"Errrrrk...,"
Suara sendawa Acong membuat Ameng, Timbul dan Sugeng mendelik kan matanya.
"Badak kalau sudah kenyang ya begitu," gumam Ameng sewot.
"Hahaha. Jangan gitu lah Meng. Kau ini kayak tak tau aku saja," kata Acong pula tanpa rasa malu.
"Cepatlah kalian makan. Kita harus segera bergerak. Aku bosan nih. Di Kota Kemuning sudah ada Ucok, Andra, Jabat, Thomas dan ada Bang Monang juga. Kita sudah tidak kebagian pekerjaan lagi di sana. Untuk hal-hal yang lainnya, sudah ada pak Burhan,"
"Lalu, kemana kita akan pergi? Apakah ke bukit batu, atau ke kampung baru saja?" Tanya Acong.
"Kita ke kampung baru saja. Pokoknya, setiap Namora berangkat ke sekolah, kita akan menemaninya. Begitu juga setelah dia pulang dari sekolah. Dengan begitu, dia tidak akan diganggu lagi oleh anak-anak sebaya dengannya," jawab Ameng menyarankan.
"Begitu juga boleh. Ayo kita berangkat!"
"Mari!"
Keempat pemuda itu segera berdiri. Sebelum membayar biaya makan mereka tadi, tidak lupa Acong menggoda pelayan wanita di kafe itu membuat wajah wanita muda itu bersemu merah.
"Dek. Nanti malam ada yang menjemput mu apa tidak? Jika tidak, nanti malam Abang akan datang ke rumah mu. Jangan katakan tidak! Culek nih!" Kata Acong sambil mengacungkan jari nya.
Si gadis hanya tertawa saja melihat tingkah Acong ini.
"Ngapain lagi nih Acong?" Gerutu Ameng yang sudah menunggu di depan pintu kafe itu.
"Abang ketika melihatmu pertama kali, Abang langsung merasakan jantung Abang seperti suara kendang koplo. Jedag-jedug," goda Acong lagi yang membuat gadis tadi semakin malu.
"Cong! Buruan. Jika tidak, kami tinggal nih!" Ameng seperti tidak sabaran dan kembali memasuki kafe untuk memanggil Acong yang tampak sedang asyik menggoda wanita tadi.
"Iya!" Jawab Acong yang langsung meminta diri kepada pelayan kafe tadi.
"Kau ini Cong. Kalau sudah ketemu perempuan, lagak mu itu seperti bintang Hindustan saja!" Tegur Sugeng jengkel.
"Bah! Apa menurutmu aku ini tidak tampan? Aku dan bang Tigor itu beda tipis saja kalau dalam hal ketampanan!" Ujar Acong bangga.
"Makanya kalau berkaca, jangan di cermin yang retak seribu!" Cibir Ameng yang langsung nyelonong ke dalam mobil.
"Aku sepertinya pernah mendengar lagu itu. Cermin ku retak seribu.., retak seribu!" Kata Acong.
"Dasar cuilan seng. Ayo lah!" Ejek Sugeng pula.
"Hahaha. Asem kalian ini. Ya sudah, kau saja yang nyetir!" Kata Acong pula kepada Sugeng.
"Ok. Silahkan untuk memasuki mobil wahai Tuan Acong yang budiman!"
Mereka bertiga lalu menertawakan Acong yang hanya bisa ikut-ikutan tertawa.
*********
Berkat adanya Ameng, Acong, Timbul dan Sugeng, kini Namora yang pergi dan pulang dari sekolah benar-benar aman. Tidak ada lagi yang berani mengganggu dirinya.
Tapi, itu tidak berlaku ketika berada di lingkungan sekolah. Misalnya hari ini. Diaz dan konco-konconya kembali mengerjai Namora.
Kali ini, seperti biasa. Jika Namora tidak diganggu oleh mereka, maka mereka akan merasakan sakit-sakit di tubuh mereka.
Mereka tau bahwa Namora tidak lagi diberi uang jajan oleh ibunya. Jadi, ini adalah modal bagi mereka untuk mengerjai Namora.
Waktu itu, Namora hanya duduk sendirian di depan teras sekolah. Dia hanya memperhatikan anak-anak yang sebaya dengannya bermain bersama-sama dengan teman-teman mereka.
Namora tau bahwa tidak ada yang mau mengajaknya bermain. Oleh karena itu lah mengapa dia hanya duduk saja menyendiri. Tapi, kali ini sepertinya berbeda. Karena, dari arah depan, datanglah empat orang anak-anak yang kini langsung berdiri dihadapannya.
"Hei Namora. Apa kau mau bermain-main dengan kami?" Tanya salah satu dari keempat anak tadi. Dialah Diaz yang selama ini selalu saja mengerjai Namora. Baik itu secara akal-akalan, maupun secara fisik.
"Aku tidak tertarik, Diaz. Dulu kau menipuku dengan mengajak ku untuk bermain petak umpet. Ternyata kalian kembali ke rumah dan membiarkan aku seperti orang bodoh!" Tolak Namora.
"Ayo lah Namora! Eh. Aku dengar kau sebentar lagi akan ulang tahun? Mengapa tidak kita rayakan saja sekarang?" Bujuk Rudi pula.
"Aku tidak tertarik," kata Namora yang langsung bangkit dan berjalan memasuki kelas.
"Ini parah. Kalau dibiarkan, dia akan semakin berani kepada kita," kata Dudul yang langsung menyusul Namora memasuki kelas.
"Kalian mau apa lagi? Sekali ini aku akan melawan!" Kata Namora yang langsung mengambil ancang-ancang untuk melakukan perlawanan anda keempat orang itu mengganggu dirinya.
"Kami bukan mau berkelahi. Kami hanya ingin mengajak mu untuk jajan di warung di depan sana itu. Bakwan buatan ibu itu enak. Bagaimana?" Tanya Diaz pula sambil tersenyum.
"Benar, Namora. Kau jangan khawatir. Aku yang akan mentraktir mu!"
"Sudahlah! Jangan banyak mikir. Ayo!" Kata Diaz pula yang langsung menarik tangan anak itu.
Kelima anak itu berjalan beriringan dengan Namora berada di tengah-tengah.
Sampai di warung yang disebutkan oleh Diaz tadi, maka mereka pun langsung mengambil daun pisang, lalu menumpuk banyak kue di atas daun pisang tadi, lalu enak saja mengatakan kepada pemilik warung bahwa Namora lah yang akan membayar.
Namora berusaha membantah. Namun, dia tidak memiliki kesempatan untuk bersuara. Karena, begitu dia akan membuka mulut, salah satu dari keempat anak-anak tadi terus memotong perkataannya.
"Bu. Namora yang akan membayarnya. Besok dia akan berulangtahun. Jadi, dia sengaja mentraktir kami," kata mereka lalu enak saja meninggalkan warung tadi dengan di tangan masing-masing penuh dengan makanan.
Kini, tinggallah Namora melongo tanpa tau harus berbuat apa. Dari mana uang untuk membayar semua tagihan, sedangkan dia saja tidak membawa uang jajan.
Namora nyaris menangis ketika pemilik warung tadi menagih uang dari makanan yang telah dimakan dan dibawa oleh Diaz, Ruben, Dudul dan Rudi tadi.
"Bu. Saya tidak membawa uang. Bagaimana jika besok saja saya bayar?!" Tanya Namora yang tampak ketakutan.
"Kamu tidak punya uang? Lalu, mengapa kamu berani sekali mengajak teman-teman mu untuk mengambil makanan dan mengatakan akan mentraktir mereka? Masih kecil sudah pintar menipu ya?!" Marah sang pemilik warung tadi. Sebenarnya, pemilik warung tidak juga bisa di salahkan. Dia hanya menjual makanan di sekolah itu. Makanan yang seharusnya bisa dia jual dengan harga 100% harus dia jual dengan harga 50% karena semua pembeli di warungnya itu adalah anak-anak sekolah.
"Sumpah Bu. Saya akan membayar. Tapi sekarang saya tidak membawa uang!" Jawab Namora memelas mencoba meminta pengertian dari pemilik warung tadi.
Si pemilik warung terus mengomel karena untung dagangannya hari itu jadi menipis karena dihutangi oleh Namora. Namun, sepertinya Tuhan masih sayang kepada Namora.
Satu suara terdengar menegur sang pemilik warung yang mengomel tadi dan menanyakan berapa jumlah yang harus dia bayarkan untuk makanan yang diambil oleh teman-teman Namora tadi.
Sang ibu yang mendengar teguran itu serta merta berhenti mengomel dan mengatakan bahwa Namora berhutang sekitar 50 ribu rupiah.
"Bu. Ini seratus ribu rupiah. Ibu ambil saja sisanya. Dan saya akan mengajak keponakan saya ini untuk pergi," kata lelaki tadi sembari menyerahkan selembar uang seratus ribu rupiah kepada ibu tadi.
"Ayo Namora!" Ajak lelaki itu.
Namora dengan wajah sedih menyambut uluran tangan lelaki tadi, dan mereka pun segera meninggalkan warung itu.
"Terimakasih Paman Ameng,"
"Sama-sama. Kau tidak apa-apa?" Tanya lelaki yang ternyata adalah Ameng adanya.
Namora menggelengkan kepalanya.
"Namora. Lain kali, kau jangan takut kepada siapapun. Ada paman di sini yang akan melindungi mu. Jika mereka mengganggu mu lagi, lawan saja. Jangan takut! Uang paman cukup untuk membiayai rumah sakit! Musuh jangan dicari. Ketemu, haram untuk lari!" Pesan Ameng kepada anak itu. Dia sudah cukup muak dengan perlakuan mereka terhadap keponakannya itu. Andai itu orang dewasa, mungkin sudah lama Diaz cs mati dibunuh olehnya.
"Mereka berempat, Paman. Namora tidak sanggup melawan mereka,"
"Nanti, paman akan menunggu mu di sana. Kita bisa bicarakan itu nanti!"
"Baiklah paman. Namora pergi dulu ya!" Kata anak itu sambil menyalami dan mencium tangan Ameng.
Ameng hanya menggeleng saja melihat keponakannya yang terus menerus mendapat perlakuan seperti itu. Dalam hatinya, dia bertekad untuk mengubah mental anak itu agar tidak lagi di-bully oleh anak-anak yang sebaya dengannya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 273 Episodes
Comments
Nana Niez
emaknya Namora setres,, bs bs anaknya jdi psycho kl selamat dri bullyan kl g ya bs bunuh diri krn ketakutan atau gila dadakan
2025-01-01
0
On fire
💞💜💗
2025-01-18
0
On fire
🖤💜💜💜💓💞
2025-01-18
0