora yang ketika itu tidak suka merayakan hari ulang tahunnya di penjara bersama dengan Tigor.

"Namora menyesal," kata Anak itu mulai menangis.

Ada nada pilu di tangisan anak itu. Dia sangat menyesal telah melukai perasaan ayahnya. Mungkin ketika itu, ayahnya ingin memeluk dan menciumnya. Tapi, Namora terus menghindar.

Ingin rasanya dia pergi sendiri ke pusat tahanan dan menemui ayahnya untuk memeluknya erat-erat. Dia ingin mengatakan, 'maafkan Namora, ayah'! Tapi apalah daya. Mungkin dia akan di usir oleh penjaga tahanan karena dia masih anak-anak.

"Namora ingin bertemu ayah! Hiks hiks hiks..," Namora terus menangis iba.

"Tinggal seminggu lagi. Bersabarlah ya nak!" Kata Rio membujuk.

"Ayah, Paman!" Rengek Namora tidak mau mengalah.

Melihat Namora yang semakin kuat menangis, Rio segera mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan video call kepada salah satu sipir di penjara tempat Tigor di tahan. Dia akan meminta kepada pak sipir untuk meminjamkan handphone nya kepada Tigor agar bisa berbicara dengan Namora.

Walaupun tidak bertemu langsung, setidaknya Namora akan sedikit bisa tenang setelah berbicara dengan Tigor melalui panggilan video tersebut.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

On fire

On fire

🩵🧡🧡💚🤍🤎❤️‍🩹💙💕🤍🤎❤️‍🩹💙💛💛

2025-01-19

0

On fire

On fire

🩷🩷🩷🩷

2025-01-19

0

On fire

On fire

🩷💞💓🖤

2025-01-19

0

lihat semua
Episodes
1 Bab permulaan
2 Keluhan anak lugu
3 Ameng dan Acong menghampiri
4 Namora ditipu oleh teman-temannya
5 Mirna menemui keempat sahabat Tigor
6 Untung ada Ameng
7 Ayah mu lebih hebat dari superhero
8 Mengunjungi Rio
9 Kisah dari Rio
10 Penyesalan Namora
11 Panggilan telepon untuk Tigor
12 Dendam di hati Namora
13 Namora dimarahi oleh Ibunya
14 Jurus cakar ayam ala Namora
15 Jurus aneh yang diajarkan oleh Ameng
16 Hari ulangtahun Namora
17 Tiba di pusat tahanan kota Batu
18 Acara makan bersama semua tahanan
19 Sindiran keras untuk Tigor
20 Puncak dari acara ulang tahun Namora
21 Bersahabat dengan J7
22 Dikeroyok lagi
23 Namora kencing di celana
24 Harianto pujakesuma
25 Mulai berlatih
26 Metode aneh dari Rio
27 Nasehat untuk Namora
28 J7 dikeroyok
29 Sepeda Jol rusak parah
30 Namora diceramahi
31 Diaz yang sombong
32 Namora tidak mendapatkan izin
33 Jol yang sewot
34 Berpisah dengan pak Harianto
35 Namora tidak lulus SMA favorit
36 Nyemplung ke sungai
37 Janji berkumpul di rumah James
38 Meninjau sekolah baru
39 Lahirnya J7
40 Motor baru J7
41 Rencana licik, Rendra
42 Kenza
43 Pendirian Tigor tidak berubah
44 Peringatan dari Ameng
45 Hari pertama sekolah
46 Rencana untuk mempermainkan Namora
47 Taruhan di mulai
48 Acting yang sempurna
49 Permintaan mengada-ada dari Merisda
50 Salahkan dirimu yang miskin
51 Dihina oleh Merisda
52 Perubahan pada diri Namora
53 Tigor dan Mirna bertengkar
54 Tigor tidak mau disalahkan
55 Fighter Club
56 Kenza tiba di Fighter Club'
57 Namora yang penuh dengan misteri
58 Knock-out dari Kenza
59 Kacau-balau di aula Fighter Club'
60 Menabrak mobil milik orang
61 Rahasia tentang diri Kenza
62 Ameng akan membawa Namora ke kota Kemuning
63 Berangkat ke kota Kemuning
64 Namora dipermak
65 Penyambutan untuk Namora
66 Namora yang mampu menyesuaikan diri
67 kembali ke kota Batu
68 Ini sudah keterlaluan
69 Namora memukul Rendra
70 Mendaftar
71 Namora minta uang
72 Namora dikepung
73 Kena batunya
74 Melumpuhkan dua orang suruhan
75 Undangan dari Merisda
76 Memaksa Namora
77 Terasing dalam ramai
78 Penghinaan yang paling menyakitkan
79 Penyesalan Merisda
80 Tiba di Aula Fighter Club'
81 Memberi kesempatan kepada Willi
82 Mengantar Willi pulang
83 Memboyong Yamaha R1 ke kota Batu
84 Mencari informasi tentang diri Arda
85 Ternyata Rendra masih belum kapok juga
86 Namora kembali ke sekolah
87 Mengetahui identitas Arda
88 Ameng memeras Tigor
89 Zack berpindah tangan
90 Semakin acuh
91 Namora vs Hendro
92 Namora sang Otoriter
93 Pemecatan massal
94 Namora si tangan besi
95 Namora dimata-matai
96 Tanta yang salah sasaran
97 Ameng menampar Namora
98 Kematian Tanta
99 Rahasia organisasi
100 Zack menceritakan semuanya
101 Rencana kotor, Ardi
102 Ameng mengadukan ulah Namora
103 Membuat kekacauan di Dojo kampung baru
104 Rudi ditumbangkan
105 Kesadisan Namora
106 Ameng menghajar Ganjang
107 Arda dan Ardi terkepung
108 Bantuan tiba
109 Melepas keberangkatan Merisda
110 Namora, si pembuat onar
111 Jhonroy membunuh lagi
112 Semua meragukan kemampuan Namora
113 Bersiap untuk berangkat
114 Menelepon Jerry William
115 Jerry turun tangan
116 Black shadow dan Black Eagle
117 Rombongan sampai di Dolok ginjang
118 Kemenangan pertama Namora
119 Tiket ke babak 16 besar
120 Angga dan Teja
121 Berbeda pendapat
122 Teja tetap pada pendiriannya
123 Semifinal
124 Jhonroy menemui Sensei
125 Pembunuh bayaran
126 Skema matang seorang Jerry William
127 Diaz, over dosis
128 Kabar dari Dudul
129 Dihadang
130 Pembantaian
131 Kedatangan dua orang warga asing
132 Angga menyalahkan Teja
133 Kemarahan Namora
134 Namora akan menjadi pion bagi rencana Tigor
135 di kepung
136 Pengawal bayangan keluar untuk membantu
137 Namora dalam bahaya
138 Kemunculan Black shadow di saat genting
139 Pertarungan dua pejuang
140 Rio VS Jhonroy
141 Rio mendapat tekanan
142 Kabar dari Takimura
143 Namora masih belum siuman
144 Meminta bantuan ke Kuala Nipah
145 penawar dari Joe
146 Kelicikan Angga
147 Melawan racun dengan racun
148 Namora telah siuman
149 Kepala Namora pusing lagi
150 Jol berkunjung
151 kembali ke sekolah
152 Namora dihukum
153 Namora menemui Tigor
154 Dilema
155 Kedok di balik Dojo
156 Kisah tentang Sensei
157 Menanti kedatangan sang otoriter
158 Suasana rapat yang canggung
159 Mulai mendapatkan penentangan
160 Jadilah anjing yang baik!
161 Udin ngomel terus
162 Tekad Namora
163 Jiwa muda pak Karim
164 Obrolan dua orang beda usia
165 Namora Jagoan
166 Pertemuan di rumah Jhonroy
167 Tiba dikampung Permai
168 Keluarga Lan
169 Preman pasar
170 Amukan Namora di pasar Sabtu
171 Bertemu dengan Ibu Zack
172 Mengumumkan permusuhan
173 Don Mora
174 Mengajak keluarga pak Karim makan di Hotel
175 Operasi tanjung karang
176 Sehari sebelum kebebasan Tigor
177 Ke Tower Mall
178 Pertemuan tidak sengaja dengan walikota Rantau
179 Kabar buruk dari perusahaan
180 Hari kebebasan Tigor
181 Hari kebebasan Tigor
182 Namora ditekan
183 Pertemuan di mulai
184 Perdebatan semakin menegangkan
185 Acting sempurna
186 Penyesalan
187 Bertemu dengan Joe William
188 Kematian pengkhianat
189 Angga menemui Namora
190 Aku bukan bodoh
191 Alun-alun kota Kemuning
192 Menghajar Andi
193 Satu juta poundsterling
194 Entah apa rencana kotor Angga
195 Namora akan kembali ke kota Batu
196 Menjadi Target pembunuhan
197 Pak Dewanto
198 Penolakan Namora
199 Kembali ke Sekolah
200 Pembunuh bayaran telah tiba
201 Aksi penyelamatan
202 Yang bisa membunuhku masih belum lahir
203 Peperangan mulai tercetus
204 Retro Komersial Enterprise
205 Masih belum move-on
206 Don Mora beraksi
207 Perang terus berlanjut
208 Ameng Kasmaran
209 Namora kembali di kepung
210 Pengepung yang terkepung
211 Lepas dari mulut harimau, masuk ke dalam mulut buaya
212 Teja terbun*h
213 Bertemu dengan Xenita
214 Namora mati kutu
215 Namora dikambinghitamkan
216 Apakah Black Cat harus kembali?
217 Organisasi Hayabusa
218 Meninggalkan kampung Kuala Nipah
219 PH entertainment
220 Intermezzo
221 Kebakaran
222 Gurita Bisnis milik Jhonroy
223 Kedatangan Joe William
224 Di bakar lagi
225 Pembantaian oleh Namora
226 Jhonroy semakin tertekan
227 Erik membocorkan informasi
228 Peringatan keras dari Tengku Mahmud
229 Undangan makan malam dari pak Dewanto
230 Pertemuan dengan keluarga Dewanto
231 Jhonroy akan jadi gelandangan
232 Disergap pembunuh bayaran
233 Joe vs Sensei
234 Kemunculan Black Cat memakan korban
235 Pertarungan hidup dan mati
236 Memburu Jhonroy
237 Kau menanam, kau menuai
238 Tak tumbang dihina, tak terbang dipuji
239 Menyelidiki Namora
240 Aku tidak menjauh. tapi kau jangan mendekat
241 Yang Mulia Namora
242 Bintang muda
243 Bahaya yang mengintai
244 Malam perpisahan
245 Kedatangan Xenita
246 Kedatangan dua tamu tak diundang
247 Tantangan dari Dhani
248 Liciknya Angga
249 pemanasan dimulai
250 Provokasi Dhani
251 Sosok serba hitam
252 mengabari Namora
253 Kabar duka
254 Angga masih tetap licik
255 Dhani ketakutan
256 Rio gagal membawa Dhani
257 Dhani dilepaskan
258 Gelandangan
259 Tiba di kota Batu
260 Mematahkan kaki Dhani
261 Rio vs Lolo
262 Kemarahan Dhani
263 Kembali Angga menggunakan kelicikannya
264 Akhirnya Tigor turun tangan
265 Sosok serba hitam
266 kemunculan Black cat memakan korban
267 Ayank Mora IQ rendah
268 Tiga kacung
269 Joe dan Namora sekarat
270 Pertarungan tak seimbang
271 Tengku Mahmud vs Matsushima
272 Bab Akhir
273 Karya baru telah rilis
Episodes

Updated 273 Episodes

1
Bab permulaan
2
Keluhan anak lugu
3
Ameng dan Acong menghampiri
4
Namora ditipu oleh teman-temannya
5
Mirna menemui keempat sahabat Tigor
6
Untung ada Ameng
7
Ayah mu lebih hebat dari superhero
8
Mengunjungi Rio
9
Kisah dari Rio
10
Penyesalan Namora
11
Panggilan telepon untuk Tigor
12
Dendam di hati Namora
13
Namora dimarahi oleh Ibunya
14
Jurus cakar ayam ala Namora
15
Jurus aneh yang diajarkan oleh Ameng
16
Hari ulangtahun Namora
17
Tiba di pusat tahanan kota Batu
18
Acara makan bersama semua tahanan
19
Sindiran keras untuk Tigor
20
Puncak dari acara ulang tahun Namora
21
Bersahabat dengan J7
22
Dikeroyok lagi
23
Namora kencing di celana
24
Harianto pujakesuma
25
Mulai berlatih
26
Metode aneh dari Rio
27
Nasehat untuk Namora
28
J7 dikeroyok
29
Sepeda Jol rusak parah
30
Namora diceramahi
31
Diaz yang sombong
32
Namora tidak mendapatkan izin
33
Jol yang sewot
34
Berpisah dengan pak Harianto
35
Namora tidak lulus SMA favorit
36
Nyemplung ke sungai
37
Janji berkumpul di rumah James
38
Meninjau sekolah baru
39
Lahirnya J7
40
Motor baru J7
41
Rencana licik, Rendra
42
Kenza
43
Pendirian Tigor tidak berubah
44
Peringatan dari Ameng
45
Hari pertama sekolah
46
Rencana untuk mempermainkan Namora
47
Taruhan di mulai
48
Acting yang sempurna
49
Permintaan mengada-ada dari Merisda
50
Salahkan dirimu yang miskin
51
Dihina oleh Merisda
52
Perubahan pada diri Namora
53
Tigor dan Mirna bertengkar
54
Tigor tidak mau disalahkan
55
Fighter Club
56
Kenza tiba di Fighter Club'
57
Namora yang penuh dengan misteri
58
Knock-out dari Kenza
59
Kacau-balau di aula Fighter Club'
60
Menabrak mobil milik orang
61
Rahasia tentang diri Kenza
62
Ameng akan membawa Namora ke kota Kemuning
63
Berangkat ke kota Kemuning
64
Namora dipermak
65
Penyambutan untuk Namora
66
Namora yang mampu menyesuaikan diri
67
kembali ke kota Batu
68
Ini sudah keterlaluan
69
Namora memukul Rendra
70
Mendaftar
71
Namora minta uang
72
Namora dikepung
73
Kena batunya
74
Melumpuhkan dua orang suruhan
75
Undangan dari Merisda
76
Memaksa Namora
77
Terasing dalam ramai
78
Penghinaan yang paling menyakitkan
79
Penyesalan Merisda
80
Tiba di Aula Fighter Club'
81
Memberi kesempatan kepada Willi
82
Mengantar Willi pulang
83
Memboyong Yamaha R1 ke kota Batu
84
Mencari informasi tentang diri Arda
85
Ternyata Rendra masih belum kapok juga
86
Namora kembali ke sekolah
87
Mengetahui identitas Arda
88
Ameng memeras Tigor
89
Zack berpindah tangan
90
Semakin acuh
91
Namora vs Hendro
92
Namora sang Otoriter
93
Pemecatan massal
94
Namora si tangan besi
95
Namora dimata-matai
96
Tanta yang salah sasaran
97
Ameng menampar Namora
98
Kematian Tanta
99
Rahasia organisasi
100
Zack menceritakan semuanya
101
Rencana kotor, Ardi
102
Ameng mengadukan ulah Namora
103
Membuat kekacauan di Dojo kampung baru
104
Rudi ditumbangkan
105
Kesadisan Namora
106
Ameng menghajar Ganjang
107
Arda dan Ardi terkepung
108
Bantuan tiba
109
Melepas keberangkatan Merisda
110
Namora, si pembuat onar
111
Jhonroy membunuh lagi
112
Semua meragukan kemampuan Namora
113
Bersiap untuk berangkat
114
Menelepon Jerry William
115
Jerry turun tangan
116
Black shadow dan Black Eagle
117
Rombongan sampai di Dolok ginjang
118
Kemenangan pertama Namora
119
Tiket ke babak 16 besar
120
Angga dan Teja
121
Berbeda pendapat
122
Teja tetap pada pendiriannya
123
Semifinal
124
Jhonroy menemui Sensei
125
Pembunuh bayaran
126
Skema matang seorang Jerry William
127
Diaz, over dosis
128
Kabar dari Dudul
129
Dihadang
130
Pembantaian
131
Kedatangan dua orang warga asing
132
Angga menyalahkan Teja
133
Kemarahan Namora
134
Namora akan menjadi pion bagi rencana Tigor
135
di kepung
136
Pengawal bayangan keluar untuk membantu
137
Namora dalam bahaya
138
Kemunculan Black shadow di saat genting
139
Pertarungan dua pejuang
140
Rio VS Jhonroy
141
Rio mendapat tekanan
142
Kabar dari Takimura
143
Namora masih belum siuman
144
Meminta bantuan ke Kuala Nipah
145
penawar dari Joe
146
Kelicikan Angga
147
Melawan racun dengan racun
148
Namora telah siuman
149
Kepala Namora pusing lagi
150
Jol berkunjung
151
kembali ke sekolah
152
Namora dihukum
153
Namora menemui Tigor
154
Dilema
155
Kedok di balik Dojo
156
Kisah tentang Sensei
157
Menanti kedatangan sang otoriter
158
Suasana rapat yang canggung
159
Mulai mendapatkan penentangan
160
Jadilah anjing yang baik!
161
Udin ngomel terus
162
Tekad Namora
163
Jiwa muda pak Karim
164
Obrolan dua orang beda usia
165
Namora Jagoan
166
Pertemuan di rumah Jhonroy
167
Tiba dikampung Permai
168
Keluarga Lan
169
Preman pasar
170
Amukan Namora di pasar Sabtu
171
Bertemu dengan Ibu Zack
172
Mengumumkan permusuhan
173
Don Mora
174
Mengajak keluarga pak Karim makan di Hotel
175
Operasi tanjung karang
176
Sehari sebelum kebebasan Tigor
177
Ke Tower Mall
178
Pertemuan tidak sengaja dengan walikota Rantau
179
Kabar buruk dari perusahaan
180
Hari kebebasan Tigor
181
Hari kebebasan Tigor
182
Namora ditekan
183
Pertemuan di mulai
184
Perdebatan semakin menegangkan
185
Acting sempurna
186
Penyesalan
187
Bertemu dengan Joe William
188
Kematian pengkhianat
189
Angga menemui Namora
190
Aku bukan bodoh
191
Alun-alun kota Kemuning
192
Menghajar Andi
193
Satu juta poundsterling
194
Entah apa rencana kotor Angga
195
Namora akan kembali ke kota Batu
196
Menjadi Target pembunuhan
197
Pak Dewanto
198
Penolakan Namora
199
Kembali ke Sekolah
200
Pembunuh bayaran telah tiba
201
Aksi penyelamatan
202
Yang bisa membunuhku masih belum lahir
203
Peperangan mulai tercetus
204
Retro Komersial Enterprise
205
Masih belum move-on
206
Don Mora beraksi
207
Perang terus berlanjut
208
Ameng Kasmaran
209
Namora kembali di kepung
210
Pengepung yang terkepung
211
Lepas dari mulut harimau, masuk ke dalam mulut buaya
212
Teja terbun*h
213
Bertemu dengan Xenita
214
Namora mati kutu
215
Namora dikambinghitamkan
216
Apakah Black Cat harus kembali?
217
Organisasi Hayabusa
218
Meninggalkan kampung Kuala Nipah
219
PH entertainment
220
Intermezzo
221
Kebakaran
222
Gurita Bisnis milik Jhonroy
223
Kedatangan Joe William
224
Di bakar lagi
225
Pembantaian oleh Namora
226
Jhonroy semakin tertekan
227
Erik membocorkan informasi
228
Peringatan keras dari Tengku Mahmud
229
Undangan makan malam dari pak Dewanto
230
Pertemuan dengan keluarga Dewanto
231
Jhonroy akan jadi gelandangan
232
Disergap pembunuh bayaran
233
Joe vs Sensei
234
Kemunculan Black Cat memakan korban
235
Pertarungan hidup dan mati
236
Memburu Jhonroy
237
Kau menanam, kau menuai
238
Tak tumbang dihina, tak terbang dipuji
239
Menyelidiki Namora
240
Aku tidak menjauh. tapi kau jangan mendekat
241
Yang Mulia Namora
242
Bintang muda
243
Bahaya yang mengintai
244
Malam perpisahan
245
Kedatangan Xenita
246
Kedatangan dua tamu tak diundang
247
Tantangan dari Dhani
248
Liciknya Angga
249
pemanasan dimulai
250
Provokasi Dhani
251
Sosok serba hitam
252
mengabari Namora
253
Kabar duka
254
Angga masih tetap licik
255
Dhani ketakutan
256
Rio gagal membawa Dhani
257
Dhani dilepaskan
258
Gelandangan
259
Tiba di kota Batu
260
Mematahkan kaki Dhani
261
Rio vs Lolo
262
Kemarahan Dhani
263
Kembali Angga menggunakan kelicikannya
264
Akhirnya Tigor turun tangan
265
Sosok serba hitam
266
kemunculan Black cat memakan korban
267
Ayank Mora IQ rendah
268
Tiga kacung
269
Joe dan Namora sekarat
270
Pertarungan tak seimbang
271
Tengku Mahmud vs Matsushima
272
Bab Akhir
273
Karya baru telah rilis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!