Racun Cinta Arsenio
Suara dentuman musik menghentak, berbaur dengan hingar-bingar para pengunjung yang tengah asyik menikmati malam panjang mereka. Pada salah satu klub malam ternama ibu kota, Arsenio Wilhelm Rainier duduk tenang penuh wibawa dengan kaki kanan yang dia letakkan di atas paha sebelah kiri. Di tangan kanannya, tergenggam sebuah gelas kaca berukuran kecil dan berisi minuman yang sesekali dia teguk. Sementara itu, di dekatnya ada tiga orang sahabat dekat yang tengah asyik bermesraan bersama para wanita malam yang telah mereka booking sebelumnya.
Sesekali, Arsenio menoleh ke arah mereka. Lajang berusia dua puluh tujuh tahun itu, hanya dapat mengempaskan napas dalam-dalam. Pasalnya, Winona sang kekasih, menolak untuk menemani dirinya pergi ke tempat tersebut malam itu. Alasan Winona tiada lain adalah dia merasa lelah setelah menghabiskan waktu hampir selama lima jam di ruang rapat. Gadis modern yang selalu sibuk dengan kariernya tersebut, memilih untuk tidur lebih awal. Sementara, Arsenio tak berminat untuk menghabiskan malam bersama seorang wanita panggilan.
“Aku pulang duluan,” ucap pria berpostur 185 cm itu. Ukuran tinggi badan yang terbilang menjulang bagi warga Indonesia. Namun, itu memang cocok untuknya yang merupakan seorang keturunan Indonesia-Belanda.
“Hey, kenapa terburu-buru? Aku rasa ini belum pagi,” cegah salah seorang teman, yang menghentikan sementara adegan mesranya bersama wanita yang mengenakan pakaian sangat minim.
“Kalian lanjutkan saja. Lagi pula, besok aku harus pergi ke Bali untuk urusan bisnis. Aku tidak boleh kurang tidur,” ujar Arsenio mencari alasan. Tanpa banyak berbasa-basi lagi, dia melangkah gagah keluar dari bangunan yang dipenuhi oleh para penyuka pesta menuju ke tempat parkir.
"Arsen!" panggil seseorang ketika dirinya tengah menekan kunci otomatis mobil.
Arsenio pun segera menoleh. Seutas senyuman muncul di sudut bibirnya, ketika menyambut kehadiran seorang gadis cantik dengan pakaian ketat dan minim. “Indah?”
"Kok, sudah mau pulang? Kita kan belum bersenang-senang," gadis itu menggigit bibir bawah seraya memandang Arsenio dengan sorot menggoda.
"Lain kali saja," tolak Arsenio tanpa ekspresi yang berlebihan.
"Jangan khawatir. Aku tidak akan mengatakan apapun pada Wini tentang kita," dengan berani, Indah mendekat dan menggelayut manja pada lengan Arsenio. Wini adalah panggilan sayang Arsenio kepada sang kekasih yang telah dia khianati.
“Memang sudah seharusnya begitu,” jawab pria itu sembari menatap lekat paras manis Indah. Tanpa aba-aba, dia mencium bibir Indah untuk beberapa saat lamanya. "Besok aku harus berangkat ke Bali pagi-pagi sekali. Jadi, lain kali saja kita main-mainnya." Arsenio mengedipkan sebelah mata kepada Indah sebelum memasuki mobil. Sesaat kemudian, pria itu pun melajukan Range Rovers putihnya meninggalkan area parkir.
Sementara Indah tetap berdiri di tempatnya sambil menatap kendaraan Arsenio hingga menghilang dari penglihatan. Gadis itu lalu meraih ponsel dari dalam tas dan mulai menghubungi seseorang. "Halo. Pria brengsek itu sudah pergi. Siapkan rencana kalian matang-matang. Bisa kupastikan, dia sudah tiba di Gianyar sebelum makan siang," ujarnya pada seseorang di seberang sana.
..........
Alarm berbunyi dengan nyaring, ketika berada di angka enam. Dengan malas, Arsenio membuka mata, kemudian bangkit. Sebelum turun dari tempat tidur, dia menyempatkan diri untuk memeriksa ponsel yang diletakan dengan sembarangan di atas kasur. Ada beberapa pesan masuk yang salah satunya berasal dari Winona. Arsenio tak membalas pesan itu. Akan tetapi, pria keturunan Belanda tersebut langsung menghubungi gadis cantik yang telah hampir tiga tahun dia pacari. “Sayang,” sapa pria itu ketika panggilannya mulai tersambung.
“Selamat pagi, sayang. Kamu baru bangun, ya?” terdengar suara Winona dari seberang sana. Saat itu, gadis tersebut sedang berolahraga. “Apa kamu jadi berangkat ke Bali?” tanyanya kemudian.
“Ya, aku akan berangkat jam sembilan,” jawab Arsenio sambil menguap panjang.
“Semalam kamu pulang jam berapa dari klub?” tanya Winona lagi.
“Entahlah. Aku tidak terlalu memperhatikan, karena langsung tidur,” jawab Arsenio lagi masih dengan malas-malasan.
“Ya, sudah. Sebaiknya kamu bangun dan segera bersiap-siap. Jangan sampai ketinggalan pesawat. Aku juga hari ini akan ke Bandung untuk bertemu investor di sana,” ucap Winona. Gadis itu memang selalu sibuk dengan aktivitasnya. Tak jarang dia mengabaikan Arsenio jika dirinya sedang dilanda gila kerja. Hal tersebut membuat Arsenio terkadang merasa tak nyaman. Namun, hubungan mereka yang telah terjalin lama serta melibatkan dua keluarga besar ternama, membuat Arsenio dan Winona harus selalu terikat.
“Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Apa kamu pergi diantar sopir?” tanya Arsenio. Bagaimanapun juga, dia tetap mencemaskan kekasihnya.
“Ya. Aku akan pergi diantar sopir. Aku sedang malas menyetir sendiri. Emosiku sedang tidak stabil,” jawab Winona seraya terkekeh pelan.
“Apa kamu sedang datang bulan?” tanya Arsenio. Pria itu menyunggingkan sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya.
“Ya, begitulah. Jangan lupa hubungi aku jika kamu sudah tiba di sana. Satu lagi, aku akan sangat marah jika kamu sampai bersikap nakal selama berada di Bali. Ingatlah untuk selalu menjaga kejujuran dalam hubungan kita,” pesan Winona dengan setengah mengancam.
“Baiklah, jika aku ingat,” sahut Arsenio dengan entengnya.
“Arsen!” nada bicara Winona tiba-tiba meninggi.
“Nanti kuhubungi lagi. Bye,” tutup Arsenio dengan begitu saja. Dia tahu bahwa Winona pasti tidak akan terima dengan perkataannya tadi. Arsenio yakin jika sebentar lagi gadis itu akan menelepon kembali. Apa yang ada dalam pikiran Arsenio memang benar adanya. Berkali-kali nada dering melengking nyaring. Namun, Arsenio tak peduli. Dia memilih untuk mandi dan mengenakan pakaian. Setelah itu, dengan terburu-buru dia berangkat ke bandara. Tak dihiraukannya belasan panggilan tak terjawab. Arsenio malah mematikan ponsel saat dirinya masih berada di lounge kelas bisnis.
Saat itu, Arsenio Wilhelm Rainier yang selalu bersikap semaunya, tidak pernah berpikir bahwa tabiat tersebut akan menyakiti orang-orang di sekitar dia. Tak pernah juga terlintas dalam benak Arsenio, jika suatu saat nanti dirinya akan mendapat sebuah balasan dari setiap hati yang sudah tersakiti. Arsenio begitu percaya diri dengan apa yang dia miliki, dan telah didapat dalam hidupnya.
Sekitar satu jam lebih perjalanan telah dia tempuh, hingga akhirnya Arsenio tiba di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Di sana, telah menunggu sebuah mobil jemputan, yang akan membawa lajang dua puluh tujuh tahun itu menuju villa miliknya. Sebuah bangunan bergaya artistik khas Bali, yang terletak di wilayah Gianyar.
"Pak Arsenio, silakan," seorang pria paruh baya, membungkuk penuh hormat, kemudian membukakan pintu mobil untuknya. "Langsung ke villa, Pak?" tanyanya ramah.
"Ya," jawab Arsenio singkat, kemudian memposisikan dirinya senyaman mungkin di kursi penumpang. Setelah mobil melaju meninggalkan bandara, dia mulai sibuk menyalakan ponsel dan membalas pesan-pesan masuk. Sengaja panggilan dan puluhan pesan dari Winona dia lewati begitu saja.
Arsenio memilih untuk kembali mengistirahatkan matanya, meskipun semalam dia sudah cukup tidur. Entah berapa lama dia terlelap. Satu yang pasti, Arsenio terbangun saat merasakan bahwa kendaraan yang dia tumpangi berada pada posisi berhenti. "Apa sudah sampai?" tanyanya heran sambil mengumpulkan kesadaran. Akan tetapi, bukannya menjawab, sopir yang masih berada di belakang kemudi itu malah bergerak cepat dan menyuntikkan sesuatu ke pahanya.
"Hei!" seru Arsenio berusaha mencabut alat suntik itu, ketika dia merasa keseimbangannya mulai goyah. Dengan susah payah, Arsenio berusaha keluar dari dalam mobil. Kaki kanannya sudah mulai mati rasa, sedangkan pandangannya berputar dan memburam.
Satu kaki kiri Arsenio sudah menjejak tanah, ketika dia menyadari bahwa ada beberapa sosok pria berdiri di depannya. "Mau apa kalian? Minggir! Sebelum aku telepon polisi!" sentaknya. Arsenio melangkah gontai, berusaha menyerang pria di depannya, tapi dia malah tersungkur akibat kehilangan keseimbangan.
Dalam posisi jatuh tertelungkup itulah, beberapa pria tadi menghajarnya habis-habisan. Samar-samar Arsenio melihat salah seorang pria membawa tongkat kayu berukuran cukup besar. Dia memukul kepala Arsenio hingga sekelilingnya menjadi gelap seketika.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
ƙꪮꪑꪖꪶꪖకꪖꪹỉ
Arsen, kangeeen. Sini, sini come to mama
2023-11-06
20
bale
mampir kak
2022-12-20
2
Mystera11
mampir thor
2022-12-16
2