Belenggu Cinta Istri Simpanan Tuan Dokter

Belenggu Cinta Istri Simpanan Tuan Dokter

Bab 1

"Ibu, apa yang ibu lakukan? Lepaskan! Aku tidak mau dijual, biarkan aku pergi Bu." Mohon gadis itu dengan tangis pilu.

"Hahaha... Enak sekali kamu minta dilepaskan. Kamu kira aku ini bodoh? Tentu saja aku tidak akan mau, karena kamu adalah sumber keuanganku." Jelas wanita yang bernama Hasni itu.

"Bu, kenapa ibu tega sekali? Apa salahku, Bu?" Tanya Rindiani dengan terisak.

"Apa salahmu? Heh!" Hasni mencengkeram dagu Rindi dengan kuat. "Salahnya ada pada ayahmu. Kenapa dia mati meninggalkan hutang yang banyak. Kamu kira aku punya uang untuk membayar hutang ayahmu pada rentenir itu!"

"Tapi hutang itu bukankah Ibulah yang memaksa ayah untuk mengambilnya pada rentenir." Ujar Rindi tak ingin ayahnya disalahkan.

"Hah! Banyak omong kamu! Ayo sekarang bawa wanita ini masuk!" Perintah Hasni pada bodyguard Mami yang mempunyai rumah bordir itu.

"Tidak! Lepaskan saya!" Rindi masih memberontak, tetapi dia tak cukup tenaga untuk melawan dua orang lelaki berbadan tegap itu.

"Ayo masuk!" Dua orang itu mendorong Rindi masuk kedalam sebuah kamar, dan menguncinya dari luar.

"Keluarkan saya dari tempat ini! Tolong saya tidak mau disini!" teriak gadis itu sembari menggedor pintu kamar.

Sementara itu di sebuah ruangan, Hasni sedang bernegosiasi dengan Mami Lala.

"Berapa harga yang ingin kau berikan untuk gadis perawan itu?" Tanya Hasni sembari memantik api rokoknya.

"Kenapa mahal sekali? Ayolah, kita ini berteman beri aku diskon khusus." Ujar wanita yang berperawakan serba menor itu.

"Oke, 45 juta, Bagaimana? Deal?" Hasni mengulurkan tangannya tanda sepakat kedua belah pihak.

"Oke, deal!"

***

Disebuah apartemen seorang Dokter spesialis neurologi Anak, sedang duduk termenung. Sudah dua bulan ia bertugas di kota itu.

Arfan Putra Arif, Dr. Sp.A Neurologi (syaraf anak) Dia adalah seorang dokter yang menangani anak berkelainan khusus.

Arfan ditugaskan di kota itu dan dikontrak oleh dua RS besar, yaitu RSUD dan sebuah RS swasta. Entah kenapa di kota itu Dokter syaraf anak sangat langka maka pihak RS mendatangkan Dokter dari luar kota dengan bayaran tertinggi.

Sebagai seorang lelaki normal maka ia tak ingin Munafik karena tinggal berjauhan dari sang istri maka membuatnya terkadang tak kuasa menahan kebutuhan biologisnya.

Arfan juga tidak ingin menggunakan jasa wanita malam untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Sebagai seorang Dokter tentu saja dia sangat mengetahui dampak dari hal itu. Dia tidak ingin mendapatkan penyakit menakutkan yang bisa menular, lebih baik dia mencegah daripada mengobati, selain itu Arfan juga tak ingin menumpuk dosa yang terbilang dosa besar.

Sementara mengingat jadwalnya yang padat mengisi praktek dua RS, maka waktu cutinya sangat minim. Arfan sudah berulang kali membujuk sang istri untuk ikut bersamanya, tetapi wanita yang bekerja sebagai Dokter umum itu selalu menolak.

Erlina tak ingin ikut bersama suaminya karena dia sangat mencintai pekerjaannya sebagai Dokter di sebuah RS yang ada di kota kediaman mereka. Erlina lebih memilih hidup berjauhan dari sang suami dengan berkomitmen untuk saling percaya dan setia.

Tetapi nyatanya Arfan tak bisa menjaga komitmen itu karena minimnya waktu untuk bertemu. Begitu juga sebaliknya, Erlina juga tak mempunyai waktu untuk datang berkunjung ke tempat suaminya bekerja.

Rasanya tak punya solusi lagi dengan masalahnya, Arfan menghubungi teman sejawatnya yang bekerja di RS yang sama tetapi lain spesialis.

"Apa yang ingin kamu bicarakan, Fan?" Tanya sahabat yang bernama Rinaldi.

"Aku bingung harus memulainya darimana, Nal. Ini soal kebutuhan biologis. Kamu tahu 'kan, bahwa aku sudah hampir tiga bulan di kota ini tak pernah bertemu dengan istriku."

Arfan menjelaskan pada sahabatnya itu, karena Rinaldi statusnya sama dengan dirinya dan tinggal berjauhan, tetapi untungnya Naldi hanya di kontrak satu RS saja, jadi dia masih mempunyai banyak waktu luang dan ada cuti bulanan untuk bisa pulang ke kota asalnya.

Naldi mencoba berpikir sejenak untuk mencari solusi untuk sahabatnya itu. "Kenapa kamu tidak meminta istrimu ikut bersamamu dan berhenti bekerja?"

"Aku sudah seringkali membahas tentang itu, tetapi dia masih kokoh dengan pendiriannya, dan aku tidak ingin memaksa yang pada akhirnya akan berujung dengan pertengkaran."

"Terus... Mau kamu gimana sekarang?"

Arfan menaikan kedua bahunya menandakan tak punya solusi. Dia bingung harus bagaimana.

"Kenapa kamu tidak menyewa perempuan saja?" Tanya Naldi memberi solusi yang telah ditolak oleh hatinya terlebih dahulu.

"Aku tidak ingin mencari penyakit. Kamu tahu sendiri perempuan bayaran itu tidak hanya kita saja yang menyentuhnya."

"Arfan, Arfan... Kamu itu kenapa lugu sekali. Kamu kan bisa request yang masih orisinil," ucap Naldi memberi solusi dan membuat Arfan sedikit tertarik dengan ucapan sahabatnya.

"Emang ada orisinil? Yang belum disentuh oleh orang lain?" Tanya Arfan semakin penasaran.

"Ya adalah. Jaman sekarang apa yang tidak ada, kawan, asalkan berani bayar mahal barang tersedia."

"Bagaimana? Apakah kamu tertarik?" Tanya Naldi setelah memberi solusi. Dan Arfan berpikir sejenak.

"Baiklah, ayo kita jalan sekarang." Akhirnya komitmen itu dilanggar oleh Arfan, dia yang tak bisa lagi mengendalikan hasrat sehingga mencari persinggahan sesaat.

Sesampainya di sebuah rumah bordir, Naldi segera menemui Mami Lala untuk menanyakan barang baru. Dan kebetulan wanita itu masih menyimpan stoknya maka Naldi bernegosiasi dengan wanita dandanan menor itu.

Arfan hanya mau terima beres saja, dia tidak ingin berurusan dengan wanita itu, ia akan membayar dengan sesuai harga yang di tentukan dan barang yang di inginkan.

Setelah selesai bertransaksi, Arfan segera menuju hotel yang telah disediakan oleh Mami Lala tempat dimana servis yang akan diberikan kepada pelanggannya.

"Ayo gunakan pakaian ini! Kamu harus melayani tamu spesial Mami. Ingat kamu jangan bertindak anarkis lagi! Jika kamu berani bersikap kasar pada pelangganku, maka aku pastikan hidupmu tamat malam ini juga!" Ancam Mami Lala pada Rindiani sembari melemparkan gaun kurang bahan itu.

Rindi kembali terduduk dilantai, dia tidak tahu harus berbuat apalagi. Karena ini adalah tamu ke tiga, yang pertama dan kedua ia berhasil mempertahankan kehormatannya dengan cara melumpuhkan Pria hidung belang itu. Rindi melempar apa saja yang ada di kamar hotel itu.

Dengan hati yang lelah dan pasrah, Rindi terpaksa mengikuti keinginan sang Mami, ia tak punya pilihan lain untuk lepas dari wanita itu, karena dirinya telah dibeli dari wanita yang paling ia benci, yaitu ibu tirinya.

Setelah sampai di kamar hotel, Rindi segera masuk, dia melihat seorang Pria yang sedang duduk di sofa menghadap ke arah televisi.

Dengan tubuh bergetar, rindi masih berdiam diri di depan pintu. Apa yang harus ia lakukan. Ya Allah, lindungi aku kembali dari Pria hidung belang ini. Do'a wanita itu dalam hati.

"Kenapa diam disitu? Kemarilah!" Ujar Pria itu tanpa mengalihkan pandangannya dari arah TV.

Seketika itu tubuh Rindi terlonjak saat mendengar suara Pria yang ada di hadapannya. Dengan jantung berdebar dan perasaan takut yang tak terkira, Rindi ingin sekali keluar dari kamar itu, tetapi ia mengingat ada dua orang penjaga yang berdiri didepan.

"Apakah kamu tidak mendengar apa yang aku katakan?!" Bentak Pria itu

Bersambung....

Jangan lupa dukungannya ya 🙏🤗

Happy reading🥰

Terpopuler

Comments

Susana

Susana

Duh, Dokter Arfan, jangan galak-galak. Ntar bucin, lo. 😁😁😁

2023-07-04

1

Oh Dewi

Oh Dewi

Mampir ah...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu

2023-02-05

0

titis irene

titis irene

nyimak dulu deh...

2023-01-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!